Kesalahan yang dilakukan Azalea Calista membuat suaminya kecewa dan berakhir ingin menceraikannya. Namun demi cinta yang tumbuh di hati Alea, dia bertekad untuk mengejar kembali cinta sang suami.
Sayangnya Alea harus kehilangan Fathan karena laki-laki itu pergi tanpa berpamitan. Hingga suatu hari, keduanya kembali dipertemukan dalam keadaan berbeda.
Akankah mereka kembali bersama atau justru memilih saling melepaskan bersama pasangan baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Alfattah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8 - Cafe
Hari beranjak siang, kelas Alea sudah bubar.
"Guys gue pulang duluan ya, gak sabar mau ketemu kesayangan." Dengan semangat wajah ceria, Alea melambaikan tangannya pada Vale dan Ayumi.
Asupan tadi cukup membuatnya bahagia dan yakin jika Fathan masih memiliki rasa, dia akan berjuang untuk mendapatkan Fathan lagi demi cintanya dan juga untuk Azka.
"Dah, jangan lupa berkabar. Pokoknya besok kita harus jalan-jalan mumpung malam Minggu," kata Vale.
"Eh mendingan malam Minggu ke rumah gue aja, Le, Val," ajak Ayumi.
"Nah, kali ini gue setuju sama ajakan Ayumi," balas Alea semangat, tentunya ingin tahu rumah baru Fathan dimana jadi dia bisa gencar mendekatinya.
"Ojolnya udah datang, dah guys, gue duluan."
Barulah Alea masuk ke dalam angkutan umum, bisa saja dia membawa kendaraan tapi untuk sekarang dia memilih menggunakan jasa orang lain, dia malas membawa kendaraan sendiri.
**********
Di tempat lain.
"Kamu habis dari mana saja sih Fathan? Sesibuk itukah sampai kamu tidak mengangkat telpon Silvi? Tidak menghiraukan panggilan dari ibu?" wanita paruh baya yang sudah melahirkan Fathan menggeleng heran sama kelakuan putranya.
Yang di tegur malah acuh.
"Fathan!"
"Bu, maaf, tadi banyak tugas yang harus Fathan kerjakan. Banyak anak pembimbing yang harus Fathan kasih bimbingan, lagian kalian menghubungi Fathan diwaktu tidak tepat, sudah tahu jam segitu lagi ngajar masih aja menghubungi."
Sebenarnya Fathan tahu, namun dia enggan peduli. Sudah tahu tujuan mereka menghubungi hanya untuk membahas masalah pernikahan yang jelas-jelas enggak ingin Fathan bahas.
"Maaf Fat, tapi sekarang kamu gak lagi sibuk kan? Aku mau ngajak kamu makan siang, itulah alasan tadi aku menghubungi mu," kata Silvi.
"Maaf aku ..."
"Fathan! Jangan menolak ajakan Silvi, kamu lupa siapa yang sudah ..."
"Iya Bu, Fathan gak lupa." Pria itu menghela nafas panjang, selalu saja seperti itu.
Setiap menolak yang dibahas ibunya pasti tentang jasa, jasa orangtua Silvi yang sudah mau membantu Fathan berobat demi kesembuhannya.
Pasca kecelakaan 3 tahun lalu, Fathan sempat koma 2 bulan dan kakinya mengalami cidera yang menyebabkan lumpuh sementara. Ibunya yang hanya penjaga toko sembako kecil tidak mampu membiayai pengobatan Fathan, tabungan yang Fathan punya pun sudah habis.
Untungnya ada keluarga Silvi yang mau membantu membiayai kesembuhan Fathan, berobat kesana kemari sampai Fathan kembali bisa berjalan lagi dan itu membutuhkan banyak uang.
Yang awalnya bilang ikhlas membantu ternyata setelah Fathan sembuh ada maksud tertentu. Untuk itulah mereka tidak menolak tawaran orangtuanya Silvi saat menjodohkan Fathan dengan putrinya, semata-mata karena balas budi atas kebaikan keluarganya terhadap Fathan.
Jika Fathan menerima karena terpaksa berbeda dengan Silvi, gadis berusia 26 tahun itu menerima ikhlas perjodohannya, tentunya dengan alasan mengagumi sosok Fathan.
Setelah sembuh Fathan kembali mencari pekerjaan, beruntungnya dia diterima kerja. Dari sana lah kinerja Fathan dilihat hingga bisa menjadi salah satu dosen.
**********
"Mama." pekik bocah tampan berlari menghampiri sang ibu.
"Jangan lari-lari Azka." Dengan khawatir, Alea pun ikut berlari, berjongkok menyambut putranya.
Memeluk erat seraya mencium pipi gembul sang putra.
"Hmmm wangi banget anak ganteng mama."
"Atu udah mandi."
"Wah, mandi lagi?" Lalu Alea melirik Gavin.
"Biasa main air, sekalian aja om mandiin," sahut Gavin seraya membereskan mainan yang berserakan.
"Mandi bola, buca, banyak kali," timpal Azka berceloteh riang.
"Pantesan wangi sabun." Kemudian Alea berdiri menggendong Azka. "Tapi jangan keseringan main air ya, nanti Azka sakit, mama sedih kalau Azka sakit."
"Mama jangan cedih, atu juja cedih."
Alea terkekeh melihat raut wajah sedih putranya. Semakin hari tumbuh kembang Azka makin pesat, susahnya banyak kosakata yang bisa Azka ucapkan dan tentunya nyambung diajak bicara.
Lingkungan mereka tergolong banyak orang maka dari itu banyak pula orang-orang ikut membantu Azka berbicara.
"Kamu sudah makan siang Le?"
"Belum Om, makanya kesini mau minta makan. Punya Om pemilik cafe aneka macam makanan kenapa tidak dimanfaatkan?"
"Ck, kamu ini. Padahal cafe ini punya kamu juga. Kalau gitu kita makan bareng aja, Om juga belum makan siang." Ajak Gavin berjalan keluar ruangan.
Keluarga Alea dan Gavin mempunyai usaha Cafe yang terbilang cukup terkenal di beberapa kota. Usahanya sudah turun temurun dan makin lama makin berkembang, tapi keduanya selalu berpenampilan sederhana tidak mencerminkan seperti orang kaya.
Di waktu yang sama, Fathan dan Silvi juga mencari tempat makan. Keduanya tidak berdua saja, ibunya Fathan ikut dan tentunya di ajak oleh Fathan sendiri. Setiap bepergian dengan Silvi, Fathan lebih suka mengajak ibunya. Alasannya karena dulu dia terlalu sibuk di ibukota sampai tidak punya banyak waktu dengan ibunya.
Selain alasan itu Fathan juga tidak ingin berduaan terlalu lama sama Silvi, entahlah, rasanya dia males jalan berdua. Berpenampilan alim namun entah mengapa selalu menempel padanya.
"Kalian pesan saja duluan, aku mau ke toilet dulu," ucap Silvi berpamitan kepada keduanya.
Rima serta Fathan mengangguk, mereka lebih dulu mencari tempat duduk.
"Kita duduk disana, Bu."
"Fat, apa sebaiknya kalian cepat menikah?" tanya Ibu seraya duduk, sedangkan Fathan mencari pelayan kemudian mengangkat tangannya.
"Nanti aja Bu, Fathan belum siap."
"Mau pesan apa mas, Bu?" pelayan yang dipanggil menghampiri, memberikan menu makanan andalan di cafe itu.
Kemudian Fathan dan ibunya menyebutkan beberapa makanan serta minuman.
"Tunggu sebentar ya."
Fathan dan Ibunya mengangguk baru pelayan itu pamit ke belakang.
"Ibu gak enak sama keluarganya Silvi," lirih ibu merasa bersalah pada putranya.
"Mau gimana lagi? Kita terlalu banyak hutang budi sama mereka. Di batalkan pun percuma karena mereka mengancam kita, aku juga bingung Bu."
Di tempat yang sama.
Alea tertawa mendengar cerita Gavin, keduanya berjalan mencari tempat duduk dan tanpa Alea sadari tawanya mengundang perhatian seseorang, Fathan.
Pria itu merasa kenal sama tawa Alea, dia mencari-cari asal suaranya.
"Alea! Dia disini juga?" gumamnya dalam hati, namun rahangnya mengeras, tangan di bawah meja mengepal ketika melihat keakraban Alea bersama laki-laki yang ia temui malam itu.
"Apa-apaan ini? Tadi dia seenaknya padaku sekarang malah tertawa sama pria lain." Hatinya bergemuruh kesal.
"Fat, kok Silvi lama ya? Ini makanannya udah datang tapi Silvi nya belum kembali dari toilet."
"Ihm om, jangan rese deh, rambut aku berantakan tahu." Tentu saja kesal rambutnya di acak-acak.
"Habisnya kamu gemesin, makin sayang deh sama kamu."
"Harus lah, aku kan satu-satunya orang yang om sayang, eh sekarang jadi dua sama Azka." Alea tersenyum manis, bersyukur punya om seperti Gavin.
"Atu juja cayang Ayah Gavin, cayang mama juja," celetuk Azka.
Interaksi mereka diperhatikan oleh Fathan.
"Siapa anak itu? Apa mereka sudah menikah dan itu anak mereka?" lagi-lagi Fathan berucap dalam hati.
"Ec klim, atu mau ec klim." Mata jernih Azka tertuju pada es krim kesukaannya. Dia turun dari kursi berlari keluar. "Mang ec klim, atu beli."
"Eh, Azka hati-hati jangan lari." Alea mengejarnya, tidak ingin terjadi sesuatu pada sang putra.
Bruk.
"Aduh, cakit."
"Kalau jalan lihat-lihat dong! Bocah nakal!" Bentak orang itu.
"AZKA!"