Zia Clarissa Humaira, seorang santriwati cerdas dan cantik, setia pada janji perjodohan yang diatur oleh sang kiai dengan seorang santri senior kepercayaan pesantren. Zia percaya perjodohan ini akan berakhir indah. Namun, janji itu runtuh saat ia mendapati sang lelaki diam-diam mencintai wanita lain yang ternyata sahabat dekatnya sendiri. Tanpa pernah ada kata selesai, Zia dibuang dalam keheningan dan digantung tanpa kepastian.
Saat ia mengira dunianya telah usai, takdir menuntunnya pada sosok yang tak pernah ia perhitungkan sebelumnya. Seorang lelaki yang selama ini memendam rasa dalam senyap, kini maju memasang badan untuk membalut luka Zia.
Akankah kehadiran lelaki misterius ini mampu meruntuhkan trauma masa lalu Zia dan mengembalikan senyumnya yang sempat hilang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Alhabsyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DZ~08
Pagi yang cerah di Pondok Pesantren Al-Musthofa terasa begitu sejuk. Lantunan ayat suci Al-Qur'an dari para santri saling bersahut-sahutan, berpadu dengan kesegaran udara pagi.
Mas Charis baru saja menyelesaikan tugasnya mengajar kelas subuh, dari jam lima hingga jam enam pagi. Dalam perjalanan kembali ke asrama, ia berpapasan dengan Abah yang sedang mengontrol keliling pondok.
Menyadari kehadiran sang kiai, Charis refleks membungkukkan badannya dengan takzim.
Abah menghampirinya, lalu menepuk pundaknya hangat. "Charis, tolong bantu kontrol kerja bakti di bagian kompleks putri, ya? Abah ada acara nanti, jadi tidak bisa memantau mereka," pinta Abah.
Ini bukan pertama kalinya Charis menerima tugas langsung seperti ini. Ia memang sudah lama menjadi orang kepercayaan yang bertindak sebagai tangan kanan Abah.
"Insyaallah, Bah," jawab Charis khidmat.
"Terima kasih. Silakan lanjutkan kegiatanmu." Abah pun melangkah menuju ndalem.
Baru saja Charis hendak menegakkan punggungnya untuk kembali melangkah, suara Abah kembali terdengar.
"Eeh, Charis..."
Charis langsung memutar tubuhnya. Ia kembali melipat tangannya dan membungkuk takzim seperti semula. "Iya, Bah?"
"Satu lagi, Abah hampir lupa. Tolong sampaikan kepada Zizan, setelah selesai mengajar nanti diminta menghadap ke ndalem," pinta Abah.
"Baik, Bah. Insyaallah nanti saya sampaikan."
Sambil tersenyum, Abah melanjutkan perjalanannya, begitu pula dengan Charis yang kembali melangkah menuju asrama.
***
Sementara itu, suasana di dapur ndalem ramai seperti biasanya. Para abdi ndalem sudah berkumpul di sana, kecuali Zia yang masih mengajar.
Ruangan itu dipenuhi obrolan penuh canda, Sindi si paling dramatis dan Ratna si paling pelawak.
Sambil memotong sayuran, Ratna tiba-tiba melontarkan pertanyaan yang sangat tidak masuk akal. "Eh, kalian pernah mikir enggak? Kok sayuran mau-mau aja ya dipotong terus dimasak?" tanya Ratna ngawur.
Pertanyaan absurd itu sukses membuat seisi dapur geleng-geleng kepala. Rara, yang terkenal paling minim humor, langsung menyela ketus dari depan wastafel tempatnya mencuci piring. "Ya karena itu takdir dia sebagai bahan pangan! Masa begitu saja tidak paham, sih?" semprot Rara kesal, sengaja mencipratkan air bilasan piring tepat ke wajah Ratna.
"Ih, Rara mah! Basah tahu!" rengek Ratna cemberut sambil mengusap wajahnya.
"Lagian pagi-pagi sudah mengeluarkan pertanyaan tidak bermutu," gerutu Rara sambil menata piring-piring yang sudah bersih ke rak.
"Eh, Ra, jangan salah! Ini tuh misteri besar yang belum pernah terpecahkan oleh ilmuwan mana pun di dunia!" bela Sindi. Dengan gerakan tangan yang ekspresif dan nada suara yang didramatisasi, ia menoleh ke arah Ratna.
Mereka berdua langsung melakukan (tos) dengan sangat kompak, lalu menautkan alis penuh kemenangan seolah baru saja menyatukan visi untuk menguasai dunia.
"Mulai deh, mulai. Kalau dua orang ini sudah bersekutu, hukum alam pun menyerah. Jalur pemikiran mereka sudah mendarat di luar angkasa, melompati batas nalar manusia normal," sahut Sinta yang sedang sibuk mengaduk masakan di atas kompor.
Tawa renyah pecah di dapur mendengar sindiran Sinta.
Namun, berbeda dengan yang lain, Salsa yang sedang memotong tempe di sudut meja sama sekali tidak bersuara. Ia memotong dengan sangat berhati-hati, tenang dan diam. Sangat tidak perduli dengan kegaduhan di sekitarnya. Ia merasa obrolan tersebut sangat kekanak-kanakan dan tidak bermutu. Teman-temannya menyadari aura tidak nyaman yang terlihat di wajah Salsa, tetapi mereka memilih mengabaikannya. Memang begitulah watak Salsa, dan begitulah cara mereka menikmati pagi.
Melihat Salsa yang cemberut, Sinta sesekali meliriknya sambil menahan senyum. Namun, gurauan receh di dapur justru semakin menjadi-jadi.
"Jangan-jangan, kalian berdua ini sebenarnya makhluk asing yang dibuang ke bumi karena terlalu berisik di sana?" timpal Rara, ikut memanaskan suasana.
"Benar sekali! Kitalah alien itu! Waa-bba-labba-dub-dub!" seru Sindi dan Ratna kompak, memparodikan gerakan alien kaku seperti di film-film zombie.
Tawa kembali meledak. Suasana dapur yang gerah akibat uap masakan seketika mencair oleh candaan konyol mereka. Mereka tertawa lepas sampai memegangi perut, mengabaikan Salsa yang kini membeku bak patung dengan tatapan sedingin es.
Namun, di puncak keharmonisan dan tawa riang itu, sebuah suara tiba-tiba mengubah suasan menjadi menegangkan.
"Mbak..." Suara itu berat, berwibawa, dan sangat familiar. Suara yang seketika membuat bulu kuduk mereka bangkit sendiri.
Deg!
Tawa renyah yang memenuhi ruangan mendadak terputus di tenggorokan. Suasana yang tadinya bising langsung hening seketika, menyisakan suara minyak goreng di wajan. Sindi dan Ratna yang tadinya bergaya alien langsung menurunkan tangan mereka kaku. Semua kepala serentak menunduk dalam, mematung dengan jantung berdegup kencang.
Mereka saling melirik lewat sudut mata, berkomunikasi dalam diam lewat tatapan penuh horor, "Mati kita, Abah pasti kesini gara-gara kita keterlaluan bercandanya! Bakal dihukum nih!
Selama beberapa detik yang terasa seperti satu abad, Abah hanya diam di ambang pintu. Tatapan matanya menatap satu per satu santri perempuan di hadapannya. Keheningan itu begitu mencekam, hingga suara detak jantung mereka sendiri rasanya bisa terdengar.
Setelah memastikan seseorang yang dicarinya tidak ada, barulah Abah membuka suara.
"Ada Zia?" tanya Abah tenang.
Ketegangan sedikit mengendur, seolah ada pasokan oksigen yang baru saja ditiupkan ke ruangan itu.
"Sedang mengajar, Bah," jawab Salsa, memecah keheningan dengan suara yang mantap namun tetap penuh rasa hormat.
"Oh, begitu. Kalau begitu, nanti tolong sampaikan ke Zia, sekitar jam sembilan diminta ke ruang tengah, ya," titip Abah.
"Baik, Bah. Nanti saya sampaikan," jawab Salsa takzim.
Setelah urusannya selesai, Abah membalikkan badan dan kembali ke kediamannya. Langkah kaki Abah yang menjauh perlahan mengakhiri suasana menegangkan di dapur tersebut.
"Huuu-fffttt..." Sindi mengembuskan napas panjang, bahunya yang tadinya tegang langsung merosot. "Asli, jantungku hampir copot. Takut banget dimarahin Abah." Ia mencoba mencairkan ketakutannya sendiri sambil melanjutkan potongan sayur yang tertunda.
"Makanya, kalau bercanda itu biasa aja. Jangan berlebihan!" ketus Salsa kesal. Ia meletakkan wadah berisi potongan tempe di dekat Sinta dengan hentakan yang agak keras.
Semua orang di dapur terdiam. Sindi dan Ratna saling pandang, menutup mulut mereka rapat-rapat.
"Aku ke belakang dulu." Setelah menyerahkan tugasnya pada Sinta, Salsa berpamitan dengan wajah ketus. Langkah kakinya yang menghentak meninggalkan rasa canggung di antara mereka yang tersisa.
Perbedaan prinsip di antara mereka memang sulit disatukan. Sebagai santri senior, Salsa merasa tidak pantas bergurau berlebihan untuk hal-hal yang terlalu receh. Sementara bagi yang lain, porsi hiburan mereka memang seperti ini. Terlebih, ada sisa luka masa lalu di antara mereka yang belum sepenuhnya pulih
"Ihh...!" gerutu Sindi, hampir aja berteriak meluapkan kekesalannya jika tidak segera dicegah oleh Sinta.
"Husttt! Sindi, jangan keras-keras. Nanti terdengar Abah atau Umi," bisik Sinta memperingatkan.
"Iya, maaf... Lagian kenapa sih Mbak Salsa sinis banget sama kita? Kayak enggak pernah muda aja," keluh Sindi lesu.
"Mau bagaimana lagi, kita emang agak kelewatan tadi. Udah, nggak usah dibahas. Wajar kalau kita ditegur, dia kan senior kita," jelas Sinta bijak. Ia menuangkan masakan yang sudah matang ke dalam mangkuk besar, lalu kembali meletakkan wajan di atas kompor untuk menu berikutnya.
"Tapi kan, Mbak..."
"Udah, udah. Cepat cuci sayurnya, ini wajannya sudah panas, keburu gosong nanti," potong Sinta cepat, sengaja mengalihkan pembicaraan agar tidak berbuntut panjang.
Sebagai sosok yang usianya lebih dewasa di antara mereka para peracik sayur itu, Sinta sebenarnya kadang memahami jalan pikiran Salsa. Namun, ia memilih menormalkan posisinya sebagai penengah agar suasana pondok tetap damai dan berjalan sebagaimana mestinya.
Ini buku pertama author Emma Alhabsy yng aq baca