perkenalan
namanya Roman maulana satria usia dua puluh empat tahun pendidikan sarjana hukum lulusan amerika.hidup sebagai preman jalanan walau merupakan putra konglomerat pewaris tunggal satria corp. kisah cintanya tak direstui ibunya. yok kita lihat perjuangan hidupnya untuk mengungkap kasus kematian kekasihnya yang dibunuh dengan menularkan virus covid 19 yang lagi viral dan menghilang dari kedua orang tuanya. mari kita masuk dalam kisah pertama pulang ke Idonesia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisnu Arca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Oleh oleh dari Roman
Nadira memandang Hadi yang masih tertidur diatas pembaringan ruangan kamar rawat, begitu juga dengan Roman dan Morrin tampak sedih dengan keadaan Hadi.
Lebih lebih Nadira yang melihat sendiri secara langsung bagaimana Hadi jadi bulan bulanan pukulan Ghazan dan kawan kawannya.
Walaun Nadira berusaha melepas diri dari hadangan Winda namun tidak membantu dalam menolong Hadi. Malah hampir saja mereka bisa ditaklukan.
Untung saja ada pria bercadar datang menolongnya yang tidak lain adalah Roman sendiri.
Mereka bertiga terdiam, tak ada ucapan yang keluar dari mulut mereka. Raut wajah Nadira menyimpan penyesalan yang luar biasa. Sebab gagal menolong pria yang sekarang terbaring didepannya.
Hand phone Morrin berdering, dia minta izin pada Roman dan Nadira untuk membuka hand phonenya.
"Halo pak! Baik pak Morrin segera pulang."
Morrin memandang Roman setelah menerima panggilan dari bapaknya.
"Ada apa rin...?" tanya Roman.
"Bapak memintakku segera pulang!" jawab Morrin.
"Baiklah, kamu segera ku antar pulang!" kata Roman.
Kedua orang tua Morrin tahu kalau dia sedang bersama Roman, dan merekapun sudah mendapat izin dari kedua orang tua Morrin. Kedua orang tua Morrin sangat menyukai Roman, walaupun mendapat tentangan dari kedua orang tuanya.
Roman segera mengantar Morrin pulang sebab sudah seharian penuh mereka izin.
Sebelum mereka pergi meninggalkan mereka. Roman minta bicara empat mata dengan Nadira.
"Dir aku ingin tahu siapa wanita yang bertarung denganmu!" ucap Roman
"Pria bercadar itu kamu kan!" potong Nadira.
"Betul itu adalah aku,karena aku harus menyembunyikan identitasku!" timbal Roman.
"Aku mengerti Rom...!"
"Apa kau mengenal perempuan itu?" tanya Roman lagi.
"perempuan itu bernama Winda pacarnya Ghazan!" jawab Nadira
"Ghazan?!!" Roman tampaknya tidak mengerti karena belum mengenal laki laki tersebut.
"Iya, Ghazan laki laki yang dibayar oleh toni untuk menghabisiku!" jelas Nadira.
"Kenapa Toni sampai ingin menghabisimu dan seharusnya aku yang jadi targetnya!" tanya Roman penasaran.
"Selama kamu di Amerika akulah yang selalu menghalangnya untuk mendekati Morrin!"
Sekarang jelas sudah, mengapa Toni sampai menyewa orang untuk menghabisinya.
Padahal dia sendiri yang minta tolong sama Nadira agar memperhatikan dan melindungi Morrin.
Jadi, Nadira betul betul mendengar dan memenuhi apa yang dimintanya.
Roman terdiam sejenak,
"Baiklah, aku pamit antar Morrin pulang. Sudah itu, aku akan segera kembali kesini!" kata Roman.
"Pulanglah! Biar aku yang mengurus Hadi!" pinta Nadira.
"Tapi, kamu..."
"Sudahlah nanti aku suruh anak buahku untuk membantuku mengurus Hadi!" paksa Nadira.
Mau tak mau Roman harus mengalah, apalagi tampaknya Nadira seperti memaksa.
"Baiklah kalau begitu aku pamit dulu...!"
Lalu Roman meninggalkan Nadira sendirian dirumah sakit.
Sementara dirumah sakit Kusuma wijaya. Ditempat berbeda, keluarga Winda juga sedang dalam keadaan panik, tidak biasanya Winda seperti ini.
Yang manjadi pikiran orang tuanya Winda adalah kalau Winda luka dalam karena hantaman tangan manusia sangat berbertolak belakang dengan keterangan Zalu.
Tidak lama kemudian Winda tersadar dari pingsannya. Dia merasa asing dengan tempatnya. Matanya masih samar samar melihat sekelilingnya karena kepalanya masih pusing.
"Aku dimana ini?!"dengan suara terdengar masih kesakitan Winda bertanya.
Kedua orang tuanya tidak menyadari Winda sudah siuman. Serentak mereka berdua terbangun dari tempat duduknya.
"Win...kamu jangan bergerak dulu nak,sekarang kamu sedang dirawat di rumah sakit!" pak Sumarto menasehati putrinya dengan lembut.
"Aku...di rumah sakit?!"pelan suara Winda menatap bapaknya.
"Betul Win...kamu sedang dirawat dirumah sakit!" belai Adelia pada putrinya.
"Tapi kata dokter tidak apa apa,bentar lagi kamu sembuh!" rayu sumarto mencoba membujuk putrinya agar tidak stres.
Mata Winda kembali terpejam untuk menahan rasa sakit di dada dan pusing di kepala.
Bisa kita bayangkan betapa keras pukulan Nadira sampai membuat Winda mendapat perawatan dirumah sakit. Beda dengan Hadi.
Kalau Hadi pingsan karena mendapat hantaman pukulan bertubi tubi dari Ghazan dan anak buahnya.
Sekarang disebuah rumah kontrakan sederhana, Roman sudah sampai di rumah Morrin.
Kedua Orang tua Morrin menyambut mereka dengan baik walau seharian mereka pergi.
"Assalamualaikum..."
"Wa alaikumussalam, ei...Roman, udah berapa tahun tidak melihatmu!!" sapa pak Imran penuh kagum memandang laki laki soleh dan tampan dan selalu merendah.
Ini yang membuat keluarga Morrin bertahan walau mendapat tentangan dari keluarga Roman.
Yang dipandang oleh pak Imran adalah bukan harta yang dimiliki oleh Roman. Namun Roman memiliki religius yang sangat sempurna dimatanya.
Setiap ayat ayat yang disenandungkan sering membuat perasaan pak imran hanyut, sampai tak kuasa menahan tetesanair mata. Belum lagi kalau Roman memberi tausiah qur'an dan hadist yang disampaikan begitu menusuk langsung kerelung hatinya.
Ditengah malam saat pak Imran tahajut, tiada henti hentinya dia memohon kepada yang kuasa. Agar putrinya bisa dijodohkan dengan pria idaman seperti ini, yang memiliki iman.
"Hampir kurang lebih tiga tahunan pak!" jawab Roman santun sekali.
"Aku kangen sama kamu nak!" timbal Sri ibunya Morrin.
"Sama ma...aku juga kangen kalian semua, itulah sebabnya saat saya pulang dari Amerika saya langsung kesini. Tapi sepi untungnya Morrin masih dirumah!" kata Roman.
"Morrin cerita sama mama...kalau mamatahu kamu pulang pasti mama minta izin tidak masuk dikantor!" timbal sri senang.
"Oh ya bagaimana kabar ibu dan bapakmu Roman...!" tanya pak Imran.
"Mereka semua baik baik saja pak!" jawab Roman.
"Kakak lama menghilang kemana aja kak!" tanya Hakim adik Morrin yang paling kecil.
"suuut..." Morrin mencegah adiknya yang nyerocos ditengah tengah perbincangan orang tuanya.
"Kakak sekolah di Amerika!" jawab Roman
"Kakakkan ngajinya bagus kenapa tidak sekolah di Arab?" kembali Hakim melontarkan pertanyaan.
"Maunya kakak sih dimesir tapi orang tua kakak yang mau di Amerika!" Roman memberi penjesan sama Hakim.
Ketika Hakim kembali mau bicara Morrin menyambar adiknya seraya menutup mulutnya.
"Biarin aja dia ngobrol sama aku, aku juga kangen sama Hakim!" pinta Roman.
"Tidak boleh, cukup!" cegah Morrin.
"Pak!, Ma! Dan kalian semua tunggu sebentar ya, aku ke mobil dulu. Ada yang tertinggal!" kata Roman lalu pergi.
Tak lama kemudian Roman membawa banyak sekali Oleh oleh.
"Ini semua dibawa kedalam, dan masing masing oleh oleh, ada nama orangnya!" kata Roman.
Oleh oleh yang diberikan Roman sangat banyak sekali. Ditaruh dalam dua kardus kotak besar.
Bersamaan dengan itu pula Nillam datang dari dalam mempersilahkan semuanya masuk kedalam.
"Semuanya diminta untuk masuk kedalam karena makan malam sudah siap!" pinta Nillam sambil tersenyum.
"Wah...kebetulan kitakan belum makan... iyakan Morrin!" sambut Roman dengan senang hati.
Roman dan keluarga Morrin makan bersama.
Kebetulan juga, Roman sangat senang makan dirumah Morrin. Karena Morrin dan Nillam sama sama suka dan pandai masak.
Nillam dan Morrin tau makanan kesukaannya Roman, dan itu sudah dipersiapkan oleh keluarga Morrin.
Momen momen seperti ini yang ditunggu oleh keluarga Morrin.
makan bersama dengan Roman.
Okey gays nanti kita lanjutkan lagi ke episode berikutnya.
saya ucapkan trima kasih bagi yang telah membaca kisah ini.
jangan lupa share dan like iya...