"Kau benar-benar sempit dan nikmat."
Akibat jebakan seseorang, Aksara tanpa sadar meniduri seorang gadis tidak bersalah. Gadis yang tidak dikenalnya, namun menjadi gadis pertama yang ia nikmati.
Bukan hanya gadis itu yang pertama, namun Aksa juga. Dia mengambil mahkota gadis itu secara paksa di bawah kendali obat.
Aksa menyelidiki gadis itu, yang ternyata hanya seorang pengantar makanan di restoran milik paman dan bibinya.
Lalu bagaimana kisah selanjutnya, apakah Aksa akan bertanggung jawab atau justru lari??
Update setiap hari‼️
Follow Ig : Alfianaaa05_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Telat datang
Dua minggu berlalu sejak malam itu terjadi. Kini Ayesha terlihat terbaring di atas ranjang kecilnya dengan tubuh yang di tutupi selimut sampai batas bahunya.
Gadis itu merasa tubuhnya lemas dan menggigil. Tidak jarang juga Ayesha mual dan muntah-muntah di kamarnya.
Ayesha tidak tahu mengapa ia akhir-akhir ini merasa lemas dan mual, bahkan hanya karena mencium sesuatu.
"Ayesha, bangun!!!" Nety terdengar berteriak dari luar kamar Ayesha, sambil terus menggedor pintu kamar gadis itu.
Ayesha menelan gumpalan salivanya, mulutnya terus saja berair tanpa ia tahu alasannya. Ayesha hanya beranggapan bahwa ia kelelahan, apalagi belakangan ini ia selalu hujan-hujanan ketika mengantar pesanan.
"S-sebentar, Bi." Ucap Ayesha dengan sedikit terbata.
Baru saja Ayesha membuka pintu, ia sudah merasakan mual yang tidak tertahankan. Gadis itu langsung berlari, melewati Nety yang menatap tajam dirinya.
Ayesha masuk ke dalam kamar mandi dan tidak lupa menutup pintunya. Di dalam kamar mandi itu, Ayesha terus saja mual dan muntah.
"Apa yang terjadi padaku." Kata Ayesha pelan.
Tubuh gadis itu terlihat begitu lemas, ditambah lagi dengan wajahnya yang pucat dan keringat yang terus bercucuran dari rambut ke keningnya.
"Ayesha, keluar!! Kamu ngapain hah, keluar cepat!!" Pinta Nety dengan murka.
Ayesha lekas mencuci mulutnya, lalu barulah ia keluar dari kamar mandi.
"Ngapain kamu? Mau berpura-pura sakit supaya nggak kerja, iya?" Cecar Nety, melontarkan sebuah tuduhan.
"Nggak, Bi. Aku benar-benar lemas, kepalaku pusing." Jawab Ayesha pelan.
"Banyak alasan kamu, cepat siap-siap dan bersihkan restoran." Ucap Nety sedikit mendorong Ayesha.
"Mama!!" Aaron datang usai mendengarkan keributan dan langsung menegur sangat mama.
"Mama apa-apaan sih, mama nggak lihat muka Ayesha pucat. Dia benar-benar sedang sakit." Ucap Aaron lagi.
"Jangan mudah percaya padanya, Ar. Dia ini hanya bersandiwara." Tegur Wardi pada putranya.
Ayesha menggelengkan kepalanya. "Aku nggak bohong, Paman. Aku benar-benar merasa kurang sehat, izinkan aku untuk istirahat sehari saja." Pinta Ayesha memohon.
"Iya, Ay. Kau istirahat saja, hari ini biar aku yang mengantar makanan nya." Tutur Aaron lembut.
"Nggak! Tiga hari lagi kamu harus ujian, mama nggak mau konsentrasi belajar kamu terganggu." Tegur Nety menolak.
"Nggak ganggu, Ma. Aku mohon biarkan Ayesha istirahat, kasihan dia." Sahut Aaron ikut memohon.
Wardi mendekat. "Kamu itu kenapa sih belaian dia terus." Kata Wardi.
"Karena dia sepupu aku, dia adikku pa." Jawab Aaron tegas.
Nety berdecak sebal. "Susah ngomong sama kamu." Ketus Nety kemudian pergi disusul oleh suaminya.
Kini tinggal Aaron dan Ayesha di rumah. Aaron mengusap bahu Ayesha pelan, ia benar-benar merasa iba pada sepupunya ini.
"Terima kasih banyak, Kak." Ucap Ayesha lirih.
"Sama-sama, Ay. Kau masuklah, aku harus bantu beres-beres resto." Tutur Aaron dan Ayesha hanya mengangguk, kemudian pergi.
Aaron menatap punggung kecil Ayesha dengan perasaan sedih, ia sungguh tidak mengerti kenapa kedua orang tuanya begitu membenci Ayesha, padahal gadis itu sangat baik dan penurut.
Aaron pun pergi meninggalkan rumah untuk membantu kedua orang tuanya, meninggalkan Ayesha seorang diri di rumah.
Sementara itu di tempat lain, di kantor besar milik keluarga Abiputra. Aksara terlihat sibuk dengan pekerjaannya.
Dalam jadwal hanya satu minggu ia pergi ke Amerika, namun kenyataanya hampir 10 hari dan baru kemarin ia sampai di Indonesia.
Selama Aksa pergi, tentu pria itu tetap mendapatkan laporan dari anak buahnya yang mengawasi Ayesha. Setiap harinya, kegiatan gadis itu selalu sama, tidak ada yang berbeda.
Hanya datang ke resto, lalu mengantar makanan. Tidak ada jalan-jalan atau liburan kemanapun, sampai Aksa sendiri merasa bosan membayangkan nya.
"Aku memang gila bekerja, tapi gadis itu benar-benar over dosis." Gumam Aksara geleng-geleng kepala.
***
Ayesha terbangun dari tidurnya ketika perutnya terasa dikocok dan membuatnya kembali muntah-muntah di kamar mandi.
Keseringan muntah membuat tubuh Ayesha benar-benar tidak bertenaga, bahkan ia harus memegang tembok untuk menopang tubuhnya.
"Ada apa denganku, ya Tuhan." Ucap Ayesha sambil memegangi kepalanya yang pusing.
Ayesha lalu mengedarkan pandangannya, dan tatapannya jatuh pada kalender yang berada tepat di hadapannya.
Dengan sedikit gemetaran, Ayesha mulai menghitung tanggal demi tanggal yang ada di kalender tersebut.
"Aku telat datang tamu bulanan." Gumam Ayesha lalu reflek memegangi perutnya.
Ayesha menggelengkan kepalanya, ia menepis pikirannya yang mulai tertuju pada satu perkiraan.
"Nggak … nggak mungkin, aku pasti hanya telat karena hormon dan bukan hamil. Nggak mungkin aku hamil." Ucap Ayesha terus menepis pikirannya.
Ayesha pergi dari sana, ia masuk kembali ke dalam kamarnya dan merebahkannya tubuhnya lagi.
Gadis itu menangis sambil memegangi perutnya. Ia takut, risau dan khawatir jika apa yang ia pikirkan memang benar-benar terjadi.
"Hiks … aku nggak mau. Aku nggak mau hamil, hiks …" lirih Ayesha sembari meremat pakaiannya sendiri.
Seluruh tubuh Ayesha terlihat gemetaran karena tangisan dan juga rasa takut. Ayesha takut dirinya benar-benar hamil dan diusir dari rumah.
Jika itu sampai terjadi, kemana ia akan pergi, jika ke pria itu? Rasanya tidak mungkin pria itu mengingat dirinya.
"Hiks … kenapa harus aku yang terus menderita, kenapa harus aku!!" Ucap Ayesha mulai meringkuk dan memeluk tubuhnya sendiri.
"Ay, Ayesha!!" Panggil seseorang dari luar kamar.
Ayesha buru-buru menyeka air matanya ketika mendengar suara Aaron, sepupunya.
Ia perlahan turun dari ranjang lalu membuka pintu dengan cepat.
"Kakak, ada apa?" Tanya Ayesha dengan suara yang sedikit bindeng.
"Ay, aku membawakanmu obat dan makanan." Jawab Aaron lalu memberikan makanan dan obat itu kepada Ayesha.
"Terima kasih, Kak. Seharusnya tidak perlu, karena paman dan bibi bisa marah nanti." Kata Ayesha pelan.
"Tidak akan, sudahlah. Kau makan, lalu minum obatnya dan lekas kembali istirahat." Ucap Aaron penuh perhatian.
"Dan ya, kau mau tahu? Tukang apotek bilang gejala mual dan muntah yang kau alami karena hamil. Maka aku bilang saja padanya bahwa adikku belum menikah, dan dia tidak mungkin hamil sebelum menikah." Ujar Aaron lagi bercerita.
Ayesha terdiam mendengar ucapan kakak sepupunya, rasa takutnya semakin bertambah.
"Ay, melamun. Sudah ya, aku harus mengantar pesanan. Sampai nanti." Aaron lekas pergi meninggalkan Ayesha seorang diri.
Ayesha meletakkan makanan dan obat yang Aaron berikan di atas meja kecil yang ada di kamarnya, kemudian ia duduk di lantai.
"Bagaimana caraku akan hidup jika sampai diusir dari rumah." Gumam Ayesha dengan air mata yang kembali mengalir tanpa diminta.
MBAK AYESHA, SEK YO. AKU JAMIN NGGAK AKAN JADI GELANDANGAN DIRIMU 🥺
Bersambung............................