ini cerita sedih tentang seorang istri yang tak di cintai suami nya, karena dia hanyalah istri yang di pilih keluarga nya bukan hatinya.
setelah perceraian terjadi, pria itu baru menyadari betapa pentingnya gadis itu untuknya.
perjuangannya untuk mendapatkan cintanya kembali akankah berhasil? menikahinya untuk kedua kalinya. atau malah cintanya tak terbalas karena si gadis mencintai pria lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rniehamizan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 9
Tali pernikahan yang baik itu adalah dimana sang istri selalu mengerti hati suami, menerima kekurangan nya. menyiapkan segala keperluan nya dan memberikan layanan yang pantas untuk nya. ya, itu mungkin menurut pemikiran Adam atau para pria lainnya yang hanya memikirkan dirinya sendiri.
Berbeda dengan Calvin, meskipun dia belum menikah dan selalu bermain dengan beberapa gadis pikiran itu tak pernah muncul di benaknya. karena dia tahu, sebuah pernikahan itu harus dijalankan dengan dua hati yang saling berhubungan. saling melengkapi dan juga membuat diri masing-masing nyaman saat berduaan.
Makanya sampai sekarang pun dia masih belum siap menjalin hubungan ke tahap yang serius. tapi, setelah mengenal Reva dan mengetahui seberapa kejamnya Adam memperlakukannya, gadis itu tetap bertahan dengan cintanya. membuat Calvin terkadang merutuk pada penciptanya, kenapa tak berikan saja Reva pada nya.
Calvin melajukan mobilnya dengan kencang membelah jalanan yang begitu ramai dan sedikit macet. tangannya mencengkram kemudi erat saat ingat perkataan Adam bahwa Reva lah yang memilih jalan ini.
Dia memang bukan kekasih atau pun kakak laki-laki nya Reva, tapi sebagai seseorang yang mengenalnya, dia merasa kesal saat mendengarnya, bagaimana ke adaan Reva yang mengalami nya. pasti lebih kesal dan terluka.
"Reva...." mata Calvin menangkap sosok gadis yang baru saja di pikirkannya duduk di bangku halte sendirian.
"hei.. Reva. kau sedang menunggu bis?" teriak Calvin setelah menepikan mobilnya tepat di hadapan Reva dengan kaca yang terbuka.
Reva melihat Calvin dengan senang.
"ya, tapi aku sudah telat. bisnya sudah lewat 15 menit yang lalu." jelas Reva seraya menghampiri mobil Calvin.
"boleh aku ikut, kau tak keberatan kan..."
"tentu saja. aku memang ingin mengantarmu pulang. masuk lah." Calvin mendorong pintu depan untuk membukanya. Reva pun langsung masuk.
"untung ada kau, jika tidak aku hanya akan menunggu bis yang datang dua jam lagi."
"Humm... kenapa tak memakai jasa gojek.?"
"lihat, ponselku mati..." Reva menunjukkan ponselnya lalu memasukan lagi kedalam tas.
Calvin sesekali melirik wajah Reva yang terlihat sedikit pucat, mata bengkak dan hidung merah. dia tahu, pasti habis menangis seharian sampai sebegitu nya.
"ehemm.." deheman Calvin membuat Reva melihat ke arah nya.
"apa yang di katakan Adam itu benar?" tanya calvin hati-hati. melirik Reva ragu. senyuman dari bibir Reva membuat hati Calvin sesak.
"soal... ah.. tunggu. apa Adam sudah menceritakan nya pada mu?" Reva tahu ke arah mana jalan pertanyaan Calvin.
"hah.. sungguh sakit mendengar nya. ternyata memang dia sangat senang dengan keputusan itu. ya, sebagai istri yang baik. aku akan mendukung apapun yang dia lakukan." suara Reva sedikit bergetar menahan tangisnya yang kapan saja siap meledak.
"meskipun hati mu terluka?" ucap Calvin dengan wajah datar. dia tak mengerti kenapa gadis ini begitu tenang menghadapi masalah sebesar ini.
"ya, selama di bahagia. itu tak akan masalah bagi ku."
"tapi Reva, kau pun berhak bahagia. kenapa harus mengorbankan hatimu demi pria brengsek seperti Adam." meskipun Calvin sahabat Adam dan selalu mendukung apapun yang dia lakukan termasuk soal hubungannya dengan Jessy tapi ini sesuatu yang salah, dia tak bisa membiarkan nya begitu saja. Adam sudah tak bisa di maafkan lagi.
"berhenti." ucap Reva membuat Calvin menoleh bingung ke arahnya.
"aku bilang berhenti."
"tapi, rumah mu masih jauh."
Reva menarik napas. "jika kau tetap bicara dan ikut campur masalah keluarga ku, lebih baik kau turunkan aku disini."
Calvin menelan ludahnya. memang benar, apa haknya sehingga berani menceramahi Reva seenaknya.dia sudah terlalu jauh ikut campur dalam urusan pribadinya.
"maaf, aku tak akan pernah mengatakan apapun lagi. aku antar sampai ke rumah."
Suasana dalam mobil pun menjadi hening dan sedikit canggung. hingga sampai kerumah, Reva dan Calvin masih tetap diam tak berani berkata apapun.
"makasih, lain kali mampir lah." senyum Reva sangat tulus seperti tak terjadi apapun beberapa menit yang lalu di dalam mobil. Calvin sedikit bingung dibuat nya.
"ya, masuklah. aku pergi." Calvin melajukan mobilnya dengan cepat. dia semakin bingung dengan sikap Reva yang mudah sekali berubah. beberapa menit yang lalu wajahnya nampak kesal tapi barusan dia begitu biasa saja dan bahkan tersenyum padanya. rupanya gadis itu sudah biasa menekan hatinya semenjak menikah dengan Adam.
Reva melangkah dengan cepat saat melihat Jessy dan Adam duduk di ruang keluarga sambil menikmati film romantis. posisi mereka yang begitu mesra membuat Reva meringis. melihat tangan Adam melingkar di pinggang sempit Jessy semakin membuat hati Reva meronta tak karuan.
ayah..ibu.. apa yang harus lakukan?
Teriak hati Reva meronta. dia meremas dadanya yang terasa begitu sesak.
"Adam, lihat istri mu baru pulang jam segini. pasti dia habis keluyuran." Jessy melihat Reva yang menaiki anak tangga. Adam mendengus, dia tahu tempat Reva bekerja tak pernah buka sampai selarut ini.
"tunggu sebentar, aku akan cepat kembali." Adam mencium pipi Jessy lalu segera menyusul Reva yang sudah masuk ke kamar nya. Jessy tersenyum, yakin kalau Adam pasti akan memarahi nya.
"dari mana saja kau?" Adam menahan pintu yang akan di tutup Reva.
"eh.. mas. aku baru pulang kerja."
"pulang kerja? sejak kapan Resto paman Arnold buka sampai selarut ini." mata Adam melihat penuh curiga.
Reva menelan ludahnya, dia tak mungkin mengatakan kalau hari ini dia baru saja kerumah Venty dan memohon demi namanya.
"heuh.. kau bohong kan?" sinis Adam yang melihat Reva diam saja. "kau itu istriku, seharusnya kau tak keluyuran di luar sampai selarut ini."
Reva tersenyum miring mendengar ucapan Adam.
"istri? hhaa..hhaa.. mas tak berhak mengatur ku, mas Adam. bukankah mas bilang aku hanya istri di atas kertas. jangan bertingkah seolah mas begitu peduli dengan ke hadiran ku. itu semakin membuat ku sakit. bersikap lah seperti mas yang dulu, yang tak pernah peduli kemana aku pergi dan kapan aku kembali"
Adam diam. sebenarnya dia sendiri bingung kenapa saat melihat Reva dia langsung begitu kesal dan pikiran buruk tentang kelakuan Reva di luar membuat otaknya menjadi tak bisa berpikir jernih. bukan karena Reva yang pulang larut dia marah tapi karena dia takut Reva pergi dengan pria lain.
Adam semakin bingung dengan hatinya kenapa begitu takut Reva berpaling darinya, padahal ini adalah saat yang paling menguntungkan harusnya tapi malah menjadi beban baginya.
"aku lelah mas."
Reva menutup pintunya, membiarkan adam berdecih pelan. sikap Reva yang seperti itu membuat Adam bungkam sekaligus menjadi lebih bingung, karena hatinya tak terima sikap cuek itu.
Adam kembali mendudukkan dirinya di samping Jessy dengan malas. entah kenapa dia menjadi malas melakukan apapun. melihat Jessy pun tak merubah moodnya sama sekali.
"ada apa? apa dia membuat mu kesal?" Jessy menidurkan kepala nya di atas paha Adam. senyum Adam sangat tipis menunjukkan kalau pertanyaan Jessy benar.
"sudahlah, biarkan saja gadis itu. untuk apa juga marah karena dia pulang larut." gerutu Jessy.
Adam menarik napasnya, bukan seperti yang Jessy katakan. dia kesal karena Reva terlihat begitu tak peduli dengan nya. Adam pun tak mengerti dengan itu, kenapa dan apa alasannya yang membuat hatinya kesal saat Reva acuh begitu.
Reva sangat terluka dan masih tak mengerti dengan Adam. kenapa dia begitu peduli sekarang, biasanya juga dia tak pernah ikut campur soal apapun.