Menikah karena kemauan sendiri dan dengan pilihan sendiri tidak selamanya berbuah kebahagiaan.
Benazir adalah buktinya.
Menikah selama beberapa tahun dengan pria yang berusaha diperjuangkannya, malah menimbulkan luka dan kecewa berkepanjangan. Suaminya bahkan menganggapnya istri yang memalukan dan tak pantas dihargai.
Haruskah Benazir bertahan atau pergi.
Kisah ini akan sedikit menguras air mata.
Berminat ?
ikuti kisahnya yuk...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummiqu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8 ( Memuji ? )
Arjuna dan Benazir kembali ke rumah setelah acara resepsi usai. Dengan menggunakan sepeda motor Arjuna membawa Benazir meninggalkan gedung tempat acara berlangsung. Tak ada pembicaraan apa pun diantara mereka berdua.
Tiba di rumah Benazir langsung masuk ke kamar. Ia mengganti gaunnya dengan daster rumahan lalu menggulung rambutnya ke atas hingga leher jenjangnya terlihat. Setelahnya Benazir membaringkan tubuhnya dan pura-pura memejamkan matanya agar tak perlu berinteraksi dengan Arjuna.
Tak lama kemudian Arjuna masuk ke dalam kamar dan melepaskan kemejanya. Lalu ia pergi ke kamar mandi dan membasuh wajahnya. Setelah mengenakan T shirt, Arjuna ikut berbaring di samping Benazir sambil membuka pesan yang masuk. Tak ada kecupan manis penghantar tidur yang biasa ia lakukan seperti di awal menikah dulu. Benazir masih setia menunggu ucapan selamat tidur dari sang suami. Karena lelah menunggu dan yakin tak ada pergerakan, akhirnya Benazir membalikkan tubuhnya membelakangi Arjuna yang masih sibuk dengan ponselnya.
Saat Benazir hampir terpejam, Arjuna pergi keluar untuk melihat siapa orang yang bertamu di malam selarut ini dan meninggalkan ponselnya dalam keadaan menyala. Kesempatan itu tak disia-siakan oleh Benazir. Ia segera meraih ponsel Arjuna dan melihat apa yang dilakukan suaminya itu.
" Ya Allah Mas. Kamu bisa menebar pujian buat wanita di luar sana dengan gampangnya. Padahal mereka cuma teman di dunia maya, tapi Kamu segitu intensnya memberi perhatian sama mereka. Tapi sama Aku Kamu malah ga pernah peduli. Aku malah ga pernah dengar sekali pun Kamu puji Aku...," kata Benazir dengan mata terbelalak saat melihat komentar Arjuna pada beberapa wanita di aplikasi *ac*b**k.
Karena kesal, Benazir pun membanting ponsel Arjuna ke atas kasur hingga jatuh ke lantai. Lalu Benazir pura-pura melanjutkan tidurnya dengan perasaan kecewa dan amarah di dadanya. Benazir cemburu karena suaminya lebih sibuk memuji dan mengagumi kecantikan wanita di luar sana dibanding dirinya.
" Di dunia ini mana ada Istri yang ga marah ngeliat Suaminya lebih bersemangat memuji kecantikan wanita lain di depannya. Cuma orang ga waras yang bisa tahan sama semua ini...," gerutu Benazir sambil meneteskan air mata.
Arjuna kembali ke kamar dan melihat ponselnya tergeletak di lantai. Ia mengerutkan keningnya. Tapi saat melihat posisi Benazir yang masih sama seperti saat ditinggalkannya tadi, Arjuna pun tak curiga. Ia mengira ponselnya jatuh saat ia tergesa-gesa membuka pintu tadi. Arjuna meraih ponselnya. Dan melihat aplikasi terakhir yang dilihatnya masih sama. Ia pun tersenyum dan melanjutkan mengetik sesuatu di kolom komentar.
\=\=\=\=\=
Benazir tengah berkumpul dengan teman-teman wanitanya. Mereka memang rutin mengadakan arisan bulanan untuk mempererat silaturrahim diantara mereka.
" Mana sih si Amanda. Lama banget...," gerutu Mika.
" Tuh liat, orangnya baru nongol...," sahut Elia sambil memberi kode dengan ujung dagunya.
Semua menoleh kearah Amanda yang nampak tertawa sumringah melihat keempat temannya telah datang dan sedang menunggunya.
" Sorry, Gue belanja dulu tadi...," kata Amanda sambil meletakkan tas belanjaanya di atas meja lalu menyalami keempat temannya satu per satu.
" Belanja apaan sih Lo...?" tanya Silvi penasaran.
" Belanja make up sama baju. Biasalah buat servis Suami di rumah. Biar matanya ga jelalatan ngeliat yang di luar...," sahut Amanda sambil tertawa.
" Gimana caranya Lo tau kalo Suami Lo suka sama semua ini...?" tanya Benazir sambil menatap takjub barang belanjaan Amanda.
" Lho kan dia yang bilang kalo Aku tuh cantik pake ini. Dia suka warna lipstik Aku, katanya lebih sexi pake warna ini. Dia juga suka kalo Aku pake baju kaya gini, dia suka juga sama parfum yang Aku pake. Jadi Aku sengaja beli lagi biar dia senang...," sahut Amanda antusias.
Jawaban Amanda membuat Benazir mengerjapkan matanya. Dia seakan menemukan jawaban dari pertanyaannya selama ini. Seorang suami memang sudah seharusnya memuji istrinya sendiri dan bukan sibuk memuji kecantikan perempuan lain.
" Iya. Suami Aku juga suka gitu. Dia bilang kalo rambut Aku digerai tuh terlihat cantik, makanya dia ngelarang Aku keluar dengan rambut digerai. Katanya kecantikan Aku tuh cuma buat dia seorang...," cerita Mika malu-malu.
" Ciee, cieee...," sahut Elia dan Atik menggoda Mika.
" Kalo Suami Gue mah cuek. Tapi kalo ngeliat Gue pergi sendiri dan terlihat beda atau lebih cantik, dia marah. Bisa-bisa dia ngelarang Gue pergi cuma gara-gara Gue keliatan cantik. Tapi kalo Gue pergi sama dia, dia juga marah kalo ada yang ngeliatin atau muji Gue. Repot banget deh pokoknya...," keluh Atik.
Semua tertawa mendengar cerita Atik. Dan tiba-tiba semua menoleh kearah Benazir yang sedang meneguk juice alpukatnya. Benazir yang menyadari dirinya tengah diperhatikan oleh keempat temannya itu pun bertanya.
" Apa...?" tanya Benazir.
" Giliran Lo yang cerita. Kita semua udah sering ceritain tentang Suami Kita tiap Kita ketemu. Tapi cuma Lo yang belom pernah cerita...," kata Amanda.
" Ga ada yang bisa Gue ceritain...," sahut Benazir dengan enggan.
" Bohong. Masa ga ada...?" tanya Silvi tak percaya.
" Gue ga pernah dipuji sama Suami Gue...," sahut Benazir santai dengan hati nelangsa.
" Apa...?!" kata keempat temannya bersamaan.
" Iya. Sejak nikah sama dia, ga pernah sekali pun dia muji Gue. Entah masakan Gue kek, penampilan Gue kek, baju atau make up Gue kek. Ga ada sama sekali. Gue tau kalo yang Gue pake bagus kan dari komentarnya Silvi sama Atik...," kata Benazir sambil memasukkan makanan ringan ke dalam mulutnya.
"Masa sih Naz...," kata Elia sambil menatap kearah Benazir.
" Iya, dia baru kasih pujian kalo Gue tanya. Gimana masakan Aku, gimana baju Aku, make up Aku ketebelan ga atau Aku bagus ga pake ini dan seterusnya. Tapi kalo inisiatif kasih pujian seinget Gue kok ga pernah ya...," kata Benazir sambil mengaduk sambal di hadapannya.
" Lo ga protes...?" tanya Mika.
" Ga, buat apa. Protes cuma minta dipuji, ga penting banget...," sahut Benazir.
" Ga kebayang hidup Lo tanpa pujian Suami Lo. Padahal kan pujian itu sebagai bentuk suport Suami ke Istri...," kata Amanda sambil menatap iba kearah Benazir.
" Mungkin buat Lo semua pujian itu penting. Tapi buat Gue ya kaya ngarepin ujan turun di saat kemarau...," kata Benazir sinis.
" Kok bisa gitu ya. Apa Arjuna itu ga bisa merayu. Kan Lo bilang dulu dia jago merayu sampe Lo klepek-klepek dibuatnya. Kalo bisa merayu artinya dia bisa memuji dong...," kata Atik.
" Dia bisa memuji orang lain, tapi bukan Gue...," sahut Benazir dalam hati.
" Udah ga usah dibahas lagi. Kita ke sini mau arisan dan makan-makan lho. Jangan lupa Lo yang giliran nraktir ya Man...," kata Mika.
" Beres. Makan aja sepuas Kalian. Ntar Aku yang bayar...," sahut Amanda.
" Asyiikk, ayo serbu...!" seru Atik dan Silvi bersamaan.
Suasana pun semakin ramai. Meski pun mereka berlima telah menikah, tapi tak melunturkan persahabatan diantara mereka. Benazir menatap kagum kearah keempat temannya yang memperoleh suami sesuai impian mereka. Dalam hati Benazir ingin memperbaiki hubungannya dengan Arjuna agar kembali seperti dulu lagi. Sanggupkah Benazir memperbaiki semuanya, sedangkan Arjuna kian memberi jarak padanya.
Benazir mencoba melupakan kemelut rumah tangganya. Ia tertawa lepas saat temannya bercerita tentang anak-anak mereka. Dan untuk yang satu ini, Benazir harus kembali bersabar.
" Gimana caranya biar bisa punya Anak banyak kaya Lo El...?" tanya Mika penasaran karena berkali-kali gagal menambah momongan.
" Gampang. Bikin tiap malam, sesering mungkin. Gempur terus jangan kasih jeda...," sahut Elia asal sambil meluruskan kakinya.
Wajah Mika ditekuk saat mendengar jawaban Elia. Bagaimana mungkin ia mewujudkan apa yang dikatakan Elia, sedangkan suaminya bertugas di luar pulau dan kembali dua bulan sekali.
" Ups, sorry. Gue bercanda, maaf ya Mika...," kata Elia dengan tulus.
" Iya gapapa...," sahut Mika sambil tersenyum.
Benazir kembali menggigit bibirnya diam-diam karena ia merasa tak seberuntung Elia yang memiliki empat orang anak dalam pernikahannya.
bersambung