Alea kembali dalam hidup Niko sebagai sosok yang berbeda. Dia yang dulu ditinggal Niko tanpa kepastian, kini berhasil masuk ke dalam perusahaan Sanjaya sebagai sekretaris Niko.
Niko yang telah menikah karena perjodohan dia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tergoda oleh pesona Alea, mantan terindahnya.
Apa tujuan Alea kembali dalam hidup Niko? Apa setelah dia berhasil merusak hubungan Niko dengan istrinya, dia akan memiliki Niko, ayah biologis dari anaknya yang selama ini tidak diketahui kehadirannya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Drama Kevin dan Reka
"Maaf Pak."
Seketika Niko melepas pagutannya dan menjauh dari Alea. Dia menatap Nando dengan tajam seolah sedang mengancamnya agar tidak bercerita pada siapapun tentang masalah ini.
"Maaf, Pak. Saya kira tidak ada orang di dalam." Nando menundukkan pandangannya.
"Nanti kamu ke ruangan saya!" kata Niko sambil berjalan keluar dari ruangan meeting bersama Alea.
Alea justru tersenyum kecil. Apa dia takut ketahuan barusan? Tidak! Dia justru merasa senang. Ketika ada seseorang di kantornya yang tahu dengan perilaku bosnya itu, pasti dengan cepat juga isu itu akan menyebar ke telinga istri dan juga keluarga Niko. Dengan begitu suasana akan semakin cepat keruh. Dan siapa di sini yang salahkan, sudah jelas Niko.
Alea tidak takut dirinya dicap wanita murahan atau pelakor, karena ketika dia dituding buruk, dia akan memutar balik fakta. Dia sudah memproses bukti kuat yang akan membuat Niko sepenuhnya salah.
"Maaf, aku akan urus soal Nando. Kamu tenang saja ya."
Alea duduk di kursinya dengan santai. "Udah kayak jadi simpanan aja aku." Alea tertawa kecil.
"No, kamu bukan simpanan aku." Niko mengusap pipi Alea sesaat lalu masuk ke dalam ruangannya.
Ck, Niko, Niko, aku gak akan tergoda lagi sama kamu.
...***...
Saat hari mulai gelap, Alea masuk ke dalam gerbang rumah Kevin yang langsung di sambut oleh Reka.
"Mama..." Reka kini melompat ke gendongan Alea.
"Reka, kamu udah besar. Berat." Meski demikian Reka tetap berada di gendongan Alea sampai masuk ke dalam rumah. Dia turunkan Reka di sofa ruang tengah tepatnya di samping Kevin.
"Mama kalau kerja lama banget." Reka memanyunkan bibirnya dan terlihat sangat menggemaskan.
Alea sedikit mencubit pipi Reka. "Iya, namanya juga kerja sayang."
"Tapi Papa Kevin jarang pulang telat."
"Kan Om Kevin bos, jadi bisa pulang cepat."
Kevin hanya mencebikkan bibirnya. Jam pulang dia sama dengan jam pulang karyawannya. Alea pulang terlambat pasti juga ditahan dulu sama Niko.
"Bibirnya kenapa tuh, kayak Reka aja." Alea melihat bibir Kevin yang ikutan manyun seperti Reka, tapi bukannya terlihat gemas malah terkesan mengesalkan.
"Mama kerja di kantor Papa Kevin aja biar pulang cepat Ma," kata Reka yang kini bergelayut manja di lengan mamanya.
"Iya, nanti mama pindah kerja di kantor om Kevin kalau pekerjaan mama sudah selesai. Oiya, mama sekalian mau bilang kalau besok mama ada kerjaan diluar kota dan menginap semalam."
"No, mama!!!" Sontak Kevin dan Reka menjawab secara bersamaan dengan mata yang melebar. Satu orang dewasa dan satu anak kecil itu benar-benar seolah mempunyai ikatan darah. Tingkah lakunya begitu mirip.
Alea mengerutkan dahinya. Sebenarnya anaknya cuma satu mengapa sekarang terasa menjadi dua seperti ini.
"Mama, jangan menginap. Nanti Reka tidur sama siapa?" rengek Reka.
"Jangan dong," rengek Kevin juga dia kini berpindah ke samping Alea. "Bahaya." bisik Kevin.
Satu cubitan mendarat di pinggang Kevin. "Kamu tuh harusnya nenangin Reka biar dia gak ngerengek gini. Ini malah ikut-ikutan melarang." Alea memelankan suaranya di dekat telinga Kevin.
"Mama gak boleh. Mama gak boleh sampai menginap. Pokoknya sore harus pulang." Belum juga berangkat Reka sudah menangis. Kalau bukan karena misinya Alea juga tidak akan mau pergi dengan Niko bahkan sampai harus bermalam di sana.
"Sayang, semalam ini saja ya. Reka boleh deh main playstation selama mama pergi."
"Aku maunya Mama." Reka semakin merengek.
Alea menghela napas panjang. "Ya sudah mama mandi dulu nanti mama bicara lagi. Kamu nonton tv dulu ya."
Reka mengusap pipinya lalu beralih menonton televisi karena film kartun kesayangannya sudah mulai.
Alea bangun dari duduknya. Dia menarik tangan Kevin agar mengikutinya.
"Kev, ayo dong kerjasamanya," kata Alea saat sampai di kamarnya.
Kevin melipat tangannya lalu duduk di tepi ranjang. "Aku gak rela! Emang kamu mau diajak one night stand lagi sama Niko?!" tuduh Kevin secara terang-terangan.
"Astaga." Alea menghela napas panjang. "Aku gak mungkin lakuin itu. Gila apa! Aku masih bisa mikir! Aku juga gak mau masuk dalam lubang yang sama."
Wajah Kevin berubah menjadi serius, dia tidak lagi bercanda seperti biasanya.
"Kev, percaya sama aku, aku pasti bisa jaga diri. Aku cuma mau mancing dia aja. Setelah dia terpancing aku akan segera mengubah emosi seolah kesalahan masa lalu menjadi trauma buat aku."
Wajah Kevin masih tetap keruh. Dia tahu ini rencananya tapi dia sangat takut kalau Alea akan tergoda lagi dengan Niko.
"Kevin, ih, kenapa bisa sama sih sifatnya kayak Reka. Posesif."
Kevin menghela napas panjang. Oke, dia bisa melakukan apa saja meskipun Alea berada jauh dari pantauannya. Termasuk melihat apa saja yang akan dilakukan Alea. Mata-matanya begitu canggih. "Oke, aku akan rayu Reka agar izinin kamu, tapi ingat jangan sampai masuk ke dalam lubang yang sama."
"Iya. Aku pastiin ini puncak masalahnya. Setelah ini Niko akan hancur."
Kevin menghela napas panjang lagi untuk kesekian kalinya. Berat sekali rasanya melepas Alea kali ini.
"Niko mau bekerja sama dengan siapa?"
"Pak Richard."
Mendengar nama Richard kepala Kevin semakin pusing. Rupanya dia harus benar-benar memperketat penjagaan pada Alea. "Hati-hati sama Richard, dia pria hidung belang."
Alea sebenarnya sudah tahu dari tatapan mata dan gelagat Richard.
"Aku aja gak mau bekerja sama dengan Richard. Kita lihat saja proyeknya berhasil atau tidak," kata Kevin begitu percaya diri. Dia yakin kemampuannya jauh di atas Niko.
"Udah ah aku mau mandi. Kamu keluar dulu." Alea menarik Kevin agar bangkit dari duduknya.
"Mandi di kamar mandi aja ribet aku suruh keluar."
"Iyalah, masak aku mau mandi di tempat tidur."
Mereka berdua tertawa. Terkadang pembicaraan mereka memang se-absurd itu, kadang juga terlalu serius, dan terkadang juga sampai bertengkar. Namanya juga sahabat. Meski Kevin sampai saat ini masih berharap lebih.
Kevin akhirnya keluar dari kamar Alea dan menemani Reka menonton televisi.
"Reka, besok bolehin Mama pergi ya. Nanti Papa temani Reka tidur." Sesuai janjinya, Kevin mulai merayu Reka.
"Gak mau. Reka mau sama Mama."
"Reka kan sudah besar. Anak cowok harus berani tidur sendiri. Nanti kita main playstation deh, Reka yang menang."
Ekspresi Reka seketika berubah. "Beneran ya, Pa. Main ps sampai malam ya."
"Iya, makanya bolehin Mama pergi semalam ya."
"Oke, papa."
Kevin berdiri dan mengusap puncak kepala Reka. "Nunggu Mama selesai mandi terus kita makan ya."
"Oke."
Kevin berjalan menuju kamarnya. Dia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Aku ada tugas buat kamu besok..."
takutnya malah dia yg terbakar gairahnya sendiri bukan terbakar api dendam
mo baca kekuatan dendam Alea