Berawal dari seorang penulis Novel yang bernama Emily yang mendapatkan tantangan menulis cerita horor.
Dia mendapatkan ide dari temannya Vanessa yaitu, menulis kisah seorang pengusaha muda yang mati dalam kecelakaan tragis.
Ternyata arwah pengusaha muda yang bernama Harva gentayangan, Emily bisa melihat arwah itu dan berkomunikasi.
Apakah Emily berhasil menulis cerita horor?
Bagaimana Kisah Emily? Mari kita simak ceritanya🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MTCM 9
"Tante, Om, sebelumnya saya minta maaf! apa boleh saya menanyakan kepada petugas kepolisian soal kematian Harva," ucap Lily dengan sopan.
"Om sangat setuju dengan ide kamu, Lily! menurut Om memang ada yang janggal," ucap Papah Harva.
"Tidak! kita sudah cukup sakit menerima kenyataan pahit ini, Lily! jangan diungkit-ungkit lagi, biarkan Harva tenang di alam sana," ucap Manah Harva.
"Mah, seandainya Mamah tau kalau Harva gentayangan! pasti Mamah akan mengizinkan," ucap Harva dengan kesedihan.
Tuan Anggara kemudian memberikan pengertian kepada istrinya, karena saat Tuan Anggara ingin melihat jasad Harva tidak diperbolehkan dengan alasan sudah ada bagian tubuh yang hancur. Keluarga mereka juga tidak diberikan kesempatan untuk mengautopsi jasad Harva. Dengan semua alasan itu Tuan Anggara mengizinkan Lily mengungkap kembali kasus ini.
"Kalau itu permintaan Papah, baiklah Mamah mengizinkan Lily," ucap Mamah Harva.
Harva tersenyum bahagia, dia ingin memeluknya tetapi tidak bisa hingga membuat Lily tertawa.
"Ly, lu kenapa? kumat gila lu," ucap Joy.
"Harva mau peluk Tante, gak bisa," ucap Lily.
"Harva!" kaget Mamah Harva.
Lily dilarang Harva untuk menjelaskan semuanya, karena hal ini diluar nalar. Jadi kemungkinan orang tua Harva tidak ada yang percaya.
Mereka kemudian berpamitan untuk segera pergi ke kantor polisi, sebelum semuanya terlambat dan polisi berubah pikiran. Tadi sebelum berangkat Joy sudah menghubungi pihak kepolisian lebih dulu.
"Pak, gimana ceritanya? kenapa dulu Harva bisa kecelakaan," ucap Joy saat mereka sudah sampai di kantor polisi.
"Ada seseorang warga yang mengetahui kalau mobil Harva saat itu tidak ada yang mengemudi, tetapi saat mobil menabrak tubuh Harva terpental keluar dan hancur," jelas polisi.
Mereka kemudian melihat mobil Harva yang masih berada di kantor polisi, mereka memeriksa mobil yang sudah ringsek itu.
"Lily, itu ada camera kecil sudah dicek belum?" tanya Harva sembari menunjukkan camera tersembunyi didalam mobil itu.
Polisi tidak mau membuka camera itu, karena ada petugas lain. Polisi itu juga berbisik agar mereka pulang, karena ada atasannya yang datang.
"Ada perlu apa kalian?" tanya atasan polisi itu.
"Kita teman Harva, ingin mengecek mobil Harva," kata Joy.
"Saya sudah melarang siapapun, agar tidak mencari tau atau memberikan informasi tentang masalah kecelakaan itu! pergi kalian," ucap atasan polisi itu.
Mereka curiga ada sesuatu yang tidak beres, lalu mereka pergi ke kantor hendak melihat rekaman camera kecil itu.
"Di sandi gak bisa dibuka rekaman ini," ucap Vanessa.
"Harva, sandinya apa?" tanya Lily.
"Tanggal gue jadian sama Alena," ucap Harva.
"Gue tanya sandinya! bukan tanggal kalian jadian," ucap Lily menatap Harva.
"Setan kalau ngomong yang jelas! biar cepet ke buka ini," ujar Joy.
Lily mengingatkan mereka agar tidak ribut lagi, karena sudah pusing dengan sandi. Harva kebetulan juga lupa, kapan dia jadian dengan Alena.
"Harva, lu gimana sih? berati gak cinta dong lu sama Alena," ucap Lily.
"Ngawur lu! gue cinta mati sama dia, cantik, baik, calon dokter lagi," ucap Harva dengan bangga.
Vanessa memberikan solusi agar sandi segera ditemukan, menemui Alena adalah solusi terbaik untuk mengatasi semua.
Joy tidak setuju dengan ide Vanessa, karena bisa membuat Alena sedih mengingat hantu Harva.
"Gue ingat! lu buka cincin berlian itu, ada ukiran tanggal jadian gue sama Alena," kata Harva.
Dengan cepat Lily membuka cincin yang sudah terbungkus dengan rapi itu, dia mencari ukiran yang dimaksud oleh Harva.
"Akhirnya bisa dibuka," ucap Vanessa.
Dalam rekaman itu mobil Harva ada di depan cafe, ada dua orang terlihat membawa tubuh Harva yang sudah hancur kemudian mobil itu dikendarai oleh orang asing, saat hendak sampai di TKP ternyata orang itu melompat lebih dulu sehingga mengakibatkan kecelakaan.
"Terus siapa wanita tadi, kenapa berpakaian sangat aneh," ucap Vanessa.
"Itu teman Alena! waktu di laboratorium itu gue ketemu dia," kata Lily.
"Bisa jadi Alena yang sudah membunuh Harva," ucap Joy.
"Lu, jangan asal nuduh pacar gue dong! masa dia yang bunuh gue, tidak mungkin sekali itu," ucap Harva sedikit tersulut emosinya mendengar ucapan Joy.
"Harva, dia gak bakalan dengar lu ngomong apa! udah diem dulu," kata Lily.
Mereka melanjutkan menonton rekaman itu lagi, di situ terlihat wajah Alena dengan jelas. Alena terlihat mengambil sesuatu di dalam mobil setelah kecelakaan itu terjadi. Tidak ada raut wajah kesedihan sama sekali, membuat mereka curiga.
"Sepertinya wanita itu terlibat! masa iya kekasihnya meninggal gak ada sedih sama sekali," ujar Joy.
Harva kali ini diam, apa yang dikatakan Joy ternyata ada benarnya. Alena sudah jelas terlihat dalam video itu, pasti terlibat dalam pembunuhan dirinya. Muka Harva menjadi murung, lalu menarik tangan Lily keluar dari kantor, Lily juga sudah berteriak agar dilepaskan tetapi Harva membawanya masuk ke dalam mobil lalu melajukannya dengan kencang.
Di sebuah bukit yang sangat indah, penuh dengan pemandangan rumput. Harva membawa Lily ke tempat itu.
"Lu, tau tidak! tempat ini jadi saksi gue sama Alena mengungkapkan perasaan kita," ucap Harva.
"Gue gak nanya," ucap Lily menatap kesal Harva.
"Gak asyik, Lu!" teriak Harva.
Dia sebenarnya ingin berbagi kisah dengan Lily, tetapi ucapan Lily sudah ketus duluan sehingga membuat Harva mengurungkan niatnya.
"Harva, gimana kalau kita ajak Vanessa sama Joy menyelinap ke laboratorium itu! gue penasaran sama tulang-tulang yang bergelantungan di sana," ucap Lily.
"Oke! gue juga setuju, buat membuktikan apa yang kita lihat di rekaman camera," kata Harva.
"Lu, gak usah sedih lagi! justru dengan kejadian ini kita bisa tau siapa Alena," kata Lily.
"Walaupun hati gue hancur," ucap Harva tersenyum tipis.
Karena tempatnya begitu indah Lily merebahkan tubuhnya di rerumputan, begitu juga dengan Harva yang ikut merebahkan tubuhnya disamping Lily.
"Gue baru tau, ada tempat seindah ini," ucap Lily menatap langit biru.
"Main lu kurang jauh," ucap Harva.
Lily menggenggam tangan Harva dan mengatakan kalau dia akan membantu menemukan jasadnya, dan Harva akan membantu Lily menulis novel.
"Lepaskan tangan gue," ucap Harva.
"Maaf, reflek," ucap Lily malu-malu. Saat Lily hendak melepaskan tangan Harva, tetapi Harva justru yang menggenggam erat tangan Lily keduanya saling bertatapan dan tersenyum.
Dalam hati Harva begitu memuji Lily, tetapi dia tau diri merasa kalau dirinya hanya Hantu jadi tidak mengungkap perasaannya.
"Sekarang ambil laptop lu, kita mulai nulis sekarang," ucap Harva.
Lily kemudian mengambil laptop di dalam mobil, dia memberikan pada Harva.
"Ly, tubuh gue tiba-tiba panas! tolong gue," ucap Harva.
"Apa yang harus gue lakuin," ucap Lily panik sembari memegang tubuh Harva.
lanjutin donk ..,....
kangen Ama karya author yang 1 ini