NovelToon NovelToon
Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Patahhati / Duda / Tamat
Popularitas:3.8M
Nilai: 4.9
Nama Author: Vhy'dHeavy Putri

Kisah bully di masa lalu, membuatku benar-benar trauma. Rasa percaya diriku sangat tipis dan selalu membuatku sulit bergerak serta berpikir dalam mengambil suatu keputusan. Aku selalu tenggelam dalam kesepian, tak ada cinta, meski beruntung setidaknya aku masih memiliki teman.

Padahal, impianku cukup sederhana aku hanya ingin menikah, itu saja. Sayangnya, Tuhan belum menunjukkan siapa orang yang bersedia menerimaku apa adanya. Terlebih, ketika fisik yang kumiliki seperti gumpalan daging besar. Aku tidak langsing seperti para wanita idaman, paras blasteranku tak mampu menutupi kekuranganku dalam segi bentuk badan. Karena hal itu pula, kadang kala aku sampai berpikir bahwa pernikahan hanyalah sebuah kemustahilan untuk terjadi di dalam hidupku.

Namun, suatu ketika, aku bertemu Mas Arlan dan seorang CEO tampan pemilik perusahaan besar—tempatku bekerja. Kisahku yang sebenar-benarnya dimulai sejak saat itu, benih-benih cinta pun turut menghiasi. Siapakah yang bisa menerima kekuranganku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vhy'dHeavy Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Maaf

Setelah aku selesai mandi dan merapikan diri. Aku beranjak menghampiri ibuku di dapur. Aku bermaksud ingin membantu. Namun, tampaknya niatku gagal. Kini telah tersaji rapi beberapa hidangan yang sengaja ibuku buat.

Aku hanya bisa beringsut dan malu dibuatnya. Rasa canggung masih merayapi hatiku. Kalimat yang sudah aku susun sembari mandi tadi seolah tidak mau menampakkan diri melalui bibirku.

"Sayang, kenapa kamu kok gelisah gitu?" tanya ibuku membuyarkan kegelisahanku.

"Emm ... enggak kok, Ma, enggak," jawabku tergagap.

"Hmm ... kamu udah maghriban?"

"Udah, Ma. Barusan."

"Ya udah tungguin Mama dulu ya? Entar kita makan bareng."

Entah apa yang merasuki ibuku sekarang. Sampai membuatnya menjadi sangat ramah dan baik sekali. Mengingat biasanya ibuku hanya berekspresi datar dan terkesan acuh tak acuh bahkan sedikit kesalahan saja bisa membangunkan pribadi harimaunya.

Ya sudahlah, bukannya harusnya aku merasa beruntung daripada terheran-heran. Setidaknya bisa memperbaiki hubunganku setelah pertengkaran tadi malam.

Meskipun, aku belum bisa berbaikan dengan Kak Pandhu. Ibuku sudah lebih dari cukup. Karena didunia ini hal paling berharga dari semuanya adalah seorang ibu. Aku tidak ingin membuat ibuku kecewa lagi. Meskipun aku tidak menjamin pasti.

Selang beberapa menit kemudian, ibuku telah selesai menunaikan kewajibannya sebagai umat islam. Dan berjalan menghampiriku yang tengah terduduk di atas sofa yang sudah kempes oleh bokong besarku. Senyuman terus ibuku semaikan ketika kami sedang bertatapan. Jujur saja, aku merasa sedikit kikuk dan risih. Bukan karena jijik melainkan canggung karena tidak seperti biasanya.

"Kamu udah laper, Sayang?" tanya ibuku sembari mengusap lembut rambutku.

"Sedikit, Ma," jawabku.

"Mau makan kapan?"

"Aku ikut Mama aja, kan, yang masak Mama."

"Perut-perut kamu kok, malah mau ikut perut orang lain."

"Hehe."

Akhirnya kami memutuskan untuk menyantap hidangan hasil dari masakan ibuku sekarang juga.

"Sini piringnya, Mama ambilin," ujar ibuku sembari bergerak menuangkan nasi dan beberapa lauk pauk atau sayuran ke dalan piring makanku.

"Thanks, Ma," jawabku dengan malu-malu.

"Sama-sama, Sayang. Enggak apa-apa ya, kita makan berdua doang?"

"Nggak masalah kok, Ma."

Memang ayahku jarang sekali ke apartemenku. Bukan karena beliau tidak peduli melainkan pekerjaan yang masih ayahku pegang. Mengharuskannya untuk pulang malam dan berangkat siang.

Aku juga tidak terlalu mempermasalahkan itu. Yang aku pikirkan sekarang adalah membuat ayahku berhenti dari pekerjaannya. Dan memulai bisnis kecil-kecilan untuk diolah sendiri. Sehingga akan lebih santai dan tidak dikerja-kejar waktu. Hanya saja ayahku belum mau, beliau masih ingin menjalani kewajibannya sampai akhir.

"Papa lagi sibuk, Ma?" tanyaku memecah keheningan di sela-sela aktivitas menyantap kami.

"Yah, seperti biasa papamu itu," jwab ibuku.

"Masih belom mau berhenti ya?"

"Emm ... sama kayak kamu keras kepalanya."

Aku hanya mampu tersenyum kecut mendengar perkataan ibuku. Yang sesuai fakta aku sangat keras kepala mirip ayahku. Aku sosok manusia yang sulit diatur dan dinasehati. Terlebih jika sudah mengarah ke fisik, aku sangat mudah tersinggung dan emosi.

"Ma, maafin Fanni ya," ujarku memberanikan diri.

"Buat apa, Sayang?"

"Buat yang semalem. Fanni udah keterlaluan."

"Emm."

Ibuku meletakkan sendok yang dipegangnya. Tanganku yang tergeletak di atas meja dipegang oleh ibuku.

"Mama yang minta maaf, Sayang," ujar beliau kemudian.

"Enggak kok, Ma."

"Mama terlena tadi malam, akhirnya Mama bakal punya menantu."

"Emm ...."

"Maafin Mama, Mama enggak bermaksud bikin kamu merasa asing."

"Enggak masalah, Ma."

"Kamu tahu, kan? Umur Mama udah semakin tua."

Ye, aku menangkap beberapa kerutan di wajah ibuku. Rambut beliau yang sebagian memutih dan kulit tangan mulai kendor. Untuk seseorang yang sudah memiliki anak berusia memasuki tiga puluhan tahun seperti aku, hal tersebut memang sangat wajar jika beliau semakin menua.

"Mama sampai terlena, Mama terbawa suasana ingin memberikan perhatian pada Febi agar kakakmu tidak gagal lagi," lanjut ibuku.

"Bukan karena Febi anak perempuan yang cantik?"

"Fanni kecantikan seseorang tidak hanya dinilai dari fisik, kamu jangan terbiasa berpikir seperti itu, Sayang."

"Yah, tapi kebanyakan jaman sekarang begitu, Ma."

"Kamu hanya kurang percaya diri, Sayang."

Aku terdiam dan memilih kembali melanjutkan menyantap makananku. Aku merasa memang ada benarnya ucapan dari ibuku. Namun melakukannya pasti akan terasa begitu berat. Apalagi jika mendengar sedikit ejekan saja bagiku sudah terasa bak mendapat tusukan panah menyasar. Aku belum bisa untuk menumbuhkan rasa percaya diriku.

****

Selang beberapa saat kemudian, kami telah selesai menyantap. Aku yang membersihkan alat-alat makan sekarang dan meminta ibuku untuk bersantai sembari menonton televisi. Terbesit rasa lega setelah mampu mengutarakan kata maaf kepada beliau. Semoga saja kami tidak mengulangi pertengkaran yang telah lalu lagi.

Aku menyusul ke ruang televisi. Gelak tawa ibuku memecah kesunyian ruangan apartemenku. Beliau sedang menyaksikan sebuah pagelaran dangdut yang sedang disiarkan dengan beberapa host yang kocak dan lucu.

"Mama masih suka lihat itu enggak ada bosen-bosennya," celetukku.

"Bagus lho, Sayang. Apalagi lucu-lucu," jawabnya tanpa memalingkan tatapan dari arah televisi.

"Hihi ... dasar emak-emak."

"Emak juga masih gaul. Kamu aja kalah sama Mama."

"Iya ... iya ... makanya Papa betah walaupun galak."

"Yee ... ini anak ngatain orang tua galak. Galak juga kalian yang mancing-mancing."

Begitulah aku saling melempar kelakar bersama ibuku. Aku bersyukur hubungan kami kembali seperti semua. Kalau sudah begini rasanya beban hidup berkurang satu. Memang benar jika seorang ibu bisa meluluhkan api dalam segala kekacauan. Meski sempat marah besar ibu juga yang akan memadamkannya. Dan semua demi anak-anaknya.

"Mama enggak pulang udah malem lho?"

"Kamu ngusir mama gitu?"

"Ih! Enggak gitu mamaku yang cantik."

"Terus?"

"Ya, kan, udah malem."

"Mama mau nginep sini, Mama kangen peluk anak perempuan Mama yang dulu masih kecil suka ditimang-timang."

"Apaan sih, Ma? Lebay deh. Lagian Fanni udah gede dan jumbo malah masa' mau ditimang lagi?"

Ibuku menimpuk pelan kepalaku. Tampaknya tidak mau jika aku membicarakan tentang fisikku lagi. Lalu kami bergegas ke arah ranjang besarku berada.

Kami merebahkan tubuh bersama. Ada rasa kikuk menyapa lagi. Ini pertama kalinya aku tidur bersama ibuku setelah sekian lama. Yang kuingat terakhir kali kami tidur bersama adalah waktu aku masih duduk di bangku SMP dan tentu saja aku belum sebesar ini.

"Tidur yang nyenyak sayang besok kamu harus kerja," ujar ibuku.

"Iya, Ma. Mama juga ya," jawabku.

"Jangan lupa kalo ada masalah apa pun cerita sama Mama."

"Enggak ada kok, Ma."

"Soal Anton, Mama minta maaf juga ya."

"Emm ... Mama tau?"

"Tahu dari orang tuanya. Yang pasti kamu jangan berkecil hati ya, Sayang. Mama akan carikan yang lebih baik lagi nanti."

"Oh ... thanks, Ma. Tapi enggak usah ya? Fanni enggak mau gagal lagi dan bikin kecewa Mama. Fanni yakin suatu saat bisa ngasih menantu buat Mama. Jadi, Mama jangan khawatir ya."

"Hmm ... Ya udah kamu tidur sudah malam. Good night, Sayang."

Cup! Ibuku mengecup keningku. Dan memberikan ketenangan yang luar biasa di hatiku. Aku bersyukur memiliki ibu seperti beliau. Meski galak namun rasa sayangnya luar biasa padaku.

Terima kasih, Mama. Maafin Fanni belum bisa jadi anak yang baik dan membahagiakan Mama dan Papa.

Bersambung...

1
Sri
baru mau baca thor, koq sudah dihapus??
Nisa Mulyani
Calvin sama Arlan orang yang sama kah? kenya mirip deh beda style aja.
I'm your.hero
/Determined//Determined//Determined//Determined/
Amalia Khaer
anaknya Pak Nur KLO GK salah
Amalia Khaer
🤭🤭🤭🤭🤭
Amalia Khaer
part Fanny menjengkelkan.
Amalia Khaer
lucu bnget sih kmu, Sella 💞💞
Amalia Khaer
yaa aq ngerti sih di posisinya Fanny.
Amalia Khaer
wahhh banyak ini mah hadiah giveaway nya
VhyDheavy: udah lama Kak. Kalo ada novel yg rame lagi, pen bikin, tapi sayang, novel2ku yg udah gak terlalu rame 😄
total 1 replies
Amalia Khaer
uhuyyyy Mamas Arlan pulang 👏👏👏👏
Amalia Khaer
ceritanya mengalir, banyak pembelajaran hidup,
Amalia Khaer
tdi pas BCA judul, otakku bkrja keras untk mengingat siapa yg bisa jdi pelaku teror, TPI GK dpt2. pas tau Riska yg ngalamin teror, yakin Ivan pelakunya.
Amalia Khaer
ikut mataku berkaca2 juga
Amalia Khaer
lucu juga Mas Arlan 🤭🤭
Amalia Khaer
Selly berjalan dengan gemulai centilnya. ya Allah jdi gemeshh sndiri.
Amalia Khaer
melihat perjuangan mereka, seharusnya sih bisa akad dlu aja. resepsinya belakangan smpe si Nyonya Dahlia baikan.
Amalia Khaer
lahh terus knpa dibawa ibunya? playing victim aja nih si Nia
Amalia Khaer
ya Allahh.. Anorexia. harus bnget gitu ya Mas Arlan 🤣🤣🤣
Amalia Khaer
🤣🤣🤣🤣
Amalia Khaer
💔💔💔💔💔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!