NovelToon NovelToon
RUMI Cintaku

RUMI Cintaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Petualangan
Popularitas:116.3k
Nilai: 5
Nama Author: Lasmi

Bagaimana rasanya saling mencintai tapi tidak bisa bersama?

Padahal sudah di jodohkan dan di sayangi kedua belah pihak keluarga, tapi tetap perjodohan yang sudah di rancang itu tidak bisa di teruskan.

Apa alasannya? Padahal pernikahan itu adalah impian dari keduanya.

Kenapa tiba-tiba Fatih melepaskan perempuan yang telah di carinya selama belasan tahun lalu?


Mungkinkah mereka bisa bersama lagi setelah melalui banyak hal?

Perjalanan mereka untuk bisa bersatu kembali tidak mudah, mengalami banyak konflik dan drama kehidupan sehari-hari yang menguras air mata dan menyakitkan dada karena terlalu banyak tertawa.

Ya benar, kalian bisa merasakan salah satunya atau kedua-duanya secara bersamaan.

Kalau belum tahu rasanya tertawa dengan meminum air mata, kalian bisa coba baca novel ini, semoga kalian suka😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terdiam

Meski Fatih masih berjalan dengan tertatih-tatih dia sudah kembali berbaur ke tim nya dan memberikan arahan apa yang harus dilakukan selanjutnya.

“Hari ini kita akan membersamai para warga kembali ke rumah nya, kita akan membantu mereka untuk pindah kembali ke rumah nya masing-masing adapun warga yang rumah nya sudah tidak bisa dihuni dan yang runtuh sekitar 12 rumah, saya akan melaporkan nya ke pihak terkait dari Pemerintahan dan akan membuka donasi kepada warga Indonesia agar kita bisa kembali membangun rumah-rumah yang layak dihuni,” tutur Fatih membuka pagi itu dengan briefing sebentar sebelum terjun kembali ke lapangan.

“Kemarin Sersan Mayor Yusril menitip salam pada Mas Fatih, tidak sempat pamitan karena pas jenguk ke Puskemas Mas nya sedang tertidur, beliau mengatakan kalau masih membutuhkan bantuan dari tim TNI-AD bisa menghubungi nya kembali,” Aldo menambahkan.

“Oh iya terimakasih info nya, untuk sementara kita bisa mengatasi ini, dan saya mohon maaf untuk saat tidak bisa membantu banyak di lapangan,” ucap Fatih dengan wajah penyesalan.

“Tidak apa-apa Mas kami mengerti, semoga kakinya lekas normal kembali,” jawab Aldo diikuti anggukan teman-teman relawan lainnya.

Semua tim relawan bergegas untuk melaksanakan tugas hari ini, mereka berbaur dengan warga untuk mempersiapkan kembali rumah-rumah warga agar bisa segera ditinggali.

Fatih berjalan memeriksa salah satu rumah warga yang terdekat karena kesulitan nya dalam berjalan membuat Fatih belum bisa berjalan jauh. Dari kejauhan Fatih melihat Rumi sedang membantu ibunya Dita membersihkan rumah nya. Fatih berjalan berpura-pura mengontrol rumah-rumah warga, padahal tujuan nya ingin mendekati Rumi, meski dengan susah payah berjalan akhirnya ia sampai juga kerumah ibunya Dita.

“Dita sudah sehat lagi ya bu?” tanya Fatih berbasa-basi.

Mendengar suara itu ibu Dita dan Rumi bangun dari duduk nya, “Alhamdulillah mas sudah, anaknya sudah anteng lagi, tuh,” kata Ibu Dita sambil menunjuk anak nya yang sedang asyik bermain boneka.

“Mas belum sehat sudah jalan-jalan jauh?” tanya Ibu Dita sambil melihat kaki Fatih yang masih diangkat.

“Iya bu, ga enak kalau terus diam di tempat tidur, ga ada yang nemenin juga,” jawab Fatih tersenyum sambil melirik ke arah Rumi.

“Padahal kalau ditemenin suara merdunya De Rumi, bisa betah Mas di tempat tidur,” lirik ibu Dita menggoda Rumi yang sedari tadi memainkan sapu.

“Rumi nya sibuk seperti nya, jenguk aja gak sempet bu,” ledek Fatih pada Rumi.

“Apaan sih Mas,” kata Rumi sedikit kesal dan berjalan meninggalkan Fatih.

“Lah ko malah ditinggal,” ucap Fatih sambil berjalan jinjit mencoba mengejar Rumi.

“Permisi ya bu,” Fatih berpamitan pada ibu Dita.

“Anak muda sekarang, ya kalau cinta tinggal ngomong, malah main kejar-kejaran, tak ngerti deh” ibu Dita tersenyum dan menggeleng melihat tingkah keduanya, lalu kembali melanjutkan lagi aktifitas nya membersihkan halaman rumah.

“Rumi tunggu,” Fatih merintih kesakitan.

Rumi sama sekali tak menggubrisnya ia terus berjalan tanpa menoleh.

“Rumi, aaaawwww,” Fatih terjatuh ketanah.

Mendengar itu Rumi langsung berlari menghampiri nya.

“Ya ampun mas, berdarah lagi. Kenapa harus jalan-jalan sih?” Rumi memeriksa luka kaki Fatih.

Fatih hanya memandang Rumi yang sedang memeriksa luka kaki nya.

“Awww!” Fatih menjerit.

“Maaf mas, sakit ya?” Rumi meniup-niup kaki Fatih.

“Saki banget Rumi, tapi dicuekin kamu lebih sakit,” suara Fatih dalam hati.

“Mas kita ke Puskesmas lagi ya, kayanya karena banyak bergerak lukanya lecet lagi. Aku bantu berjalan,” Rumi bangun dan membantu Fatih berdiri.

Fatih berjalan kembali ke Puskesmas dibantu Rumi, sepanjang perjalanan tak ada suara yang terdengar keduanya sibuk bersama suara hati-hati mereka.

“Mba suster tolong dilihat lagi kaki nya, soalnya berdarah lagi,” kata Rumi kepada salah satu perawat ketika sampai di ranjang Fatih.

“Baik mba,” jawab salah satu suster sambil mendekati Fatih dan membuka perban nya.

“Ya begitu kalau ga nurut, disuruh istirahat dulu, jangan jalan jauh-jauh ga nurut ya begitu,” Reno datang dengan ceramah ala dokter nya.

Fatih hanya terdiam dan meringis saat luka kaki nya dibuka dan diperiksa oleh Reno.

“Bengkak lagi kan?” Reno melototi Fatih.

“Hee,” Fatih hanya tersenyum pasi.

Reno membersihkan kembali luka Fatih, mengganti kain perban nya dan menyuntik kan obat sakit.

“Rumi kamu sebaiknya menemani nya disini jangan sampai dia keluar lagi,” perintah Reno pada Rumi kemudian berjalan meninggalkan mereka.

“Eeh ga perlu sih,” kata Fatih mencoba mencegah Reno yang sudah berlalu.

“Yakin ga perlu?” Rumi bertanya dengan wajah menyelidik.

“Perlu juga sih,” ucap Fatih pelan.

Fatih memperbaiki posisi tidur nya, dan meyedekapkan kedua tangannya di dada sambil menggerak-gerakan nya pelan.

Rumi mengambil ponsel nya dan menyibuk kan matanya membaca novel toon, situasi kikuk ini membuat mereka tidak bisa berbicara dan mengeluarkan rasa, padahal kedua nya sangat rindu saling mendengar dan meluapkan rasa masing-masing.

“Ada salam dari ibu, Rumi,” Fatih mencoba memecah suasana.

“Oh, kapan ibu menelpon?” Rumi menyimpan ponsel nya dan menegak kan wajahnya memandang Fatih.

“Kemarin sore. Habislah aku diceramahi nya, dan menyuruh ku cepat pulang.”

“Bagaimana akhirnya Mas bisa menenangkan ibu?” tanya Rumi penasaran.

“Tentu saja dengan rayuan maut ku dan kata-kata manis yang bertubi-tubi, kalau tidak seperti itu ibu bisa menceramahi ku sampai subuh,” Fatih menjelaskan.

Rumi tertawa, dalam hatinya ia berbicara, “Mungkinkah percakapan manis yang waktu itu ia mendengarnya.”

“Kamu sangat manis saat tertawa seperti itu Rumi, barisan gigi yang mungil dan berwarna putih itu menghangatkan hati yang beku,” Fatih hanya bisa tersenyum dan berbicara dalam hatinya saat melihat Rumi tertawa bahagia.

“Mbak Rumi boleh bernyanyi untuk kami?” minta salah satu pasien dari seberang ranjang Fatih.

Rumi melihat ke arah suara dan tersenyum dengan berkata, “Baiklah.”

Rumi melihat Fatih dengan senyum malu-malu, lalu memulai bernyanyi.

Suara merdu Rumi mampu menghipnotis siapa saja yang mendengar nya, ia seperti dahaga dalam kehausan, dan ia seperti obat pereda nyeri dalam kesakitan.

Rumi menghayati setiap bait yang ia ucapkan, lantunan bait nya seperti bergerak dalam hati-hati pendengar nya.

Rumi melihat Fatih terlelap dalam buayan suaranya, Rumi menyelesaikan lagunya dan mengucapkan terimakasih kepada yang mendengarkan nya. Rumi menatap wajah Fatih yang terlelap tidur, entah kenapa ia hanya bisa menatap wajahnya saat Fatih sedang tertidur seperti ini, saat ia menatap nya seperti ini rasa sakit dalam hatinya seakan tidak pernah ada. Wajah itu tertidur dengan cahaya tanpa gelap di pandangan Rumi.

Fatih menggeliat dan membuka matanya, ia melihat Rumi sedang menatap ke arah nya.

“Kembalilah tidur mas, aku ingin melihat mu lebih lama,” suara Rumi pelan.

Fatih yang masih dibawah kesadaran dari tidur nya, tak lama kembali menutup mata nya dan kembali terlelap dalam tidur dan mimpi nya. Setelah duduk dan memandangi Fatih cukup lama, Rumi keluar ruangan inap Fatih dan kembali bergabung dengan tim relawan lainnya.

1
Aryani💞hambaliAziz
udh lama di rak buku tp baru baca, sepertinya bagus, klu udh baca trs jatuh cinta sama novel ini jgn digantung ya kak... 😍
Sokili Madil
hai
Inggri
nyimak 😊
🍒⃞⃟🦅Aza_thv🐨
smngt kk othor 💪😄
🍒⃞⃟🦅Aza_thv🐨: done kk lion
total 2 replies
Ipah Cakep
konyol kamu Thor 😁😁😁😁
Ipah Cakep
😁😁😁😁😆😆😆😅😅🤣
Ipah Cakep
can't say anything just laugh 😄😄😄😄😄🤣🤣🤣🤣🤣😂😂😂😂
Ipah Cakep
Auto ngakak guling-guling cekikikan tengah malam ni Thor 😁😁😁😁😁😁😁😁😅
Ipah Cakep
Astaghfirulloh al azhiim.. Reno 🤒🤢🤕🤮🤧🥵🥶
Ipah Cakep
Astaghfirulloh al azhiim
Ipah Cakep
Lucu banget kamu Thor aku padamu Thor semangat kk
Ipah Cakep
Auto mewek lagi Thor 😔😢😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Ipah Cakep
betul banget Thor! sekali berbohong org ga bakal percaya lagi
Ipah Cakep
Rumi dikit ceroboh ya Thor harusnya dia tw diri kan guru anak muridnya bukan kawan papa Rena.🤔😒🙄😔 Hadeuuuhh.. Ga tw mw dibawa hubungan kita eh cerita ini. up to you lah Thor..
Ipah Cakep
Love you too k Lasmi 🥰😍🤩😘😇
Ipah Cakep
Astaghfirulloh al azhiim
Ipah Cakep
Eh tu mah mama n papa Rena aj yg ga mw diskusi ngurus anak2nya.. harusnya saling melengkapi 1 sm lain namanya rumah tangga penghuninya harus melangkah bersama melalui banyak tangga. kalo rumah hantu yg penghuni hantu kayak rmh Rena menakutkan hihihihihi....apan sih curhat 😄😄😄😄😅😅😅
Ipah Cakep
konyol banget bg Ahmad 😁😁😁😁😁😄😄😄😄😄🤣🤣🤣
Ipah Cakep
Rumi lemah lembut n penyayang anak2 ya Thor.. aku suka aku suka.. 🥰 Apa ibunya Rena yg buat lebam gt Thor??
Ipah Cakep
😆😆😆😆😆😆😆😊😆🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!