Dalam setiap alur cerita novel ini, mengandung harapan dan doa baik untuk kehidupan author yang lebih bahagia ke depannya.
Di usia dua puluh lima tahun, Raya Nareswari masih berjuang mencari pekerjaan yang layak. Nasib membawanya bertemu Bram dan Sinta Mahendra setelah ia pingsan saat hendak melamar kerja di kota. Karena terpesona oleh ketulusan dan kepribadian Raya, Sinta mengangkat gadis berhijab itu sebagai karyawan di butik miliknya.
Seiring waktu, Bram dan Sinta berniat menjodohkan Raya dengan putra tunggal mereka, Juan Arsen Mahendra, seorang CEO tampan yang tak pernah sekalipun memperkenalkan wanita kepada keluarganya. Kedekatan Juan dengan asisten pribadinya bahkan membuat kedua orang tuanya curiga bahwa sang putra tidak tertarik pada perempuan.
Awalnya Juan menolak kehadiran Raya. Namun perlahan, ketulusan gadis desa yang sering diremehkan itu berhasil meluluhkan hati pria yang dikenal dingin dan sulit didekat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akad yang Syahdu
Satu Minggu kemudian.
Hari ini akad akan dilangsungkan setelah kesepakatan Minggu lalu didalam kamar milik Bu Sinta. Juan yang mengalahkan egonya sendiri demi kesehatan ibunya dan Raya demi melunasi hutang piutang Maimun, pernikahan ini terjadi karena dua insan yang tidak saling mengenal itu bersatu demi keselamatan ibu masing-masing.
Kenapa harus wanita desa itu sih ma, memang tidak ada wanita pilihan yang lain?
Protes Juan saat itu. Pria gagah tinggi tegap itu sering menilik Raya, menurutnya Raya ini terlalu polos dan kecil untuk Juan.
Mama tau wanita yang pas untuk kamu Juan, mama yakin Raya bisa menyembuhkan otak kamu yang miring itu.
Pagi dikediaman rumah Raya tampak ramai, rumah gaya klasik itu kini sudah dipenuhi oleh kerabat dekat Maimun, bisik bisik tetangga di warung sayur saling bersahutan.
"Kok bisa nikahnya secepat ini?" Bu Mustika
"Ah kaya gak faham aja sama anak sekarang Bu, wajah aja polos tapi nyatanya mereka bergaul dengan lawan jenis itu sudah di luar batas." tukas Bu Siti.
Seperti biasa dua ratu gosip itu akan memantik api di warung sayur, sehingga para ibu-ibu mulai berkumpul untuk mencari informasi yang sedang hangat-hangat nya saat ini. Yaitu pernikahan Raya dengan seseorang pria, yang terkesan mendadak.
"Kalau bahasa gaul nya mah living together, kalau diterjemahkan ke bahasa kitamah kumpul kebo." timpal Bu Siti, mulutnya sampe miring-miring. Demi menarik perhatian dari ibu-ibu lain yang mulai berdatangan.
"Gak nyangka yah sama si Raya, dia bisa menjual kecantikannya di kota besar"
"Ah udah bolong duluan kali Bu, jadi cepet-cepet dinikahin. Kalau dibiarin takut telat cabutnya nanti. Nanggung malunya sampai sembilan bulan." tukas ibu-ibu yang lain sambil didukung oleh Bu Siti dan Bu Mustika.
"Pergaulan jaman sekarang serem-serem ya Bu, baru sebulan pergi ke kota aja udah se liar itu Raya, padahal disini Raya terkenal dengan gadis yang baik dan penurut. Lingkungan emang berpengaruh sekali."
Gosip di warung sayur dan sembako itu makin memanas.
kembali ke kediaman rumah Raya.
Pada halaman rumah klasik itu sudah dipasangi hiasan sederhana, tidak terlalu ramai tapi indah dengan dipenuhi oleh bunga mawar putih dengan daun yang hijau. Akad akan dilangsungkan dihalaman rumah Raya yang cukup luas untuk dijadikan plataran acara akad dan resepsi.
Raya sudah selesai dihias dan memakai make up dengan MUA langganan Bu Sinta, gadis berusia 25 tahun itu terlihat pangling, make up menutup wajah cantik natural milik Raya, kini wajah Raya terlihat sangat segar dan sangat cantik.
Pakaian adat Sunda yaitu kebaya putih yang sangat pas di tubuhnya yang mungil dengan tinggi badan hanya 155 sentimeter. Kebaya itu membingkai indah lekukan tubuh milik Raya, tidak lupa Bros jangan tersemat rapi didepan dada Raya. Mempelai wanita tampak cantik dan elegan dengan hijab berwarna putih membingkai wajah imutnya, untaian melati yang tersemat dari sanggulan rambut semakin menambah kesan elegan.
Siapa yang melihat Raya pasti akan terpesona di hari itu.
Raya menunduk, sesekali matanya yang bulat indah itu melirik ke arah jam dinding, sebentar lagi mempelai pria akan sampai. Hal itu membuat jantung Raya semakin berdebar. Jemarinya saling bertaut, tidak lupa bibirnya selalu mengucapkan untaian doa untuk kelancaran akadnya dengan Juan.
Para ibu-ibu yang bergosip riang tadi mulai berkumpul di dekat halaman rumah Raya.
Bu Siti, Bu Mustika dan Maimun saling lirik, tidak lupa tiga orang yang sering berdebat itu memamerkan perhiasan yang memenuhi pergelangan tangan mereka.
Beberapa menit kemudian dua mobil mewah datang, dua mobil yang terlihat gagah itu membelah jalanan desa Sukarumpi, ibu-ibu disana pada melongo kaget mereka sangat jarang sekali melihat mobil mewah seperti itu lewat di desa mereka.
"Ah palingan juga mobil dapet pinjam" ucap Bu Siti sambil mengibas ngibaskan wajahnya dengan kipas angin. Bukan wajahnya yang panas melainkan hatinya yang kepanasan melihat rombongan mobil mewah yang kini sudah terparkir dengan gagahnya.
Para warga yang berkumpul itu makin kaget kala melihat mempelai pria yang di gandeng oleh Bu Sinta dan Pak Bram.
Juan tampak sangat gagah dengan stelan kemeja putih yang dilapisi oleh jas hitam mahal mengkilat, sangat rapi tidak terlihat kusut dicelah manapun. Wajah Juan yang terkesan tegas dengan sorot mata yang dalam dan tajam, guratan wajah rapi dan hidung yang Bangir.
Para warga melongo seolah tersihir oleh ketampanan yang dimiliki Juan.
"Beruntung sekali Raya,"
"Kalau semuanya setampan itu, aku juga pasti langsung jatuh hati." ucap para gadis desa yang belum diberi kesempatan untuk pergi keluar kota.
"Kaya artis Hollywood banget, wajah calonnya Raya."
Bisik-bisik pujian itu makin membuat kepala Bu Siti dan Bu Mustika pening, Bu Siti semakin kencang mengibas-ngibaskan kipas nya. Matanya yang culas sesekali mendelik pada para gadis yang sedang memuji ketampanan calon suami Raya.
Karena sudah siang, jadi akad akan segera dilangsungkan.
Juan sudah duduk berhadapan dengan Rifki, Abang Raya yang akan menjadi wali nikahnya. Sementara di ambang pintu Raya sudah di gandeng menuju tempat sakral, meja akad. Ketika Raya keluar dari arah rumah belakang, semua mata tertuju pada gadis cantik itu. Kecuali Juan, pria itu terus menatap kosong ke arah depan tidak berniat untuk melirik sang calon istri. Wajahnya yang terlihat tegas semakin menambah kesan ketampanan.
Raya mulai mendudukan tubuhnya disebelah Juan, jantungnya berdegup tak karuan.
Tapi dalam hatinya tertanam rasa sedih, kala mengingat pria yang akan menjadi suaminya itu tidak akan pernah tertarik dengannya, dan tidak akan tertarik dengan wanita manapun.
Bang Juan jikalau kamu ini adalah pria normal, aku akan merasa sangat berbahagia sekali dengan pernikahan ini.
Batin Raya, sambil melirik pria yang sedang mengeraskan rahang disebelahnya.
Jantung Raya semakin berdegup kencang kala tangan Juan dan Rifki mulai berjabat, beberapa menit lagi ia akan berubah status menjadi istri Juan Arsen Mahendra.
Bismillahirrahmanirrahim
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau, Juan Arsen Mahendra bin Bram Mahendra , dengan adik kandung saya, Raya Nareswari binti Ahmad , dengan maskawin berupa logam mulia seberat seratus gram kadar 99,99%, satu set perhiasan berlian, sebuah jam tangan mewah, dan uang tunai sebesar lima ratus juta rupiah, dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Raya Nareswari binti Ahmad dengan maskawin tersebut, dibayar tunai."
Suara Juan mengalun tegas dan syahdu dengan satu tarikan nafas, dan satu kali berucap.
"SAH..."
Bersambung
Jangan lupa like ya readers, author minta dukungan nya untuk novel baru author.