Dia bukan pahlawan. Dia adalah bencana yang berjalan.
Terlahir kembali di dunia yang hancur oleh perang kuno, Arlen membawa ingatan dari kehidupan sebelumnya sebagai Aster Valerius-sang ksatria legendaris. Tapi kali ini, dia tidak terikat oleh kode kehormatan yang rapuh. Dia memiliki sesuatu yang lebih berbahaya: Aether, sumber kekuatan asli yang mampu memotong sejarah dan menghancurkan realitas itu sendiri.
Dari hutan terlarang hingga takhta dewa, Arlen akan menginjak siapa pun yang menghalanginya. Monster? Dia akan menyerap darahnya. Dewa? Dia akan meremukkan takhtanya. Manusia yang berkhianat? Dia akan mengajarkan mereka arti ketakutan sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arian verse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Pemeriksaan Hasil Nol
Wajah Tuan Karis seketika berubah kecewa. Ia melirik tajam ke arah Cedric seolah menduga ada kecurangan, namun tidak ada bukti yang bisa dia tunjukkan.
"Kalau begitu periksalah anak itu," ujar pria tua berpakaian jubah kelabu yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara. Ia melangkah maju menatap lurus ke arah Arlen. "Saya Penasihat Utama Wilayah. Selain memeriksa tanah, kami juga berhak melakukan pengujian bakat awal lebih cepat untuk anak dari keluarga bangsawan. Jika ia terbukti tidak memiliki cadangan Mana sedikit pun, maka tidak ada alasan lagi bagi keluarga ini untuk memegang gelar dan tanah tersebut."
Hati Elena berdegup kencang mendengar itu. Elena ingin menolak, namun tatapan pria tua itu membuatnya tak berani bergerak. Cedric pun mengepalkan tangannya dengan erat, namun ia sadar menolak berarti mempersulit keadaan lebih jauh lagi.
"Bawa anak itu ke sini," perintah Penasihat itu singkat.
Arlen berjalan maju dengan langkah tegap tanpa disuruh. Arlen tahu saat ini adalah momen yang paling berisiko. Jika ia memiliki cadangan Mana, ia akan terdeteksi, namun jika hasilnya benar-benar kosong, mereka akan punya alasan sah untuk mengambil alih tanah keluarganya.
Namun Arlen tidak takut. Dia sudah mempersiapkan diri.
Pria tua itu mengeluarkan sebuah batu kristal bening seukuran kepalan tangan dari saku jubahnya. "Pegang batu ini erat-erat. Tutup matamu. Bayangkan ada cahaya di dalam dadamu yang ingin keluar. Jika batu ini bersinar, berarti kau memiliki bakat. Semakin terang cahayanya, semakin tinggi bakatmu."
Arlen mengulurkan tangan kecilnya, memegang batu itu sesuai perintah. Arlen memejamkan mata. Dia merasakan permukaan batu itu dingin dan halus, dan ada daya tarik halus seolah batu itu ingin menyerap apa pun yang ada di dalam dirinya.
Tentu saja Arlen tidak akan membiarkan sesuatu yang asing masuk ke dalam tubuhnya. Arlen justru menutup rapat seluruh jalur energinya, menyembunyikan percikan Aura yang ada jauh di dalam jiwanya sebaik mungkin. Dan membiarkan batu itu hanya merasakan daging dan tulang biasa, tanpa ada sedikit pun energi yang mengalir.
Semua orang menahan napas mereka sambil menunggu hasil nya. Namun detik demi detik berlalu, batu kristal itu tetap bening dan gelap, sama sekali tidak menunjukkan perubahan sedikit pun.
"Tidak mungkin..." gumam penyihir wanita itu mendekat. Ia memeriksa kembali batu itu. "Batu ini peka hingga tingkat terkecil sekalipun... tapi hasilnya benar-benar nol. Sama sekali hampa.""
Tuan Karis tersenyum puas dan sinis. "Sudah ku katakan. Keluarga ini tidak memiliki nilai apa pun. Tanahnya tandus, keturunannya pun tak berbakat sama sekali."
Ia berbalik menatap Cedric dengan tatapan menang. "Dengan hasil ini, tidak ada alasan lagi bagi kami untuk memberi perpanjangan waktu. Dalam waktu enam bulan kalian harus mengosongkan tempat ini dan segera pergi dari wilayah ini, dan tidak akan ada pertimbangan apa pun lagi."mendengar itu
Cedric tampak pucat pasi, ia hampir saja terjatuh jika tidak ditahan oleh Elena di sampingnya.
Namun Arlen tiba-tiba angkat bicara dengan suara jernih dan tenang, memecah keheningan yang mencekam itu. "Batu itu hanya mengukur satu jenis kekuatan saja. Apakah karena tidak memiliki kekuatan yang satu itu, berarti seseorang pasti tidak berguna?"
Semua mata tertuju padanya. Pria tua Penasihat itu sedikit terkejut mendengar pertanyaan yang begitu dewasa keluar dari mulut anak seusianya. Dia menunduk menatap Arlen dalam-dalam.
"Di dunia ini, hanya ada satu kekuatan yang diakui dan berharga. Dan kau tidak memilikinya," jawabnya dingin namun tenang. "Hidupmu akan sangat sulit untuk ke depannya."
"Kita lihat saja nanti," jawab Arlen sambil menatap balik tanpa rasa takut.
Tuan Karis mendengus kesal. "Sudah cukup. Ayo kita pergi. Tidak ada lagi yang perlu diperiksa di sini."
Rombongan itu pun berbalik masuk kembali ke dalam kereta mereka dan perlahan menjauh meninggalkan kediaman Ashford, meninggalkan debu yang beterbangan di belakangnya. Suasana kembali sepi, namun kali ini sepi yang terasa berat dan menyedihkan.
Cedric duduk di tangga depan rumah, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Elena duduk di sebelahnya, memeluk bahu suaminya, namun air mata sudah menetes di pipinya.
Arlen berjalan mendekat, berdiri tepat di hadapan mereka. Ia mengangkat wajahnya menatap kedua orang tuanya itu bergantian.
"Mereka salah, Ayah, Ibu," ucapnya tegas. "Mereka hanya melihat apa yang mereka pahami. Hanya karena aku tidak memiliki apa yang mereka cari, bukan berarti aku lemah. Dan tanah ini... jauh lebih berharga daripada apa pun yang bisa mereka bayangkan."
Cedric mengangkat wajahnya, menatap putranya dengan tatapan sedih namun lembut. "Ayah tahu kau bermaksud baik, Nak. Tapi kenyataan di luar sana sangat kejam. Kita harus memikirkan cara lain untuk bertahan hidup."
"Percayalah kepadaku ," bujuk Arlen. "Beri aku waktu hingga musim gugur tiba. Sebelum batas waktu enam bulan itu habis, aku berjanji akan menunjukkan sesuatu yang akan mengubah pandangan mereka."
Elena mengusap air matanya, lalu tersenyum tipis sambil mengelus kepala putranya. "Kami selalu percaya padamu, Arlen. Hanya saja... kami tidak ingin kau memikul beban yang terlalu berat untuk anak seusia mu."
"Aku sudah memikulnya sejak lama, ibu," jawab Arlen dalam hati namun tak diucapkannya. Arlen hanya mengangguk tanda mengerti.
Hari itu berakhir dengan berat, namun bagi Arlen hari itu adalah kemenangan kecil sekaligus tantangan besar. Dia berhasil menyembunyikan rahasia bukit itu, dan ia berhasil menyembunyikan kekuatannya. Kini semua orang menganggapnya anak yang tak berbakat dan lemah—sesuatu yang justru menguntungkan baginya.
Mulai hari ini, tidak akan ada lagi yang akan mengawasinya dengan ketat. Tidak ada yang akan curiga. Dan di dalam bayang-bayang ketidak tahuan mereka di situlah Arlen akan tumbuh, mengumpulkan kekuatan, dan mempersiapkan kejutan besar bagi mereka yang berniat merampas apa yang menjadi miliknya.
Malam itu, saat Arlen kembali menatap ke arah bukit hitam dari kejauhan, matanya berkilau penuh tekad.
Enam bulan... sudah cukup bagiku untuk mengubah nasib ini sepenuhnya.
Sejak hari kedatangan rombongan Penguasa Wilayah itu, Arlen menyusun jadwal ketat untuk dirinya sendiri. Setiap pagi sebelum matahari terbit, Dia akan menyelinap menuju Bukit Tanpa Nama. Arlen membawa sebilah cangkul kecil buatan ayahnya dan sekeranjang sisa abu kayu dari perapian rumah—sesuatu yang dia ketahui dapat menyeimbangkan sifat dingin tanah hitam itu.
Di celah bebatuan tempat Arlen pertama kali menemukan tanaman Daun Perak Dingin itu, kini ia mulai membersihkan sebidang tanah kecil yang datar. Dia bekerja perlahan namun teliti, memastikan tidak ada batu tajam yang merusak akar tanaman yang akan ia pindahkan nanti.
Tanaman Daun Perak Dingin yang asli hanya tumbuh tiga helai daun tebal. Arlen tidak berani memindahkannya seketika. Sebaliknya, ia duduk bersila tepat di sebelahnya, lalu perlahan memancarkan aliran Aura tingkat Perunggu yang dia miliki. Ia mengaturnya sehalus mungkin, mengalirkan kehangatan lembut menyelusuri tanah hingga mencapai akar tanaman itu.
Arlen tidak memaksanya tumbuh besar dalam sekejap—hal itu akan meninggalkan jejak energi yang terlalu mencolok. Dia hanya memberikan dorongan kecil, memperkuat akarnya agar mampu menyebar dan menumbuhkan tunas baru dengan sendirinya.
Tumbuhlah... seraplah dinginnya tanah ini... biarkan energi di sini menjadi makanmu... batinnya membimbing aliran itu.
Hari demi hari berlalu. Seminggu kemudian, hal kecil namun luar biasa mulai terlihat. Di samping tanaman induk itu, muncul dua tunas baru yang kecil namun berwarna hijau pekat. Tanaman yang biasanya butuh waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk berkembang biak, kini menumbuhkan keturunannya hanya dalam waktu singkat.
Arlen tersenyum puas melihat hasilnya. Arlen tahu Aura-nya bekerja dengan cara yang berbeda dari sihir. Sihir memaksa perubahan dari luar, sedangkan Aura memberikan dorongan kehidupan dari dalam.
Namun pengaruh kekuatannya ternyata tidak hanya berhenti pada tanaman itu saja.
Suatu pagi saat Arlen sedang beristirahat sejenak di atas bukit itu, matanya menangkap sesuatu yang berbeda. Di sekeliling tanah hitam yang tandus itu, mulai tumbuh rumput-rumput kecil berwarna hijau gelap yang tidak pernah ada sebelumnya. Rumput itu tumbuh tipis-tipis namun menyebar perlahan menjauhi titik tempat dia biasanya duduk berlatih.
Bahkan udara di sekitar bukit itu terasa berbeda. Dulu dingin dan kaku, kini segar dan lebih ringan untuk dihirup. Arlen menyentuh tanah itu dengan telapak tangannya. Dia merasakan energi dingin yang pekat masih ada di sana, namun kini terasa lebih teratur dan tidak lagi menekan makhluk hidup di sekitarnya.
Energi di sini dulu kacau dan kasar, sehingga tidak ada satu pun tumbuhan yang bisa hidup," gumamnya pelan pada diri sendiri. "Kehadiranku dan aliran Aura ini perlahan-lahan menenangkannya. Jika terus begini, mungkin suatu hari bukit ini akan berubah menjadi tanah yang paling subur di seluruh wilayah ini."
Namun Arlen sadar harus berhati-hati. Jika perubahan itu terjadi terlalu cepat, orang lain akan curiga. Dia mulai membatasi penggunaan kekuatannya hanya di titik-titik tersembunyi, membiarkan alam sendiri yang menyebarkan perubahan itu secara perlahan.