Danisha putri, gadis berusia 25 tahun yang harus bekerja seumur hidupnya untuk membayar hutang pada Boss nya atas apa yang dia lakukan, belum lagi dia adalah seorang single parent untuk seorang anak laki-laki berusia 5 tahun yang dulu tiba-tiba dia temukan didepan kost nya waktu anak itu masih bayi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wachid Tiara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 9
"Hari ini apa agenda saya?" Tanya Dika, dia bersikap seolah tak terjadi apa-apa, sedangkan Danish masih merasa canggung dan tidak berani menatap wajah Dika.
"Siang nanti akan ada meeting di Restoran x dengan direktur utama dari Vernandes corporation, dan nanti sore meeting membahas projek baru dengan pak Hermawan di hotel The hive best western premier " jawab Danish tanpa melihat ke arah Dika.
"Baiklah, nanti kamu temani saya" ucapnya.
"Baik" Jawab Danish singkat.
"Kamu!?"
"Ahh iya, maksud saya saya akan menemani anda untuk makan siang dan makan malam nanti" jawab Danish refleks hingga membuat Dika hampir tertawa dibuatnya.
'lucu' batin Dika.
"Ya udah kembali bekerja"
Danish mengangguk dan segera kembali ke meja kerjanya.
-----------
Siang hari di restoran x
Dika dan Danish telah memesan tempat VIP untuk meeting mereka, yang jelas tempat tertutup dan jauh dari keramaian dan kebisingan.
"Selamat siang pak Dika" sapa seseorang wanita yang baru saja datang, Danish terkejut melihat siapa yang datang.
"Selamat siang, anda?" Jawab Dika.
"Oh saya Tari, Lestari Vernandes, ayah saya mengirim saya untuk meeting kali ini" mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan, dan Dika pun membalasnya.
"Dan ini..."
"Tidak perlu, saya sudah mengenal dia" jawabnya saat Dika hendak mengenalkan Danish padanya.
"Kami teman waktu kuliah dulu, tapi sekarang kami berjauhan, karena saya tidak mau dekat-dekat dengan wanita murahan" jawab nya lagi, sontak membuat Dika mengerutkan keningnya, sedangkan Danish tetap tenang dengan perkataan Tari.
"Maksud kamu?!"
"Bapak tidak tahu kalau dia itu wanita murahan yang menjual dirinya untuk mendapatkan uang? Dia bahkan hamil diluar nikah" jawab Tari dengan nada mengejeknya.
Dika menatap wajah Danish yang justru terlihat santainya.
"Anda akan meeting tentang pekerjaan atau akan bergosip tentang kehidupan saya?" Tanya Danish pada Tari.
"Kamu!! Dasar wanita murahan tidak tahu malu!!!" Teriaknya.
"Terus???"
"Kamu benar-benar menjijikan!!!" Teriaknya lagi.
"Cukup, dia sekretaris saya, itu kehidupan pribadinya, kita tidak perlu mengungkitnya, kita disini untuk membicarakan bisnis, jadi lebih baik kita segera menyelesaikannya"
Dika menatap kearah Danish, namun seolah Danish menghindari tatapan mata dari Dika.
Satu jam berlalu, meeting pun sudah selesai.
"Terimakasih pak Dika atas kerjasama nya" ucap Tari mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan senyuman manjanya.
"Sama-sama" jawab Dika singkat.
"Saya kasih saran, jangan dekat-dekat sama wanita ular itu, nanti anda akan terjerat dalam rayuan busuknya" bisik Tari di telinga Dika.
Dika tidak menjawabnya, Dika hanya menatap Danish dengan sejuta pertanyaan di benak nya, Tari pun berlalu meninggalkan mereka.
Suasana canggung menyelimuti seluruh ruangan itu.
"Sebaiknya kita kembali ke kantor" ucap Danish sembari melangkahkan kakinya keluar dari sana.
"Tunggu..." Ucap Dika menghentikan langkah Danish
"Ada apa?"
"Tentang perkataan Tari"
"Oh tentang itu, menurut mu sendiri bagaimana?" Tanya Danish balik.
".." Dika tidak menjawabnya.
Danish tersenyum kecut melihatnya.
"Memang benar semua yang dikatakan Tari" ucap Danish, membuat Dika menatap tajam kearahnya, Dika tidak menyangka Danish akan menjawab demikian.
'jadi benar anak kecil kemarin itu anaknya' batin Dika.
Danis segera keluar dari restoran itu, Dika mengikuti langkahnya, Danish menghentikan langkahnya saat sampai diparkiran.
"Jika kamu merasa jijik dengan ku, kamu bisa memecat ku" ucap Danish.
Dika menatap mata Danish lekat-lekat, tatapan mata yang sayu, seperti menyimpan segala kesedihan.
"Siapa yang bilang akan memecat mu, kalau aku memecat mu, bagaimana kamu akan membayar hutang mu pada ku" jawab Dika.
Danish terdiam mendengar jawaban dari Dika, tersungging sedikit senyuman di bibir Danish, Dika menyadari itu dan ikut tersenyum pada nya.
'entah seperti apa kehidupan mu dulu, aku tidak merasa terbebani dengan itu, walaupun ada sedikit rasa kecewaku pada mu' ucap Dika dalam hati.