Keira Wulandari — gadis adopsi dari perumahan subsidi, dianggap bodoh, jelek, dan tidak berguna.
Tapi tidak ada yang tahu... di kehidupan sebelumnya, dia adalah Blood Shadow — pembunuh nomor satu dunia, hacker terhebat, dan dokter legendaris.
Sekarang dia terlahir kembali. Dengan semua kemampuan dari kehidupan sebelumnya, dia kembali untuk melindungi adiknya, membalaskan dendam, dan membuat semua orang yang pernah meremehkannya berlutut.
Dan CEO konglomerat terkaya di Indonesia — Tan Hansel — yang dingin kepada semua orang kecuali dia?
"Dia istriku. Ada masalah?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Bab 008: Pertemuan Pertama
Dua hari setelah uang dari Keluarga Tan masuk, Keira membawa Bayu ke Grand Megawan Arcade.
Tempat itu terlalu terang untuk mereka. Lantai marmer mengilap, lift kaca, toko roti mahal, klinik spesialis dengan sofa empuk di ruang tunggu. Bayu melangkah hati-hati, bukan hanya karena kakinya, tetapi karena ia merasa sepatu sekolah lamanya bisa meninggalkan noda di lantai.
"Mbak, kita ngapain di sini?"
"Beli alat."
"Alat apa?"
"Untuk kakimu."
Bayu langsung berhenti. "Mbak, jangan. Di sini pasti mahal."
Keira menoleh. "Kamu mau kakimu sembuh atau mau hemat untuk terus sakit?"
Bayu kehilangan kata.
Di lantai tiga ada toko alat kesehatan kecil yang menjual perlengkapan akupunktur, alat fisioterapi, dan obat tradisional impor. Pemiliknya seorang lelaki tua Tionghoa dengan kacamata tebal.
Keira memilih jarum perak, alkohol medis, sarung tangan, dan beberapa bahan ramuan. Ia memeriksa kualitas jarum satu per satu. Pemilik toko yang semula malas melayani mulai memperhatikan.
"Mbak pernah belajar?"
"Sedikit."
"Sedikit tapi pilih jarumnya seperti dokter tua."
Keira tidak menjawab.
Ia meminta jarum dengan diameter berbeda, lalu menolak dua kotak karena ujungnya tidak cukup halus. Ia juga mengambil minyak pemanas otot dan kain steril yang tanggal produksinya paling baru. Bayu berdiri di sampingnya, makin lama makin diam.
"Mbak, ini untuk aku semua?"
"Sebagian."
"Sebagian lagi?"
"Cadangan kalau ada yang bodoh sampai terluka di depan rumah lagi."
Bayu tidak tahu apakah itu lelucon. Pemilik toko juga tidak. Keduanya memilih diam.
Bayu menatap harga di layar kasir dan wajahnya pucat. Keira membayar dengan kartu debit tanpa berkedip. Baginya, angka itu kecil. Bagi Bayu, angka itu mungkin sebesar satu semester biaya hidup.
"Mbak punya uang dari mana?"
"Kerja."
"Kerja apa?"
"Menolong orang yang hampir mati."
Bayu mengira itu bercanda. Ia tertawa gugup. Keira tidak menjelaskan.
Pada saat yang sama, Tan Hansel memasuki arcade dari pintu sisi barat.
Ia tidak datang untuk berbelanja. Yannic menemukan jejak transaksi kartu dari rekening yang menerima transfer lima ratus juta, tetapi Hansel melarang semua orang mendekati pemiliknya. Ia hanya ingin melihat dari jauh.
Namun begitu lift terbuka, ia melihat seorang gadis keluar dari toko alat kesehatan dengan tas plastik putih di tangan.
Tubuhnya tidak mencolok. Seragam sekolahnya sederhana. Rambutnya diikat asal. Di sampingnya ada anak laki-laki pincang yang memegang kantong obat dengan hati-hati.
Tapi matanya.
Hansel berhenti.
Ada orang yang lahir dengan mata lembut. Ada yang tumbuh dengan mata lelah. Gadis itu memiliki mata orang yang pernah menghitung hidup dan mati seperti angka.
Yannic yang berjalan di belakang hampir menabraknya. "Koh?"
"Diam."
Yannic mengikuti arah pandang Hansel dan melihat gadis yang sama dari laporan rekening. Ia sudah membaca datanya semalam. Keira Wulandari, nilai buruk, keluarga sederhana, tidak ada catatan medis. Data itu terasa masuk akal sampai orangnya berdiri di depan toko alat kesehatan dan membuat pemilik toko tua tampak seperti murid.
"Itu dia?" bisik Yannic.
Hansel tidak menjawab. Itu sudah cukup sebagai jawaban.
Keira merasakan tatapan itu sebelum melihat pemiliknya.
Naluri lama bergerak lebih cepat daripada pikiran. Ia menggeser posisi tubuh, membuat Bayu berdiri sedikit di belakangnya, lalu menoleh.
Tan Hansel.
Ia mengenali wajah itu. Bukan karena pernah bertemu, melainkan karena dunia bawah tidak pernah benar-benar jauh dari nama Keluarga Tan. Pria ini adalah paman Tan Yucen. Pengendali Tan Group. Orang yang cukup berbahaya untuk tidak didekati tanpa alasan.
Hansel juga melihatnya mengenali sesuatu.
Menarik.
Biasanya, orang yang mengenali Hansel menunjukkan salah satu dari tiga reaksi: takut, kagum, atau ingin memanfaatkan kesempatan. Gadis ini tidak menunjukkan ketiganya. Yang muncul hanya perhitungan cepat, seperti ia sedang menentukan apakah pria di depannya perlu dihindari, dilumpuhkan, atau dibiarkan hidup berdiri.
"Kamu Keira Wulandari?" tanyanya.
Bayu kaget. "Mbak kenal dia?"
Keira menjawab Hansel, bukan Bayu. "Kalau iya?"
Yannic menahan napas. Tidak banyak orang menjawab Hansel dengan nada seperti itu.
Hansel menurunkan pandangan ke tas alat kesehatan di tangannya. "Kamu membeli jarum perak."
"Toko ini menjualnya."
"Untuk siapa?"
"Untuk orang yang membutuhkan."
Sudut bibir Yannic bergerak sedikit. Jawaban itu sama sekali tidak sopan, tetapi juga tidak bisa disebut kasar.
Hansel menatap Bayu, lalu kembali ke Keira. "Kaki adikmu?"
Bayu otomatis menunduk.
Keira melangkah setengah inci ke depan. "Anda terlalu banyak bertanya untuk orang asing."
Hansel tidak tersinggung. Justru matanya lebih tenang. "Orang asing biasanya tidak menulis nomor rekening di lengan keponakanku."
Bayu menoleh cepat. "Mbak?"
Keira menatap Hansel tanpa mengubah ekspresi. "Keponakan Anda hidup?"
"Berkat seseorang."
"Kalau begitu transfernya sudah cukup."
Yannic benar-benar ingin tertawa kali ini. Ia menutup mulut dengan tangan.
Hansel melihat gadis di depannya. Biasanya orang menolak hadiah Keluarga Tan karena takut. Gadis ini menerimanya seperti biaya administrasi.
"Aku ingin berterima kasih."
"Sudah."
"Secara langsung."
"Tidak perlu."
Bayu berdiri kaku di antara percakapan yang tidak ia pahami. Ia hanya tahu pria di depan mereka tampak seperti seseorang dari dunia lain, terlalu rapi, terlalu mahal, terlalu berbahaya. Namun Keira berbicara kepadanya seolah pria itu hanyalah petugas parkir yang terlalu ingin tahu.
Ponsel Keira bergetar. Ia melirik layar. Pesan dari aplikasi lama yang tidak seharusnya aktif di tubuh ini muncul satu detik, lalu hilang.
Y.
Hansel menangkap gerakan matanya.
"Ada urusan?" tanyanya.
"Ada angkot."
Keira menarik lengan Bayu. Mereka berjalan melewati Hansel. Ketika bahunya hampir sejajar, Hansel mencium samar bau alkohol medis dan sesuatu seperti herbal pahit dari tasnya.
"Keira."
Ia berhenti, tetapi tidak menoleh.
"Kamu tahu siapa aku?"
"Tahu."
"Masih berani pergi begitu saja?"
Keira akhirnya menoleh sedikit. "Kalau Anda ingin menghentikan saya, coba saja."
Untuk pertama kalinya hari itu, Yannic melihat Hansel diam lebih lama dari biasanya.
Keira membawa Bayu turun dengan eskalator. Di luar arcade, panas Megawan menampar wajah mereka. Bayu masih seperti orang baru keluar dari mimpi.
"Mbak, dia siapa?"
"Orang kaya."
"Itu saja?"
"Untuk sekarang."
Di lantai atas, Hansel berdiri di balik kaca, menatap gadis itu sampai ia mencapai halte.
"Yannic."
"Ya, Koh."
"Cari tahu tentang Keira Wulandari. Pelan-pelan."
"Batasnya?"
"Jangan sampai dia tahu."
Yannic menatap ke bawah, tepat ketika Keira seperti merasakan sesuatu dan mendongak ke arah kaca. Untuk sesaat, pandangan mereka hampir bertemu.
"Koh," gumam Yannic, "kalau dia tahu?"
Hansel menatap gadis yang berdiri di halte dengan tas alat medis dan adik pincang di sampingnya.
"Maka kita minta maaf."
Yannic menoleh pelan. Ia belum pernah mendengar Hansel mengatakan kalimat itu lebih dulu kepada siapa pun.
Lalu angkot berhenti di depannya.
Angkot berhenti di depannya, dan ia naik tanpa menoleh lagi.