NovelToon NovelToon
Benang Merah Diujung Mimpi

Benang Merah Diujung Mimpi

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / CEO / SPYxFAMILY
Popularitas:410
Nilai: 5
Nama Author: Luh Belong

No Plagiat ❌


Sejak kecil, Valerie Sinclair selalu bermimpi tentang seorang anak laki-laki bernama Hazel yang tumbuh bersamanya, namun setelah Hazel di mimpinya tumbuh remaja wajahnya tak pernah terlihat jelas. Setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan tragis, Valerie menikah kontrak dengan Damian demi membalas budi keluarga konglomerat yang diselamatkan orang tuanya.

Seiring waktu, Valerie jatuh cinta pada Damian karena sosoknya begitu mirip dengan pria dalam mimpinya. Namun sikap Damian yang dingin membuat Valerie memilih bercerai. Saat Damian akhirnya menyadari perasaannya dan berusaha merebut kembali hati Valerie, sebuah kecelakaan mengungkap rahasia mengejutkan tentang mantan istrinya yang membuat Damian prustasi.

Mampukah Damian mendapatkan kembali cinta wanita yang pernah ia sia-siakan, atau kesempatan kedua ini justru datang terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luh Belong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mencoba terbuka

Malam mulai larut. Setelah memastikan kondisi Valerie stabil, Nyonya Margaretha, Harrison, dan Jennifer akhirnya kembali ke mansion masing-masing. Sebelum pergi, Nyonya Margaretha sempat mengusap lembut kepala Valerie dan berpesan agar Damian tidak meninggalkan gadis itu seorang diri.

Tak lama kemudian, hanya keheningan yang tersisa di ruang perawatan.

Damian berdiri cukup lama di dekat jendela. Berkali-kali ia menarik napas panjang, seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk mengucapkan sesuatu yang selama ini terkunci di dalam hatinya.

Ia akhirnya melangkah mendekati ranjang Valerie.

“Valerie...”

Dengan suara berat ia memberanikan diri memulai pembicaraan.

“Aku minta maaf...”

Valerie mengalihkan pandangannya kepada Damian.

“Aku sungguh-sungguh minta maaf kepadamu.”

“Karena sudah melukai perasaanmu dan juga karena membuatmu terluka secara fisik. Apa yang terjadi semalam, tidak pernah ingin kulakukan. Aku sangat menyesalinya.”

Valerie tidak menjawab. Ia hanya menganggukkan kepala pelan.

Damian menatapnya beberapa saat sebelum kembali berbicara.

“Ada sesuatu yang ingin kuceritakan kepadamu.”

Ia mengembuskan napas panjang.

“Tapi tolong dengarkan aku bercerita sampai selesai. Jangan menyela, dan jangan bertanya sampai aku selesai.”

Valerie memandang Damian beberapa detik, lalu kembali mengangguk.

“Silakan.”

Damian menarik kursi dan duduk di samping ranjang.

“Pertama...”

“Aku ingin mengatakan sesuatu padamu, agar tidak ada kesalahpahaman.”

Ia menundukkan kepala.

“Apa yang terjadi semalam, tidak akan membuat ku mencintaimu.”

Suara Damian terdengar datar, tetapi setiap katanya terasa berat.

“Aku tidak bisa menebus kesalahanku dengan mencintaimu, hanya karena pernah menyentuhmu. Dalam hatiku masih mencintai Selena.”

Valerie terdiam. Meski dadanya kembali terasa sesak, ia tetap mengingat janjinya untuk tidak menyela.

Damian melanjutkan.

“Foto anak laki-laki yang kamu lihat di ruangan itu... adalah fotoku saat masih kecil.”

Ia menatap lurus ke depan, membiarkan kenangannya membawa kembali ke masa lalu.

“Ayahku, Petter Robert, menjodohkanku dengan putri sahabat sekaligus rekan bisnisnya, William Laurent. Gadis itu bernama Selena Laurent.”

Senyum tipis yang dipenuhi kerinduan terukir di bibir Damian.

“Perjodohan itu terjadi saat usiaku delapan tahun. Tapi, kami sudah bersama-dari dalam kandungan sampai lahir.”

Tatapannya mulai kosong.

“Kami tumbuh bersama. Seiring waktu perjodohan itu menumbuhkan perasaan cinta diantara kami berdua.”

Ia menarik napas panjang.

“Tetapi saat Selena berusia dua belas tahun, dokter mendiagnosisnya mengidap kanker darah stadium akhir.”

Suasana kamar mendadak terasa semakin sunyi.

“Setelah menjalani berbagai pengobatan, kondisinya sempat membaik. Tapi lima bulan seterusnya, kondisinya kian menurun.”

Suara Damian mulai bergetar.

“Di hari-hari terakhir hidupnya, Selena memiliki satu permintaan. Dia ingin menjadi istriku, meski hanya untuk beberapa saat.”

Damian menggenggam kedua tangannya erat.

“Kedua keluarga akhirnya memenuhi permintaan Selena. Kami melangsungkan pernikahan sederhana yang hanya dihadiri kerabat keluarga.”

Senyum pahit muncul di wajahnya.

“Kami mengucapkan janji pernikahan...”

“Saling mengenakan cincin...”

Suara Damian perlahan menghilang.

“Dan tidak lama setelah seluruh prosesi selesai, Selena mengembuskan napas terakhirnya.”

Tanpa sadar air mata Valerie jatuh, entah mengapa mendengar cerita Damian mambuat dadanya terasa sesak.

“Aku kehilangan orang yang paling kucintai di hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia.”

Ia tertawa lirih, tetapi terdengar begitu getir.

“Sejak saat itu, aku tidak pernah benar-benar bisa melepaskan kepergiannya. Bahkan kepergian kedua orang tuaku tidak bisa menandingi rasa sakit kehilangan Selena, kepergiannya merengut seluruh kebahagiaanku saat itu juga.”

“Itu sebabnya. Berkali-kali Nenek menjodohkan ku, aku menolaknya terus-menerus. Aku tidak ingin memberi harapan perempuan yang tidak sama sekali aku cintai, sialnya aku tidak bisa menolak pernikahan kita. Karena pengorbanan kedua orang tuamu kepada keluargaku, aku pertama kali menyetujui permintaan nenek.”

“Walau dibelakangnya aku mengajukan pernikahan kontrak padamu, karena sampai saat ini aku tidak bisa melupakan Selena.”

Damian mengangkat pandangannya ke arah Valerie.

“Itulah alasanku menyimpan semua kenangan tentang Selena di ruangan itu. Foto-fotonya, gaunnya, cincin kami, dan semuanya.”

“Aku membuat ruangan itu bukan karena ingin hidup di masa lalu, tetapi karena aku takut, jika semua kenangan itu hilang, seolah Selena benar-benar menghilang dari hidupku.”

Ia kembali menundukkan kepala.

“Itu juga alasanku sangat marah saat mengetahui ada seseorang memasuki ruangan itu tanpa izinku.”

Damian mengembuskan napas panjang.

“Aku tidak bermaksud membenarkan apa yang terjadi semalam. Tidak ada alasan yang bisa membenarkan perbuatanku. Aku hanya ingin, kamu mengetahui mengapa ruangan itu begitu berarti bagiku.”

Setelah keheningan cukup lama menyelimuti ruang perawatan, Damian kembali membuka pembicaraan.

“Ada satu hal lagi.”

Valerie perlahan menoleh.

“Aku ingin mengubah isi perjanjian kontrak pernikahan kita.”

Valerie menatapnya tanpa banyak ekspresi.

“Kali ini, aku ingin kamu ikut menentukan isinya. Kalau ada syarat yang ingin kamu ubah atau tambahkan, katakan saja. Aku akan menyetujuinya.”

Valerie terdiam beberapa saat, seolah mempertimbangkan tawaran itu. Lalu dengan senyuman tipis ia berkata.

“Aku tidak ingin mengubah banyak hal,” ucapnya pelan.

Damian menunggu kelanjutannya.

“Aku hanya ingin mengubah jangka waktu pernikahan kontrak itu.”

Damian mengernyit tipis.

“Dari dua tahun menjadi satu tahun.”

Ia menarik napas perlahan.

“Sekarang pernikahan kita sudah berjalan enam bulan. Artinya... kita hanya perlu menjalani enam bulan lagi.”

Valerie tersenyum tipis, meski senyum itu menyimpan kepedihan.

“Setelah enam bulan itu berakhir... kita bercerai.”

Tatapannya perlahan mengarah ke langit-langit kamar.

“Kebetulan, tahun depan aku juga akan wisuda.”

Suaranya terdengar jauh lebih tenang dibanding sebelumnya.

“Setelah lulus, aku akan melanjutkan kuliah S-2 di luar kota. Disana, aku akan memulai hidup yang baru.”

Ia menoleh kembali ke arah Damian.

“Aku tidak akan mengganggumu lagi, berhenti berharap, berhenti kekanak-kanakan, dan berhenti membuat keributan dirumahmu.”

Valerie menghela napas panjang.

“Keluargamu sudah terlalu banyak berbuat baik kepadaku, mereka sudah merawatku seperti cucunya sendiri. Aku sangat bersyukur karena itu.”

Valerie tersenyum kecil.

“Karena itu. Setelah semuanya selesai, aku berharap kita tidak perlu bertemu lagi.”

Damian terdiam. Entah mengapa, mendengar kalimat itu, dadanya terasa sesak oleh perasaan yang sulit ia jelaskan. Namun, ia tetap menganggukkan kepala.

“Baik.”

Suaranya terdengar mantap.

“Setelah kamu pulang dari rumah sakit, aku akan menyiapkan kontrak baru sesuai keinginanmu.”

Valerie mengangguk pelan.

“Terima kasih.”

Tak ada lagi yang perlu dibicarakan. Valerie perlahan membalikkan tubuhnya, memunggungi Damian. Ia memejamkan mata, memberi isyarat bahwa percakapan mereka telah selesai.

Damian memandang punggung Valerie selama beberapa saat. Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, ia merasa beban di hatinya sedikit berkurang karena akhirnya tidak ada lagi kesalahpahaman yang menggantung di antara mereka.

Ia mengembuskan napas panjang, lalu berbalik dan berjalan keluar dari ruang perawatan. Sesampainya di lorong rumah sakit, Damian berhenti sejenak di dekat jendela yang terbuka. Ia menatap langit malam sambil menghirup udara segar, berharap angin yang berembus mampu meredakan kekacauan yang sejak semalam memenuhi pikirannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!