Terbunuh tepat saat ingin mengubah hidupnya, seorang pemuda reinkarnasi ke Dunia "Astral" dunia raksasa berisi 10 benua. Berbekal kekuatan, ingatan, dan wujud Uchiha Sasuke, ia diberi satu misi suci oleh Dewa Agung: memburu 'Eternity', satu-satunya pemilik 'System' yang mengancam tatanan dunia.
Namun, perburuannya berubah rumit saat menembus lantai 100 sebuah dungeon. Bukannya monster, ia justru bertemu Saviera, seorang Demigod, dan Elaina, anak malaikat kecil yang tiba-tiba memanggilnya "Papa".
Di antara misi memburu sasaran misterius dan ikatan keluarga baru yang mengisi kehampaan jiwanya, jalan mana yang akan ia pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shodiq Daryanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 : Saviera dan Elaina
Lorong itu berakhir di sebuah rumah kecil bergaya pondok, berdiri di tepi padang bunga yang membentang luas di bawah langit buatan yang kini mulai retak di beberapa titik, memperlihatkan kilasan kegelapan pekat di baliknya. Getaran demi getaran menjalar semakin kuat di bawah kaki Sasuke, membuat kelopak-kelopak bunga di sekelilingnya berjatuhan seperti salju yang panik.
Ia belum sempat mengetuk pintu ketika pintu kayu itu terbuka lebar dari dalam.
Seorang wanita muda berdiri di ambang pintu, matanya yang berwarna keemasan membelalak kaget melihat sosok asing berdiri di depan rumahnya—rumah yang selama bertahun-tahun tidak pernah didatangi siapa pun selain dirinya, anaknya, dan bayangan penjaga yang kini terasa menghilang entah ke mana.
Wajahnya begitu cantik hingga untuk sesaat membuat Sasuke sendiri terdiam—rambut pirang panjang bergelombang jatuh melewati bahunya, kulitnya bercahaya lembut khas seorang demigod, dan meski usianya sudah jauh melampaui rentang manusia biasa, wujudnya membeku abadi di titik tercantik seorang gadis berusia tujuh belas tahun.
"Si-siapa kau?!" Suaranya bergetar antara kaget dan waspada, tangannya langsung terangkat, cahaya keemasan mulai berpendar di telapak tangannya—siap menyerang kapan saja. Wajahnya memerah entah karena marah atau karena panik, mungkin keduanya sekaligus. "Bagaimana kau bisa sampai sejauh ini?! Tidak ada yang pernah—"
"PAPA!"
Suara kecil yang riang memotong kalimat Saviera sepenuhnya. Dari balik tubuh wanita itu, seorang anak kecil menyembul, matanya yang bulat besar berbinar-binar begitu melihat sosok di depan pintu. Rambutnya sewarna madu, dikepang dua dengan pita kecil warna putih, dan di punggungnya—tersembunyi di balik gaun sederhana yang ia kenakan—tampak sepasang sayap kecil putih yang bergetar riang seperti ekor anjing yang kegirangan.
Sebelum Saviera sempat mencegahnya, anak kecil itu sudah melesat keluar dari balik tubuh ibunya, berlari secepat kaki mungilnya bisa membawanya, langsung menerjang memeluk kaki Sasuke dengan seluruh tenaganya.
"Kau benar-benar datang! Kau benar-benar datang!" serunya, mendongak menatap wajah Sasuke dengan mata berbinar penuh kekaguman, seolah baru saja bertemu pahlawan dari dongeng favoritnya. "Elaina sudah menunggu lama sekali! Di mimpi, wajahmu selalu buram, tapi sekarang jelas sekali! Kau tampan sekali, sama seperti kata Elaina waktu itu!"
"E-Elaina!" Saviera memekik panik, wajahnya semakin memerah, kali ini jelas karena malu, bukan marah. "Jangan dekat-dekat orang asing seperti itu, sayang, kita bahkan tidak tahu siapa dia—"
"Tapi Mama, ini Papa!" Elaina memotong dengan penuh keyakinan, masih memeluk kaki Sasuke erat-erat, pipinya digosokkan manja ke celana panjangnya seperti anak kucing yang mencari perhatian. "Elaina sudah bilang, kan? Papa yang akan datang menyelamatkan kita! Sekarang dia sudah di sini!"
Sasuke berdiri kaku, tidak terbiasa dengan afeksi mendadak seperti ini—baik sisi dirinya yang dulu penyendiri, maupun sisi Sasuke Uchiha yang jarang menunjukkan kehangatan secara terbuka. Namun ada sesuatu dalam pelukan polos anak kecil itu yang meluluhkan sesuatu di dalam dirinya, sesuatu yang sudah lama membeku.
Ia berjongkok perlahan, sejajar dengan tinggi Elaina, dan untuk pertama kalinya sejak ia bangun di dunia ini, senyum kecil yang tulus—bukan senyum dingin khas Sasuke Uchiha—muncul di wajahnya.
"Namamu Elaina?"
"Iya! Dan Mama namanya Saviera! Kami tinggal di sini berdua saja, sama Paman Bayangan, tapi Paman Bayangan sudah pergi tadi, terus semuanya mulai bergetar, terus—" Elaina berceloteh cepat tanpa jeda, tangan kecilnya bergerak-gerak menirukan sesuatu yang mungkin dimaksudkan sebagai gempa, sebelum tiba-tiba menghentikan ceritanya dan menatap Sasuke dengan mata berbinar penuh rasa ingin tahu. Ia mendongak lebih dekat, memiringkan kepala kecilnya untuk mengintip di balik poni Sasuke. "Matamu beda-beda! Yang ini merah dengan corak-corak," katanya sambil menunjuk mata kiri Sasuke, "tapi yang sebelah sini ungu, ada lingkaran-lingkarannya, sembunyi di balik rambut! Keren sekali! Boleh Elaina pegang?"
"Elaina!" Saviera setengah menjerit, wajahnya kini benar-benar semerah tomat, sama sekali kehilangan kendali atas situasi yang berkembang terlalu cepat untuknya. Ia melangkah maju, hendak menarik anaknya menjauh dari orang asing itu—namun sebelum ia sempat menyentuh Elaina, sebuah getaran jauh lebih keras dari sebelumnya menghantam seluruh ruangan, membuat langit-langit gua buatan di atas mereka retak lebih lebar, menjatuhkan serpihan batu di beberapa titik.
Saviera terhuyung, hampir kehilangan keseimbangan sebelum sebuah tangan menangkap lengannya, menahannya agar tidak jatuh.
Ia mendongak, mendapati wajah Sasuke sudah begitu dekat, matanya yang berwarna ungu itu memandangnya dengan ketenangan yang aneh di tengah kekacauan yang sedang terjadi.
"Tidak ada waktu untuk penjelasan panjang sekarang," Sasuke berkata, suaranya tegas namun tidak mengintimidasi. "Dungeon ini akan runtuh. Aku tidak tahu berapa lama lagi kita punya waktu."
Wajah Saviera, yang tadinya masih memerah karena malu, kini berubah pucat pasi menyadari keseriusan situasi. Ia menatap sekeliling rumah yang selama bertahun-tahun menjadi satu-satunya dunia yang ia kenal bersama Elaina—dunia kecil yang kini mulai runtuh di depan matanya sendiri.
"Bagaimana bisa..." bisiknya, lebih pada dirinya sendiri daripada pada Sasuke.
"Mama!" Elaina menarik-narik ujung gaun ibunya, wajah kecilnya untuk pertama kalinya menunjukkan sedikit kekhawatiran, meski masih diselimuti kepercayaan penuh pada sosok di hadapannya. "Tidak apa-apa. Papa akan menyelamatkan kita. Elaina sudah lihat di mimpi!"
Sasuke tidak sempat mengonfirmasi atau membantah kepercayaan naif anak itu. Retakan di langit-langit gua semakin melebar, dan suara gemuruh dari kejauhan kini disertai gemericik debu dan batu kecil yang mulai berjatuhan di sekitar mereka, seperti hujan yang menandakan badai yang jauh lebih besar akan segera tiba.
"Berpegangan padaku," Sasuke berkata cepat, mengulurkan tangan kanannya yang tersisa.
Untuk sesaat, Saviera ragu—matanya menatap tangan itu, lalu wajah Sasuke, lalu Elaina yang sudah lebih dulu menggenggam erat jubah Sasuke tanpa keraguan sedikit pun, seolah kepercayaannya pada pemuda asing ini adalah sesuatu yang sudah lama tertanam jauh sebelum pertemuan ini terjadi.
Akhirnya, Saviera mengangguk pelan.
"Baiklah," bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar di tengah gemuruh yang semakin membesar. "Tolong... lindungi Elaina."
"Aku akan melindungi kalian berdua," Sasuke menjawab tegas, berjongkok sedikit dan mengangkat Elaina naik ke punggungnya dalam satu gerakan cepat. "Peluk leherku erat-erat, dan jangan lepas apa pun yang terjadi," ia berkata pada Elaina, yang langsung menurut dengan girang, kedua tangan kecilnya melingkari leher Sasuke sementara kakinya mengapit pinggangnya. Dengan punggungnya penuh, dan satu-satunya tangannya kini bebas, ia menoleh ke arah Saviera. "Berpegangan di bahuku," katanya, dan Saviera mengangguk cepat, kedua tangannya sendiri mencengkeram erat bahu dan jubah Sasuke tanpa ragu lagi.
Rumah kecil di belakang mereka mulai ambruk, atap jerami yang selama bertahun-tahun melindungi mereka berdua kini runtuh menjadi reruntuhan dalam hitungan detik.
"Kita harus bergerak. Sekarang."
---
*Bersambung ke Bab 9: Runtuhnya Dungeon*