Pernikahan tanpa cinta yang terpaksa di jalani Erich dan Julia untuk menyenangkan hati orang tua mereka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meisye Cristin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman Bunda Sofia
Pintu terbuka Erich yang baru pulang dari kantor, mendapati istrinya sedang memasak.
"Mas baru pulang? Pasti capek aku buatin teh, susu atau kopi?"
"Gak usah." Sambil berjalan menaiki tangga.
Melihat itu Julia hanya tersenyum dan menarik napas dalam, tapi percayalah ada luka di hatinya yang entah seberapa dalam dan entah sampai kapan dia akan bertahan hanya dia dan Tuhan yang tau.
Malampun tiba seorang wanita sedang duduk di meja makan menikmati hidangan seorang diri padahal kurang lebih satu bulan yang lalu statusnya telah berubah menjadi seorang istri, tapi selama satu bulan pun dia selalu makan seorang diri.
"Mas Erich lagi apa ya? Dia belum makan dari tadi?" Memikirkan orang yang bahkan sama sekali tidak perna memikirkannya.
Dreeeettttt....... Dering ponsel memecah lamunan Julia, tertulis nama pemanggil bunda.
''Hallo bunda, apa kabar?'' Sapa Julia pada ibu mertua.
''Hallo Sayang, kabar bunda baik nak. Kabar kamu sama Erich gimana?"
''Baik, Bunda Lia kangen."
''Bunda juga kangen sayang.''
Julia dan ibu Sofia terlibat obrolan yang cukup panjang melalui telepon, tetapi ibu Sofia tidak memberitahukan Julia perihal liburan yang di ceritakan Ricat dengan dalih membawa teman-temannya sekalian. Padahal itu hanya akal-akalan mereka saja supaya Erich dan Julia semakin dekat.
Tak lama setelah pembicaraan mereka lewat telepon terputus, Julia mendengar bunyi bel rumah, dia pun bergegas membuka pintu.
"Selamat malam Mbak."
"Malam, cari siapa?"
"Ini mbak saya mau mengantarkan paket makanan atas nama bapak Erich Dirgantara apa betul ini alamatnya?"
"Iya, pak betul sini biar saya yang terima."
"Oke mbak, makasih."
"Iya, sama-sama."
Setelah menutup pintu Julia membawa kotak berisi makanan tersebut ke meja makan.
"Lain kali jangan seenaknya terima pesanan orang." Suara Erich mengagetkan Julia.
"Maaf mas."
"Harus berapa kali diingatkan untuk jangan mencampuri apapun urusan yang berhubungan denganku, termasuk menerima paket makanan ini."
Julia hanya menatap Erich dengan mata yang berkaca-kaca, entah kenapa saat mendengar kata-kata Erich mata Julia pun langsung memproduksi cairan bening itu.
tanpa bicara lagi Erich mengambil paket makanan di atas meja dan menaiki tangga dengan wajah kesal sambil mengumpat dalam hati. "Kenapa aku harus menikah dengan orang seperti dia. Ah, takdir seakan mempermainkanku, dia pikir dengan menangis bisa membuat aku melunak dia salah."
***
Seminggu telah berlalu hari ini adalah hari dimana mereka akan pergi liburan seperti yang sudah di katakan Ricat pada Erich.
"Rich gimana persiapan kamu buat liburan nanti? Udah packing belum?”
"Dia aja belum aku kasih tau."
"Siapa? kakak ipar?"
"Hhmmmm."
"Astaga tokek, kok bisa?"
"Belum nemu waktu yang pas."
"Emang ajak istri pergi liburan harus nunggu waktu yang pas?"
"Iya." Jawab Erich ketus.
"Kalau nanti kakak ipar tiba-tiba ada acara dan ga bisa ikut gimana?"
Erich terdiam dia langsung mengingat kembali ancaman bunda Sofia saat menyuruh Erich untuk mengajak Julia ikut liburan bersama Ricat dan teman-teman.
Saat itu Erich menerima telepon dari sang bunda.
"Hallo bunda." Sapa Erich.
"Rich dengar minggu depan Ricat dan teman-temannya akan liburan bersama ke villa keluarga." Langsung bicara tanpa menjawab sapaan hallo dari anaknya.
"Lalu?" Tanya Erich bingung.
"Bunda ingin kamu ajak lia, kalau sampe Kamu pergi sendiri dan gak ajak istri kamu Bunda gak akan segan-segan untuk coret nama kamu dari daftar kelurga."
Happy Reading Readers😘
biar klepek2 tu erich
ijin promosi ya..
karya pertamaku
judulnya
harapan yang tak diimpikan.
yuk mampir
mohon kritik dan sarannya ya..