NovelToon NovelToon
Gagal Terus, Tapi Makin Suka!

Gagal Terus, Tapi Makin Suka!

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:454
Nilai: 5
Nama Author: HAMZAHikhsan

Raka—sosok cowok yang santai—bersiap memulai lembaran baru di jenjang SMA Negeri Garuda. Awalnya, ia hanya ingin menjalani kehidupan sekolah yang wajar; bergaul, bermain, dan menikmati masa mudanya.

​Namun, ekspektasi santai itu mendadak buyar. Tak disangka, Raka justru bertemu dengan teman-teman yang super jahil, serta Alya—gadis dingin yang ternyata menyimpan masalah yang sangat rumit di balik senyumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: MENURUTMU AKU ANEH GAK?

Begitu Alya menyadari ekspresi bahagianya terlukis terlalu jelas, ia mendadak terdiam canggung. Wajahnya merona tipis seraya berbisik pelan pada Raka.

​"Uhmm... maaf ya, aku terlalu bersemangat tadi."

​"Iya, gapapa," sahut Raka santai. "Yuk, kita keliling toko ini. Gue mau cari merchandise yang gue incar."

​"Ya," angguk Alya singkat.

​Mereka mulai melangkah menyusuri setiap lorong toko. Raka sibuk mengamati deretan rak aksesoris, sementara Alya terhenti di depan jajaran boneka imut. Jemari Alya sempat terulur hendak mengambilnya, namun ia urungkan seketika saat menyadari dompetnya sedang tipis.

​Sadar langkah Alya tertinggal, Raka memutar badan. Ia mendapati gadis itu sedang menatap lekat sebuah boneka. Raka melangkah menghampirinya.

​"Alya, lu mau boneka itu?"

​"Hmm... gak usah," tolak Alya pelan.

​Tanpa memedulikan penolakannya, Raka meraih boneka tersebut. Alya sigap menahan lengan Raka.

​"Ku bilang jangan!"

​"Gapapa, gue yang bayarin."

​"Tapi—"

​Sebelum Alya menyelesaikan kalimatnya, Raka menempelkan telunjuk di bibir gadis itu. "Sstt... gapapa."

​"Yuk, ke kasir."

​"Uhmm... ya udah," pasrah Alya.

​Namun sebelum melangkah, sesosok pegawai toko mendadak mencegat mereka sambil menyodorkan dua topi.

​"Tunggu! Kalian tertarik beli topi ini? Kayaknya kalian cocok banget sebagai pasangan!"

​"Eh, bu—"

​Alya dengan cepat membekap mulut Raka. "Eh, iya nih! Mumpung di sini, aku beli deh!"

​"Oke, ini ya. Terima kasih!"

​"Sama-sama."

​Pegawai itu pun berlalu usai menawari topi couple. Raka langsung protes heran.

​"Kenapa kamu tutup mulutku tadi?"

​"Hehe... emang gak boleh?" goda Alya.

​"Bukan gak boleh, cuma ya..."

​"Ah, sudahlah! Yuk pulang!"

Alya tertawa kecil—sebuah tawa halus yang sangat langka—melihat raut muka Raka yang masih dilipat kesal akibat dijahili di toko tadi.

​Raka mendadak menghentikan langkahnya, menoleh cepat ke arah Alya dengan alis bertaut.

​"Apaan sih yang lucu?" tanya Raka heran.

​"Hehe... gapapa," sahut Alya pelan, buru-buru memalingkan wajah untuk menyembunyikan rona merah di pipinya. Ia menghela napas pelan, meremas jemarinya sebelum memberanikan diri berbisik, "Hmm... Raka, makasih banyak ya."

​"Santai kali," balas Raka singkat, menyunggingkan senyum tipis.

​Sambil melangkah berdampingan, hembusan angin malam mendadak bertiup cukup kencang. Hawa dingin merayap cepat, membuat Alya refleks mengusap kedua lengannya dan memeluk tubuhnya sendiri.

​Menyadari Alya yang mulai menggigil, Raka tanpa banyak bicara melepas jaket yang ia kenakan. Dengan gerakan cekatan, ia menyampirkan jaket hangat itu ke bahu Alya, menutupi sebagian besar tubuh gadis itu.

​Alya menengadah kaget. Aroma khas jaket Raka dan rasa hangat yang menjalar membuat pertahanan dinginnya runtuh seketika. Untuk kesekian kalinya, sebuah senyuman tulus terukir di bibirnya.

​Momen langka itu ditangkap Raka dengan sangat cepat. Ia langsung menunjuk wajah Alya dengan kekehan geli.

​"Wah... lihat tuh! Senyum lagi, kan!" goda Raka.

​"Apaan sih! Gak, siapa juga yang senyum," elak Alya cepat, menaikkan kerah jaket Raka hingga menutupi separuh wajahnya yang makin merona.

​"Hahaha, padahal kelihatan jelas banget."

​Alya terdiam sebentar, membiarkan langkah kaki mereka menjadi satu-satunya suara di lorong jalan. Keheningan yang merayap di antara mereka terasa canggung, hingga Alya akhirnya membuka suara dengan nada ragu.

​"Uhm... Rak?"

​"Ya?"

​"Kamu... gak merasa aneh sama diriku yang sekarang?" tanya Alya pelan, menunduk menatap ujung sepatunya.

​"Ngerasa aneh gimana maksud lu?"

​"Ya... soalnya biasanya kan aku dingin, cuek, dan selalu pasang jarak sama orang lain," aku Alya pelan. Suaranya terdengar asing bagi dirinya sendiri yang selama ini memendam rapat perasaannya.

​Raka menatap Alya dari samping, lalu terkekeh santai. "Oh, itu... ya gapapa sih. Menurut gue, itu malah bertanda kalau lu udah mulai percaya sama gue."

​Alya tersentak pelan mendengar jawaban itu. Dadanya berdesir hangat. "Haha... iya juga ya."

​Di tengah langkah mereka, mata Raka menangkap pendar lampu dari area taman tak jauh di depan sana—tempat di mana lorong rumah Alya bermula.

​Raka menunjuk ke arah taman. "Lihat deh, kita udah sampai di area taman tadi. Berarti setelah sampai sana, gue langsung pamit balik ya?"

​Alya menatap taman itu dengan sedikit berat hati, namun ia mengangguk pelan. "Oke..."

​Sesampainya di sudut taman, Raka melangkah mundur beberapa tindak. Ia melambaikan tangannya dengan pendar senyum di wajahnya, meninggalkan Alya yang berdiri terpaku di bawah temaram lampu jalan—memeluk jaket hangat Raka yang masih melekat di tubuhnya.

‎Bayangan Raka perlahan memudar seiring langkah kakinya yang kian menjauh, meninggalkan Alya yang masih terpaku di bawah temaram lampu jalan.

​Di setiap langkah menuju arah pulang, Raka perlahan menyunggingkan senyum. Ia ikut merasa bahagia mengingat senyuman tulus Alya tadi. Pikiran Raka dipenuhi bayangan Alya yang akhirnya bisa tertawa bebas—tanpa beban, dan tanpa rasa takut akan penghakiman orang lain.

​Raka mengelus dadanya pelan, bergumam lega, "Akhirnya... dia bisa bebas juga."

​Hawa malam terasa dingin dan sejuk, bersatu dengan ketenangan yang menyusup ke dadanya. Rasa hangat dan bahagia bercampur menjadi satu, membuat Raka merasa begitu tenang.

​Sepanjang jalan menuju rumah, ia asyik bergumam sendiri. Ia membayangkan rencana besok, menerka-nerka keseruan apa lagi yang bakalan menantinya bersama Alya.

​Saking asyiknya melamun, Raka bahkan tak sadar kalau langkahnya sudah sampai di depan pagar rumah. Ia mendorong pintu gerbang yang berderit pelan, lalu melangkah ke teras dan mengetuk pintu.

​Tok! Tok! Tok!

​Pintu mendadak terbuka lebar. Sosok yang berdiri di baliknya tak lain adalah sang ibu—lengkap dengan raut wajah yang menandakan "mode ulti"-nya sudah siap meledak.

​Tanpa basa-basi, ibunya langsung mengomeli Raka yang nekat melanggar batas waktu pulang.

​"Raka! Kenapa jam segini baru pulang?!"

​Raka meringis pelan sambil menggaruk tengkuknya yang sama sekali tak gatal. "Hehe... maaf, Bu. Kebablasan tadi."

​Melihat tingkah anaknya yang kembali ke mode polos nan menggemaskan setelah nakal melanggar aturan, sang ibu akhirnya luluh dan mengalah lagi.

​Ibu menghela napas panjang. "Haaah... ya udah. Langsung mandi terus tidur, ya! Jangan nekat begadang lagi!"

​"Iya, Bu," sahut Raka pelan dan penurut.

​Ia melepas sepatu, meletakkannya di rak, lalu melangkah gontai menuju kamar. Begitu merebahkan diri di kasur, Raka menatap langit-langit kamarnya yang sepi. Ia benar-benar tak menyangka, hari yang tadinya ia anggap biasa dan sepele ini... ternyata memberikan dampak begitu besar bagi hidup orang lain.

​Raka memejamkan mata dengan ulasan senyum tipis, lalu perlahan terlelap.

​Keesokan paginya berjalan seperti biasa. Suara omelan ibu kembali menjadi alarm wajib yang memaksa Raka bangun.

​Dengan napas terengah dan kepanikan khas murid terlambat, Raka mengunyah selembar roti tawar sambil tancap gas berlari menuju sekolah.

​Begitu sampai di kelas, Raka langsung mempercepat langkah dan menjatuhkan tubuhnya di atas kursi.

​"Haaah... mantap," desah Raka lega, menyandarkan punggungnya yang pegal.

​Tepat saat Raka hendak mengeluarkan buku gambar dari tasnya, sosok Alya melangkah mendekat dan menyapanya halus.

​"Halo, Raka."

​Raka menengadah, membalas sapaan itu dengan cengiran khasnya. "Halo juga."

​Alya duduk di kursinya. Gadis itu melirik pelan ke arah Raka, mencoba memberanikan diri membuka percakapan lebih dulu.

​"Raka... kamu mau gak, makan bareng aku nanti?"

​Raka mengangguk mantap. "Boleh! Nanti pas jam istirahat, ya!"

​Mendengar jawaban positif itu, kedua sudut bibir Alya perlahan terangkat. Sebuah senyuman manis dan hangat terkembang sempurna di wajahnya.

​Akan tetapi, tepat di detik yang sama, Dimas dan Aira baru saja melangkah melewati pintu kelas. Langkah mereka terhenti seketika saat disuguhi pemandangan tak terduga: Alya—gadis paling dingin se-sekolahan—sedang melemparkan senyuman paling manisnya khusus untuk Raka!

​Mata Dimas dan Aira membelalak sempurna.

 Apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka berdua?!

1
☕︎⃝❥kinataa💤
tmpt incaran semua kaum. jarang bngt tmpt pojok itu kosong. meski cuma telat 5 menit masuk kelas, pasti udh di tandai org duluan🗿🗿
☕︎⃝❥kinataa💤
jgn ya gess ya, itu bukan buat adick² kelas 10, oke?! tidak baiq/Smile/
☕︎⃝❥kinataa💤
halah, takdir matamu. othornya sja itu nyari sensasi/Scream/
Zyren Vale: wkwkw, makasih udah mampir 🥰
total 1 replies
☕︎⃝❥kinataa💤
capslok aja, biar puas maknya jerit/Curse//Curse/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!