NovelToon NovelToon
Menantu, Tolong Ampuni Aku

Menantu, Tolong Ampuni Aku

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Balas Dendam / Menantu Pria/matrilokal / Kaya Raya / Tamat
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ardana Bayu

"Arga Pratama menjalani dua tahun sebagai menantu paling dihina di Jakarta. Keluarga istrinya memperlakukannya seperti benalu. Dia menanggung semuanya dalam diam.

Yang tidak ada yang tahu: dia adalah Acrux, investor anonim di balik Cakra Capital — kekayaan ratusan triliun dan masa lalu militer yang dirahasiakan pemerintah.

Sekarang, satu per satu, mereka akan tahu kebenarannya — dan menyesal."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Bab 034: Pindah ke Pinggiran Kota

Kiara mengemas barang-barangnya dari Rumah Anggrek pada akhir Mei.

Tidak banyak.

Itu yang paling mengejutkan.

Selama bertahun-tahun tinggal di rumah besar itu, ia mengira hidupnya memenuhi banyak ruangan. Namun ketika benar-benar memilih apa yang ingin dibawa, semuanya masuk ke dalam enam kardus: pakaian kerja, beberapa buku, laptop, dokumen pribadi, buku sketsa lama, dan sebuah kotak kecil berisi foto yang belum sanggup ia buang.

Ratna berdiri di pintu kamar, wajahnya lebih dingin daripada lantai marmer.

"Kamu benar-benar mau pergi dari rumah ini untuk tinggal entah di mana?"

Kiara menutup kardus terakhir. "Aku sudah bilang alamatnya."

"Pinggiran kota." Ratna mengucapkan kata itu seperti menyebut penyakit. "Kamu cucu Bu Agung. Mantan CEO Hartono Group. Apa yang akan orang katakan?"

"Orang sudah mengatakan banyak hal. Aku masih hidup."

"Jangan kurang ajar."

Kiara berhenti menempel lakban.

Dulu, kata itu cukup membuatnya mengecil. Hari ini, ia hanya merasa lelah.

"Bu, aku bukan pindah untuk mempermalukan keluarga. Aku pindah supaya bisa bernapas."

Ratna tertawa pendek. "Bernapas? Di rumah ini kamu punya semua."

"Tidak."

Satu kata itu membuat Ratna terdiam.

Kiara mengangkat kardus kecil berisi buku sketsa.

"Di rumah ini aku punya kamar, jabatan, sopir, meja makan, dan kewajiban. Tapi hampir tidak ada pilihan."

Ratna hendak menjawab, tetapi suara mobil masuk ke halaman membuatnya menoleh.

Arga datang tanpa banyak suara.

Ia tidak masuk ke kamar sebelum Kiara mengangguk. Ketika ia masuk, ia tidak menyapa Ratna dengan nada menantang. Ia hanya berkata sopan, "Bu Ratna."

Ratna menatapnya dari ujung kepala sampai kaki.

"Kamu yang membujuknya?"

"Tidak."

"Jangan pura-pura. Sejak kamu kembali, dia berubah."

Arga memandang Kiara sebentar.

"Mungkin dia memang sudah lama ingin berubah."

Kalimat itu membuat Ratna semakin marah karena tidak bisa langsung membantah tanpa mengakui ia tidak pernah mendengar anaknya.

Arga mengangkat dua kardus sekaligus.

"Yang ini dibawa?"

Kiara mengangguk.

Mereka bekerja tanpa drama.

Kardus turun ke mobil. Buku masuk ke bagasi. Beberapa pakaian digantung di kursi belakang. Tidak ada adegan keluarga menangis melepas anak pergi. Yang ada hanya pelayan yang menatap diam-diam, Ratna yang berdiri kaku, dan Bu Agung yang tidak muncul sama sekali.

Namun dari balkon lantai dua, tirai ruang pribadi Bu Agung bergerak sedikit.

Kiara melihatnya.

Ia tidak melambaikan tangan.

Mobil meninggalkan Rumah Anggrek menjelang sore.

Jakarta berubah perlahan di luar jendela. Jalan lebar Kebayoran, pagar tinggi, pohon tua, lalu ruko, warung, bengkel, gang sempit, kabel listrik yang kusut di atas kepala. Kiara melihat semuanya dengan mata yang belum terbiasa tetapi tidak ingin memalingkan wajah.

"Kamu yakin tempatnya dekat studio?" tanyanya.

"Lebih dekat daripada Rumah Anggrek."

"Kamu bilang sewanya murah."

"Rp 2.500.000 sebulan."

Kiara menoleh cepat. "Sebulan?"

"Ya."

"Itu bahkan lebih murah dari buket bunga Galang untuk acara Eyang."

"Buket itu juga cepat layu."

Kiara hampir tertawa, lalu menahan.

Gedung apartemen itu berdiri di pinggir jalan kecil. Cat luarnya pudar. Tangga sempit. Lift sering mati, menurut pengelola yang meminta maaf sebelum mereka bertanya. Unit mereka berada di lantai tiga, cukup tinggi untuk membuat pindahan melelahkan, cukup rendah untuk tetap bisa naik tangga tanpa mengutuk dunia terlalu lama.

Pengelola menyerahkan lembar sewa di meja plastik dekat pos keamanan.

"Kontrak enam bulan dulu, Mas, Mbak. Kalau mau perpanjang, kabari sebulan sebelumnya."

Kiara membaca angka di sana.

Rp 2.500.000 per bulan.

Deposit satu bulan.

Listrik token sendiri.

Air dibayar ke pengelola.

Tidak boleh memelihara hewan besar.

Tidak boleh memasang AC tambahan tanpa izin.

Tidak boleh menaruh sepatu di lorong.

Aturan-aturan kecil itu terasa anehnya nyata. Di Rumah Anggrek, Kiara tidak pernah tahu siapa yang membayar listrik, kapan air diperiksa, atau siapa yang mengganti lampu taman. Di sini, hidup datang dengan biaya dan tanda tangan sederhana.

Arga menandatangani sebagai penyewa utama, lalu menggeser kertas ke Kiara.

"Kamu mau ikut tanda tangan?"

Kiara menatapnya.

"Perlu?"

"Tidak. Tapi kalau kamu tinggal di sini, namamu juga boleh ada di sini."

Kalimat itu kecil.

Namun bagi Kiara, setelah bertahun-tahun namanya dipakai dalam dokumen keluarga yang tidak selalu ia pilih, kesempatan menaruh namanya di kontrak kecil yang ia setujui sendiri terasa lebih berarti daripada yang seharusnya.

Ia mengambil pena.

Kiara Hartono.

Tanda tangannya terlihat asing di kertas sewa murah itu.

Tetapi untuk pertama kalinya, asing tidak berarti salah.

Kiara masuk dan berhenti.

Ruangannya kecil.

Satu ruang tamu yang menyatu dengan dapur, dua kamar kecil, kamar mandi dengan keramik lama, jendela menghadap deretan atap seng dan jemuran tetangga. Di sudut, cat dinding mengelupas sedikit. Kipas angin langit-langit bergerak dengan suara tua.

Arga meletakkan kardus.

"Kalau kamu berubah pikiran, kita bisa cari tempat lain."

Kiara berjalan ke jendela.

Di bawah, seorang ibu memanggil anaknya pulang mandi. Penjual bakso lewat dengan bunyi sendok mengetuk mangkuk. Dari unit sebelah, terdengar televisi sinetron dan seseorang tertawa keras.

Hidup di sini tidak disembunyikan di balik pintu tebal.

Semuanya bocor sedikit ke udara.

"Tidak," kata Kiara.

Arga menatapnya.

"Kita coba."

Ia tidak tahu bahwa tempat itu bagian dari ujian kecil yang sengaja Arga susun. Arga ingin melihat apakah Kiara hanya memilihnya ketika ia muncul dengan helikopter, zamrud, dan pengacara mahal, atau apakah ia masih bisa duduk di sampingnya ketika dunia diperkecil menjadi dapur sempit dan kipas berisik.

Ia tidak bangga pada ujian itu.

Tetapi ia juga tidak ingin membangun ulang pernikahan mereka di atas kekaguman terhadap kekayaan yang belum ia jelaskan.

Malam itu mereka membongkar kardus.

Arga memasang rak kecil. Kiara menyusun buku. Mereka berdebat ringan tentang posisi meja kerja karena colokan listrik hanya ada di satu sisi. Arga memperbaiki kaki kursi yang goyang dengan potongan karton. Kiara mencoba memasak mie instan dan terlalu banyak menambahkan cabai bubuk.

Ketika listrik tiba-tiba padam selama lima menit, Kiara membeku di depan kompor kecil.

"Ini normal?" tanyanya.

"Kadang."

"Kamu terlalu tenang."

"Lampunya yang mati. Masa depan belum."

Arga menyalakan senter ponsel dan meletakkannya di dalam gelas bening agar cahayanya menyebar. Ruang kecil itu langsung diterangi cahaya lembut yang anehnya hangat.

Kiara menatap gelas itu.

"Kamu selalu punya trik untuk tempat sempit."

"Tempat sempit mengajari orang menghargai cahaya kecil."

Kalimat itu membuat Kiara diam lebih lama daripada yang ia rencanakan.

"Ini bisa membunuh orang," kata Arga setelah mencicipi.

"Kamu pernah menghadapi perampok bersenjata."

"Perampok tidak memakai cabai sebanyak ini."

Kiara tertawa sampai bahunya turun.

Tawa itu mengisi ruang kecil lebih baik daripada lampu mahal mana pun.

Larut malam, Kiara berbaring di kamar yang masih berbau cat lama dan kardus. Di luar jendela, suara motor lewat, anak kecil menangis sebentar, pintu besi ditutup, seseorang memutar radio pelan.

Di Rumah Anggrek, malam selalu terlalu sunyi.

Sunyi di sana seperti menunggu seseorang menghakimi.

Di sini, bisingnya tidak rapi, tetapi jujur.

Kiara menatap langit-langit.

Untuk alasan yang belum sepenuhnya ia mengerti, suara hidup dari luar jendela membuat dadanya lebih tenang.

Di ruang depan, Arga masih merapikan sesuatu pelan-pelan agar tidak mengganggunya.

Kiara menutup mata.

Kamar ini kecil.

Hidupnya tidak.

1
Solardy Lardy
joooss👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!