NovelToon NovelToon
Jangan Jatuh Cinta Pada Ku

Jangan Jatuh Cinta Pada Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Enhypen
Popularitas:184
Nilai: 5
Nama Author: rerevana

....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rerevana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

L'Evanne.

Pukul 17.00. Jayden sudah menunggu di depan gerbang sejak 16.50. Helm hitam dof dipegangnya. Ia hanya bersandar di motor, menunggu.

"Jam 5 nggak usah jemput katanya," gumam Jayden sambil senyum miring.

Begitu Cheyrin keluar, Jayden langsung berdiri. Cheyrin berhenti di depannya, dahinya berkerut tipis. "Bukannya gue bilang nggak usah?"

Jayden memasang helm ke kepala Cheyrin tanpa jawaban. Gerakannya tetap hati-hati seperti kemarin. "Udah. Pegang gue."

Pukul 17.03. Jalanan sore mulai padat. Jayden sudah memutar gas ke arah kiri, jalur biasa menuju Luna Bloom.

Cheyrin menepuk pelan bahu kanannya dari belakang. "Belok kanan."

Jayden menoleh ke spion, "nggak salah nih?" alisnya bertaut. Tapi ia nurut. Motor berbelok ke jalan yang lebih sepi.

"Gue udah berhenti dari Luna Bloom," kata Cheyrin pelan, nadanya datar seperti biasa. "Kemarin malam. Dapat tawaran kerja di tempat lain."

Jayden mengangguk kecil. "Bagus. Jam kerjanya gimana?"

"Ya masih sama sih, sore sampai malam."

Jayden tidak bertanya lebih jauh. Selama Cheyrin merasa senang, dia tidak masalah.

Motor melambat di depan gedung kaca tiga lantai. Logo emas "L'EVANNE" terpampang besar di atas pintu. Valet berseragam hitam berdiri berjejer. Mobil-mobil mewah parkir rapi di depan.

Jayden mematikan mesin. Ia diam.

Matanya menatap papan nama itu. Lama. Rahangnya mengeras. Tangannya yang tadinya santai di stang, kini mengepal pelan.

Cheyrin turun. Ia melepas helm dan menyerahkannya ke Jayden. "Ini tempat kerja gue yang baru."

Jayden tetap diam. Tidak bertanya. Tidak bereaksi berlebihan. Hanya menunduk, menatap helm di tangannya.

Cheyrin melihat itu. Bahunya sedikit menurun. Ia salah paham.

"Kalau lo nggak mau nganterin gue lagi ke sini, gue ngerti," ucap Cheyrin pelan. "Gue bisa naik taksi mulai besok."

Baru di situ Jayden mendongak. Matanya langsung menatap Cheyrin.

"Apa sih, kenapa ngomong gitu," kata Jayden, suaranya pelan tapi jelas. "Besok tetap gue antar."

Ia menghela napas, lalu menggantungkan helm Cheyrin di stang motor. Senyum miringnya muncul lagi, tapi kali ini tanpa gurauan. Hanya lelah.

"Udah masuk sana. Nanti telat lagi."

Cheyrin menatap Jayden beberapa detik. Lalu ia berbalik dan masuk tanpa kata lagi. Pintu kaca menutup di belakangnya.

Jayden tetap di luar. Bersandar di motornya, menatap pintu yang baru saja tertutup.

Pintu kaca L'Evanne menutup otomatis di belakang Cheyrin. Hawa dingin AC langsung menyergap kulitnya. Wangi rempah, mentega, dan roti panggang bercampur jadi satu.

Lobi restoran luas dengan lantai marmer mengilap. Lampu kristal menggantung tinggi. Meja-meja kayu jati tertata rapi, dilapisi taplak putih dan set peralatan makan perak. Suasana tenang, hanya terdengar alunan piano pelan dari sudut ruangan.

Seorang wanita berjas hitam menghampiri cepat. Rambutnya disanggul rapi, name tag "Mira - Floor Manager" tersemat di dada kiri. Umur sekitar 30-an, raut wajahnya tegas tapi tidak ketus.

Mira melirik Cheyrin dari atas ke bawah. Tatapannya berhenti sebentar di apron hitam yang masih Cheyrin genggam.

"Nona Cheyrin?" tanyanya, suaranya datar profesional.

Cheyrin mengangguk sekali. "Iya."

"Tolong ikuti saya," ucap Mira tanpa basa-basi. Ia berbalik dan mulai berjalan ke arah lorong belakang. Hak sepatunya beradu dengan lantai marmer, menimbulkan bunyi klak-klak yang cepat.

Cheyrin mengikuti di belakang. Langkahnya pelan, tapi teratur. Ia tidak bertanya. Tidak menoleh ke Jayden yang masih menunggu di luar.

Mereka melewati area dining. Beberapa pelayan yang lewat langsung menundukkan kepala sekilas ke arah Cheyrin, lalu buru-buru melanjutkan kerja. Bisik-bisik kecil terdengar dari balik pintu dapur yang terbuka.

Mira berhenti di depan pintu stainless steel bertuliskan "KITCHEN - DILARANG MASUK SELAIN STAFF". Ia mendorong pintu itu tanpa mengetuk.

Suhu langsung naik. Uap panas, suara wajan beradu, teriakan "Order 12, table 5!" bersahutan. Aroma bawang bombay tumis dan daging panggang menusuk hidung.

Mira menunjuk ke arah meja stainless steel di pojok. "Kamu di bagian plating dessert dan garnish. Ikuti Chef Juan. Dia yang ngatur shift kamu malam ini."

Di sana, seorang pria bertubuh tegap dengan celemek putih penuh noda saus sedang menata piring. Umur 40-an, lengannya penuh luka bakar kecil. Itu Chef Juan, kepala kitchen.

Chef Juan menoleh sekilas, lalu mengangguk kasar ke Cheyrin. "Apron pakai. Cuci tangan. Terus sini, saya ajarin plating tiramisu. Nggak ada waktu buat adaptasi."

Nadanya tidak kasar. Hanya cepat dan to the point. Seperti semua orang di kitchen.

Cheyrin tidak membantah. Ia langsung mengikat rambutnya, memakai apron, dan mencuci tangan di wastafel. Gerakannya rapi, tenang. Seolah ia sudah biasa dengan hiruk-pikuk dapur.

Mira memperhatikan dari pintu. Sebelum pergi ia berkata pelan ke Cheyrin, "Istirahat 30 menit jam 8. Makan di pantry staff. Jangan keluar area restoran kalau belum shift selesai."

Cheyrin mengangguk.

Pintu kitchen kembali tertutup. Dari luar, suara piano di lobi tenggelam digantikan suara kompor menyala dan pisau menghantam talenan.

Pukul 20.00. Bel kecil berbunyi dari dinding kitchen.

Chef Juan melempar serbet ke meja stainless steel. "Istirahat 30 menit! Yang mau ngerokok ke belakang. Yang mau makan ke pantry. Cepat!"

Cheyrin meletakkan spatula pelan. Punggungnya lurus seperti biasa, tapi bahunya sedikit turun. Tangan kanannya memijat pergelangan kiri yang pegal karena terus plating tiramisu dari jam 5.

Ia berjalan ke pantry staff di ujung lorong. Ruangan kecil, 3x4 meter. Ada meja panjang, microwave tua, kulkas, dan dispenser air. Bau mie instan bercampur kopi sachet.

Cheyrin duduk di kursi plastik paling pojok. Ia melepaskan jepit rambut, membiarkan kunciran jatuh berantakan. Ia menghela napas panjang. Pelan. Dalam.

Ini hari pertama. Tapi rasanya jauh lebih melelahkan dibanding tiga bulan di Luna Bloom. Di kafe, ia hanya mencatat pesanan, membuat kopi, senyum ke pelanggan. Lelah? Iya. Tapi tidak sampai membuat telapak tangannya merah karena uap oven dan punggung pegal berdiri 3 jam nonstop.

Cheyrin menuang air putih ke gelas plastik. Ia meneguknya habis. Tenggorokannya kering.

Matanya menatap kosong ke dinding pantry yang penuh coretan jadwal shift dan tempelan "Jaga kebersihan!".

Baru sekarang ia sadar.

Selama ini, tiap kali ia datang ke L'Evanne bersama orang tuanya... ia hanya perlu duduk. Meja langsung disiapkan. Menu langsung disodorkan. Makanan mewah datang dalam 10 menit. Ia hanya perlu memakan, memuji "enak", lalu pergi.

Ia tidak pernah melihat ini. Tidak pernah melihat punggung Chef Juan yang bungkuk di depan kompor sejak jam 3 sore. Tidak pernah melihat Mbak Rina mencuci piring, tangannya keriput kena air panas. Tidak pernah mendengar teriakan "Kejar order! Meja 8 nunggu!" dari balik pintu stainless steel.

Di balik lampu kristal, meja marmer, dan musik piano yang menenangkan... ada ruangan kecil ini. Ada orang-orang yang kakinya bengkak karena berdiri 10 jam. Ada tangan yang melepuh kena minyak panas. Ada napas yang terengah tiap bel istirahat berbunyi.

Cheyrin menunduk. Jari-jarinya menggenggam gelas plastik sampai sedikit penyok.

Bel istirahat berbunyi lagi. 5 menit.

Cheyrin berdiri. Ia mencuci gelasnya, lalu mengikat rambut kembali. Sebelum kembali ke kitchen, ia melirik ke arah lobi lewat celah pintu.

Di sana, lampu kristal tetap menyala indah. Musik piano tetap mengalun lembut. Tamu-tamu tetap tertawa sambil memotong steak.

Tapi Cheyrin sekarang tahu. Di balik semua itu... Ada keringat yang tidak pernah dilihat tamu.

Ia menghela napas lagi. Kali ini lebih pendek. Lalu mendorong pintu kitchen dan masuk kembali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!