Sebuah novel fantasi mitologi Nusantara (Batak). Berikut salah satu petikannya:
"Sebelum matahari mengenal pagi, langit telah lebih dahulu mengenal doa. Di Banua Ginjang, doa tidak diucapkan melalui bibir, melainkan tumbuh menjadi bunga-bunga cahaya yang bermekaran di antara akar bintang. Setiap kelopaknya membawa harapan, dan setiap harapan akan jatuh ke dunia bawah sebagai embun kehidupan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5. Sekolah Semesta (Bagian II)
...Bahasa Air dan Nyanyian Batu...
..."Air mengingat semua yang disentuhnya. Batu mengingat semua yang menimpanya. Maka bijaksanalah terhadap keduanya, sebab mereka akan menjadi saksi ketika lidah manusia telah lupa."...
^^^—Petuah Parbaringin^^^
Deak Parujar belum menarik tangannya dari mata air. Air itu tetap mengalir melewati sela-sela jarinya. Tetap terasa hangat dan penuh kelembutan.
Namun kini ia menyadari bahwa kehangatan itu bukan berasal dari suhu. Melainkan dari sesuatu yang hidup.
Ia memejamkan matanya sekali lagi. Kali ini ia tidak berusaha mendengar dengan telinganya. Ia mendengar dengan hatinya. Dan suara itu kembali datang. Mula-mula hanya seperti bisikan bayi yang baru belajar berbicara. Lalu berubah menjadi gumaman. Kemudian menjadi ribuan suara yang saling bertumpuk, namun tidak saling menenggelamkan.
Suara anak-anak yang tertawa. Suara hujan yang belum pernah turun. Suara dedaunan yang lahir dari pucuk Hariara. Suara burung yang baru pertama kali mengepakkan sayapnya. Bahkan Deak bisa mendengar suara angin yang menyapa batu.
Deak perlahan membuka mata dan kembali bertanya: "Nai Aek... Apakah semua suara itu benar-benar ada?"
Perempuan tua itu tersenyum dan menjawab bijak: "Air tidak pernah menciptakan cerita, Putri.bIa hanya menyimpannya. Seperti seorang ibu menyimpan kenangan pertama anaknya."
Deak kembali menatap aliran bening itu, "Tetapi... mengapa aku bisa mendengarnya?"
Nai Aek tidak langsung menjawab. Ia mengambil setangkai bunga putih yang tumbuh di tepi mata air, lalu meletakkannya di permukaan air.
Bunga itu tidak hanyut. Ia berputar perlahan, seakan mengikuti tarian yang tak terlihat.
"Karena air mengenalmu." jawab sang nenek akhirnya.
"Mengenalku?" tanya Deak tidak mengerti.
"Ya. Sejak engkau membuka mata untuk pertama kalinya, air telah menyentuh napasmu." jawab sang nenek lagi, "Sejak saat itu, ia mengingatmu. Dan hari ini... ia memilih untuk berbicara kepadamu."
...****************...
Mulajadi Nabolon dan Parbaringin memperhatikan dari kejauhan. Tidak sepatah kata pun keluar dari bibir mereka. Namun keduanya memahami bahwa pelajaran pertama telah melampaui apa yang mereka bayangkan.
Parbaringin berbisik pelan: "Belum pernah ada seorang murid yang diajak berbicara oleh air pada hari pertama pembelajarannya."
Mulajadi Nabolon mengangguk dan berujar: "Semesta mengenali putriku lebih cepat daripada yang kita duga."
Tatapan beliau kemudian beralih ke Jonggi. Burung kecil itu tidak bermain seperti biasanya. Ia berdiri diam di atas dahan rendah. Matanya tertuju ke arah mata air. Seolah-olah ia juga sedang mendengarkan sesuatu yang tidak dapat didengar makhluk lain.
...****************...
"Nah." Nai Aek berdiri dan berkata perlahan: "Kini pelajaranmu masih belum selesai lagi. Masih ada seseorang yang menunggu untuk memberitahukan pelajaran selanjutnya."
"Ompu Batu?" Deak bertanya penuh semangat.
Perempuan tua itu tersenyum dan menjawab: "Ya. Beliau sudah menunggu, bahkan jauh sebelum engkau lahir Putri."
...****************...
Perjalanan menuju tempat Ompu Batu tidak melalui jalan setapak. Mereka menyusuri lereng lembut di bawah naungan Hariara Bolon, melewati padang lumut yang memancarkan cahaya kehijauan, hingga tiba di sebuah lembah sunyi. Di sana, tidak tumbuh bunga. Tidak terdengar nyanyian burung.
Hanya ada batu. Ribuan batu. Batu kecil sebesar kepalan tangan. Batu besar setinggi rumah. Batu-batu hitam, kelabu, keemasan, bahkan batu bening yang memantulkan cahaya pelangi dari dalam tubuhnya.
Deak menoleh ke kiri dan ke kanan dan bertanya: "Mengapa tempat ini sangat sunyi Nai?"
Nai Aek tersenyum tipis dan menjawab: "Karena batu tidak suka berbicara kepada mereka yang tergesa-gesa."
Di tengah lembah itu, Ompu Batu telah menunggu. Beliau duduk bersila di atas sebongkah batu datar. Matanya terpejam. Begitu tenang hingga lumut mulai tumbuh di ujung jubahnya.
Jonggi mendarat di bahu Deak. Burung kecil itu tidak berkicau. Seolah memahami bahwa tempat ini meminta penghormatan.
Tanpa membuka mata, Ompu Batu berkata, "Selamat datang, Putri."
Deak terkejut dan bertanya: "Kakek tahu aku akan datang?"
"Tentu. Batu yang kau injak telah memberitahuku." jawab Ompu Batu.
Anak kecil itu memandang ke bawah dan kembali bertanya: "Batu... bisa berbicara?"
"Bisa. Hanya saja... mereka berbicara dengan sangat lambat." Ompu Batu menjawab sambil mengambil sebuah kerikil kecil berwarna abu-abu. Beliau meletakkannya di telapak tangan Deak.
"Menurutmu... Apakah batu ini hidup?" tanya sang Kakek perlahan.
Deak mengingat pertanyaan ayahnya tentang daun Hariara. Ia berpikir cukup lama, sebelum menjawab: "Kalau melihatnya... Sepertinya tidak."
Ompu Batu mengangguk dan berkata: "Lalu tempelkan ia ke pipimu."
Deak menurut. Kerikil itu terasa dingin. Namun beberapa saat kemudian... ia merasakan sesuatu.
Bukan panas. Bukan pula dingin. Melainkan getaran. Sangat pelan. Seperti detak jantung yang sedang tidur.
Mata Deak seketika membelalak dan ia berujar: "Kakek... Batu ini... bernapas."
Ompu Batu tersenyum, namun membantah: "Bukan Putri. Ia sedang bernyanyi."
Beliau mengambil tongkat kayunya, lalu mengetukkannya perlahan pada batu besar di sampingnya.
Tok... Suara itu bergema. Namun gema itu tidak berhenti. Ia menjalar ke batu lain. Lalu ke batu berikutnya. Kemudian ke seluruh lembah.
Tak lama kemudian... terdengar bunyi yang belum pernah didengar Deak sebelumnya. Bukan seperti musik. Bukan pula berupa gema. Melainkan ribuan nada rendah yang saling menjawab dari dalam perut bumi. Seluruh batu di lembah itu... sedang bernyanyi.
Jonggi mengepakkan sayapnya perlahan. Angin seakan berhenti berhembus. Bahkan air di kejauhan seakan menahan alirannya untuk mendengarkan.
Deak memejamkan mata. Ia membiarkan suara-suara itu mengalir ke dalam dirinya. Dan di antara ribuan nada yang tenang itu... terdengar satu nada yang berbeda. Terasa dari kedalaman yang jauh. Seperti berasal dari tempat yang sangat jauh di bawah semesta.
Deak membuka mata dan berujar: "Kakek... Ada satu batu yang bernyanyinya berbeda."
Ompu Batu tidak tampak terkejut, beliau hanya bertanya: "Yang mana?"
Deak menunjuk ke arah sebuah batu hitam sebesar kepala kerbau, terletak sendirian di ujung lembah. Permukaannya kusam. Tidak ditumbuhi lumut. Tidak pula memantulkan cahaya.
Ompu Batu memandang batu itu cukup lama. Lalu menghela napas dan bergumam: "Itu bukan batu Banua Ginjang."
Deak mengerutkan kening tidak mengerti, "Bukan?"
"Batu itu datang..." jawab sang Kakek masih dengan berguman: "...dari Banua Toru."
Mendengar nama itu, angin tiba-tiba berembus lebih dingin. Jonggi mengembangkan bulunya. Naluri kecilnya merasakan sesuatu yang tidak biasa.
Deak melangkah mendekati batu hitam itu. Tanpa rasa takut. Ia mengulurkan tangan.
"Jangan—" Suara mencegah Ompu Batu terdengar terlambat, karena ujung jari Deak telah menyentuh permukaan batu.
Seketika... seluruh lembah bergetar. Nada-nada batu berhenti. Air mata air bergejolak bergelombang.
Daun-daun Hariara Bolon berguguran serentak. Dan jauh... sangat jauh... di dasar Banua Toru yang gelap dan sunyi... sepasang mata hijau perlahan terbuka.
Ia tidak terlihat marah. Tidak pula merasa lapar. Melainkan... penasaran.
Makhluk purba itu merasakan sentuhan yang sama melalui batu yang berasal dari dunianya. Untuk pertama kalinya sejak zaman tanpa nama... Naga Padoha mengangkat kepalanya.
Dan dalam keheningan samudra purba, ia berbisik dengan suara yang mengguncang dasar lautan: "...Anak Langit..."
...****************...
Horas! 🌿
Mauliate godang.. 🤎
📖 Bersambung ke Bab 5 – Bagian III: Gema dari Banua Toru.
😏/CoolGuy//Casual//Shhh/
/Grin//Tongue//Facepalm//Joyful/