NovelToon NovelToon
Putri Mawar Yang Dirindukan

Putri Mawar Yang Dirindukan

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Romansa Fantasi / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:834
Nilai: 5
Nama Author: Only'Rra

Gadis kecil Ella yang hidup di sebuah panti asuhan pinggiran kota yang berada di ujung kekaisaran Reis yang megah, hanya bermimpi untuk lepas dari segala kesakitan dan perundungan yang ia alami di panti.

Kehidupan yang dihantui ketakutan, kelaparan, membuatnya terus bermimpi akan sebuah kangatan keluarga yang sangat terasa nyata.
Mimpi kecil itu yang membuatnya membulatkan tekad untuk lepas dari bangunan yang seolah terus memeluknya jauh ke dasar. Dengan kaki kecilnya yang penuh akan luka, ia melangkah menjauh dari panti menuju gelapnya malam yang terasa lebih aman dibanding bangunan tempat ia tinggal.

Akankah keluar dari kegelapan lama menuju kegelapan baru di depannya akan lebih baik? Atau justru, kegelapan di binar yang menyimpan keinginan untuk hidup di mata Ella, justru jauh lebih pekat dibanding yang ia tinggalkan?


♡♡♡♡♡

Jadwal Up:
Senin s/d Sabtu - Jam 20.00
Minggu - Double Up; 08.00 & 20.00

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Only'Rra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Persiapan Pesta

"Aku yang seharusnya meminta maaf karena gagal menjaga senyumanmu dan berhasil membiarkan ia dibawa pergi darimu."

Alcaluna menggeleng pelan. Wanita itu meletakkan lilin yang tengah ia hias, lalu menyentuh kedua tangan suaminya lembut. "Mereka yang membawa malaikat kecil kita pergi. Mereka yang seharusnya meminta maaf ... sampai mati," ucapnya rendah.

Calliope menatap pandangan mata istri tercintanya yang nampak kosong. "Pasti."

Kilatan emas dari netra Calliope yang kini terlihat haus akan kematian seseorang yang telah berani meremehkan kekuasaannya, menghantarkan perasaan tenang di hati Alcaluna.

Calliope mengecup punggung tangan Alcaluna. "Aku akan menyeret mereka ke kakimu dan membiarkanmu memenggal kepala mereka, sayang."

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Hiasan indah nan berkilau mulai dipasang di seluruh sudut istana kekaisaran Reis. Semuanya tampak sempurna bahkan sampai sudut penjara juga ikut serta dihias, meskipun tetap terdengar jeritan dari para tahanan yang menghiasi ruangan bawah tanah itu.

Hal yang paling diutamakan adalah Ballroom Istana. Tempat dimana tidak hanya seluruh bangsawan Reis tetapi juga bangsawan dari kekaisaran tetangga akan datang dan berkumpul, melakukan dansa persahabatan, serta berbincang mengenai kerjasama disela obrolan ringan mereka.

Malla - kepala pelayan wanita istana, kini tengah memantai seluruh pemasangan dekorasi serta tata letak hiasan.

"Pastikan seluruh warna tidak menyakiti pandangan permaisuri," titahnya pada seluruh pekerja yang terlihat sibuk.

Ia mendetail seluruh hal yang membuat pusat perhatian anggota kerajaan Reis, yaitu permaisuri, agar merasa nyaman dan tidak sedikitpun terganggu pada pesta perayaan malam ini.

Karena jika permaisuri merasa tidak nyaman dan berakhir meninggalkan pesta, dirinya dapat bertaruh bahwa seluruh anggota keluarga Reis yakni ketiga pangeran, bahkan sang kaisar sendiri juga akan ikut meninggalkan tempat pesta.

"Aku sudah selesai mengatur daftar tamu, pelayan yang akan siaga saat pesta, juga beberapa hal kecil yang kau minta bantuan padaku, Malla," ujar Halver - kepala pelayan pria istana, yang merupakan suaminya.

"Oh! Tuan Grand Dule Luelle sudah selesai dari tugas beliau dan akan datang?" Malla terkesiap kala melihat nama penting bagi sang permaisuri yang dilayaninya, terdata paling atas daftar tamu bangsawan Reis.

Halver mengangguk menanggapi. "Awalnya kupikir beliau tidak akan datang seperti biasa, karena undangan yang kita kirim satu minggu lalu tidak mendapat balasan dari Grand Duchy Luelle."

Halver menyodorkan secarik surat yang telah ia buka dan baca kepada Malla dengan segel keluarga Luelle. "Surat balasan ini baru ku terima secara mendadak semalam."

"Kami akan datang, dengan membawa tamu penting di ujung acara penyambutan. Mungkin akan sedikit terlambat, dan pastikan permaisuri tetap berada di pesta ... " lirih Malla membaca poin yang ditulis tebal di atas surat.

"Mereka sudah singgah dan tengah beristirahat di mansion utama Luelle di Aster." Halver memberitahu jawaban yang mungkin akan ditanyakan oleh Malla setelah selesai membaca surat. "Orang dari kediaman Luelle yang datang padaku tadi. Mereka berkata portal teleportasi dari Ador ke Aster sedang tidak seimbang aura mana nya, jadi mereka membutuhkan sedikit waktu istirahat selepas perjalanan panjang dari Ador. "

"Ah begitu ... kupikir beliau akan beristirahat di istana."

Halver menggeleng. Mengerti akan kerisauan istrinya ia kembali berucap. "Kamu tidak perlu khawatir, tidak ada persiapan yang kamu lewatkan."

Semenjak kejadian beberapa tahun lalu, wanita yang sudah menginjak usia 50 tahun lebih itu setiap hari semakin terlihat gusar kala permaisuri yang ia layani sepenuh hati semenjak ia bekerja di keluarga Luelle, cenderung kembali lebih suka menyendiri dibanding dulu.

Malla akan melakukan apapun agar permaisurinya merasa nyaman, senang, dan bahagia. Namun hal yang dapat membuat itu semua dulu malah hilang dari istana ini.

"Halver."

Halver yang mendengar suara pangeran mahkota kekaisaran Reis yang memanggilnya dari arah pintu Ballroom dengan sigap menoleh dan membungkuk pelan menyapa, begitu juga dengan Malla.

"Salam kepada Bintang Utama Kekaisaran."

Abellona mengangguk singkat tanda menerima salam. "Permaisuri meminta mu untuk memberikan lilin-lilin aroma di depan kepada seluruh pelayan yang akan siaga di setiap sudut istana malam ini."

Halver mengangguk mengerti. "Baik, Pangeran Mahkota. Apa ada lagi yang Anda dibutuhkan?"

Abellona mengernyit tipis. "Ku dengar kediaman Luelle di Aster kembali terisi, apa paman datang? Kenapa dia tidak langsung ke istana?"

"Beliau menyampaikan pesan bahwa ingin beristirahat di kediaman Luelle tanpa ingin mengganggu persiapan di istana Reis terlebih dahulu, Pangeran. Hanya itu setahu saya."

"Itu artinya kedatanganku juga tidak boleh ya, Malla?"

Malla tersenyum mendengarnya. Pangeran mahkotanya ini sangat mengagumi ksatria hebat. Abellona mengagumi permaisuri - ibunya, dan juga pamannya sang grand duke yang terus menerus menoreh prestasi di medan perang.

"Saran saya lebih baik Pangeran membiarkan grand duke memulihkan tenaga beliau selepas perjalanan panjang, agar dapat bertarung melawan pangeran mahkota yang hebat ini dengan sepenuh tenaga," ujar Malla dengan lembut.

Selain menjadi kepala pelayan istana, Malla juga merupakan pengasuh bagi ketiga pangeran. Itulah sebabnya para pangeran menggunakan intonasi dan nada bicara yang terkesan lebih nyaman dan tidak formal padanya.

"Itu lebih baik. Aku ingin paman mengajariku lebih optimal." Abellona mengangguk menyetujui saran Malla.

"Pangeran Mahkota, apakah anda melihat pangeran ke-3? Saya mendapat laporan bahwa Countess Sylvith yang mengantar pakaian pangeran ke-3 untuk pesta nanti malam tidak dapat menemui beliau dimana pun." Malla memperhatikan catatan yang ia bawa kemanapun saat tengah bekerja di istana.

Abellona mendengus pelan. "Aku akan bantu menyeret Atala. Kamu beritahu saja Countess Sylvith untuk menunggu di ruang kerjaku."

Malla mengangguk mengerti. "Terima kasih banyak, Pangeran Mahkota."

Abellona meninggalkan Ballroom istana dengan diantar oleh salam dari Malla dan Halver di belakangnya.

"Oh ya, aku ingin meminta tolong bantuanmu untuk satu hal. Apa tidak apa?" Halver menatap Malla risau, ia takut membebani istrinya yang sangat sibuk melayani permaisuri dengan lebih banyak tugas.

"Katakanlah jika hal itu memang butuh kemampuanku," ucap Malla santai.

"Tuan grand duke meminta sebuah ruangan untuk dihidupkan kembali."

Malla mengernyit mendengar ucapan suaminya. "Ruangan? Kamar tidurnya saat ingin beristirahat di istana? Itu hanya tinggal di bereskan sedikit saja."

Halver menggeleng pelan. Ia mendekatkan mulutnya ketelinga sang istri. " Itu ... "

BRAK!!!

Buku catatan yang dipegang wanita itu terlepas jatuh dari genggamannya, seolah kehilangan tenaga sesaat saking terkejut mendengar apa yang baru saja Halver ucapkan. Malla menutup mulutnya yang terbuka karena shock.

"Kau, kau jangan berbohong padaku ... " ancamnya menatap tajam Halver dengan mata yang sedikit berair.

Halver tertawa pelan dan mengusap sudut mata istrinya. "Kau tidak perlu khawatir lagi kedepannya tentang suasana istana ini, Istriku."

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

"Kamu menyukainya, Ella?"

"Ehm!"

Ella mengangguk cepat mengiyakan. Dirinya merasa begitu senang saat Aghasa datang dan menyalakan lilin aroma dengan harum vanilla yang lembut di kamarnya.

"Aku membelinya saat keluar sebentar tadi. Aku senang kamu menyukainya." Aghasa tersenyum menatap gadis kecil yang terlihat menikmati udara disekelilingnya.

Ella menatap Aghasa dengan binar di matanya. "Te-terima kasih."

Aghasa menganggguk pelan kemudian mengusap kepala gadis kecil yang tengah berbaring di kasurnya itu. "Beristirahatlah sebentar, Ella. Setelah ini akan ada yang membantumu memilihi gaun untuk pesta di istana nanti malam."

'Istana!' Artinya keluarga. Senyum lebar terpatri di wajah Ella setiap kali mendengar kalimat istana. Perasaan mendebarkan di dadanya ini  tidak dapat tertahan.

Aghasa tersenyum mendapati gadis kecil ini yang antusias. "Mimpi yang indah, Ella."

Gadis kecil itu menutup matanya perlahan, berharap waktu cepat berlalu, dan dia bisa pulang ke rumah yang dari lama ia rindukan.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

"Tidak, aku tidak ingin kembali dan membiarkanmu sendirian! Kumohon- Eukhhh ... "

Pola sihir meyerupai jarum jam semakin cepat melingkupi tubuhnya saat darah segar terus menguar keluar dari luka di dada gadis itu.

"Tidak apa ... Semua ini, eukh- sepadan. Asal aku bisa kembali melihatmu." 

"Ti-tidak, kamu akan berada dalam bahaya jika terus menggunakan kekuatan itu," lirih gadis itu.

Seolah tidak mendengar, pria itu terus membiarkan jarum jam menusuk dadanya dan menghancurkan sesuatu di dalamnya.

Gadis itu menggeleng lemah. "Tidak, tidak ... "

Netra pria itu memandangnya sayu, seolah ia ingin menyimpan momen pandangan gadis itu yang mengingat dirinya lebih lama untuk dirindukan sebelum sedetik setelahnya jarum jam terus berdentang kuat dan meledak tepat di pusat mana pria itu. 

"TIDAAAK!" 

1
Fre
Apa apaan sistemnya serakah gini
Alia Chans
keren
mary dice
😱😱😱 serem
mary dice
kembali ke tempat tidurmu Ella , Ksatria itu pasti tidak mau kamu jatuh sakit hmmm
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!