Info!!!! Ini lanjutan dari Novel Istri Nakal Dokter Aziz.
🍁Fadila & Farhan🍁👫
Fadila Annisa Zakri, di hari ulang tahunnya yang ke 18 tahun, dia mendapatkan kado istimewa. Fadila tiba-tiba di lamar oleh pria yang bernama Farhan Aqmora Ahman. Farhan adalah Dosen sekaligus asisten di Laboratorium tempat di mana Fadila kuliah.
Farhan sudah cukup umur, tapi umurnya tidak menjamin kedewasaannya. Pria itu menjadi tegas setelah mendapatkan nasehat dari orang terdekatnya.
Apakah Farhan bisa terus tegas? Atau dia akan kembali menjadi pria yang dibimbing oleh istrinya.
Mari simak kisah romantis mereka 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asni J Kasim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Fadila sedang bersiap-siap ke pasar Daya. Wanita itu mengenakan celana kulot kain warna hitam. Dan baju kaos lengan pendek hitam yang dilapisi jaket rajut warna army serta jilbap bergo warna hitam. Niatnya pagi ini ke pasar membeli sayur dan ikan. Sebelum ke luar dari kamar, dia meraih tas selempang wanita yang bisa ia gunakan untuk meletakkan ponsel dan dompet.
"Wanita memang ribet" gumamnya lalu terkekeh. Dengan santai, Fadila mengambil kunci motor di atas meja yang ada di ruang keluarga. Lalu ke luar dari rumah mencari sendal jepit di depan pintu.
"Kenapa tidak ada sendal jepit di sini" gumam Fadila menghela napas kasar. Seulas senyum tersungging di bibir manisnya saat matanya menangkap satu sendal yang lumayan besar namun bisa digunakan, sendal eiger milik suaminya.
"Sepertinya ini bisa" gumam Fadila sambil mencoba sendal tersebut. "Berat sih tapi nggak apa-apa. Dari pada ke sana tanpa alas kaki" sambungnya tersenyum. Ia pun menaiki sepeda motornya, mengeluarkannya dari garasi. Lalu menyalakan mesin motornya dan mulai menancap gas menuju jalan raya.
Dalam perjalanan ke pasar, lagi-lagi ponselnya berdering. Seperti biasa, Fadila tidak akan menjawab panggilan telepon selama wanita itu mengendarai motor ataupun mobil. Akan tetapi, karena ponselnya terus berdering, ia pun memilih menepikan motornya dipinggiran jalan depan Top Mode.
"Siapa yang menelepon" gumam Fadila seraya mengambil ponselnya dari dalam tas.
"Papa" gumamnya dengan bahagia lalu menjawab panggilan telepon dari Papa Aziz. Pria pertama yang ia lihat untuk pertama kalinya. Pria pertama yang ia panggil Papa. Dan pria pertama yang mengajarinya berjalan.
"Assalamualaikum, Pa. Maafin aku. Aku lagi dijalan dan lagi mengendarai motor jadi nggak jawab panggilan telepon dari Papa" jelas Fadila.
"Nggak apa-apa, Sayang. Lalu sekarang kamu di mana?" tanya Aziz.
"Aku di jalan, Pa. Lagi mau ke pasar Daya mau beli sayur dan ikan" balas Fadila.
"Ya sudah. Hati-hati ya. Kalau udah pulang hubungi Papa. Ada yang mau Papa bicarakan" kata Aziz dengan halus hingga nyaman didengar.
"Iya, Pa. Jaga kesehatan ya. Jangan telat makan. Aku nggak mau Papa sakit" ujar Fadila. Netra matanya mulai berkaca-kaca.
"Iya, Nak. Kamu juga jaga kesehatan di situ. Jadilah istri yang baik dan patuh pada suami. Ingat! Jangan nakal-nakal dan jangan buat suami kamu marah atau pun kecewa denganmu" ucap Aziz menasehati putrinya.
"Iya, Pa. Aku nggak janji tapi aku akan berusaha untuk menjadi istri yang baik untuk Om Farhan. Aku lanjut ke pasar dulu ya. Nanti pulang dari kampus aku ke rumah Papa" balas Fadila.
"Assalamualaikum" ucapnya mengakhiri panggilan dengan salam. Fadila memasukan ponselnya ke dalam tas. Lalu kembali melanjutkan perjalanannya ke pasar yang masih lumayan jauh.
.
.
.
Pasar Daya
"Aku beli sayur apa ini?" gumam Fadila sepanjang jalan menelusuri pasar.
"Sayur umum saja" ucapnya lalu mencari penjual yang sudah tua. Fadila hampir sama dengan Aziz. Jika ke pasar, selalu mencari penjual yang sudah termakan usia. Seulas senyum tersungging saat sorot matanya menangkap satu wanita paruh baya yang duduk sambil menatap orang-orang yang lewat.
"Nek, sayur kol yang ini berapa?" tanya Fadila dengan sopan dan ramah.
"Lima ribu, Nak" balas sang Nenek.
"Aku mau sayur kol satu, wortel lima ribu, kentang lima ribu. Daun sup dua ribu. Cabai tiga ribu dan tomat lima ribu" kata Fadila. Sang Nenek pun mengambil semua sayur yang disebut Fadila sesuai berapa yang mau wanita itu beli.
"Tunggu saya hitung ya, Nak" kata sang Nenek lalu mulai menghitungnya. "Totalnya dua puluh lima ribu" ucapnya.
Fadila mengambil satu lembar uang lima puluh ribu dan menyerahkannya pada sang Nenek. "Kembaliannya untuk Nenek saja" ucapnya tersenyum.
Usai membeli sayur. Fadila ke tempat penjual ikan dan ayam. Lalu membeli satu ekor ayam dan dua puluh ribu ikan merah. setelah belanja, ia langsung pulang ke rumah menggunakan motor scoopynya.
.
.
.
Perumahan Dosen Blok A2/1
Fadila memarkirkan motornya di garasi rumah. Lalu memboyong barang belanjaannya dan membawanya masuk ke dalam. Sebagian ia buka untuk dimasak dan sebagian ia masukkan ke dalam kulkas. Setelah memasak, Fadila menyajikan makanan di atas meja dan tak lupa menutupnya dengan tudung saji segi empat.
"Sekarang sudah jam sebelas. Tidak sempat aku menghubungi Papa. Lebih baik aku mandi lalu ke kampus. Sepulang dari kampus baru aku ke rumah Papa. Toh jadwal hari ini hanya satu" gumamnya lalu masuk ke kamar.
Setelah mandi dan bersiap-siap, Fadila mengambil totebag kanvas dengan motif wanita berhijab. Lalu ke luar dari kamar. Kemudian mengambil kunci motor yang ia letakkan dipinggir televisi.
"Semangat Fadila, hanya kamu anak Mama yang perempuan. Saat kamu mengenakan toga, Mama pasti bahagia di surga" gumam Fadila pada dirinya sendiri.
Usai menyemangati dirinya, Fadila menaiki sepeda motornya dan ke luar dari gerbang perumahan. Ia melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Hingga tak membutuhkan waktu lama, dia pun sampai di kampus.
.
.
.
Fakultas Mipa
"Fadila..." panggil Ukma dengan kuat. Fadila mengedarkan pandangannya kesana-kemari mencari cari asal suara. "Aku di lantai dua.." teriak Ukma.
"Tunggu...!" balas Fadila lalu mempercepat langkahnya menuju lantai dua. Sesampainya di lantai dua, Fadila melihat suaminya dan Pak Irwan tengah duduk di depan kelas dengan beberapa senior wanita yang juga sebagai Asisten Laboratorium.
"Resiko menikah dengan dosen yang banyak kenalan wanitanya" batin Fadila.
Fadila melanjutkan langkahnya. Dan tak lupa meminta permisi saat melewati Dosen dan seniornya. "Permisi Pak, Kakak" ucapnya dengan sopan.
Farhan melirik istrinya yang berpakaian rapih. Menurutnya sopan dan elegan dilihat. "Dia pandai bergaya" batinnya.
Fadila duduk di samping Rahmat. Sementara Ukma duduk di samping Umma. Ukma tidak cemburu karena dia tahu Fadila sudah menikah jadi tidak mungkin Fadila mau merebut Rahmat darinya. Keempat orang itu bercanda gurau hingga menghadirkan tawa.
Dari kejauhan, Farhan nampak tak suka melihat Fadila dekat dengan Rahmat. "Kenapa juga dia tersenyum sambil menatap temannya. Apa dia menyukai pria itu? Atau pria itu salah satu dari keempat pria yang disayangi Fadila?" batin Farhan menerka-nerka tanpa jawaban yang pasti.
"Kamu kenapa? Jangan bilang kamu cemburu melihat istrimu duduk di samping Rahmat" tuding Pak Irwan yang sedari tadi memperhatikan temannya.
"Nggak. Jangan ngaco deh kamu, Wan" balas Farhan menyembunyikan rasa kesalnya.
"Bilang saja kalau kamu cemburu melihat Fadila bersama pria cantik itu kan" ledek Pak Irwan. Rahmat disebut pria cantik karena hanya dia laki-laki di kelas A.
"Siapa yang cemburu? Mana ada aku cemburu. Dia jalan dengan siapa pun aku nggak akan cemburu" elak Farhan yang tak ingin temannya tahu.
"Dari sekian banyaknya wanita di kelas A. Kenapa harus Fadila yang menjadi sahabat Rahmat?" batin Farhan dengan kesal.
Farhan oh Farhan,kau suami idaman.kalo suamiku......jangankan masak, rebus air aja bisa di hitung dengan jari lima 🤣
dan buatlah niko tuk tinggal bersama dengan pak asiana thorr 🙏✌
semoga Niko dan Ummu tidak seperti ke dua orang tua nya ...
semangaatt Niko ....💪💪💪
kalo Fadilah dari bayi ,ibu Amrita sudah tidak ada ...
berharap surlin segra tau kebenarannya tentang isi hatinya ibunya niko 🙏✌