COOL BOY GUS FASHAN
🌸SEASON DUA DARI USTADZ MUDA ITU SUAMIKU🌸
Seorang pria gagah, tampan, pemalu dan dingin. Sangat menyayangi keluarganya. Seorang pria berumur 25 tahun, Muhammad Fashan Ali Zainul Majdi. Si sulung dari 4 bersaudara.
Kisah cintanya tak berlangsung mulus, apalagi saat dia dituduh atas perbuatan yang tidak pernah dia lakukan. Namun, walaupun begitu. Dia adalah pria yang taat agama dan Sholeh. Menginginkan pasangan terbaik, bahkan keislamannya pun sangat berharga untuk nya. Gus Fashan adalah seorang pebisnis muda, guru dan pengurus pesantren keluarganya Al Bidayah. Karena kejadian malam itu, setelah yakin dengan sholat istikharah. Dia menikahi seorang gadis yang memiliki sifat tidak jauh-jauh darinya, dingin, cuek, galak dsn ketus. Gus Fashan berusaha menjadi sosok yang baik untuk istrinya tercinta Raihanah Sufu Embrace, 22 tahun, santriwati baru di pesantren. Gus Fashan berusaha menjadi pencair suasana, jika dia masih bersikukuh dengan sikap cueknya, entah bagaimana rumah tangga nya dengan Raihanah. Gus Fashan akan terus berusaha mendapatkan penerimaan yang ikhlas dari istrinya, walaupun sulit dan memerlukan waktu. Akankah si ketus Raihanah luluh? kita simak kisahnya..
Happy reading
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melaheyko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Terpesona
Pulang sekolah, gus Fashan menunggu Fara seperti biasa. Fara yang biasa menghindar, kini mendekat tanpa harus dipaksa oleh gus Fashan.
”Bang” panggil Fara. Gus Fashan menoleh dan adiknya mendekat.” Abang kenapa sih? Kalau ada masalah cerita sama Fara” seorang adik yang khawatir melihat kakaknya galau.
”Emang aku kenapa?” ketus.
”Jujur aja sama Fara, abang ada masalah?” tanya Fara dan menatap gus Fashan begitu polosnya.
”Sama sekali enggak” datar Gus Fashan menjawab, dia meraih helm dan memakaikannya pada Fara. Fara diam dan menatap wajah tampan abangnya lekat, dia yakin ada masalah, sampai rambut gondrong kesayangan abangnya itu di potong pendek.
Gus Fashan naik ke atas motornya, di susul Fara. Motor melaju dengan kecepatan sedang dan dari belakang Nida mengikuti dengan motornya.
Sesampainya di rumah, Gus Fashan mendelikan matanya sebal saat melihat Nida.
”Nida, kamu mau main? Kenapa gak bilang. Kalau gitu aku nebeng motor kamu” ujar Fara.
”Dih” ucap gus Fashan dan Fara tersenyum. Gus Fashan berlalu pergi meninggalkan keduanya.
”Kita jajan seblak yuk nanti” ajak Nida dan Fara mengangguk.
”Ayo masuk, kamu pake baju aku aja ya. Nanti kotor kan baru hari senin” imbuh Fara dan Nida mengangguk, keduanya masuk ke dalam rumah. Gus Fashan duduk di sebelah uminya, ternyata ada Atikah dan Raihan. Nida menyalami tangan Atikah dan umi Nailah, Raihan dan gus Fashan saling menatap lekat.
”Assalamu'alaikum” suara pria terdengar mengucapkan salam.
”Wa'alaikumus Salaam” jawab semuanya, gus Fashan terdiam sejenak saat melihat Mirza dari balik kaca, terhalang gorden berwarna putih. Gus Fashan bangkit begitu juga dengan Raihan.
”Mirza, kapan pulang?” ujar Raihan dan Mirza tersenyum.
”Hari Selasa” jawab Mirza sambil tersenyum, dia menatap gus Fashan sejenak.
”Oh udah lama juga ternyata” kata Raihan lagi.
”Gus, apa kabar? Waktu saya kemari saya gak ketemu sama Gus, cuma ketemu sama pak kyai” tutur Mirza. Gus Fashan tersenyum tanpa membuat ekspresi apapun.
”Saya baik Alhamdulillah” jawab gus Fashan, Mirza tersenyum dan memeluk gus Fashan sahabatnya itu erat. Gus Fashan lebih muda dua tahun dari Mirza, keduanya sering berkomunikasi dan dulu sebelum gus Fashan kuliah. Keduanya sering bermain bersama. Gus Fashan menggerakan tangannya, hendak membalas pelukan Mirza, tapi pelukan Mirza keburu terlepas. Gus Fashan pun menurunkan tangannya. Raihan diam, dia tahu apa yang membuat gus Fashan diam semakin diam saat bertemu Mirza.
Ketiganya pun melangkah bersama, menuju asrama santri dan mengobrol disana.
****
Faiza dan Raihanah sedang menikmati bakso. Tidak jauh dari kampus, Faiza dan Raihanah hanya berbeda satu tahun. Lebih tua Faiza, tapi Faiza tidak mau dipanggil 'teteh'.
”Aku kemarin lihat kamu nangis sama nenek kamu, jauh sama keluarga dan mondok gak enak ya Rai?” tutur Faiza dan Raihanah mengangguk, dia meminum minumannya lebih dulu. Sebelum berniat menjawab pertanyaan Faiza.
”Aku lebih lama tinggal sama nenek, waktu orang tua aku pisah. Terus diasuh om sama tante waktu naik ke SMP, sering pindah-pindah. Kadang di Bandung, kadang di Jakarta” ujar Raihanah, tatapan terlihat kosong sejenak.
”Terus kamu mau ngambil keputusan mau menetap di mana?”
”Setelah di pikir-pikir, nenek juga udah tua. Aku mau menetap di sini aja, biar bisa lihat nenek.”
”Oh gitu, semoga urusan kamu lancar ya. Semoga betah disini, khususnya di pesantren”
”Aku betah di pesantren karena kamu sama Zaenab hehe” tersenyum lebar.” Eh ngomong-ngomong dia balik ke pondok kapan Za?"
”Kurang tahu, aku chat juga gak ada balasan”
Faiza menatap bakso Raihanah yang sudah habis." Rai tungguin aku”
”Oke, santai aja” ucap Raihanah lalu mengeluarkan ponselnya.
Faiza melanjutkan aktivitas makannya dan dia terdiam saat melihat sepasang kekasih, si pria nya dia kenal. Pria itupun terlihat kaget melihat dia ada di sana.
”Dua mang” imbuh si gadis dan mengajak pacarnya Doni duduk.
”Faiza” gumam Doni.
”Ih kok a Doni pacaran, padahal aku kagum sama dia. Baik, pinter, ngajinya juga bagus, tapi kenapa pacaran. Hilang sudah rasa kagum ku" gumam Faiza, dia melanjutkan aktivitasnya dan Doni duduk bersama kekasihnya, Doni terus melirik ke belakang sampai Raihanah risih.
”Enggak usah jelalatan ya bang” tegur Raihanah sinis dan Faiza diam.
”Kamu apaan sih, lirik-lirik mereka terus” ketus pacarnya Doni dan Doni diam, Faiza dan Raihanah bangkit. Keduanya membayar bakso yang mereka nikmati lalu pergi, betapa malunya Doni yang menyukai Faiza, tapi Faiza malah memergokinya dengan pacarnya.
****
”In sha Allah saya akan menikah dalam waktu dekat, mohon doanya semuanya” tutur Mirza. Semuanya mengangguk, termasuk Gus Fashan.
”Selamat, semoga lancar” ujar Gus Fashan dan Mirza tersenyum lebar.
”Saya harap Gus bisa hadir” pinta Mirza dan gus Fashan mengangguk dengan senang hati.
”Aduh Shan, sabar bener lu jadi orang. Jahat banget lu Zaenab, sok cakep lu mainin perasaan laki-laki.” Gumam Raihan merasa tidak tega dengan gus Fashan, dia hanya bisa diam dan gus Fashan bertingkah seolah tak terjadi apa-apa, sejujurnya perasaannya sangat sakit. Mendengar kabar gadis yang dia sukai akan menikah dengan sahabatnya sendiri, andai Zaenab menolak dari awal, mungkin rasa sakitnya tak separah ini.
”Ya Allah, entah dimana Engkau pertemukan hamba dengan jodoh hamba. Kapanpun itu, izinkan hamba meminta seorang gadis yang mencintai Engkau, hamba dan orang tua hamba yang kesekian” gumam Gus Fashan begitu sedih.
Semuanya bubar, gus Fashan, Mirza dan Raihan melangkah bersama. Dari gerbang Faiza dan Raihanah datang, keduanya baru turun dari angkot. Gus Fashan tersenyum lebar sesekali, mendengar obrolan Mirza dan Raihan.
”Umi seneng banget ketemu sama kamu Rai, umi cerita sama aku. Terus aku bilang kalau Raihanah teman aku” tutur Faiza dan Raihanah tersenyum.
”Umi kamu baik Za” ucap Raihanah, keduanya tersenyum dan terus melangkah.
Langkah keduanya terhenti saat melihat ketiga pria itu, Raihanah terdiam, kepalanya miring memperhatikan gus Fashan yang hanya diam membisu. Kedua tangannya masuk ke dalam saku celana, begitu tampannya dia saat ini dan membuat Raihanah nyaris tak berkedip. Raihanah memperhatikan rambut tak tertutup peci seperti biasanya, yang di potong pendek itu tertiup angin, beberapa helai jatuh ke dahi gus Fashan. Gus Fashan lekas mengusapnya ke belakang, rambut hitam tebal itu terus berayun-ayun. Mata tajam, alis tebal, dagu lancip, hidung mancung dan bibirnya yang merah. Raihanah terus perhatikan wajah pria itu tanpa sekat, hal yang sebenarnya tidak boleh dilakukan oleh seorang muslimah.
”Dia ganteng juga” Raihanah berbisik spontan.
”Apa Rai?” tanya Faiza dan Raihanah kaget.
”Hah, eh apa?” gugup.
"Kamu bilang apa tadi?” tanya Faiza dan Raihanah meggeleng cepat.
”Enggak, aku gak bilang apa-apa” bantahnya dan Faiza mengangguk.
”Aku pamit ya, kita ketemu nanti sore. Assalamu'alaikum”
”Wa'alaikumus Salaam” balas Raihanah. Gus Fashan diam dan memperhatikan Raihanah, Raihanah berbelok ke arah lain. Tak mau berpapasan dengan gus Fashan yang baginya sangat menyebalkan itu.
******
Malam hari tiba, gus Fashan merasakan tenggorokannya kering. Dia meraih hapenya dan menelepon Faiza. Faiza terlihat kesal, pasti gus Fashan mau meminta sesuatu.
”Apa?” ketus Faiza.
”Sewot amat neng, ambilkan abang minum ya cantik. Sirup”
”Ogah ah, Faiza lagi mager. Abang bikin aja sendiri”
”Jangan gitu dong za, cepetan. Abang lagi sibuk” pinta gus Fashan memaksa, Faiza tidak ada pilihan lain. Dia akhirnya menurut dan gus Fashan tersenyum.
Tidak lama Faiza datang ke kamar gus Fashan, dengan segelas air sirup dan cemilan. Gus Fashan tersenyum manis, dan Faiza bergidik ngeri.
”Oke, terima kasih” gus Fashan menerima semuanya, lalu dia letakkan di atas meja.
”Bang, mau nanya dong”
”Nanya apa?”
”Abang pernah pacaran?” tanya Faiza dan gus Fashan menggeleng kepala.
”Haram, Zina, gak boleh.”
”Karena abang takut sama abi, sama umi?”
Gus Fashan tiba-tiba mendorong bahu adiknya itu kesal.” Mana ada begitu, aku gak pacaran karena memang itu gak boleh, aku tahu. Banyak juga di luar sana yang udah tahu tapi tetep melanggar, ngapain sih pacaran. Nambah dosa aja, uwu itu lebih baik di jalur halal. Atas Ridho Allah, dapat pahala juga. Kan mantep, kalau pacaran ngapain" tutur gus Fashan, Faiza mengangguk-anggukkan kepalanya. Memahami apa yang dituturkan oleh kakaknya.
”Kayak a Doni, melanggar. Udah tahu pacaran gak boleh tapi tetep aja” ucap Faiza, dimulainya dosa ghibah terbuka lebar.
”Doni?” gus Fashan mengernyit heran.
”Iya, dia pacaran. Sampai tangannya dirangkul begini" tutur Faiza, memberi contoh dengan merangkul lengan besar Gus Fashan.” Aku awalnya kagum sama a Doni, sekarang mah enggak ah" sambungnya, seraya melepaskan lengan gus Fashan.
”Ya udah biarin aja, semoga dia cepet sadar. Kamu kalau udah tahu, cukup diem aja gak usah ngomongin ke orang lain. Ujung-ujungnya ghibah, dosa pacaran itu berat, tapi kita juga yang berusaha menghindarinya bukan berarti terbebas dari dosa. Jangan dibahas lagi ya, ngerti?” tutur gus Fashan seraya mengusap pucuk kepada Faiza, Faiza mengangguk mengerti. Keduanya tersenyum lebar, Faiza merebahkan tubuhnya di atas kasur gus Fashan, dan gus Fashan masih sibuk dengan pekerjaannya.
****
Hari ini, Atikah datang kembali ke rumah umi Nailah. Dia datang sendiri, Atikah mempunyai dua anak. Raihan si sulung dan Haris si bungsu, berusia 15 tahun.
”Kemarin mau ngomong malah ada Nida, kalau anak itu denger berabe entar. Nanti kabur lagi” ucap Atikah dan umi Nailah tersenyum.
”Hafshah bilang, Nida benar-benar berubah sekarang. Aku yang malah khawatir, kabur terus, kata Fashan juga bolos terus” tutur umi Nailah sedih.
”Semoga aja anak itu cepet sadar, Robi, gak tahu deh sama jalan pikirannya. Menurut teteh, apa Risma mau?”
Umi Nailah tersenyum tipis.” Aku gak tahu, tapi aku gak setuju. Untuk Hafshah dan Syifa saja Robi belum bisa imbang, memang gak bakal bisa. Tapi setidaknya dia harus menjaga perasaan kedua istrinya, Syifa masih sangat muda. Dia harus menerima takdir yang begitu rumit, kasihan ikhsan sama Nida. Zaenab juga belum tentu mau menjadi saudara tiri Nida dan ikhsan, melihat Nida saja aku udah khawatir. Apa jadinya kalau ditambah Zaenab” tuturnya panjang lebar, sorot matanya jelas terlihat dia khawatir dan tidak setuju jika Robi menikah untuk ketiga kalinya.
”Aku juga kecewa, biar aku ngomong sama Robi. Robi kalau ngomong sama teteh yang lemah lembut gak bakal ngaruh buat dia, aku aja yang ngomong sama dia" tegas Atikah kesal dan umi Nailah mengusap-usap bahunya.
”Biar aku yang ngomong sama Risma, gak apa-apa sih. Cuma mau silaturahmi sama nanya sama dia tentang niat Robi” ujar umi Nailah dan Atikah mengangguk.
Di tempat lain, Zaenab sedang berhadapan dengan Mirza. Di depan kampus, Raihanah dan Faiza duduk menunggu di tempat jauh. Tidak mau ikut campur, tapi keduanya juga tidak bisa meninggalkan Zaenab. Kedua mata Zaenab berair, betapa sulitnya dia menghubungi Mirza akhir-akhir ini. Mirza diam dan sesekali menatapnya. Tiba-tiba tangannya keluar setelah merogoh tas nya. Dia ulurkan surat undangan kepada Zaenab, Zaenab menggeleng kepala. Dia berharap kekhawatiran nya tidak terjadi.
”Ini undangan pernikahan saya dengan Yuni” ujar Mirza, begitu pelan dan ragu. Tapi dia harus melakukannya. Zaenab berusaha menyadarkan keterkejutannya dengan mencubit tangannya sendiri.
”Apa?” suara Zaenab bergetar. Air matanya berhasil lolos dan jatuh membasahi pipinya. Betapa pedih dan sakit hatinya saat ini, kepalanya terasa berat mendengar kabar bahagia, tapi itu adalah kabar buruk baginya.
”Zaenab, jangan nangis” pinta Mirza, dia merasa bersalah. Dari kejauhan Raihanah menoleh, memperhatikan keduanya. Tapi kepalanya langsung ditekan Faiza agar bersandar di bahunya, Raihanah tersenyum lebar.
”Tega kamu a, aku nunggu kamu 5 tahun. Nunggu kamu selesai kuliah, pulang-pulang malah begini. Kamu sama sekali gak bisa melihat bagaimana pengorbanan aku, aku bahkan menolak setiap pria yang mau meminang aku a” tutur Zaenab sambil terus menangis. Air matanya tak sanggup dia tahan, dimana janji lima tahun yang lalu pria di hadapannya itu, janji untuk menikahinya dan bersama selamanya. Jangankan bertemu, berkomunikasi saja susah. Dan sekarang, tiba-tiba dia memberikan surat undangan pernikahan nya. Nama Mirza dan Yuni terukir manis di kartu undangan, sangat manis sampai membuat Zaenab murka.
”Saya sudah janji, saya minta maaf gak bisa menepati janji saya sama kamu Nab. Semoga kamu menemukan laki-laki yang lebih baik. Ini sudah takdir, kita gak berjodoh nab” tutur Mirza, Zaenab melemparkan surat undangan itu ke tubuh Mirza.
”Jahat kamu a"
”Saya gak bisa apa-apa nab, saya butuh restu orang tua saya. Saya gak dapat restu untuk menikahi kamu, saya sudah dijodohkan dengan Yuni” ujar Mirza dan Zaenab tidak peduli, baginya Mirza sangat jahat.
”Di jodohkan? Lalu kenapa kamu membuat janji sama saya a?” tegas Zaenab, pria itu hanya bisa menunduk dan memalingkan wajahnya. Suara Zaenab begitu lantang, Raihanah dan Faiza bangkit, keduanya merasa khawatir.
”Satu tahun yang lalu, saya dan Yuni di jodohkan”
”Sudah satu tahun, dan kamu gak bilang apa-apa sama aku a?" Suara Zaenab melemah.
”Saya mau jelasin semuanya langsung, bertatap muka sama kamu, supaya gak ada kesalahpahaman. Maafin saya Zaenab” lirih Mirza, Zaenab mengepalkan tangannya kuat.
”Aku benci sama a Mirza, terima kasih sudah membuat penantian ku ini sia-sia. Jangan harap aku mau hadir, semoga bahagia” tutur Zaenab yang terakhir. Dia melangkah pergi, Raihanah dan Faiza panik dan menyusulnya. Raihanah menatap Mirza kesal, bisa-bisanya pria itu membuat Zaenab menangis.
Mirza diam, dia membungkuk, meraih kartu undangan pernikahannya yang dilempar Zaenab.