Tiga tahun menjalani pernikahan, Rindu dan suaminya masih menanti kehadiran buah hati. Di tengah cinta yang mereka bangun, harapan itu perlahan berubah menjadi beban ketika sang mertua terus menyalahkan Rindu dan mendesaknya untuk segera memberikan cucu.
Tekanan yang tak kunjung reda membuat hubungan mereka mulai retak. Di saat kepercayaan dan komunikasi memudar, hadir sosok perempuan lain yang menawarkan perhatian dan kenyamanan kepada suami Rindu. Kehadiran orang ketiga itu menjadi ujian terbesar dalam pernikahan mereka. Kini, Rindu harus memilih terus bertahan memperjuangkan rumah tangganya atau melepaskan cinta yang perlahan berubah menjadi luka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa bersalah yang tidak terlihat
Keesokan paginya. Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui jendela dapur yang luas, menerangi sisa-sisa kesibukan sarapan yang baru saja usai.
Di depan bak cuci piring, Rindu sedang berdiri dengan celemek yang masih terikat di pinggangnya. Kedua tangannya terbungkus busa sabun putih saat ia dengan telaten menggosok piring-piring kotor bekas sarapan mereka tadi.
Suara gemercik air yang mengalir dari keran berpadu dengan keheningan di dapur.
Tanpa Rindu sadari, pintu depan rumah terbuka pelan. Arsen melangkah masuk dengan langkah kaki yang sengaja diperlambat. Kemeja kerjanya yang kemarin kini tampak sedikit kusut, dan gurat kelelahan yang di buat-buat menghiasi wajahnya.
Begitu melangkah ke area dapur dan melihat punggung Rindu yang bergerak di depan bak cuci piring, tanpa suara, Arsen berjalan mendekat.
Sebelum Rindu sempat menyadari kehadirannya, Arsen sudah merapatkan tubuhnya, melingkarkan kedua lengan kokohnya di pinggang Rindu, dan memeluk Rindu dengan erat dari belakang.
Ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Rindu, menghirup aroma familier dari tubuh Rindu.
"Hai, Sayang..." bisik Arsen, suaranya serak khas orang yang baru bangun tidur dan kelelahan.
Rindu tersentak kaget. Gerakan tangannya yang penuh busa langsung terhenti di udara. Bahunya sempat menegang, namun saat tahu itu suaminya, tubuhnya perlahan kembali rileks. Sebuah senyuman manis langsung merekah di bibirnya.
"Eh, Mas? Kamu sudah pulang?" tanya Rindu setengah menoleh, mencoba melihat wajah suaminya yang masih betah menempel di pundaknya.
Arsen tidak melepaskan pelukannya seketika. Ia justru semakin menenggelamkan wajahnya di pundak Rindu, menghirup dalam-dalam aroma tubuh istrinya yang selalu berbau harum sabun dan minyak telon yang menenangkan, sangat kontras dengan aroma parfum mahal yang tertinggal di apartemen semalam.
"Kamu pasti capek ya habis lembur," kata Rindu lembut. Suaranya terdengar penuh perhatian, tanpa tahu, jika semalam suaminya lembur di rumah istri keduanya.
Arsen hanya mengangguk pelan di ceruk leher Rindu. Ia tidak sanggup mengeluarkan suara. Setiap kali Rindu memperlakukannya dengan begitu baik, setiap kali pula rasa bersalah di dalam dadanya mencuat seperti duri yang menusuk-nusuk hatinya.
Pria itu merasa seperti seorang penjahat yang sedang menikmati pengampunan yang tak layak ia dapatkan.
Rindu terkekeh pelan melihat tingkah suaminya yang manja dan tampak begitu lelah. Ia menggerakkan sikutnya perlahan agar Arsen mengurai pelukannya.
"Ya sudah, kamu duduk di sana," kata Rindu sambil menunjuk kursi tinggi di mini bar dengan dagunya.
"Aku siapkan teh hangat dulu. Sesudah minum, kamu mandi dan langsung istirahat ya, Mas."
Arsen perlahan melonggarkan lingkar tangannya di pinggang Rindu. Ia menatap wajah Rindu yang tampak segar pagi ini, lalu memaksakan sebuah senyuman tipis untuk menutupi gejolak batinnya.
"Iya, Sayang. Terima kasih ya," ucap Arsen tulus, meski ada nada getir yang tersembunyi di sana.
Ia kemudian melangkah dengan bahu yang merosot menuju mini bar, mendudukkan tubuhnya yang terasa remuk di atas kursi.
Matanya terus mengikuti gerak-gerik Rindu yang kini dengan cekatan membilas tangannya dari busa sabun, lalu mulai merebus air untuk membuatkannya teh.
Di rumah ini, di hadapan ketulusan Rindu, Arsen sadar bahwa ia sedang membangun sebuah istana di atas pasir yang sewaktu-waktu bisa runtuh dan menimbun mereka semua.
Rindu bergerak dengan cekatan di dapur. Bunyi lenting sendok yang beradu dengan cangkir keramik terdengar.
kepulan uap hangat yang membawa aroma teh kesukaan Arsen. Tidak butuh waktu lama bagi Rindu untuk menyajikan secangkir teh hangat di atas meja mini bar, tepat di hadapan suaminya.
"Diminum dulu, Mas. Biar badannya agak enakan," ucap Rindu manis. Ia ikut mendudukkan diri di kursi sebelah Arsen, menopang dagu dengan kedua tangannya sambil menatap wajah sang suami yang tampak begitu kuyu.
"Semalam kerjaan di kantor numpuk banget, ya? Sampai nggak bisa pulang sama sekali?"
Pertanyaan yang murni keluar dari rasa peduli itu seketika membuat tenggorokan Arsen terasa kering. Ia meraih cangkir teh yang masih panas, membiarkan kehangatannya menghantarkan sedikit ketenangan pada jemarinya yang mendadak dingin.
"Iya, begitulah. Ada beberapa berkas akhir tahun yang harus diselesaikan cepat," bohong Arsen lagi, matanya sengaja dialihkan pada pusaran air teh di dalam cangkir, tak berani menatap langsung manik mata Rindu yang bersih tanpa prasangka.
Ia menyesap teh itu perlahan, berusaha mengulur waktu agar tidak perlu mengarang cerita lebih banyak.
Rindu menghela napas, jemarinya bergerak lembut mengusap punggung tangan Arsen yang bebas.
"Maaf ya, semalam aku nggak bisa nemenin kamu," kata Arsen serak. Kali ini, kata maaf itu keluar murni dari lubuk hatinya yang paling dalam, sebuah permohonan ampun atas pengkhianatan yang tak terlihat.
Rindu tersenyum, menggelengkan kepalanya pelan.
"Nggak apa-apa, Mas. Aku mengerti kok. Yang penting sekarang kamu sudah pulang. Ya sudah, tehnya dihabisin, setelah itu langsung mandi, ya? Aku siapkan baju ganti dan handuk di kamar dulu buat kamu." Kata rindu lalu berjalan pergi untuk menyiapkan keperluan Arsen.
Arsen hanya menatap punggung Rindu yang perlahan menjauh dari area dapur.
Setiap derap langkah kaki istrinya terdengar seperti detak jarum jam yang terus berjalan, menghitung mundur waktu yang tersisa sebelum seluruh kebohongannya terbongkar.
Ruang dapur yang luas itu mendadak terasa begitu sepi dan dingin bagi Arsen. Ia menunduk, menatap cangkir teh yang uapnya masih mengepul tipis.
Perlahan, Arsen menyesap teh hangat itu hingga tandas. Rasa manis yang biasanya menenangkan batinnya, kini terasa hambar di lidah.
Pikirannya bercabang, terbagi antara rasa bersalah pada Rindu yang begitu tulus mengurusnya, tuntutan gila dari ibunya yang egois, dan tangisan istri sirinya di apartemen semalam yang menuntut kejelasan status.
Ia meletakkan cangkir kosong itu ke atas meja mini bar dengan tangan yang sedikit bergetar. Dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, Arsen bangkit berdiri. Tubuhnya terasa sangat berat, bukan hanya karena ia kurang tidur setelah menghabiskan malam di apartemen istri keduanya, tetapi karena beban moral yang kian hari kian mencekik lehernya.
Arsen melangkah gontai menyusuri anak tangga, menuju kamarnya sendiri, kamar yang ia bagi bersama Rindu.
Begitu ia membuka pintu kamar yang tidak tertutup rapat, ia melihat Rindu sedang membungkuk di depan lemari pakaian, dengan telaten menata kemeja santai dan menyiapkan handuk bersih di atas tempat tidur.
Melihat pemandangan itu, Arsen tertegun di ambang pintu. Kehangatan rumah ini selalu menyambutnya dengan tangan terbuka, namun Arsen tahu, ia telah membawa kotoran dan pengkhianatan masuk ke dalam tempat suci ini.
buatlah rindu bercerai dari Arsen & keluar dari keluarga toxic itu. aku ga rela rindu menderita lebih lama lagi 🥺🥹
btw jangan lama² bongkar kebusukannya si Arsen & Nia dong,Thor. kasihan banget di rindu...
tolong buat dia pisah dari Arsen & keluarga toxic nya itu lalu buat dia bahagia ya, Thor....🙏🫵🫰