NovelToon NovelToon
When The Extra Writes The Rules

When The Extra Writes The Rules

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Transmigrasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Skyline Scribe

When the Extra Writes the Rules/ Ketika karakter tambahan menulis aturan.

Kisah seorang pekerja kantoran modern Kirana yang masuk ke tubuh Evelyn Rosenberg, karakter figuran kaya raya namun berpenyakit kronis dalam novel fantasi favoritnya.

Karena tahu takdir karakter pendukung dan dunia novel tersebut akan berujung bad ending, Evelyn bertekad mengubah alur dengan memanfaatkan pengetahuan ceritanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 : Sandiwara dimulai

Suasana di aula Kediaman Rosenberg malam itu mendadak begitu hangat, berbanding terbalik dengan udara dingin Utara yang merayap di balik jendela-jendela kaca tinggi.

Lampu-lampu gantung memancarkan kilau keemasan, memantul di atas lantai yang mengkilap.

Di ujung meja makan panjang, Duke Richard von Rosenberg duduk tenang, dikelilingi oleh piring-piring dan aroma daging panggang.

Di samping kirinya, Count Malakor—pria paruh baya bertubuh agak tambun dengan kumis tipis—sedang tertawa lebar. Suara tawanya yang melengking terdengar begitu memuakkan di telinga Evelyn.

"Ah, Lord Richard! Saya jamin, investasi di Lembah Oakhaven ini adalah langkah paling jenius dalam dekade ini," ucap Count Malakor seraya mengayunkan gelas anggurnya.

Tangannya yang dipenuhi cincin batu permata berkilauan di bawah cahaya lampu. "Begitu dokumen pelunasan ini Anda tanda tangani malam ini, seluruh hak kelola tambang kristal itu resmi menjadi milik Rosenberg. Kita akan menguasai pasar energi kerajaan dalam sekejap!"

Duke Richard menyunggingkan senyum tipis, terlihat cukup tertarik. Di sampingnya, sebuah map kulit tebal berisi dokumen perjanjian penting sudah terbuka lebar, lengkap dengan botol tinta dan pena yang siap digunakan.

"Saya sudah meninjau draf utamanya, Count," sahut Duke Richard tenang, tangannya meraih pena tersebut. "Penawaran Anda memang sangat menggiurkan. Jika Laporan Geologi ini sesuai dengan kenyataan, saya tidak melihat alasan untuk menundanya lagi—"

"Tunggu dulu, Papa!"

Sebuah suara lembut dan agak melengking memotong ucapan sang Duke dari arah pintu masuk aula.

Seluruh pandangan di ruangan itu seketika tertuju pada sosok gadis berambut perak yang berdiri agak goyah di ambang pintu.

Evelyn mengenakan gaun malam yang dipadukan dengan selimut tipis di bahunya.

Di belakangnya, Duchess Eleanor berdiri panik "Evelyn! Ya ampun, Sayang, kenapa turun dari kamar? Dokter kan bilang kamu harus istirahat total malam ini!"

Julian, yang duduk di sisi kanan meja makan, berpura-pura terkejut, matanya sempat beradu pandang sekilas dengan Evelyn—sebuah isyarat bahwa panggung sandiwara resmi dimulai.

"Evelyn, Nak?" Duke Richard meletakkan kembali penanya ke atas meja, raut wajah tegasnya langsung melunak dan digantikan oleh rasa cemas. Ia berdiri dari kursinya. "Kenapa berjalan sendirian sampai ke sini? Udara malam ini agak lebih dingin untukmu."

Count Malakor sedikit menggeram kesal karena momen penandatanganannya terganggu, namun ia dengan cepat memasang senyum ramah yang dibuat-buat.

"Ah, Lady Evelyn... putri bungsu yang legendaris itu. Sungguh kehormatan bisa melihat Anda, walau tampaknya kondisi Anda sedang sangat lemah."

Evelyn melangkah masuk perlahan, tiap pijakan kakinya dibuat agak goyah dan menyeret.

"Maafkan Evelyn, Pa... Ma... Evelyn cuma... pengin makan malam sama Papa dan Mama," bisik Evelyn. "Di kamar rasanya... sangat sepi..."

"Aduh, Kasihan anak Mama," Eleanor buru-buru mendekat, merengkuh tubuhnya.

"Ya sudah, duduk di sini dekat Mama ya? Biar Mama ambilkan sup hangat."

Evelyn berjalan mendekati sisi meja tempat map dokumen Oakhaven terhampar terbuka.

Satu langkah... dua langkah... tepat di samping botol tinta dan wadah cangkir teh panas milik ayahnya.

Oke Kirana, fokus. Aktingmu menentukan nasib kas keluarga ini, batin Evelyn memacu adrenalinnya.

Count Malakor menatap dokumen di meja dengan tidak sabar. "Lord Richard, bagaimana kalau kita selesaikan tanda tangannya sekarang juga? Supaya Lady Evelyn bisa beristirahat dengan tenang setelah ini."

"Ah, benar. Mari kita selesaikan sedikit lagi," kata Duke Richard, kembali mengulurkan tangannya untuk meraih pena di dekat botol tinta.

Tepat saat ujung jari sang Duke hampir menyentuh gagang pena, Evelyn mengambil napas pendek yang sengaja dibuat tersengal-sengal.

"Pa... dada Evelyn... rasanya... Sakit banget..." cicit Evelyn.

"Evelyn?!" jerit Eleanor panik.

Pada detik krusial itu, Evelyn dengan sengaja memutar tubuhnya, membuat lengannya menyenggol cangkir teh panas dan botol tinta hitam di atas meja.

PRANG! BRAK!

Cangkir itu pecah. Teh panas bersama cairan tinta hitam pekat yang kental langsung membanjiri permukaan meja makan, menyiram dokumen perjanjian Lembah Oakhaven hingga kertas itu, menghitam, dan tinta tulisan tangannya luntur.

"Aakh!" teriak Count Malakor kaget, buru-buru menarik tubuhnya yang hampir terkena cipratan tinta hitam. "Dokumennya! Dokumen pentingnya basah semua!"

Namun tidak ada satu orang pun di keluarga Rosenberg yang peduli pada lembaran kertas itu.

Tepat setelah menjatuhkan tinta, Evelyn melancarkan aksi puncaknya: ia membiarkan matanya bergulir ke atas, tubuh kurusnya terkulai lemas, dan roboh sepenuhnya!

"EVELYN!"

Teriakan histeris memecah keheningan aula. Duke Richard menyambar tubuh putrinya sebelum menghantam lantai.

"Julian! Panggil Dokter Tristan SEKARANG JUGA!" bentak Duke Richard dengan suara bariton yang menggelegar hingga seluruh pelayan di luar aula gemetar ketakutan.

"Siap, Papa!" Julian langsung meloncat dari kursinya, lalu melesat keluar aula dengan kecepatan penuh.

"Sayang! Evelyn! Buka matamu, Nak! Jangan bikin Mama takut!" tangis Eleanor pecah seketika, berlutut di samping suaminya seraya menggenggam jemari dingin Evelyn yang terkulai.

Di dalam dekapan hangat dan harum tubuh ayahnya, Evelyn tetap memejamkan mata rapat-rapat. Ia mengatur napasnya agar terdengar sangat tipis dan terputus-putus, seolah-olah kesadarannya sudah menghilang sepenuhnya.

Count Malakor berdiri terpaku di samping meja, menatap dokumen Oakhaven yang kini sudah berubah jadi gumpalan kertas hitam tak berguna yang menggenang di meja.

Wajahnya tertekuk masam, dipenuhi rasa kejengkelan yang luar biasa karena rencananya gagal tepat di detik terakhir.

"Lord Richard..." ucap Count Malakor mencoba memotong kepanikan. "Bagaimana kalau saya minta sekretaris saya mencetak ulang dokumen ini sekarang? Penandatanganan bisa kita lakukan—"

"DIAM, COUNT MALAKOR!"

Suara Duke Richard memotong ucapan itu. Pria berambut perak itu mendongak, menatap Count Malakor dengan tatapan yang begitu dingin, tajam, dan sarat akan aura membunuh.

"Putri saya baru saja pingsan dan kritis di depan mata saya, dan Anda masih memikirkan kertas-kertas sialan ini?!" desis Duke Richard dengan nada suara yang membuat merinding. "Pergi dari kediaman saya sekarang juga sebelum saya kehilangan kesabaran!"

Count Malakor mundur satu langkah, wajahnya mendadak pucat melihat kemarahan sang Duke yang biasanya sangat sopan. "Ta-tapi... janji investasi kita—"

"PERGI!" bentak Duke Richard sekali lagi.

Tanpa berani mengucap sepatah kata pun lagi, Count Malakor melangkah lebar meninggalkan aula makan dengan kemarahan yang tertahan di dada.

Rencana jebakannya untuk mengeruk kas Rosenberg malam itu gagal secara memalukan.

Beberapa menit kemudian, Evelyn sudah kembali berbaring di atas tempat tidurnya.

Kamarnya kini dipenuhi oleh aroma minyak terapi. Dokter Tristan baru saja selesai memeriksa denyut nadi Evelyn.

Di sekeliling ranjang, Duke Richard, Eleanor, dan Julian berdiri tegang dengan raut wajah terpukul.

"Bagaimana kondisinya, Dokter?" tanya Eleanor dengan suara serak.

Dokter Tristan menghela napas panjang,

merapikan alat-alat medisnya ke dalam tas. "Denyut nadinya sangat lemah dan tidak teratur, Duchess. Tampaknya Nona Evelyn mengalami kejutan sistem saraf secara mendadak akibat kelelahan fisik. Untung saja beliau pingsan dan tidak mengalami pendarahan di paru-parunya kali ini."

"Apakah dia butuh obat tambahan?" tanya Duke Richard cepat, tangannya tak lepas mengusap dahi dingin Evelyn.

"Cukup istirahat total dan jauhkan dari hal-hal yang memicu stres emosional," jawab dokter tua itu seraya membungkuk hormat. "Saya akan meracik teh penenang khusus untuk diminum begitu beliau siuman."

Setelah Dokter Tristan melangkah keluar kamar bersama para pelayan.

Evelyn pelan-pelan membuka kelopak matanya, membuat gerakan kecil seolah baru saja terbangun dari mimpi buruk yang panjang. Suara cicitan tipis keluar dari tenggorokannya.

"Pa... Ma...?"

"Evelyn!" Eleanor langsung berlutut di samping kasur, mencium jemari putrinya berulang kali. "Ya ampun, Sayang... kamu sudah sadar? Ada yang sakit? Dada kamu masih sesak?"

Evelyn menggelengkan kepalanya sangat pelan, menatap ayahnya dengan raut wajah yang dipenuhi rasa bersalah.

"Papa... maafin Evelyn..." bisik Evelyn matanya mulai berkaca-kaca, ia sedang melancarkan aksinya.

"Gara-gara Evelyn pingsan... kertas kerja Papa jadi basah... dokumennya..."

Mendengar ucapan polos adiknya, Julian yang berdiri di ujung ranjang terbatuk kecil untuk menutupi senyum bangga dan takjub yang hampir meledak di wajahnya.

Kakaknya itu tahu betul bahwa adiknya baru saja melakukan serangan paling bersih yang pernah ia lihat.

Duke Richard menggeleng keras, berlutut di samping istrinya lalu menggenggam kedua tangan Evelyn. Matanya berkaca-kaca.

"Nggak, Nak... jangan pernah minta maaf," kata Duke Richard dengan suara bergetar emosional. "Kertas dokumen itu nggak ada artinya sama sekali dibanding kesehatanmu. Papa nggak peduli soal Oakhaven, Papa nggak peduli soal investasi sialan itu. Yang penting kamu selamat dan bernapas di samping Papa."

"Tapi... investasi itu..."

"Lupakan Oakhaven!" tegas Duke Richard, menyapu air mata di pipi Evelyn dengan ibu jarinya. "Mungkin ini pertanda dari Tuhan. Karena kamu pingsan tepat di atas dokumen itu, Papa sadar kalau Papa terlalu fokus pada hal-hal luar sampai mengabaikan kesehatanmu. Papa tidak akan memproses kontrak itu lagi. Biarkan Count Malakor mencari investor lain."

Evelyn menundukkan kepalanya, menutupi senyuman kemenangan yang mengembang sempurna di bibirnya.

Berhasil! batinnya bersorak kegirangan. Investasi bodong puluhan miliar itu resmi batal tanpa memicu perang politik terbuka!

Julian maju satu langkah, menepuk bahu ayahnya pelan. "Papa benar. Lagipula, Pa... sore tadi pasukan Julian sempat membawa laporan aneh soal struktur tanah Oakhaven. Tampaknya daerah itu memang punya masalah lingkungan yang tersembunyi. Tindakan Evelyn menjatuhkan tinta tadi secara tidak langsung sudah menyelamatkan nama baik keluarga kita dari bencana."

Duke Richard mengernyitkan dahi sejenak, lalu menghela napas panjang. "Mungkin memang begitu. Putri kecil kita ini benar-benar malaikat pelindung keluarga ini."

Eleanor tersenyum lembut, mengusap rambut Evelyn dengan kasih sayang yang tulus.

"Sudah, jangan pikirkan apa-apa lagi. Malam ini Papa dan Mama bakal menemani kamu tidur di sini."

Satu ancaman sudah hilang, batin Evelyn sambil memejamkan mata dengan tenang di dalam dekapan ibunya.

Sekarang saatnya mengalihkan pandangan ke langkah berikutnya: membeli tanah bernilai tinggi di Utara dan bersiap menghadapi kemunculan sang antagonis utama.

1
Fazira
Cassian 😍😍
Fazira
padahal Rosalia di dunia novel ini protagonis, kenapa sifatnya jadi kaya antagonis gini yaa/Doubt/
Fazira
udah Rosalia 🤭
Fazira
Evelyn Evelyn pinter akting yaa🤣🤣
Fazira
Wah Duke Utara 😍
Fazira
Evelyn Evelyn udah badan penyakitan kenapa akting sakit 🤭
Fazira
kehidupan novel dalam novel ya😄
Fazira
wow transmigrasi kak👍
semangat nulisnya 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!