Ara hanyalah seorang wanita biasa yang tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berubah setelah meminum ramuan ajaib yang membawanya kembali ke masa lalu, tepat sebelum seseorang yang paling dicintainya meninggal dunia.
Bara. Lelaki yang dicintainya itu tengah berjuang melawan leukemia stadium akhir. Namun, kali ini Ara mendapatkan kesempatan untuk mengubah takdirnya.
Sayangnya, kesempatan itu hanya diberikan selama 14 hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon justjeha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
I'll Listen to Your Story
Day 6
"Ra? Lo udah siap, belum? Gue tunggu di luar, ya?"
"Iya, tunggu sebentar, Sor. Gue tinggal pakai baju doang, kok."
"Mau ke mana, Dek? Hari Minggu pagi begini kok udah kelihatan rapi."
"Aku mau pergi dulu sama Sora, Bang."
"Oh, hati-hati. Jangan pulang malam."
Ara hanya mengangguk. Ia kemudian menenteng sling bag-nya dan berjalan keluar rumah karena Sora sedari tadi sudah menunggunya di depan.
Ara memang meminta Sora untuk menemaninya melihat kondisi Bara di rumah sakit pagi ini, setelah kemarin Marissa menitipkan Bara kepadanya.
Begitu memastikan adiknya sudah pergi, Biru perlahan mengendap masuk ke kamar Ara. Tatapannya langsung tertuju pada sebuah buku harian yang tergeletak di atas meja.
Ia mengambilnya dan mulai membaca. Ternyata, kemarin Biru memang sengaja menguping pembicaraan Ara dan teman-temannya dari luar kamar. Rasa penasarannya membuat ia ingin mengetahui apa sebenarnya yang disembunyikan adiknya.
Sementara itu, di luar rumahㅡ
"Loh, lo tadi bareng Yuvin?"
"Ya, gue terpaksa ngajak dia, Ra. Lagian dia penasaran banget pengin lihat kondisi Bara, katanya."
"Oke, tapi jangan sampai ketahuan."
"Tenang, Nyonya Ara. Yuvin tidak akan macam-macam. Ayo, cepetan naik ke mobil."
Ara mengangguk mantap. Ia kemudian masuk ke mobil Yuvin bersama Sora. Mereka bertiga pun akhirnya berangkat menuju rumah sakit tempat Bara sedang dirawat.
...---...
"Masih sakit, Bara?"
Bara hanya tersenyum setelah keluar dari ruangan tempat ia menjalani kemoterapi. Seluruh tubuhnya terasa sakit. Efek samping kemoterapi membuat tubuhnya lemas dan nyaris tak bertenaga.
"Mau Kakak belikan sesuatu, nggak? Mumpung Kakak belum berangkat ke Jepang."
"Nggak perlu, Kak. Lebih baik Kak Icha siap-siap untuk berangkat ke Jepang besok. Lagian, aku juga udah terbiasa ditinggal sendiri."
"Beneran kamu nggak apa-apa kalau Kakak tinggal sendiri? Kamu kelihatan pucat begini."
"Nggak apa-apa. Aku juga ngantuk. Mau tidur."
"Ya udah. Istirahat, ya, adekku sayang. Kakak perginya nggak akan lama. Nitip salam juga untuk Ara, ya?"
Bara hanya mengangguk. Ia kemudian meringis geli ketika kakaknya mengecup keningnya.
Entah kenapa, setelah Marissa pergi, Bara tiba-tiba merindukan Ara. Ingin sekali rasanya ia mengajak Ara pergi berkencan berdua. Menghabiskan waktu bersamanya tanpa harus memikirkan penyakit yang perlahan menggerogoti tubuhnya.
Namun, keadaannya saat ini tidak memungkinkan. Bara juga tidak ingin Ara khawatir.
"Kira-kira Ara marah apa nggak karena belum sempat gue hubungin sejak kemarin."
"Gue nggak marah kok, Bara."
"Heh! Kalau dia denger gimana, Ra?"
"Oh, iya, Vin. Kita kan lagi sembunyi."
Ketiga orang itu memang sudah sampai di depan ruang rawat Bara setelah Marissa pergi. Mereka tidak berniat masuk.
Pintu kamar rawat Bara hanya dibuka sedikit agar mereka bisa mengintip dari celahnya. Ara takut jika tiba-tiba muncul di hadapan Bara, laki-laki itu akan menyadari bahwa dirinya sudah mengetahui semuanya.
"Gue nggak nyangka, beneran, Ra. Selama ini gue salah sangka sama dia. Gue kira dia semacam anak nakal gitu. Eh, taunyaㅡ"
"Lo percaya omongan gue sekarang, kan, Vin?"
"Iya, gue percaya."
Mereka kembali mengintip dari celah pintu.
Ara ingin sekali masuk. Ingin sekali duduk di samping Bara. Ingin menggenggam tangannya dan mengatakan bahwa ia tidak perlu menghadapi semuanya sendirian.
Namun, Bara masih menyembunyikan penyakitnya. Jadi, untuk saat ini, satu-satunya hal yang bisa Ara lakukan hanyalah mengamatinya dari jauh.
Bara kini mendudukkan dirinya di atas ranjang sambil menghadap ke jendela kamar. Perlahan, tangannya menyentuh rambutnya.
Beberapa helai rambut tampak ikut terlepas dan tertinggal di telapak tangannya. Bara menatap rambut-rambut itu cukup lama.
"Rambut gue mulai rontok, Ra."
Suaranya terdengar begitu pelan.
"Kalo nanti lo ngejauhin gue karena gue jadi jelek, gimana? Kalo nanti gue cuma bisa bikin lo malu di depan teman-teman lo, gimana?"
"Goblok... goblok banget, lo."
Sora dan Yuvin langsung membekap mulut Ara yang nyaris bersuara lebih keras. Keduanya kemudian menyeret Ara menjauh dari kamar Bara.
"Ra! Suara lo kalau tadi kedengeran sama dia, gimana? Untung aja Bara nggak dengar."
"Hati gue sakit banget, Sora!"
Begitu mereka sampai di ujung koridor, Ara langsung menepis tangan Sora yang masih menutup mulutnya.
"Kenapa sih dia nggak cerita aja sama gue? Kenapa dia harus takut kalau gue nangisin dia? Kenapa dia cuma mau nutupin semuanya sendirian?"
Air mata mulai mengalir di pipinya.
"Tega dia... tega!"
Ara menutup wajahnya dengan kedua tangan sambil menangis. Ia benar-benar ingin berada di dekat Bara saat ini. Namun, ia takut Bara tidak akan mau menerima kehadirannya jika mengetahui bahwa Ara sudah mengetahui penyakitnya.
Padahal, kemarin Marissa sudah meminta Ara untuk menjaga Bara selama dirinya pergi ke Jepang. Tapi bagaimana caranya? Apa Ara harus terus mengawasi Bara dari kejauhan seperti ini?
Atau mungkin... ia harus mencari cara lain untuk membuat Bara merasa bahwa dirinya tidak sendirian tanpa membongkar rahasia yang selama ini disembunyikannya?
"Vin."
"Iya, gimana, Ra? Lo butuh apa?"
"Lo masih bisa main gitar, kan?"
"Ya masih, dong. Kan terakhir main waktu nge-band sama lo di acara ospek dulu. Kenapa emangnya?"
"Gue mau nge-cover lagu buat Bara. Lo iringin gue nyanyi, ya?"
"Akhirnya lo mau nyanyi lagi, Ra! Gue kira lo udah pensiun."
Yuvin langsung terlihat bersemangat.
"Gue siap ngiringin lo kapan aja. Sekarang pun bisa. Nanti si Yohan yang ngerekam, terus hasilnya sekalian disunting sama dia."
"Oke. Kalau bisa selesai hari ini juga, biar Bara tahu kalau gue bakal selalu ada buat dia."
Ara mengusap sisa air matanya.
"Enaknya mau nge-cover di mana? Di studio lo kayak dulu?"
"Boleh. Gue telepon Yohan dulu buat nyuruh dia langsung ke studio gue sekarang juga."
...---...
"Vin, Ra, udah siap?"
Ara masih mengetes mikrofon sekaligus melakukan sedikit pemanasan pada suaranya karena sudah lama sekali ia tidak bernyanyi seperti dulu.
Ara memang sudah bisa bernyanyi sejak duduk di bangku sekolah dasar. Sejak saat itu, ia sering mengikuti berbagai lomba menyanyi dan paduan suara.
Bahkan, sewaktu SMA, Ara sempat memiliki sebuah band bersama teman-temannya. Namun, semuanya berhenti setelah ia memasuki dunia perkuliahan.
Sampai akhirnya, salah satu teman SMA-nya yang kebetulan satu gugus dengannya ketika ospek memaksanya untuk ikut serta dalam pentas seni pada acara penutupan ospek.
Saat itulah Ara kembali menampilkan kemampuan bernyanyinya di depan banyak orang. Dan saat itu pula ia mengenal Yuvin karena ternyata mereka berada di kelas yang sama.
Sama halnya dengan Ara, Yuvin juga terlihat masih sibuk mengetes suara gitarnya. Sudah cukup lama ia tidak menyentuh gitar kesayangannya itu.
Setelah merasa pemanasan mereka cukup, Ara dan Yuvin saling mengangguk.
Yohan yang sudah bersiap dengan kameranya pun mulai merekam, sementara Sora berdiri di belakang kamera sambil memberikan semangat kepada mereka.
"Siap, ya! Gue hitung mundur!"
Yohan mengangkat tangannya.
"Three... two... one... action!"
Ara mulai bernyanyi.
...Untuk hati yang terluka...
...Tenanglah, kau tak sendiri...
...Untuk jiwa yang teriris...
...Tenang, ku kan temani...
...Hidup itu sandiwara...
...Yang nyata ternyata delusi...
...Terlarut posesi berujung kau gila sendiri...
...Jika kau tak dapatkan yang kau impikan...
...Bukan berarti kau telah usai...
...Jika kau tak dapatkan yang kau impikan...
...Bukan berarti kau telah usai...
...Biarkan kegelapanmu...
...Menemukan titik terang baru...
...Pasukanmu kan kembali...
...Memelukmu yang baru...
...Hidup itu sandiwara...
...Yang nyata ternyata delusi...
...Terlarut posesi berujung kau gila sendiri...
...Hari-harimu berarti...
...Jangan pikirkan yang kemarin...
...Biarlah dia hangus terbakar sirna ambisi...
...Jika kau tak dapatkan yang kau impikan...
...Bukan berarti kau telah usai...
...Biarkan kegelapanmu...
...Menemukan titik terang baru...
...Pasukanmu kan kembali...
...Memelukmu yang baru...
...Untuk hati yang terluka...
...Tenanglah, kau tak sendiri...
...Untuk jiwa yang teriris...
...Tenang, ku kan temani...
...Untuk Hati yang Terluka by Isyana Sarasvati...
Begitu lagu berakhir, ruangan studio seketika dipenuhi tepuk tangan kecil dari Sora dan Yohan.
"Gila! Nangis gue dengar suara lo, Ra!" Sora mengusap sudut matanya. "Merdu banget! Lagunya sedih pula."
"Liriknya juga mengena di hati banget, nggak sih, Sor?" Yohan ikut berkomentar. "Gue aja nyesek dengernya."
Ara hanya tersipu malu mendengar pujian dari kedua sahabatnya.
Mereka kemudian melakukan beberapa kali pengambilan video hingga akhirnya mendapatkan hasil yang dirasa paling bagus.
Yohan langsung menyimpan file rekaman tersebut ke laptopnya untuk segera disunting.
"Kalau udah jadi, upload aja ke channel YouTube gue. Terus link-nya lo share ke Bara."
"Oke, siap, Vin."
Yohan kini benar-benar fokus menyunting video cover tersebut. Setelah selesai, ia mengunggahnya ke akun YouTube milik Yuvin. Kebetulan, Yuvin memang dulu cukup sering mengunggah video cover lagu hanya dengan iringan gitar.
Lumayan. Setidaknya, ada satu video baru yang bisa menghiasi channel-nya.
...---...
Ting!
Bara yang sedang melamun di kamar rawatnya langsung meraih ponsel yang diletakkannya di atas nakas. Sebuah pesan masuk. Ia mengernyit ketika melihat nama pengirimnya.
Yohan.
Link apa ini?
Bara segera membuka tautan tersebut. Layar ponselnya kemudian menampilkan sebuah video YouTube. Ia terdiam ketika melihat sosok Ara di dalam video itu.
Ara sedang bernyanyi. Sementara Yuvin mengiringinya dengan petikan gitar.
Bara memasang earphone dan mulai mendengarkan suara Ara. Seketika, sebuah kenangan lama terlintas di kepalanya.
Pentas seni saat ospek. Saat itulah pertama kali Bara benar-benar memperhatikan Ara.
Bukan karena wajahnya. Bukan pula karena tingkahnya. Melainkan karena suara Ara.
Merdu.
Hangat.
Dan entah bagaimana, sejak saat itu Bara mulai menyukainya. Kini, setelah sekian lama, Bara kembali mendengar suara itu. Namun, ada sesuatu yang membuat dadanya terasa sesak.
Lirik lagu yang dinyanyikan Ara seolah-olah ditujukan kepadanya. Tentang seseorang yang sedang bersedih. Tentang seseorang yang sedang berjuang. Tentang seseorang yang merasa sendirian. Tentang seseorang yang hanya ingin didengarkan.
Bara menelan ludah. Tanpa sadar, senyumnya perlahan muncul.
"Ini lagu buat gue, Ra?"
Tatapannya tidak beralih dari layar ponsel.
"Atau bukan?"
Bara kembali mendengarkan suara Ara. Dan untuk pertama kalinya hari itu, ia merasa bahwa mungkin di tengah semua rasa sakit yang selama ini ia sembunyikan, ada seseorang yang benar-benar ingin berada di sisinya.