Kejarlah ilmu sampai ke negeri cina, sepertinya berubah makna menjadi cinta. Reza dan keluarganya adalah penduduk lokal asli yang hidup dikawasan kota J, berteman dengan Chintya yang pendatang dari etnis cina bersama keluarganya yang mengelola toko kelontong.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaLiAs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan x Teman VIP 3
Begitu sosok Reza menghilang di ujung lorong menuju toilet kampus untuk membilas diri, pertahanan Dini akhirnya runtuh. Ia berlari kecil menuju Kantin Sastra (Kansas) di mana dua sahabat karibnya, Siska dan Maya, sedang menunggunya dengan wajah penuh harap.
Melihat Dini datang dengan wajah merah padam, Siska langsung berdiri. "Gimana, Din?! Sukses nembaknya? Dia nerima lo kan?!"
Dini menjatuhkan dirinya di kursi plastik, lalu tanpa aba-aba meletakkan kepalanya di atas meja dan menangis sesenggukan. Tangisannya cukup keras hingga membuat beberapa mahasiswa di meja sebelah menoleh.
"Lah? Kok nangis?!" Maya panik, menepuk-nepuk punggung Dini. "Si cowok warkop itu nolak lo? Wah, parah! Berani-beraninya dia nolak primadona komunikasi! Biar gue labrak dia!"
"Jangan!" cegah Dini di sela-sela tangisnya. Ia mengangkat wajahnya yang maskaranya sedikit luntur. "Dia nggak nolak gue..."
"Terus?"
"Dia udah suka sama cewek lain dari zaman SD! Katanya hatinya udah terbang ke Cina!" seru Dini sambil menarik selembar tisu dan mengelus hidungnya. "Gue kalah saing sama memori masa lalu, May! Nyesek banget!"
Siska dan Maya saling berpandangan, bingung antara kasihan atau ingin tertawa melihat sahabatnya patah hati karena alasan yang sangat sinetron.
"Ya ampun, Din. Udah, lupain aja cowok kayak gitu. Lagian aneh banget sih, setia sama orang yang entah di mana," hibur Siska.
"Nggak!" sergah Dini keras kepala, menyeka air matanya dengan berani. "Gue malah makin kagum sama dia. Cowok zaman sekarang mana ada yang setia kayak gitu? Pokoknya gue udah mutusin, gue bakal jadi temen baiknya. Gue mau support dia sampai dia bisa ke Cina. Titik!"
Siska menepuk jidatnya. "Terserah lo deh, Din. Setidaknya elo patah hatinya produktif."
Sementara itu, Reza yang telah membilas separuh badannya di toilet masjid kampus, pulang ke kosan dengan berjalan kaki karena tidak ada angkot yang mau mengangkutnya yang berbau pesing. Sampai di kamar, ia langsung mandi besar, menyabuni dirinya tiga kali berturut-turut dengan sabun batang murahan hingga kulitnya kemerahan.
Setelah memastikan bau comberan hilang, Reza kembali menjadi mesin yang tak kenal lelah. Ia memasukkan kelereng yang sudah bersih berkilau ke dalam saku kemeja gantinya yang bersih. Malam itu, ia tetap berangkat bekerja ke Warkop Berkah, mengaduk panci mi instan sambil bibirnya terus berkomat-kamit menghafal Pinyin untuk ujian lisan besok pagi. Kehilangan waktu dua jam untuk mencari kelereng harus ia tebus dengan belajar sambil membalikkan telor ceplok.
Waktu menunjukkan pukul satu dini hari ketika Reza akhirnya kembali ke kosan. Udaranya dingin, namun rasa lelahnya tertutupi oleh kelegaan. Ujian lisannya besok sudah ia persiapkan dengan baik.
Saat Reza sedang membuka kunci pintu kamarnya, pintu kamar sebelah terbuka. Muncul wajah bantal Poltak Hasibuan yang rambut ikalnya berantakan, memakai singlet kebesaran dan sarung yang diikat asal-asalan di pinggang.
"Baru pulang kau, Za?" sapa Poltak sambil menguap lebar-lebar. Hidungnya tiba-tiba mengendus-endus udara di sekitar Reza. "Bah! Bau apa ini? Kau habis kerja di Warkop atau habis nguras jamban? Ada bau-bau bangkai tikus nempel di bajumu!"
Reza mendengus geli, mendorong pintu kamarnya. "Sini masuk, Tak. Gue punya cerita epik hari ini. Sumpah, lo nggak bakal percaya."
Poltak yang rasa penasarannya lebih besar dari rasa kantuknya langsung mengekor masuk dan duduk bersila di atas tikar plastik Reza. "Apa gerangan kawan? Kau dapat promosi jadi Head Chef di Warkop?"
Sambil membongkar tasnya dan menyiapkan buku untuk besok pagi, Reza menceritakan kejadian di lorong FIB dari A sampai Z. Ia menceritakan bagaimana ia tersandung, kelerengnya terbang, dan ia yang terjun bebas ke dalam selokan kampus yang hitam kelam.
Poltak terbelalak mendengarnya. "Kau nyebur ke got deket rektorat itu? Yang airnya warna hitam macam kopi espresso campur oli itu?!"
"Iya," jawab Reza santai sambil meletakkan kelerengnya di atas meja belajar. "Demi kompas gue ini, Tak. Tapi bukan itu bagian paling gokilnya."
Reza kemudian menceritakan kelanjutannya. Tentang Dini yang berdiri syok di pinggir got, dan bagaimana Reza menggunakan momen dramatis bin menjijikkan itu untuk menjelaskan semuanya—tentang Chintya, tentang mimpinya, dan tentang penolakan halusnya.
Mendengar akhir cerita itu, mulut Poltak terbuka lebar hingga lalat pun bisa masuk dan membangun sarang di dalamnya. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, menatap Reza dengan pandangan antara takjub dan frustrasi.
"Biar kuperjelas, Za," suara Poltak bergetar menahan emosi yang meluap-luap. "Di saat cowok-cowok sejagat raya Depok ini berlomba-lomba cari muka buat bisa jalan sama Kak Dini yang cantiknya macam artis ibukota itu... kau malah nolak dia? Dan kau nolak dia DARI DALAM GOT BECEK Sambil megangin kelereng?!"
Reza mengangguk tanpa dosa. "Iya. Efektif kan? Dia langsung ngerti dan kita sepakat temenan sekarang. Nggak ada drama nangis-nangis di depan gue."
"BAH!" Poltak menepuk lantai kosan dengan keras. "Memang hilang akal kau, Reza! Hilang kewarasanmu! Kau tolak bidadari depan mata demi bayangan masa lalu yang belum tentu ingat sama wajah kucelmu ini!"
"Ini namanya integritas, Tak," kekeh Reza, geli melihat reaksi sahabatnya yang hiperbola.
"Integritas bapak kau! Itu namanya bunuh diri asmara!" omel Poltak, bangkit berdiri sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dramatis. "Kacau kali jalan pikiranmu ini kawan. Aku nggak sanggup mikirnya. Sudahlah, aku mau tidur saja. Semoga besok pagi kau nggak kesurupan siluman got pas ujian lisan."
Poltak berjalan keluar kamar sambil terus meracau dalam bahasa Batak tentang betapa ruginya Reza menolak Dini.
Reza hanya tertawa kecil menatap pintu yang tertutup. Ia menoleh ke arah meja belajarnya. Di bawah cahaya lampu neon kosan yang agak redup, kelereng bermotif merah-biru itu memantulkan cahaya, tampak lebih bersih dan bercahaya dari sebelumnya.
Gue hampir aja kehilangan lo hari ini, batin Reza. Ia menyentuh kelereng itu dengan ujung jarinya. Tapi gue janji, kejadian hari ini cuma bukti kalau sekotor apapun jalannya, seberat apapun rintangannya, gue bakal bawa lo balik ke pemilik asli lo.
Reza menarik napas panjang, menyingkirkan kelelahan dari tulang-tulangnya, lalu membuka buku teks Mandarinnya. Malam semakin larut, namun di dalam kamar petak yang sempit itu, api semangat seorang pemuda justru menyala semakin terang, menerangi jalan panjangnya menuju negeri seberang.
(Bersambung...)