Siapkan tissue karena cerita mengandung bawang.
Apa jadinya jika sebuah pernikahan tanpa cinta harus terjadi atas unsur perjodohan?
Kiandra Anastasia seorang gadis yatim piatu berusia 17 tahun yang hidup bersama dua pembantu setianya yang menganggapnya seperti anak sendiri semenjak kepergian kedua orang tuanya untuk selama-lamanya karena sebuah kecelakaan, ternyata sejak kecil sudah dijodohkan oleh Almarhum kedua orangtuanya itu dengan seorang CEO perusahaan besar yang merupakan putra dari sahabat Almarhum Papanya, Aldo Wiryawan Prayoga nama sang CEO yang terkenal dengan sikapnya yang dingin dan tempramen.
Bagaimana kehidupan pernikahan antara Kiandra bersama Aldo? Akankah ada benih-benih cinta diantara mereka nantinya? Yuk ikutin cerita ini dari awal sampai akhir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saputri90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Seminggu sudah Kia tidak masuk sekolah, semua teman-temannya begitu kehilangan, sosok sekertaris kelas yang terkenal pintar, ramah dan rendah hati seperti Kia.
Kedua sahabatnya sudah berkali-kali mendatangi rumah sahabatnya itu, namun mereka tak mendapati Kia ataupun pembantunya di rumah, yang terlihat oleh mereka hanya penampakan rumah yang sepi dengan pintu gerbang di gembok dari luar.
"Kemana Kia? Kenapa dia bisa menghilang bagaikan ditelan bumi?" Pertanyaan itu yang terlintas di dalam benak kedua sahabatnya saat ini. Rasa cemas dan khawatir sudah pasti bergelayut dihati kedua sahabatnya itu.
"Gue ngerasa ada yang gak beres sama Kia, Dir. Khawatir banget gue sumpah sama dia, Dir. Secara tuh anak kemarin baru ngasih tahu dia di jodohin kan sama almarhum kedua orang tuanya. Gue takut banget dia di paksa dan dia gak mau dan akhirnya dia.... Ih... Amit-amit, jangan sampe?" Ucap Nadya pada Dira, dengan pikiran buruknya yang tak berani ia bicarakan secara gamblang dengan Dira, karena ia sudah takut terlebih dahulu sebelum mengucapkannya.
Namun apa yang di pikiran Nadya memang benar adanya, Kia masih tergeletak tak sadarkan diri di rumah sakit. Semua perkiraan Dokter yang mengatakan Kia akan sadar saat proses transfusi selesai di lakukan, ternyata meleset. Sampai saat ini Kia masih tak sadarkan diri. Ia seperti putri tidur yang sedang menunggu pangerannya datang, pangeran yang datang dengan membawa cinta yang tulus, pangeran yang bersedia membangunkannya, dengan memberikannya sebuah kecupan hangat di bibir ranum Kia, yang sama sekali belum pernah terjamah oleh seorang pria manapun.
Berbagai pemeriksaan telah dilakukan, dan pada akhirnya, seorang dokter psikiater menyimpulkan Kia sedang terpenjara dalam alam tidurnya. Jika ditanya mengapa hal ini bisa terjadi, tentu saja bisa, semua yang telah di alami Kia dengan usianya yang belum dewasa, sangat berpengaruh dengan mental dan kejiwaannya, pantas jika Kia tak lagi memiliki semangat hidup untuk melanjutkan hidupnya kedepan. Karena terlalu banyak beban hidup yang menekan jiwanya, sedangkan jiwanya belum siap untuk menerima semua itu.
Tak ada lagi yang bisa dilakukan oleh pihak tim Dokter untuk Kia. Sekarang ini, mereka hanya menunggu keajaiban dari Tuhan yang akan membangunkan Kia dari tidur panjangnya.
Sementara itu Keluarga Wiryawan Prayoga yang diliputi dengan rasa bersalah, hanya bisa mendoakan tanpa bisa menemui Kia, karena Pak Ujang dan Bi Ratmi terus menyalahkan mereka atas kondisi anak almarhum majikannya itu.
Ancaman Pak Ujang yang akan membawa pergi Kia jauh dari mereka, jika mereka terus memaksakan diri untuk menemui Kia dengan kondisinya yang seperti putri tidur ini, yang disebabkan karena ulah mereka, berhasil menjadi senjata ampuh bagi Pak Ujang untuk membuat satu keluarga itu menjauhi hidup Kia sementara waktu.
Tuan Wiryawan dan Istrinya tidak bisa berbuat apa-apa, mereka hanya bisa menerima kemarahan Pak Ujang yang terus menyalahkan mereka atas apa yang terjadi pada Kia, putri kedua sahabatnya yang telah tiada.
Mereka berdua hanya mengetahui kabar Kia dari Bi Ratmi yang masih mau berkomunikasi dengan mereka, meskipun Bi Ratmi harus bersembunyi-sembunyi dari sang suami. Pak Ujang benar-benar kecewa dan marah dengan keluarga itu. Seperti layaknya seorang Ayah yang tak terima kondisi putrinya bisa sampai seperti ini, karena sebuah paksaan orang luar yang tak bisa mengerti perasaan anaknya yang masih terluka dan terpukul karena kehilangan kedua orang terpenting dalam hidupnya.
Kembali ke kedua sahabat Kia, yang masih berada di depan pagar rumah Kia. Mereka terlibat pembicaraan mengenai kabar terakhir yang di dengar Dira dari kekasihnya Tomo, Pak Guru olahraga di sekolah mereka.
"Gue denger dari Yayang Tomo, Pak Arka terakhir lihat dia di makam kedua orang tuanya sama Pak Ujang, Nad." Ujar Dira yah memberikan informasi terakhir mengenai Kia.
"Kok Pak Arka bisa tahu dia disana sama Pak Ujang?" Tanya Nadya yang penasaran.
"Makam kedua orang tuanya Pak Arka ternyata sama kaya kedua orang tuanya Kia, dan seperti lo tau, dia kesana sama siapa lagi kalau gak sama Pak Ujang." Jawab Dira.
"Ya udah Dir, hari ini sampai disini dulu nyari Kianya, besok kita cari lagi dia, Dir. Kita bisa mulai pencarian dari makam bonyoknya Kia, jujur hari ini gue cape banget, sumpah cape banget," ucap Nadya yang di iyakan oleh Dira.
"Sama gue juga cape, rasanya pengen banget di gendong aja nih sama yayang Tomo, mager banget gue harus jalan lagi," sahut Dira.
Mereka pun memutuskan untuk kembali pulang, lagi-lagi mereka kembali dengan tangan kosong, tanpa ada satupun kabar mengenai Kia, sahabat baik mereka berdua itu.
Keesokkan paginya, di kelas Kia ada mata pelajaran olahraga, setelah jam apel pagi. Saat Dira dan Nadya berganti pakaian di ruang ganti. Salah seorang kakak kelas bernama Celine mendekati mereka.
"Lo berdua pasti lagi sibuk nyari sahabat lo berdua, kan?" Tanya Celine sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya, dia menatap wajah kedua sahabat Kia penuh arti.
"Iya Kak, bener banget, kita emang lagi nyariin dimana keberadaan sohib kita itu, memangnya Kakak tahu dimana Kia sekarang? Sampai repot-repot nyamperin kita kaya gini, makasih loh kak," jawab Dira yang langsung menanyakan mengenai Kia pada Kakak Kelasnya itu.
"Gue tahu, dan memang tahu banget malah," balas Celine dengan pasti dengan gayanya yang berlagak.
"Seriusan Kak? Kalau bener Kakak tahu dimana Kia, tolong kasih tahu kita Kak, boleh kan kita tahu dimana dia, Kak?" Tanya Nadya dengan antusiasnya.
"Seriusan lah gue tahu, Sahabat lo itu ada di rumah sakit sekarang, dia habis melakukan percobaan bunuh diri, seminggu yang lalu dia dipaksa nikah sama sepupu gue dan dia nolak dan akhirnya berbuat nekat motong urat nadinya pakai pisau karter, Gue harap kalian cukup tahu aja dan bisa tutup mulut, berita ini sengaja ditutupin, karena ini berhubungan dengan nama baik keluarga besar Om gue yang terpandang," jawab Celine yang menceritakan apa yang terjadi pada sahabat mereka.
Dira dan Nadya menangkupkan mulutnya dengan kedua tangannya, karena tak menyangka dengan apa yang didengarnya barusan, mengenai sahabat baik mereka yang sejak kemarin ia cari-cari keberadaannya. Tubuh Nadya langsung merosot jatuh ke lantai. Buliran bening terjun bebas di wajah gadis keturunan blasteran Indonesia Jerman itu.
"Dan Lo tahu, Sahabat lo sampai sekarang belum sadar, walaupun dia sudah melewati masa kritisnya. Lo bisa temuin dia di rumah sakit Alexandria. Mungkin kedatangan lo berdua bisa buat dia bersemangat untuk kembali menjalani hidupnya dan dia segera bangun dari kondisinya yang sekarang. Karena apa? Karena Dokter udah gak bisa berbuat apa-apa lagi untuk membangunkan dia," ucap Celine lagi yang membuat Nadya makin menangis histeris.
"Dir... Kia Dir... Sahabat kita Dir... Kia kenapa lo sebodoh itu? Gue gak mau kehilangan lo Kia. Lo sahabat gue. Ketakutan gue terjadi Dir... KIAAAAAA...." Bukannya tutup mulut, tangis Nadya yang begitu histeris membuat banyak orang berdatangan ke ruang ganti dan mengetahui semua yang terjadi pada Kia.
Celine merasa menyesal memberitahukan kabar mengenai Kia pada kedua sahabatnya yang begitu menyayangi Kia. Namun ia kasihan melihat kondisi Kia yang seperti mayat hidup dirumah sakit, karena ulah keluarganya.
Tangis Nadya yang tak kunjung berhenti malah semakin menjadi-jadi, ketika seorang guru datang untuk menenangkan tangis Nadya.
"Nadya tenangkan dirimu, berdoalah Kia baik-baik saja." Ucap salah satu guru wanita yang menenangkan tangis Nadya yang baju bagian dadanya sudah basah dengan air mata Nadya, karena guru tersebut memeluk tubuh Nadya yang terduduk lemas di lantai.
Berita Kia melakukan percobaan bunuh diri pun cepat tersebar ke seluruh warga sekolah dan sampai di telinga Arka, karena ke histerisan tangisan Nadya yang sulit diredam, membuat kehebohan di sekolah itu.
Arka yang di berikan kabar buruk oleh Tomo, sepupu sekaligus sahabatnya itu begitu terkejut, sama seperti reaksi kedua sahabat Kia lainnya. Kakinya seakan tak bertulang, ia berpegangan dengan tepian meja karena hampir saja ia terjatuh. Hatinya begitu terpukul, rasa tak enak yang ia rasakan selama ini ternyata karena terjadi sesuatu yang buruk pada gadis belia yang mencuri hatinya.
"Aku akan melihat keadaannya sekarang Tom, ajak kedua sahabatnya untuk ikut aku ke rumah sakit Tom! Aku tunggu mereka di parkiran mobilku." Pinta Arka pada saudaranya itu.
"Ar, tunggulah sampai jam sekolah berakhir. Kamu tidak bisa meninggalkan tanggung jawab mu sebagai seorang guru hanya karena masalah pribadi mu. Apa kata mereka tentang sikapmu yang berlebihan seperti ini pada seorang murid? Ingatlah Ar, kita sedang berada disekolah dan sedang melakukan penyamaran, sadarlah kita berada disekolah bukan berada di perusahaan yang kau bebas melakukan apapun sesuka hati mu," tolak Tomo yang mencoba menyadarkan Arka.
Arka pun terdiam dan membenarkan apa yang di ucapkan Tomo pada dirinya. Ia berusaha bersabar untuk melihat kondisi gadis belia yang kini masih berada di rumah sakit itu.
Waktu pun cepat berlalu, Dira dan Nadya sudah pulang dari sekolah. Mereka yang masih menggunakan pakaian seragam putih abu-abu, sudah pergi ke rumah sakit terlebih dahulu dibandingkan Arka, pikir mereka.
Kedua sahabat Kia ini pergi ke rumah sakit dengan diantarkan oleh supir pribadi Nadya dan juga dengan kedua orang tua Nadya yang tak sengaja ikut serta ke Rumah Sakit menemani putri mereka.
Kedua orang tua Nadya bisa ada bersama mereka bukan tanpa sebab, pihak sekolah sengaja memanggil orang tua Nadya, karena anaknya itu tak kunjung berhenti menangisi sahabatnya, sehingga mengganggu proses kegiatan belajar mengajar di sekolah tersebut.