Sebuah kecelakaan yang membuat Sultan diharuskan menikahi janda adik kandungnya.Perjalanan cinta yang rumit membuat Hanum berada di persimpangan jalan, kebingungan melanda ... memilih antara tetap bertahan, atau menyerah. Sampai suatu hari, dia menemukan sebuah rahasia besar tentang masa lalu Sultan yang sekarang resmi menjadi suaminya.Akankah Hanum menemukan cinta sejatinya, yang ternyata sepertinya memang sudah disiapkan oleh Tuhan dengan dibungkus sekelumit masalah?
Season 2.
Seorang gadis bernama Cinta berada di ambang dilema saat William, atasannya di kantor mendadak mengajaknya menikah. Memendam cinta kepada kakak kelas sedari dulu membuat Cinta akhirnya menerima pinangan William. Namun, sebuah fakta terkuak usai pernikahan itu terjadi, membuat Cinta begitu menyesali keputusannya.
Cinta hancur saat dia tahu dirinya ada di tengah-tengah antara William dan Raisa. William sangat mencintai Raisa, tapi Raisa mencintai Willmar yang tak lain adalah saudara kembarnya. William hanya menjadikan Cinta sebagai pelarian.
Apakah yang akan Cinta lakukan setelah mengetahui perasaan William padanya? Akankah Cinta berusaha mendapatkan hati William, atau lebih memilih mundur setelah sakit yang tak berkesudahan William berikan padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Safitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Empat sekawan
Suasana siang itu terasa panas, matahari telah mendiami puncak singgasananya, sinarnya terasa panas membakar kulit.
Dengan langkah mantap Raka menuju ruangan Sultan, dia membawa beberapa dokumen yang diminta beberapa waktu lalu. Pria itu mengetuk pintu sebelum masuk dan bergegas menyerahkan lembaran kertas ditangannya kepada atasannya.
"Apa semua sudah sesuai dengan yang aku katakan?" Sultan mendongak.
"Ya Pak, silahkan Anda periksa kembali."
"Hah ...." Sultan melepas kacamatanya dan menyadarkan kepalanya di sandaran kursi lalu memejamkan matanya.
"Anda bisa istirahat dirumah saja Pak. Jangan memaksakan diri jika Anda memang lelah. Anda sudah bekerja dengan keras selama ini. Anda bisa saja ambil cuti lalu bulan madu, kembalilah bekerja dengan penuh semangat sepulang dari bulan madu, nanti," oceh Raka.
"Berhenti bicara jika itu tidak penting! Kau malah membuat kepalaku makin sakit," keluh Sultan sembari terus memijit pelipisnya.
"Memangnya ada yang salah dengan perkataanku, Pak? Anda bahkan tidak mengambil cuti setelah menikah, seharusnya Anda sedang bahagia menikmati masa menjadi pengantin baru," ucap Raka sambil tertawa.
"Sudah, diam! Pergilah ke pantry, suruh orang untuk membuatkan teh herbal madu, lama-lama aku merasa kau sudah seperti Mami, saja. Kamu terlalu cerewet belakangan ini."
Raka yang tak bisa menahan tawanya sesekali memegangi perutnya yang terasa sakit akibat terlalu lama tertawa. Lelaki itu bangun dari duduknya dan segera melaksanakan perintah atasannya.
Mereka berdua sudah bekerjasama dengan baik selama hampir tujuh tahun terakhir. Raka sudah sangat hafal dengan karakter Sultan, mereka bahkan menjalin hubungan emosional yang sangat dekat layaknya saudara kandung. Banyak kejadian yang mereka alami bersama baik suka maupun duka, jatuh bangun menjalankan usahanya dari nol.
Keluarga besar Sultan terlahir menjadi tentara. Kakek, ayah dan juga Sakti, mendiang adik kandungnya juga seorang tentara. Hanya Sultan seorang, satu-satunya keturunan trah Pradipta yang memilih untuk tidak mengikuti jejak orang tuanya dan memutuskan untuk menjadi pengusaha.
Sangat sulit pada awalnya karena kakek dan ayahnya menentang keras keinginan Sultan, hubungan mereka bahkan sempat bersitegang selama dua tahun.
Kakek mengancam akan menghapus Sultan dari daftar anggota keluarga tapi itu semua tak menghentikan niatnya. Sultan memutuskan untuk pergi ke Ibukota, melanjutkan kuliahnya sambil bekerja untuk membiayai kehidupannya di rantau orang. Pria itu terus berjuang untuk menemukan jati dirinya dan membuktikan bahwa dia bisa sukses dengan jalan yang telah dipilihnya.
Sultan menyesap teh yang masih menyisakan asap mengepul di atasnya, merasakan pusingnya berangsur membaik. Akhir-akhir ini banyak sekali hal yang harus dikerjakan olehnya. Sebenarnya dia bisa saja mengambil cuti dan menyerahkan semua tugasnya kepada Raka tapi jika dipikir-pikir, bukan cuti dan bulan madu indah yang akan dijalaninya mengingat latar belakang pernikahannya dengan Hanum.
Dering ponsel membuyarkan lamunannya. Segera Sultan menatap layar ponselnya dan nama Adam terpampang disana.
"Ya." Sultan menjawab teleponnya lesu.
"Nanti malam datang ke kafe ya, kita sudah lama nggak kumpul. Jangan karena kamu sudah menikah lalu melupakan kami," ucap Adam di seberang sana.
"Bukan begitu Dam. Aku sedang dikejar deadline akhir-akhir ini, banyak jadwal yang terpaksa di atur ulang karena pernikahanku yang mendadak kamu tahu betul itu," tampik Sultan.
"Ya, ya. Pokoknya nanti malam aku sama Reno tunggu di kafe ya!"
"Hm." Sultan menutup teleponnya.
Pria itu menaruh ponselnya lalu menghabiskan tehnya sebelum kembali sibuk dengan pekerjaan yang sudah menantinya.
Waktu terus berjalan, hari sudah petang sekarang. Sultan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menyusuri jalanan yang makin padat di malam hari. Butuh waktu dua puluh menit untuk Sultan sampai di kafe tempat biasa dia dan teman-temannya bertemu. Kafe itu milik Adam, dia merintis usaha bersamaan dengan Sultan dan sekarang sudah memiliki banyak cabang di berbagai daerah.
Adam melambaikan tangannya begitu melihat sosok Sultan muncul di balik pintu, memberitahukan dia dan Reno sudah menunggu di spot favorit mereka di kafe itu.
Sultan meneguk minuman yang disodorkan oleh sahabatnya itu.
"Bagaimana kabarmu? Kau terlihat kelelahan," ucap Adam berbasa basi.
"Kamu seperti tidak tahu Sultan saja, dia itu robot yang gila kerja jadi mana kenal dia dengan kata lelah." Reno terkekeh menimpali
"Hei! Bagaimana rasanya menikah? Apa menyenangkan?" sambung Adam sambil menepuk bahu Sultan.
"Aku heran, kenapa setiap orang bertanya soal itu? Kalau kau mau tahu rasanya, ya menikah saja sana!" Sultan mencebikkan bibirnya. Pria itu merasa kesal karena sudah pernah mendapatkan pertanyaan itu sebelumnya.
"Santai, kenapa mesti marah hanya untuk pertanyaan sepele seperti itu."
Sultan melengos dan kembali meneguk minumannya.
"Hm, kau sudah beritahu Mauryn soal pernikahanmu?" tanya Adam.
"Belum, kami sudah lama tidak berkomunikasi," balas Sultan.
"Teman macam apa kau ini, apa kau mau dia tiba-tiba memelukmu jika kalian bertemu saat dia pulang ke Indonesia nanti? Dia masih Mauryn yang dulu yang sangat bergantung padamu."
"Hanya teman," lirih Sultan.
"Iya bagi kita, bagi orang lain yang melihat kedekatan kalian, orang akan berpikir kalian lebih dari sekedar teman. Kau paham betul kelakuannya padamu seperti apa, lebih mirip seorang istri yang selalu menempel pada suaminya," beber Adam.
"Aku kesini ingin menenangkan diri bukan untuk mendengarkan ocehanmu," ejek Sultan.
"Ah terserah kau saja. Kau pikir selama ini mana ada gadis yang mau denganmu? Setiap gadis yang melihatmu ketika bersama Mauryn pasti menganggap kalian adalah sepasang kekasih."
"Mungkin saja setelah menikah dia sudah bisa merubah sikapnya padamu sekarang," sela Reno.
Mereka melanjutkan pembicaraan yang semakin malam terasa semakin hangat, ketiganya kadang tertawa terbahak bahak mendengar candaan yang sesekali terlontar.
Ya ... Sultan, Adam, Reno dan Mauryn mereka adalah empat sekawan, mereka berteman sejak kecil. Mereka sekolah di tempat yang sama. Bahkan Adam dan Reno pun memutuskan untuk kuliah di Ibukota mengikuti Sultan. Sama halnya dengan Mauryn yang memang selalu bersama-sama dengan Sultan, dulu apartemen Mauryn pun masih satu gedung dengan apartemen Sultan.
Persahabatan keempatnya masih terjalin dengan baik hingga saat ini.
.
Tbc....❤️❤️❤️
Jangan lupa klik LIKE, FAVORIT VOTE dan RATE bintang lima ya readers tercintaku biar aku makin semangat up nya..😍😍
😄