NovelToon NovelToon
Cinta Tanpa Batas (Gadis Nakal Kekasihku)

Cinta Tanpa Batas (Gadis Nakal Kekasihku)

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Tamat
Popularitas:4.4M
Nilai: 4.9
Nama Author: Sabina nana

Tama, cowok baik-baik, kalem dan jago olahraga yang jatuh cinta dengan Raina si gadis yang terkenal dengan reputasi buruknya. Suka dugem, mabok, merokok, bahkan gosipnya dia pun jadi sugar baby simpanan om-om.

Tama menghadapi banyak tantangan agar bisa bersama Raina. Teman dan keluarganya yang tak menyukai Raina, rumitnya latar belakang keluarga Raina, juga cintanya yang penuh gairah yang amat sulit dikendalikan oleh cowok itu.

Kisah mereka terajut sejak masa di bangku kuliah. Saat mereka lulus, Tama berjanji akan menikahi Raina satu tahun kemudian. Tapi dengan banyaknya pihak yang menginginkan mereka untuk berpisah, bisakah mereka bertahan? Apalagi mereka terpaksa harus berpisah demi mempersiapkan masa depan untuk bersama?

Author masih belajar, tetapi selalu berusaha memperhatikan ejaan dan penggunaan huruf kapital yang benar sehingga nyaman di baca. Silahkan mampir😂

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabina nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tak Bisa Jauh

Di lain tempat, Anya dan Didit sedang merayakan satu tahun kebersamaan mereka di sebuah restoran hotel bintang lima. Anya yang biasanya tomboy kali ini tampil anggun dengan dress satin hitam. Rambutnya yang baru dua hari diwarnai pink disanggul cantik.

"Ngapain sih kamu ngeliatin aku kayak gitu? Itu matanya biasa aja dong," kata Anya, risih ditatap sedemikian rupa oleh kekasihnya. Didit terkekeh pelan.

"Aku masih ga percaya aja, kalau gadis cantik yang duduk di depanku ini adalah pacarku yang biasanya paling susah disuruh pake rok" kata Didit yang membuat Anya memutar matanya.

"Gombal aja terus mas, sampai aku muntahin makan malam ku barusan" ketus Anya.

Didit tertawa makin keras, mengacak gemas rambut pacarnya. Yang membuat Anya mendelik galak ke arah Didit.

"Idih, jangan ngacak-ngacak rambut mulu bisa gak? Ini aku susah bikinnya, tauk. Kebiasaan amat" kata Anya sambil meraih kaca kecil dari tas tangannya.

Saat itulah hape Anya yang berada di atas meja berdering.

"Raina, Say" kata Didit sambil mengangsurkan benda pipih itu ke arah Anya. Anya mengernyit, perasaannya mendadak tidak nyaman. Ada apa Raina telepon malam-malam begini?

"Iya, Na, ada apa?" tanya Anya segera. Jawaban dari lawan bicaranya membuat wajah Anya muram.

"Iya, gue usahain kesana sekarang. Elo jangan kemana-mana dan jangan bertindak bodoh. Ngerti?" selesai mengucapkan itu Anya menutup teleponnya.

Melihat kegelisahan Anya, Didit bertanya, "Raina kenapa, Say?"

"Dia minta aku jemput. Tadi katanya dia ke rumah ibunya karena ayahnya datang terus ngamuk-ngamuk dan ngerusakin toko kue. Terus sekarang Raina bilang dia sakit jadi ga bisa bawa mobil. Sial, aku khawatir banget. Ini Gimana dong? Kita jauh banget lagi dari rumah ibunya Raina," jawab Anya cemas.

"Kalau kita jalan dari sini, baru dua jam lagi kita nyampe sana." timpal Didit.

"Iya makanya itu, kudu gimana dong? Aku takut tuh bocah kenapa-kenapa"

"Aku minta tolong temenku gimana? Anak-anak kos ku yang jomblo kan pasti dirumah. Dan jaraknya juga ga terlalu jauh dari sana"usul Didit.

"Temen kamu yang mana? Bisa jamin Raina aman sama mereka. Temen kamu kan mesum semua, Yang. Sama aja kayak kasih umpan ke mulut buaya, ngerti?"

Didit menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Jema? Devon?" Didit menyebutkan dua sahabat Anya dan Raina. Anya menggeleng.

"Jema sakit. Devon lagi keluar kota."

"Aku tahu satu orang yang paling bisa dipercaya dalam situasi kayak gini. Tama" kata Didit, nyaris bertepuk tangan dia saking girangnya dengan idenya sendiri.

"Tama?" tanya Anya. Merasa tidak asing dengan nama tersebut.

"Iya. Sepupuku, anak Tante Dayen. Orangnya bertanggung jawab banget pokoknya, dijamin Raina bakalan aman."

"Ya udah. Aku percaya sama kamu."

"Sip. Aku telepon Tama sekarang ya."

Anya mengangguk. Meskipun ia masih mencemaskan sahabatnya, ia percaya Raina berada di tangan yang tepat.

Tama sedang maen PS dengan Marko ketika Didit menghubunginya. Ucapan Didit kemudian membuatnya buru-buru bangkit dan segera meraih jaket serta kunci motornya.

"Ko, anterin gue. Buruan"

Dan disinilah Tama sekarang. Di depan sebuah rumah mungil dengan sebuah toko kecil yang berantakan dengan pecahan kaca dimana-mana. Rumah ini terletak di sebuah lingkungan pinggiran kota. Mobil merah Raina nampak terparkir tak jauh dari sana.

Tama melangkah masuk. Dari ambang pintu ia bisa melihat gadis itu, Raina. Meringkuk di sudut ruangan yang kacau itu dengan posisi seperti bayi dalam rahim.

Menyadari ada seseorang di ruangan itu selain dirinya, Raina dengan lemah beringsut bangun. "Anya?"

"Anya ga bisa Dateng. Dia lagi sama Didit" suara dalam yang begitu ia kenal itu menyentakkan kesadaran Raina.

"Tama? Kamu ngapain disini?" Raina merasakan pandangannya berkunang-kunang. Kepalanya pening dan perutnya nyeri seperti disayat-sayat, belum lagi rasa sakit yang menyengat di lengan kanannya. Itu sebabnya ia terpaksa menelepon Anya tadi, karena ia merasa tak mampu menyetir pulang.

"Jemput elo. Kita pulang sekarang?" kata Tama. Ada banyak pertanyaan berkecamuk di pikiran cowok itu, tapi ia tahu ia takkan tega menanyakan apapun pada Raina saat ini.

Gadis itu mengangguk. Tubuhnya oleng saat mencoba berdiri, ia bisa saja jatuh kalau Tama tidak segera meraihnya. Pada saat itulah Tama melihat noda darah di lengan kanan Raina, tampaknya ada pecahan kaca yang melukai lengan gadis itu.

----------------

"Aku cuma laper. Ngapain kamu bawa aku kesini?" protes Raina saat menyadari mobilnya berhenti di depan sebuah klinik.

"Nurut aja kenapa sih. Barusan elo pingsan, ga mungkin cuma gara-gara telat makan." ucap Tama dengan nada sulit dibantah.

"Aku ga pingsan. Aku cuma ketiduran. Anterin aku pulang, aku ga mau masuk kesana" Raina bersikeras. Tama memandang gadis itu jengkel.

"Elo enggak punya pilihan. Mau jalan sendiri atau harus gue gendong?" ancam Tama. Raina merengut. Cowok sekalem Tama ternyata serem kalau keluar galaknya gini.

"Gendong."

"Hah?" Tama yang sedang membukakan pintu penumpang untuk Raina, menghentikan kegiatannya.

"Aku bilang, gendong. Tadi kan kamu yang nawarin sendiri." Raina tersenyum jahil.

Tama berdecak. Gadis ini benar-benar..

Setelah luka Raina diobati, Tama menuju apotik untuk mengantre obat. Tama masih tak habis pikir dengan Raina, luka di lengannya cukup dalam hingga membutuhkan beberapa jahitan, tapi gadis itu sama sekali tidak mengeluh, bahkan menjerit atau menangis pun tidak. Raina cuma menggigit bibirnya saat lukanya dibersihkan dan dijahit.

Setelah mengambil obat, Tama menghampiri Raina di ruang rawat. Membantu gadis itu bangun dengan lembut. Perawat yang ada di ruangan itu terang-terangan menatap Tama dengan tatapan tidak suka.

"Makanya, Mas, punya istri tuh dijaga baik-baik. Bukannya malah dikasarin sampai luka-luka begini" omel si perawat paruh baya.

Tama memandang si perawat dengan bingung sementara Raina menahan tawanya.

"Tapi saya bukan suaminya, Sus." jawab Tama.

"Oalah, masih pacaran to? Baru jadi pacar aja udah berani kasar begini. Udah mbak, cari pacar yang lain aja. Mbaknya kan cantik, pasti bisa dapetin cowok lain yang lebih ganteng dari Masnya ini. Dasar, ganteng tapi kurang ajar"

Tama hanya membuang napas kasar, bingung harus menanggapi apa. Sementara Raina nyengir jahil ke arah Tama, geli melihat muka Tama yang menahan geram.

"Iya, Sus. Makasih ya sarannya," kata Raina kalem.

Raina masih tertawa hingga mereka telah kembali masuk ke mobil.

"Puas, hah?" geram Tama.

Raina mengelus pipi Tama main-main.

"Jangan marah dong Mas, gemes deh kalau lagi ngambek gini" goda Raina.

"Ck. Diem. Gue lagi nyetir"

Raina tak lagi menggoda Tama. Sebaliknya, dia memalingkan muka ke jendela, menatap suasana kota di malam hari. Tama menatap Raina. Kenapa lagi cewek ini? Gantian marah? Cewek emang rumit.

"Laper. Tama, aku laper"

"Kapan terakhir elo makan? Dokter tadi bilang asam lambung elo naik. Elo keseringan telat makan ya?"

Raina mengedikkan bahu.

"Udah deh jangan mulai galak lagi. Makan, beliin aku makan. Abis makan boleh deh kamu ceramahin aku lagi"

Tama mengajak Raina makan di warung tenda pinggir jalan. Malam sudah hampir lewat tengah malam, sudah banyak resto dan tempat makan yang tutup. Namun tampaknya Raina tidak keberatan. Gadis itu makan ayam gorengnya dengan lahap, bahkan sampai minta tambah. Tama tak habis pikir dengan kelakuan gadis itu yang selalu mengejutkan. Gadis ini benar- benar mengacaukan hidup tenangnya.

Tak jauh dari Tama dan Raina yang sedang makan, sebuah mobil mewah terparkir disana. Jendelanya terbuka separuh, tampak pengemudinya seorang lelaki yang sedang mengawasi kedua orang itu lekat.

1
Irizka RA Yusuf
selalu menangis baca awal part ini
Irizka RA Yusuf
visualnyaa nggak pas kak, penggambaran untuk Tama kulit gelap macho
Irizka RA Yusuf
hadeeh panas panas panas, pusing pusing pusing
Irizka RA Yusuf
hadir kembali 😍😍😍
shabiradelta
di akhir tahun pingin baca lagi
shabiradelta
komentar terbanyak juga di novel ini soalnya aku jarang komentar berapa puluhan novel yg sudah tak baca hanya novel ini yg banyak tak komentari karena seringnya baca
shabiradelta
tak terhitung lagi baca novel ini semuanya terasa masuk ke ceritanya ...ad lagi GK ya cerita kayak gini yg bisa di baca sampai puluhan kali tapi masih ingin baca lagi dan lagi 😍😍
Sekar Melati
aku kembali lagi kak after 2021-2025 aku dah nungguin segini lamanya 😭, kakak dimana kpn lanjut part berikutnya??aku bakal stay nungguin💪 semangat
Aisha: kirain aku aja yg nengok novel ini di Desember 2025...
total 1 replies
Bee mi amore
sampai Oktober 2025 loo sy tunggu...hayo lanjut
Bee mi amore
kerasa bangetttt 😍
Bee mi amore
tamaa😍😍😍😍😍
Bee mi amore
dari semua Novel di NT yg aku baca,, Novel ini kayaknya yg paling sering aku baca ulang.gak tau kenapa rasa ceritanya dapet banget..msh blm bs move on sm kisah mereka.to sayang kok gak smp end yaa
Bee mi amore
baca lg utk yg ke banyak kali saking sukanya sm cerita ini
Tuti Kadengkang
Ayo dong Thor...lanjutin cerita Tama dan Raina...masa cerita sebagus dan sekeren ini gak ada endingnya...
Tuti Kadengkang
Sukaa dengan karyamu Thor....kerennn...
Delta Aroyani
2025 adakah yg masih baca ini sudah hampir 10 kali tak baca
Sri Nurjannah: aku masih ka🤭
di baca berulang-ulang
suka bngt sama ceritanya🥰🥰
total 1 replies
LEANA
kamii masih setia menunggu kelanjutan cerita ini
Ama Lorina Raju
bagus bgtt ceritanya di bahasakan dgn bagus tertata rapi pokok luar biasa deh karya ini,gak bisa move on lop sekebon buat ototnya❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Tia Muzdalifah
Luar biasa
unachan
Aku baru download novetoon terus direkomdasiin ini,ternyata ceritanya bener2 bagus,mudah dimengerti alur ceritanya. luar biasa keren👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!