"Tiga tahun Surya Prasetyo hidup sebagai menantu yang diinjak-injak. Dicaci maki mertua, dihina saudara ipar, dijadikan budak dapur oleh istrinya sendiri.
Sampai malam itu—malam ulang tahun pernikahan ketiga—dia mendengar semuanya.
Istrinya selingkuh. Istrinya mengincar asuransi jiwa lima miliar. Istrinya sudah menjadwalkan dia sebagai donor ginjal paksa. Dan istrinya... sudah merencanakan kematiannya.
*""Genggam erat-erat tanganku, Pak. Karena ini terakhir kalinya.""*
Dari seorang laki-laki yang tidur di pinggir sungai, Surya bangkit. Lulus ujian advokat. Menghancurkan perusahaan mantan istri. Membangun kerajaan bisnis. Membuat semua orang yang pernah menginjak-injaknya... berlutut.
Tapi balas dendam hanyalah permulaan. Di balik semua ini, ada kekuatan yang jauh lebih besar yang mengawasi setiap langkahnya—dan rahasia terbesarnya tersembunyi di orang yang paling dia percaya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Bab 8: Senjata Hukum
Enam tahun lalu, apa yang pernah ia lupakan?
Pertanyaan itu mengikuti Surya sampai pagi.
Ia tidur hanya dua jam di kos kecil yang ia sewa di Tebet. Bukan kos Dewi, karena ia tidak ingin membawa bayangan Mega Awan ke pintu kakaknya. Kamar itu sempit, cat dindingnya mengelupas, dan suara motor dari jalan kecil masuk lewat ventilasi. Tetapi untuk pertama kalinya, tidak ada suara Nadia yang menyuruhnya mencuci piring.
Di atas meja lipat, laptop tua menyala.
Surya membuka portal pengumuman UPA.
Jari telunjuknya berhenti di atas touchpad.
Selama tiga tahun menjadi suami rumahan, satu-satunya hal yang diam-diam ia pertahankan adalah hukum. Buku-buku yang ia sembunyikan di lemari bawah. Catatan kuliah UNAIR yang ia baca saat Nadia tidur. Latihan soal yang ia kerjakan di dapur setelah semua piring bersih.
Nadia mengira ia hanya laki-laki tanpa pekerjaan.
Pak Kusuma mengira ia hanya mulut tambahan di meja makan.
Mereka tidak pernah tahu bahwa setiap malam, ketika rumah itu sunyi, Surya sedang mengasah pisau.
Ia memasukkan nomor peserta.
Halaman memuat lambat.
Lalu hasil itu muncul.
LULUS.
Peringkat nasional: 8.
Surya menatap layar tanpa berkedip.
Tidak ada sorak. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada keluarga yang memeluknya. Hanya kipas angin tua yang berputar miring dan cahaya pagi yang jatuh ke lantai kos.
Namun di dada Surya, sesuatu berdiri tegak.
Selama ini ia punya amarah.
Sekarang ia punya senjata.
Handphone-nya bergetar. Pesan dari Dewi masuk.
Dik, kamu sudah makan?
Surya memotret layar pengumuman, lalu mengirimkannya.
Beberapa detik kemudian, Dewi menelepon.
"Kamu lulus?" suara kakaknya pecah.
"Lulus, Kak."
"Peringkat delapan?" Dewi hampir berteriak. "Ya Allah, Dik..."
Surya menutup mata. Di ujung sana, Dewi menangis. Tangisan yang berbeda dari malam di sungai. Bukan takut. Bangga.
"Kakak tahu kamu bisa," katanya. "Kakak selalu tahu."
Surya menggenggam handphone lebih erat. "Aku harus ambil buku-buku hukum di rumah Kusuma."
Tangis Dewi langsung tertahan. "Sendiri?"
"Aku perlu semuanya. Catatan, buku acara perdata, pidana, perseroan. Mulai sekarang, mereka tidak bisa menyerangku dengan dokumen yang aku tidak baca."
"Hati-hati."
"Iya, Kak."
Siang itu, Surya kembali ke rumah keluarga Kusuma.
Pintu pagar tidak terkunci. Rumah terasa lebih kosong setelah kematian Pak Kusuma. Namun, kosong bukan berarti damai. Di ruang tamu, vas bunga pecah masih belum dibersihkan. Foto keluarga miring di dinding. Beberapa bantal sofa terlempar ke lantai.
Nadia sudah mengamuk.
Surya berjalan menuju kamar kecil yang selama ini disebut "ruang kerja" olehnya, padahal bagi keluarga Kusuma itu hanya gudang untuk menaruh barang tidak penting. Pintu kayunya terbuka.
Ia berhenti.
Buku-bukunya berserakan.
KUHPerdata yang ia beli bekas dari pasar buku sudah robek sampulnya. Buku hukum perusahaan tergeletak di lantai, beberapa halamannya basah oleh kopi. Catatan kuliah UNAIR yang ia tulis bertahun-tahun penuh coretan dilempar ke sudut, diinjak sampai kotor.
Surya berlutut.
Ia mengambil satu buku, mengibaskan debu dari halamannya.
Di antara kertas-kertas itu, ada perangkat kecil di rak atas yang masih menyala redup.
Smart home camera.
Nadia dulu memasangnya untuk memantau pembantu harian dan kurir paket. Surya yang mengatur koneksi Wi-Fi-nya. Nadia tidak pernah peduli bagaimana sistemnya bekerja. Ia hanya tahu membuka aplikasi jika ingin memarahi orang.
Surya menatap kamera itu.
Lalu ia membuka laptop.
Akun lama masih tersimpan.
Rekaman otomatis.
Tanggal-tanggal muncul di folder cloud perangkat. Beberapa sudah ditimpa. Namun, ada arsip yang belum terhapus karena kamera mendeteksi gerakan di ruang tamu saat mode keamanan aktif.
Surya membuka salah satunya.
Nadia muncul di layar.
Kevin duduk di sofa keluarga Kusuma, kaki bersilang, jasnya dibuka. Nadia membawa dua gelas wine, lalu duduk terlalu dekat. Mereka berbicara pelan, tertawa, berciuman, lalu suara mereka menjadi cukup jelas untuk membuat darah Surya kembali dingin.
"Surya nggak akan curiga," kata Nadia di rekaman. "Dia terlalu takut kehilangan rumah ini."
Kevin tertawa. "Rumah ini? Dia bahkan tidak punya satu ubin pun di sini."
Rekaman itu terus berjalan.
Tidak sampai kamar.
Tetapi cukup.
Lebih dari cukup.
Di ruang tamu milik keluarga yang selama ini memanggil Surya sampah, Nadia dan Kevin membicarakan polis, dokter, dan "waktu yang tepat" setelah Pak Kusuma stabil. Meski tidak semua kalimat lengkap, garisnya jelas. Perselingkuhan. Motif. Rencana.
Surya menyalin file itu.
Satu ke flash disk.
Satu ke hard drive.
Satu ke cloud.
Satu lagi ia kirim ke alamat email baru.
Ia baru selesai saat suara pintu depan dibanting.
"SURYA!"
Nadia masuk seperti badai.
Matanya merah. Rambutnya terurai. Begitu melihat laptop menyala dan buku-buku yang sedang Surya susun, wajahnya berubah liar.
"Kamu berani masuk rumah ini lagi?"
"Ini masih alamat tempat tinggalku secara hukum."
"Hukum?" Nadia tertawa keras. "Sekarang kamu sok jadi pengacara?"
Surya mengangkat layar laptop sedikit. "Aku lulus UPA."
Tawa Nadia berhenti.
"Peringkat delapan nasional," lanjut Surya. "Terima kasih sudah memberi aku cukup malam sunyi di dapur untuk belajar."
Wajah Nadia memerah.
Ia menyambar buku hukum perusahaan dari lantai, lalu merobek halaman tengahnya.
KRRRRT!
Suara kertas robek itu seperti menggores tulang.
"Ini yang bikin kamu merasa hebat?" Nadia berteriak. "Buku bekas? Catatan kumal? Kamu tetap laki-laki miskin yang hidup dari keluarga aku!"
Surya berdiri.
"Letakkan."
Nadia merobek halaman lain.
"Atau apa?"
Surya melangkah mendekat. Nadia mengayunkan tangan, kukunya menggores leher Surya sampai perih. Garis merah muncul di kulitnya.
Ia tidak membalas dengan tangan.
Ia mengambil pulpen logam dari meja, memegangnya seperti seseorang memegang alat kerja, lalu menempatkan ujungnya tepat di depan leher Nadia. Tidak menusuk. Tidak menyentuh. Cukup dekat untuk membuat napas Nadia berhenti.
"Sentuh bukuku sekali lagi," kata Surya pelan, "dan aku pastikan kamu masuk penjara."
Nadia membeku.
Untuk pertama kalinya, ia melihat bukan kemarahan meledak di mata Surya.
Ia melihat niat.
Niat yang tenang.
Niat yang bisa menunggu bertahun-tahun, mengumpulkan kertas demi kertas, lalu menutup pintu sel ketika waktunya tiba.
"Kamu gila," bisiknya.
"Tidak." Surya menurunkan pulpen. "Aku baru sadar."
Ia memasukkan buku-buku yang masih bisa diselamatkan ke dalam tas. Laptop ia tutup. Flash disk ia masukkan ke saku.
Nadia berdiri di tempatnya, tidak berani bergerak.
Saat melewati pintu, Surya berhenti sebentar.
"Rekaman ruang tamu sudah aku simpan."
Wajah Nadia langsung kosong.
Surya tidak menjelaskan lebih jauh.
Ia meninggalkan rumah itu dengan tas penuh buku robek dan satu file video yang cukup untuk membunuh kebohongan Nadia berkali-kali.
Rekaman itu memang hanya sampai ruang tamu.
Tetapi bagi Surya, itu sudah cukup mematikan.