NovelToon NovelToon
TERJERAT OBSESI ELZIO

TERJERAT OBSESI ELZIO

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / One Night Stand / CEO / Percintaan Konglomerat / Office Romance
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

"Dendanya lima miliar rupiah, Clara. Atau... kamu tanda tangani kontrak tiga tahun jadi asisten pribadi saya!"
Berniat kabur dari masa lalu dan hidup mandiri, Clara justru terjebak dalam jaring laba-laba Elzio Mahendra—CEO tampan, kaya raya, dan obsesif yang tak mempan digertak. Hanya demi mengikat Clara di sisinya, Elzio tak ragu membeli perusahaan tempat Clara melamar dan menjeratnya dengan kontrak denda bernilai fantastis.
Segala cara Clara lakukan agar Elzio ilfil—mulai dari bersikap super galak, memboroskan uangnya, hingga kabur naik KRL. Namun, bukannya menyerah, sang CEO gila justru makin gila dan posesif padanya.
Di tengah intrik perjodohan elit dan trauma masa lalu yang menghantui, akankah Clara berhasil bebas dari jerat denda lima miliar, atau justru akhirnya bertekuk lutut dalam pelukan sang CEO?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 6

Hari terakhir di Bali seharusnya jadi momen menenangkan diri, tapi bagi Clara, suasana vila justru terasa sangat ganjil. Sejak kemarin, Anya bertingkah aneh. Sahabatnya itu tidak berhenti tersenyum sendiri sambil memandangi layar ponsel, lalu tiba-tiba melipir ke sudut teras untuk menelepon seseorang dengan suara yang mendadak selembut sutra.

​Clara melempar bantal kursi ke arah Anya yang sedang tersenyum-senyum menatap layar ponselnya. "Lu kesurupan setan Bali apa gimana sih, Nya? Dari tadi senyum-senyum sendiri kaya kurang sajen."

​Anya kaget, hampir memekik. Dia buru-buru mematikan layar ponselnya sambil merona hebat. "Hah? Enggak! Apaan sih, Clar! Orang cuma... cuma baca berita lucu!"

​Clara memicingkan matanya tajam, melipat tangan di dada. "Sama Arka, kan?"

​Pipi Anya makin merah padam. Dia menunduk ragu, lalu akhirnya mengangguk pelan dengan gigitan di bibir bawahnya. "Kemarin malam... dia manis banget, Clar. Dan ya... kita jadian."

​"Jadian?!" Clara membelalak. "Anya, lu gila?! Dia itu asisten pribadinya si CEO gila itu! Lu sadar enggak sih lu masuk ke kandang macan?!"

​"Tapi Arka beda sama Bosnya, Clara!" potong Anya membela diri. "Dia perhatian banget. Lagian kita berdua sama-sama jomblo dan saling suka. Lu jangan samain Arka sama Pak Elzio dong!"

​Clara menghela napas berat, memijat pelipisnya yang mulai berdenyut. "Terserah lu deh, Nya. Asal lu bahagia aja. Tapi gue mau keluar sendiri. Gue pusing di vila terus."

​"Mau gue anterin?"

​"Nggak usah. Lu teleponan aja sana sama pacar baru lu," sindir Clara sebelum menyambar tas dan kacamata hitamnya, melangkah keluar vila tanpa menunggu jawaban Anya.

​Clara menyusuri pertokoan di sepanjang jalan daerah Seminyak. Di tengah cuaca panas Bali, dia mencoba menikmati waktunya sendirian. Dia membeli topi pantai berukuran besar, beberapa potong gaun santai, dan menjajal jajanan lokal di pinggir jalan.

​Namun, kenyamanan itu tidak bertahan lama. Sejak keluar dari vila, perasaan janggal itu kembali menghantuinya. Clara melirik lewat pantulan kaca toko gelato. Sebuah mobil SUV hitam berkaca gelap melaju sangat lambat di belakangnya, menyesuaikan kecepatan langkah kakinya. Bahkan beberapa meter di belakang mobil itu, dua pria berbadan tegap berpakaian kasual terus memperhatikannya dari kejauhan.

​Pikirannya langsung panas. Kekesalan yang menumpuk sejak kemarin akhirnya meledak.

​"Dasar stalker gila!" desis Clara.

​Dia memutar badannya dan melangkah lebar-lebar mendatangi SUV hitam yang berhenti di pinggir jalan itu. Clara menggedor kaca mobil bagian tengah dengan kasar.

​Brak! Brak!

​"Buka nggak?! Lu pikir gue nggak tahu lu ngikutin gue dari tadi, hah?!" teriak Clara galak, mengabaikan beberapa turis yang menoleh heran padanya.

​Kaca mobil perlahan turun. Bau harum aroma woody-leather yang sangat familier langsung menyapu indera penciuman Clara.

​Di dalam kabin yang sejuk, Elzio duduk santai sambil memangku laptopnya. Pria itu melepas kacamata hitamnya, menatap Clara dengan binar mata yang terkesan sangat menikmati kemarahan wanita di depannya.

​"Masuk, Clara. Luar panas," ujar Elzio santai, suaranya tetap tenang dan halus.

​"Nggak mau! Lu bisa enggak sih stop ngikutin gue kaya psikopat?!" bentak Clara, matanya menyala marah. "Lu itu punya perusahaan gede kan?! Kerja sana! Ngapain ngintilin gue terus kaya pengangguran?!"

​Elzio terkekeh pelan—sebuah tawa rendah yang membuat jantung Clara berdesir tanpa izin. "Pekerjaan saya sudah diurus Arka. Pekerjaan utama saya hari ini adalah memastikan calon istri saya aman di jalan."

​"Gue bukan calon istri lu, bodoh!" tegur Clara pedas, menunjuk wajah Elzio dengan jarinya.

​Elzio bukannya marah, dia justru menangkap telunjuk Clara dan mengecup ujung jari itu dengan sangat lembut, membuat Clara refleks menarik tangannya kembali seolah tersengat listrik.

​"Sakit jiwa!" umpat Clara dengan wajah merona merah, berusaha keras menutupi kepanikannya.

​Namun, di dalam hatinya, Clara mulai merasa lelah. Pria ini tidak bisa dilawan dengan gertakan, tidak mempan dengan kemarahan, dan terlalu obsesif untuk dihindari begitu saja saat ini.

​Toh ini hari terakhir gue di Bali, pikir Clara. Nanti malam gue terbang balik ke Jakarta, langsung pindah kontrakan dan ngilang tanpa jejak. Lagian dia nggak tahu gue melamar ke mana aja.

​Rencana instan mendadak terbentuk di kepala cerdik Clara. Jika pria ini tidak mempan diamarahi, maka dia harus dibuat ilfil dan ilfiel setengah mati sampai kabur sendiri.

​Clara menyilangkan tangannya, menatap Elzio dengan senyum sinis yang menguji. "Oke. Lu mau ikut gue, kan?"

​Satu alis Elzio terangkat. "Tentu."

​"Tapi gue nggak mau jalan kaki lagi. Dan gue mau belanja banyak hal hari ini," tantang Clara, memiringkan kepalanya. "Dan ingat, lu yang bayar semuanya. Gimana? Masih mau ikutan, wahai CEO kaya?"

​Elzio tersenyum tipis. Seringai tipisnya yang tampan justru membuat aura dominannya makin pekat. Dia melipat laptopnya, lalu meletakkannya di jok sebelah.

​"Pintu mobilnya dibuka dari luar, sweetheart," balas Elzio lembut namun sarat tantangan. "Masuklah. Kartu kredit saya bebas kamu pakai seharian ini."

​Clara mendengus hambar. Lihat aja nanti. Gue bikin limit kartu lu jebol biar lu sadar gue ini cewek matre yang nggak pantes buat lu, batin Clara penuh kemenangan sembari membuka pintu dan duduk di samping Elzio.

​Satu jam berikutnya berubah menjadi ajang pembuktian bagi Clara. Dia memasuki boutique-boutique mewah di area Seminyak tanpa ragu.

​"Mba, ambil gaun yang ini, tas kulit yang itu, sama sepatu heels ukuran 38 yang warna merah," tunjuk Clara asal pada pelayan toko. "Sama aksesoris di pajangan depan itu bungkus semua."

​Pelayan toko membelalak kaget. "Semuanya, Mbak?"

​"Iya, semuanya," sahut Clara mantap. Dia lalu menoleh ke arah Elzio yang berdiri tegap di sampingnya dengan tangan masuk ke dalam saku celana. "Kenapa? Kemahalan ya? Kalau nggak sanggup bayar, bilang aja dari sekarang. Nggak usah sok kaya."

​Elzio tidak menanggapi ejekan itu dengan emosi. Dia hanya mengisyaratkan Arka—yang mengikuti di belakang mereka—untuk maju.

​"Proses semuanya," perintah Elzio pendek pada pelayan toko, lalu mengeluarkan kartu kredit black card tanpa limit dan menyerahkannya.

​Clara menyipitkan mata, agak jengkel karena reaksi Elzio sama sekali tidak terkejut.

​Tak berhenti di situ, Clara membawanya ke pasar seni lokal. Dia membeli berbagai macam kerajinan tangan, lukisan besar, perhiasan perak, hingga camilan khas Bali dalam jumlah fantastis yang bahkan tidak mungkin muat di bagasi pesawat biasa.

​"Ini juga, Pak," kata Clara pada penjual perak, menunjuk kalung paling mahal di etalase. Dia melirik Elzio yang berdiri setia di sampingnya sambil membawakan es kelapa muda milik Clara. "Gue sengaja habisin uang lu. Biar lu tahu gue ini matre, suka morotin, dan suka foya-foya. Masih mau ngajak gue nikah?"

​Elzio menyodorkan sedotan es kelapa ke bibir Clara, membiarkan wanita itu meminumnya sejenak sebelum dia menjawab.

​"Uang saya tidak akan habis hanya karena kamu membeli setengah pasar ini, Clara," bisik Elzio rendah di dekat telinga Clara. matanya menatap intens ke dalam manik mata Clara yang kaget. "Bahkan kalau kamu mau membeli seluruh pulau Bali ini, saya akan bayarkan. Asalkan kamu tetap di samping saya."

​Clara tersedak es kelapa yang baru diminumnya. "Uhuk! Uhuk!"

​Pipi Clara memanas hebat. Usahanya untuk membuat pria ini merasa ilfiel runtuh total. Pria di depannya ini benar-benar gila, tidak rasional, dan sudah dibutakan oleh obsesi yang tidak masuk akal.

​"Lu... lu beneran gila ya, Elzio," gumam Clara geleng-geleng kepala, menatap Elzio dengan campuran heran dan kepasrahan.

​"Saya gila karena kamu," balas Elzio tenang tanpa ragu sedikit pun.

​Clara memutar bolanya malas, lalu membalikkan badan dan berjalan mendahului Elzio dengan tas-tas belanjaan yang dibawa oleh para pengawal di belakang mereka.

​Terserah lu mau ngomong apa, batin Clara mantap sambil tersenyum tipis tersembunyi di balik topi lebarnya. Nanti malam jam sembilan pesawat gue terbang. Selamat tinggal, CEO gila. Lu nggak bakal bisa nemuin gue lagi setelah ini.

1
umie chaby_ba
mampir thor..🙏
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak 🙏🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!