Kinara rela meninggalkan status sebagai anak konglomerat demi bisa menikah dengan kekasih hatinya. Ia rela hidup susah, menemani dari nol dan berjuang bersama dengan sang suami hingga sukses. Namun nyatanya semua pengorbanan itu tidak membuat kehidupan rumah tangga Kinara baik-baik saja. Setelah 5 tahun membina rumah tangga bersama, Rashid justru tega mengkhianatinya. Kinara ditalak dan dibuang begitu saja seperti barang yang tak lagi berguna.
Tak terima dikhianati, Kinara bertekad untuk membalas semua perbuatan mantan suami dan juga selingkuhannya. Mampukah Kinara kembali ke keluarga Santoso dan membalaskan dendam sakit hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 08 — Gangguan
Satu Minggu sejak ia membuka kembali toko kuenya, Kinara mendapati beberapa pelanggan lamanya datang kembali. Ia bersyukur walaupun sudah lama tidak membuka toko, beberapa pelanggan setia tetap berkunjung saat tahu tokonya kembali buka.
Kinara terduduk lemah di kursi setelah 2 jam lamanya melayani para pelanggan. Ia menatap dua pegawainya yang juga kelelahan.
“Untuk hari ini, sepertinya tidak perlu membuat adonan lagi,” kata Kinara pada dua pegawainya itu yang langsung menatap ke arahnya. “Pulanglah lebih awal, kalian sudah bekerja keras selama satu minggu.”
Keduanya berpandangan, antara tak setuju dan sungkan.
“Tidak apa-apa, sisanya biar aku yang bersihkan. Pulanglah lebih awal dan beristirahat, terima kasih sudah membantu,” ucapnya lagi sambil berjalan mendekat dan menepuk kedua bahu pegawainya ramah.
“Baik, Bu. Kami pulang lebih awal, ya. Terima kasih juga sudah menerima kami bekerja di sini,” sahut salah satunya menundukkan kepala dengan sopan.
Kinara tersenyum lebar pada dua perempuan kembar itu. Selepas kepergian kedua pegawainya itu, Kinara mulai merapikan toko yang cukup berantakan, menyapu dan membersihkan etalasa seolah sudah menjadi tugasnya.
“Oh, jadi ini toko kue yang kau maksud itu? Hm, cukup lumayan juga.”
Kinara yang mendengar suara itu lantas bergegas ke depan, memasang senyum ramah sebab ia pikir pelanggan baru datang untuk membeli sesuatu. Namun, begitu melihat siapa yang berdiri di depan kasir, senyumnya perlahan menghilang.
“Halo, Mbak Kinara. Hari ini aku mengajak salah satu temanku, katanya dia penasaran dengan toko kue milik Mbak Kinara,” kata Marissa. “Aku baik, kan? Aku membawa pelanggan, lumayan untuk menambah penghasilan toko kue Mbak Kinara yang tak seberapa ini.”
Mendengar itu, Kinara kesal bukan main, melihat wajah perusak rumah tangganya saja sudah muak, apalagi mendengarkan ocehan ya itu. Meski begitu, Kinara tetap tersenyum ramah pada calon pelanggannya.
“Silakan dipilih mau kue yang mana? Kami ada beberapa pilihan, tetapi berhubung sebentar lagi kami mau tutup, jadi hanya dua varian ini saja yang tersedia,” katanya dengan ramah menunjukkan dua varian kue yang tersisa.
“Aku beli semuanya, tolong dibungkus semua,” kata Marissa menunjuk ke etalase toko. Tangannya merogoh tas dan mengeluarkan satu kartu debit pemberian Rashid.
Kinara mengangguk dan membungkus semua kue yang tersisa itu ke dalam kotak dan meletakkannya di atas meja kasir, menerima kartu debit Marissa dan menuntaskan pembayarannya tanpa banyak kata.
“Silakan, ini kuenya. Terima kasih sudah mampir.”
Marissa memandangi dua kotak kue yang ditunjukkan Kinara. Tatapannya berpindah dari satu kotak ke kotak lainnya, kemudian ia mengangkat salah satu alisnya.
"Tunggu dulu, Mbak. Kalau kita mencicipinya dulu di sini boleh, kan?" tanya Marissa, melirik ke arah temannya lalu mengedipkan sebelah mata.
Kinara mengangguk dengan senyum yang tetap terjaga. "Iya. jika kau mau, silahkan saja."
Marissa mengambil salah satu kotak kue, lalu membukanya. Ia memperhatikan tampilannya beberapa detik sebelum mengambil sepotong kecil menggunakan garpu yang tersedia di meja.
Kinara tetap berdiri di balik meja kasir. Ia berusaha mengabaikan kenyataan bahwa perempuan yang sedang mencicipi kuenya adalah orang yang telah menghancurkan rumah tangganya.
Marissa memasukkan kue itu ke mulut. Baru beberapa detik mengunyah, ekspresinya langsung berubah. "Wah."
Kinara menatapnya. "Ada apa, Mbak?"
Marissa menggeleng sambil meletakkan garpu. "Tidak ada apa-apa, kok, Mbak. Tapi kalau boleh jujur … " katanya sengaja menggantung ucapannya.
Teman Marissa yang sejak tadi berdiri di sampingnya ikut mencicipi kue tersebut. Setelah menelan suapan kecil, perempuan itu mengernyit. "Menurutku kue ini biasa saja."
Kinara masih tersenyum. "Selera orang memang berbeda-beda."
Marissa justru terkekeh. "Maaf, ya, Mbak. Kalau boleh, aku mau kasih saran, tolong diperhatikan kualitas kuenya. Karena, kalau cuma seperti ini rasa kuemu, pantas saja tokomu sempat tutup."
Senyum Kinara mulai menegang. "Apa maksudmu?"
Marissa menatap etalase toko yang sederhana, kemudian kembali menatap Kinara. "Aku hanya mengatakan kenyataannya, Mbak. Kue buatan Mbak Kinara ini tidak enak."
Temannya mengangguk. "Krimnya terlalu berat. Teksturnya juga tidak istimewa."
Kinara menarik napas perlahan. Ia masih berusaha menahan diri. "Jika memang tidak cocok dengan selera kalian, tidak perlu dibeli."
Marissa tertawa kecil. "Jangan tersinggung, Mbak. Aku hanya memberikan kritik."
"Kalau kritik, seharusnya disampaikan dengan baik." Kinara mengambil kembali kotak kue dari tangan Marissa dan menutupnya. "Kalau kau tidak suka, tidak masalah. Tapi saya tidak menerima penghinaan di toko saya sendiri."
Marissa tampak tidak terima. "Kapan aku menghina Mbak? Aku cuma bilang kue Mbak ini tidak enak dan kualitasnya harus diperbaiki lagi. Astaga, kenapa kue sampah seperti ini harus dijual sih?"
Marissa membuang sisa kue itu ke tempat sampah dan menatapnya jijik. “Kue buatan Mbak Kinara ini seharusnya dibuang ke tempat sampah.”
Kinara menatap perempuan itu dengan kesal, tangannya terkepal kuat di sisi tubuhnya. Jika saja Kinara tidak tahu posisinya, ia sudah ingin menjambak rambut Marissa. Bukan hanya hari ini, tetapi saat perempuan itu menginjakkan kaki fi rumahnya. Namun, Kinara bukan wanita seperti itu.
Sementara itu, teman Marissa yang berdiri di sampingnya sudah siap merekam kejadian apa pun yang akan terjadi berikutnya. Ia berharap Kinara akan memukul atau melontarkan kata-kata kasar terhadap Marissa lalu membuatnya viral agar toko kue Kinara hancur.
“Baik, mohon maaf jika kue sisa ini tidak enak. Bagaimana jika kami memberi kalian kompensasi?” ujar Kinara seraya menundukkan sedikit kepalanya dengan sopan.
Temannya memelotot sebab apa yang ia dan Marissa harapkan itu tidak terjadi. Marissa pun menatap Kinara tak percaya.
“A-apa ini? Kenapa kau tidak marah, Mbak?” Marissa bertanya heran.
Kinara tersenyum tipis. “Untuk apa aku marah? Oh, agar kau bisa merekamku dan mempostingnya di sosial media dan menggiring opini bahwa aku tidak ramah. Begitu?”
“Ti-tidak! Untuk apa aku melakukan itu?” Marissa mengelak, matanya melirik ke arah temannya, memberi isyarat agar ia bersiap pergi. “Ya … ya sudah! Aku pulang saja, Mas Rashid sepertinya mencariku.”
Selepas kepergian mereka, Kinara menghela napas panjang. Menghadapi Marissa butuh kesabaran tingkat tinggi. Ia jatuh terduduk di dekat kasir, menatap nanar tangannya yang bergetar.
“Lihat saja, aku akan memberimu balasan yang setimpal!” kata Kinara, meyakinkan dirinya sendiri untuk tetap kuat. Kepalanya tertunduk lemah, hari ini terasa begitu melelahkan baginya. Namun, baru sejenak Kinara merasa tenang, tiba-tiba seseorang memanggil namanya dengan cukup lantang.
“Kinara!”
Kinara terperanjat dan terkejut bukan main saat melihat seorang pria dewasa dengan mengenakan kacamata berdiri di depan tokonya. Tatapan matanya begitu tajam hingga membuat Kinara merinding.