Ayahnya Arumi terlilit hutang. Hal itu membuat sang ayah kena serangan jantung. Arumi tidak punya uang untuk membawa sang ayah berobat. Bahkan, rumah sebagai jaminan sudah ditarik rentenir. Dalam keadaan sulit itu, seorang dokter wanita menawarkan bantuan kepada Arumi. Akan membiayai pengobatan sang ayah, asal Arumi mau menikah dengan ayahnya yang sedang sakit.
Tidak ada pilihan lain, dalam keadaan terpaksa Arumi menerima tawaran itu, walau sebenarnya ia masih ingin melanjutkan studynya.
Pernikahan Itu pun terlaksana, dan ia dikejutkan dengan kenyataan bahwa, pria yang ia sukai di pandangan pertama adalah anak dari pria tua yang menikahinya, tepatnya. Arumi menyukai anak tirinya.
Bagaimana kah kelanjutan kisah cinta terlarang itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febriliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menantu
Keesokan harinya
Pagi-pagi sekali, Arum sudah mengajak Pak Subroto dan ayahnya berolah raga ringan di taman depan rumah. Ia meminta kedua pria tua itu melatih pernapasan. Menghirup dan membuang napas secara perlahan.
"Tarik...!" ujar Arum ia angkat kedua tangannya selaras dengan dadanya yang naik saat menghirup napas. "Lepas... Hembuskan... Haahhhh!" ujar Arum semangat, saat itu juga kedua pria tua, ayah dan Suaminya pak Subroto sama-sama membuang napas dengan semangat ke arah Arum.
"Astaghfirullah. ... Dasar aki-aki gigi sudah pada bolong." Ujar Arum cengir. Ia tutup mulut dan hidung nya cepat saat napas ayah dan suaminya Yang kurang sedap menerpah wajahnya.
"Hahahaha... !" kedua pria itu malah tertawa dengan tingkah lucu nya Arum.
Arum senang melihat sang ayah kembali ceriah dan semangat lagi. Apalagi sekarang, ayahnya itu sudah akrab dengan pak Subroto, Suaminya.
"Arum gak boleh gitu. Yang sopan ya nak! ingat, kami ini sudah tua. Jangan dibuat bahan ledekan bahan lelucon!" ujar sang ayah memperingatkan Arum.
"Mertuaku.. Gak ada yang salah dengan tingkah Arum. Memang kita yang sudah bauk. Bauk tanah!" ujar Pak Subroto tertawa ngenes.
Hahahaha...
"Memang ia, kalian itu tuan tua keladi. Makin tua makin menjadi. Sudah tahu bauk tanah. Masih saja mau nikah dengan gadis kecentilan ini!" Bu Dewi yang mendengar suara bisik dari balik on kamarnya. Memutuskan turun ke bawah. Ia yang sudah kesal dengan Arum. Tentu semakin me gila melihat Arum kompak dengan suaminya.
"Dewi... Kamu itu merusak mood dan suasana saja!" Sahut Pak Subroto dengan malas nya menatap istri tertua nya itu.
"Lah, aku bicara benar!" Ujar Bu Dewi sok kecentilan.
Arum yang merasa sudah tidak nyaman lagi berolah raga, karena diusik oleh Bu Dewi. Ia pun mendekati kedua pria tua di hadapannya. Tapi, saat ia melalui Bu Dewi. Kakinya malah dikilang oleh bu Dewi.
"Aauuwwhh...!" kebetulan sekali, Dimas tiba di tempat itu, hendak oleh raga juga. Melihat Arum kesandung dan hampir terjatuh. Dimas menangkap Arum. Sehingga kini Arum dalam rengkuhannya. Sejenak kedua nya bersitatap. Dengan pose, romantis.
"Eehhmmm.. Eheheemmmmmm! dasar wanita penggoda..!" teriak Bu Dewi kencang.
Teriakan itu membuat Arum dan Dimas tersadar. Ia pun menegakkan tubuhnya Arum.
Dimas jadi salah tingkah. Ia juga tidak tahu, kenapa pula ia malah menatap takjub Arum yang ada dalam rengkuhannya itu.
"Ayah, aku lari pagi dulu!" ujar Dimas, menyembunyikan rasa enggan nya kepada Ayahnya.
"Iya nak!" Sahut Pak Subroto lembut.
Dimas mulai melangkahkan kakinya ke jalan aspal. Yang disusul oleh Bu Dewi.
"Mertuaku, jangan diambil hati ya, sikap anak dan istriku!" ujar Pak Subroto lemah. Matanya yang cembung, karena dimakan usia nampak berkabut. Pak Subroto kadang memanggil besar, kadang memanggil nama kepada ayahnya Arum
"Iya menantuku." Sahut Pak taufik ramah. Ia tersenyum tulus kepada menantunya itu. Kadang ia merasa lucu juga. Masak menantu lebih tua dari pada mertua.
Arum hanya bisa menahan tawa. Ia merasa lucu dengan drama kehidupan nya. Takdir nya Sungguh aneh. Kenapa ia harus ditakdirkan menikah dengan pria tua dan lumpuh. Tapi, sudahlah. Toh, suami tua nya ini baik. Jadi, ia merasa aman dan nyaman. Walau ada istri tua yang mengusiknya tiap hari. Dan ada dimas, sang anak kiri yang sempat ia Tak sih dan kagumi saat ikut bimbel di kota.
"Pak, kita mandi dulu ya!" Arum sudah memegang badan kursi roda pak Subroto, siap untuk didorong. Dan Pak Taufik, ayahnya kini berdiri di sebelah Arum.
"Iya Rum!" sahur Pak Subroto dengan tidak bersemangat.
Sementara dikejauhan ada Dokter Ulfah memperhatikan kekacauan yang sempat terjadi karena Bu Dewi.
***
Pukul 07 pagi. Pak Subroto yang sudah segar, karena sudah selesai mandi. Kini ada di ruang makan. Ini pertama kalinya Arum memandikan suaminya itu. Masih terasa canggung, tapi Arum harus membiasakan dirinya. Karena itu akan menjadi tugasnya. Pak Subroto yang lumpuh, butuh isteri sekaligus perawat untuknya. Makanya, Dokter Ulfah carikan Istri untuk ayahnya. Karena, ayahnya tidak mau disentuh lawan jenis nya.
Padahal bisa saja, dicarikan perawat pria untuk pak Subroto. Kenapa harus mencari seorang istri?inilah yang belum dimengerti oleh Arum.
"Pak Mertua, baru kali ini, Aku meminum kopi yang rasanya begitu nikmat!" ujar Pak Subroto dengan senyum tipis nya.
Pak taufik membalas senyum besan nya itu. "Bukan memuji ya menantuku . Arum memang pandai buat kopi, dan teh. Bahkan masakan nya enak sekali!" ujar Pak Taufik dengan puas. Ia nampak bangga dengan Puteri nya. Tapi, ada rasa sedih juga di hati nya. Kenapa putrinya itu malah berjodoh dengan pria tua dan lumpuh.
"Iya, sudah cantik, lucu, ceriah, pintar lagi!" timpal Pak Subroto tersenyum puas.
Pak Taufik, ayahnya Arum. Yang tadinya memerhatikan putrinya memasak dari ruang makan, menoleh ke arah Pak Subroto.
"Menantu, bagaimana dengan ke lanjut an studynya Arum. Kalau tidak salah, bulan depan ia harus masuk kuliah. Ia juga mengatakan dapat bea siswa di perguruan tinggi tempat ia lolos tes." ujar Pak Taufik penuh kehati-hatian. Takut juga
dia Pak Subroto tersinggung dengan ucapannya.
"He Hehehe...!" Pak Subroto tertawa kecil. " Bapak tidak usah merasa sungkan begitu, pendidikannya Arum sudah diatur semuanya oleh Ulfa. Tenang saja Ulfa tidak akan merugikan Arum selagi Arum merawatku dengan baik." Ujar Pak Subroto menepuk pelan paha besannya itu. "Minggu depan kita akan sama-sama ke kota. Aku akan melakukan pengobatan di kota. Bapak mertua juga akan melakukan cek kesehatan jantung!""
"I, iya menantu. Terima kasih banyak!" Ujar Pak taufik dengan sumringah. Ia raih tangan menantunya nya itu merangkul nya penuh ketulusan.
"Waahh.. Menantu dan mertua kompak bener!" Ujar Arum, yang sudah datang dari dapur, membawa sarapan dan meletakkannya di meja makan. Dan langkahnya Arum disusul pelayan lainnya. Sehingga kini makanan sudah terhidang Di atas meja makan.
Arum mulai menyiapkan makanan Pak Subroto begitu juga dengan ayahnya. Kali ini Arum masak ikan gulai asam, ayam goreng, tempe goreng, tumis kangkung.Dan ada juga sambal ikan teri. Benar-benar masakan kampung.
"Waahh.. kelihatannya enak dan segar ini!" Ujar Pak Subroto dengan wajah yang berbinar-binar. Sudah lama ia tidak makan ikan gulai asam pakai kecumbrang.
"Bapak suka masakan ini?" tanya Arum semangat. Siapa sih yang tidak senang, jika masakan nya dipuji puji.
"Suka Rum!" ini gulai favoritku dari dulu. Tapi disini gak pernah ada yang mau masak seperti ini!" Ucap Pak Subroto dengan menatap sendok berisi nasi dan lauk di hadapannya.
"Aaakkk!" Arum malah membuka mulutnya sendiri, saat ia akan menyuapi suaminya.
"Aauumm.. !" Pak Subroto mengunyah makanan itu dengan bahagia. Ia bahkan makan dengan ribut nya, seperti kucing yang dapat daging besar.
"Astaga.. Makan koq berisik!" Ujar Bu Dewi yang baru saja tiba di ruang makan. Seperti biasa, gaya nya centil. Sok muda, Padahal sudah tua.
Semuanya memilih membisu setelah kedatangan Bu Dewi di ruang makan itu dan ekspresi wajah-wajah orang yang ada di ruangan itu mendadak mendung dan masam.
"Ayo Dimas, Ulfah, nak Bayu. Kita sarapan. Ini bibi masak enak!" ujar Bu Dewi lagi. Ia banyak cakap di tempat itu.
Saat itu juga terlihatlah Dimas Ulfa dan Bayu suaminya Ulfa kini datang bergabung untuk sarapan pagi.
Arum yang sedang meladeni Pak Subroto, melirik Dimas yang duduk tepat di hadapannya. Penampilan Dimas sangat rapi, seperti mau kerja.
Sejenak Arum berfikir. Apakah ada cabang bimbel nya Dimas di kota tempat mereka tinggal. Bukan hanya di kota provinsi.
"Mata dikondisikan. Jangan coba-coba untuk goda anakku dimas.!" ujar Bu Dewi ketus. "Nehi... Nehi..." Iya goyangkan jari telunjuknya ke arah Arum yang kini membuang pandangannya dari Dimas dan fokus menyuapi suaminya Pak Subroto.
Orang-orang yang tahu karakter Dewi memilih diam saja menikmati sarapannya daripada ikut meramaikan ocehan Dewi yang Kejam itu. Mulutnya tidak di filter
Dimas pun menikmati makanannya. Dan sesekali melirik Arum yang menyuapi sang ayah dengan tulus itu.