Ini bumi dimana tradisional dan modern bergabung.
Ramainya upacara pernikahan adat bergabung dengan tradisi pedang pora malam ini turut menjadi saksi bisu kealpaannya. Tanpa sengaja Letnan muda itu mabuk karena ulah para rekannya. Lebih parahnya lagi ia menyentuh seorang gadis yang sama sekali tidak di kenalnya.
Beberapa tahun berlalu, takdir mempertemukan dirinya dengan seorang anak laki-laki yang mirip dengannya. Matanya, hidungnya, bibirnya sampai perawakan tubuhnya bahkan sifat garang dan pemberaninya sangat mirip dengan dirinya.
"Saya terpaksa mencarimu."
"Apa kita pernah saling kenal?"
"Secara langsung tidak, tapi anak ini menuntunku agar kita saling kenal." Jawab wanita tersebut. "Pendopo kesultanan, usai pernikahan seniormu."
"Kamu.. gadis yang malam itu........."
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaraY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Bahagia sederhana.
Hati Inka bagai teriris sembilu, ia mengambil segala barang dan melemparkannya pada wajah Bang Seno tapi Bang Seno memilih berbalik badan karena dirinya sedang menggendong Zea.
"Kamu keterlaluan Mas, teganya kamu mengatakan hal itu di hadapanku..!!!"
"Saya tidak akan pernah mengatakannya kalau hatimu tidak sekeras itu Inka. Saya tidak memintamu untuk bisa sepenuhnya menerima masa lalu saya, tapi tolong sedikit saja tidak menyudutkan Laras, dia tidak salah.. saya yang salah." Kata Bang Seno. "Minimal jangan menghinanya. Dia juga ibu dari anak saya..!!"
Inka tersenyum begitu pedih. Ia masuk ke dalam kamar dan menguncinya rapat. Baby Zea menangis, mungkin karena perasaan Mamanya juga tidak tenang.
"Jangan nangis sayang. Zea tidur sama Papa lagi ya..!!" Ajak Bang Seno. Dengan telaten dan sayangnya Bang Seno mengajak Zea tidur di kamar sebelah bersamanya.
\=\=\=
Hari semakin berlalu, entah sudah keberapa kalinya Gilang menanyakan keberadaan Papanya tapi jawaban yang di dengarnya selalu sama, sang Papa sedang bekerja. Ada wajah kesedihan tersirat namun ia memilih untuk diam setiap kami melihat wajah sedih Mama Laras usai dirinya menanyakan sang Papa.
"Gilang main dulu sama Om Syahrial ya..!! Mama mau buat kue, masak dulu untuk di jual. Nggak apa-apa ya sayang??"
"Iya Mama." Jawab Gilang. "Tapi.. Papa pasti akan pulang khan Ma?" Tanya Gilang masih penuh harap. Jelas saja, seusianya pasti masih sangat mendambakan kasih sayang orang tuanya.
"Pasti.. Papa pasti akan kembali."
Gilang tersenyum kemudian berlari mencari Om Syahrial. Memang dirinya sudah terbiasa dengan anak buah Mamanya yang sudah bagai sahabat dan saudara.
...
Gilang bermain game di ponsel Om Syahrial. Laras memang membatasi putranya untuk bermain gadget dan hanya memberinya waktu di hari Sabtu dan Minggu saja. Selebihnya Gilang hanya boleh berinteraksi melalui buku dan mainan pengasah motorik yang telah di siapkan oleh Laras.
Namun kali ini Om Syahrial memang sedikit kecolongan, dirinya yang sedang di mabuk cinta lebih mengarahkan perhatiannya pada sosok Elya yang baru saja selesai memanggang kue.
Gilang pernah bertanya bagaimana caranya mencari Papa jika sedang rindu. Maka Papa Seno memberikan nomernya pada secarik kertas. Gilang lalu menekan nomor telepon yang pernah di beri sang Papa pada secarik kertas lalu menyimpannya di salah satu koleksi mobil the Cars miliknya.
Papanya pernah mengatakan. 'Kalau Abang rindu, tekan nomer itu di ponsel lalu tekan tombol warna hijau."
Tidak sulit bagi Gilang karena dirinya pernah memainkan ponsel Om Syahrial dan mengirim voice note pada Mama Laras.
Kini ponsel Om Syahrial berbunyi.
//
Bang Seno usai lari pagi. Tubuhnya masih basah penuh dengan keringat. Ia pun melepas kaosnya dan bertelanjang dada memperlihatkan tubuhnya yang gagah dan atletis. Ia mengusap wajahnya dengan kaos lalu menengadah menatap langit luas. Sudah beberapa waktu ini dirinya tidak bertemu dengan Gilang. Rasa rindu seorang ayah jelas begitu terasa namun ia hanya bisa menahannya sebab ia pun sedang berusaha menjaga hati Inka terlebih Laras juga melarang dirinya untuk bertemu dengan Gilang. Salah satu alasannya juga demi utuhnya pernikahannya dengan Inka.
Tiba-tiba ponselnya bergetar, ada nomer asing yang tidak di kenalnya. Bang Seno segera mengangkatnya.
"Selamat pagi........"
"Papaaa.. Abang kangen." Suara di seberang sana.
Rasa haru seketika menyelimuti hati Bang Seno. Ia tersenyum pedih. Ia segera menguatkan batin lalu menekan tombol video call, beruntung si kecil Gilang sangat pintar dan bisa mengangkatnya. "Papa juga kangen. Abang dimana?"
"Di bawah meja taman, telepon Papa." Jawab Gilang.
Bang Seno tersenyum kecut, bahkan untuk menghubungi dirinya, Gilang harus bersembunyi di bawah meja agar tidak terlihat dari pantauan Mamanya. "Abang Gilang pakai ponsel siapa nak?" Tanya Bang Seno.
"Ponsel Om Syahrial."
"Okeey.. Mama lagi dimana Bang?" Bang Seno terus aktif mengajak Gilang bicara.
Gilang yang pintar segera mengarahkan mode kamera belakang untuk merekam aktivitas mamanya secara diam-diam.
"Mama cantik sekali Pa." Kata Gilang saat Laras menggulung rambutnya ke atas dan memperlihatkan putih tengkuknya yang tanpa noda.
Bang Seno mengambil posisi duduk dan terus memperhatikan layar ponsel. "Pasti sayang, Mama memang cantik sekali." Jawab Bang Seno, entah kenapa tiba-tiba jantungnya berdebar kencang, pipinya merah dan dirinya menjadi salah tingkah padahal Laras tidak melihatnya juga.
"Papa sayang Mama khan?" Tanya Gilang.
Pertanyaan yang sungguh sangat sulit untuk Bang Seno jawab. Ia terpaku untuk beberapa saat.
"Papaaaa..!!!" Tegur Gilang karena Papanya diam tidak menjawab.
"Papa selalu sayang Mama. Meskipun Papa tidak pernah tau siapa dirinya. Gadis cantik yang membuat dada Papa berdesir nyeri, sakit sekali menghujam relung hati, mungkin saat itu Papa terlambat menyadari kalau Papa sudah menyimpan rasa untuk Mama." Jawab Bang Seno.
"Apa Pa??" Seno tetap merespon tapi tidak satu pun ucap Papanya yang ia mengerti.
Bang Seno pun tersadar lalu melihat ada hamparan bunga mawar merah di taman samping Gilang duduk.
"Bang..!!"
"Iya Pa?"
"Bisa Papa minta tolong?" Tanya Gilang.
"Tolong apa Pa?"
"Petikan setangkai bunga mawar dan berikan pada Mama. Tolong katakan.. dari Bandit Insyaf..!!" Kata Bang Seno.
"Oke Papa..!!" Gilang tertawa mendengarnya.
"Hati-hati kena duri Bang..!!" Bang Seno bersandar sejenak memejamkan matanya. 'Maafkan suamimu ini Inka, saya tau saya berdosa.. biarlah semua ini saya telan dalam hati. Asal kamu tidak membenci Laras dan Gilang. Itu sudah cukup..!!'
"Mamaaa.. ada bunga cantik untuk Mama." Kata Gilang di seberang sana.
"Waahh.. terima kasih banyak Abaang." Laras tersenyum, hal kecil membuatnya sangat bahagia.
"Bunga itu dari Bandit Insyaf."
"Bandit Insyaf? Siapa Bang?" Tanya Laras penasaran tapi Gilang sudah berlari dan kembali berinteraksi dengan Bang Seno.
.
.
.
.
jadi bacanya gak tegang amat..🙏🙏
cerita nya bikin hatinano2