Sepuluh tahun lalu, orang tua Halra Wiragata tewas mengenaskan setelah sistem mobil listrik mereka diretas secara sadis oleh Dinasti Joharo. Kini, tepat di usianya yang ke-17, takdir mempermainkan Halra dengan cara yang paling kejam: ia dipaksa menikah dengan Sano Joharo, putra bungsu dari pembunuh orang tuanya.
Terjebak di dalam mansion siber milik Sano yang serba otomatis, paranoia Halra memuncak. Demi melindungi diri dari sang suami yang dingin dan berbahaya, Halra nekat menyewa Tazam, pengawal pribadi tampan untuk berpura-pura menjadi kekasih gelapnya demi memicu kecemburuan Sano.
Namun, permainan api itu justru membongkar konspirasi berdarah yang jauh lebih besar. Saat topeng-topeng mulai runtuh di bawah satu atap, Halra harus menghadapi kenyataan mengerikan: Siapakah yang sebenarnya menjadi tameng terakhirnya, dan siapa musuh dalam selimut yang siap melenyapkannya dari balik server?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellsqueen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesta Topeng dan Luka Lama
Ballroom Hotel Wiragata malam itu bermandikan cahaya lampu kristal yang menyilaukan. Halra Wiragata melangkah masuk dengan gaun sutra hitam backless yang memamerkan kulit putih porselennya. Posturnya yang semampai, rambut hitam lebat yang tergerai hingga ke pinggang, serta pesona alami seorang wanita muda berusia 20 tahun yang sedang mekar-mekarnya, membuat setiap pria merasa tidak layak menatapnya terlalu lama.
Di sampingnya, Sano Joharo berjalan dengan rahang mengeras, tangannya mencengkeram pinggang Halra dengan posesif. Di belakang mereka, Tazam datang dengan mobil pribadinya—sebuah langkah yang tidak lazim bagi seorang pengawal—berdiri tidak jauh di belakang mereka, mematikan gerak-gerik Sano dengan tatapan yang selalu waspada.
Baru saja mereka melangkah lebih dalam, langkah Sano terhenti. Di depan mereka, berdiri seorang wanita cantik dengan perhiasan berlian yang mencolok: Savhelicha. Bagi Halra, wanita itu hanyalah ibu tiri Sano yang dikenal sebagai sosialita berpengaruh. Halra sama sekali tidak tahu bahwa di masa lalu, Savhelicha adalah kekasih Sano, dan ada sejarah kelam yang membuat wanita itu berakhir di pelukan ayah kekasihnya sendiri.
Savhelicha menatap Halra dari ujung kaki hingga ujung kepala, matanya menelusuri lekuk tubuh Halra dengan tatapan meremehkan yang sarat akan kebencian.
"Jadi, ini 'piala' yang kau dapatkan, Sano?" suara Savhelicha terdengar manis namun beracun. Ia tertawa kecil, melirik Halra dengan sudut matanya. "Masih sangat muda, ya? Sayang sekali, Halra. Kau mungkin beruntung terlahir kaya dan cantik, tapi di dunia ini, kecantikan hanyalah pajangan yang akan cepat memudar jika kau tidak punya otak untuk bertahan hidup."
Halra mengerutkan kening, bingung dengan intensitas kebencian wanita itu. "Saya tidak mengerti apa maksud Anda, Nyonya Savhelicha. Tapi saya rasa komentar Anda tidak pantas dilontarkan di acara ini."
Savhelicha tertawa sinis, lalu mendekat, berbisik tepat di telinga Halra, "Tentu saja kau tidak mengerti. Kau pikir kau istri yang dipilih karena cinta? Kau hanya pion. Bahkan kau tidak tahu misi apa yang sebenarnya disepakati Sano dengan nenekmu di balik pintu tertutup sebelum dia menikahimu."
Kata-kata itu menghantam Halra seperti pukulan telak. Misi? Perjanjian dengan neneknya? Halra menatap Sano, berharap suaminya akan membantah, namun Sano hanya diam, matanya menatap Savhelicha dengan kebencian yang dalam dan tersembunyi.
"Ternyata kau memang menyembunyikan sesuatu dariku, Sano," desis Halra, suaranya bergetar. Ia hendak melangkah pergi bersama Tazam, namun sebuah suara tua yang berwibawa menghentikan langkahnya.
"Halra, cucuku."
Itu adalah Nenek Daisa. Halra mematung. Di hadapan sang nenek, ia tidak mungkin membuat keributan. Ia menelan amarahnya bulat-bulat, meski tatapannya pada Sano kini dipenuhi dengan rasa curiga dan luka yang mendalam. Sano segera memanfaatkan momen itu, menarik lengan Halra dengan lembut namun tegas untuk menjauh dari Savhelicha.
Beberapa saat kemudian, Sano harus pergi sejenak untuk urusan sekutu, meninggalkan Halra di dekat pilar. Saat Halra berjalan mencari udara segar di koridor samping yang minim cahaya, langkahnya terhenti. Dari celah pintu ruang VIP yang sedikit terbuka, ia melihat Sano berdiri berhadapan dengan Savhelicha. Cahaya di ruangan itu redup, memberikan kesan gelap dan intim.
Halra terpaku. Di pandangannya, ia melihat Savhelicha mendekat dan menyentuh dada Sano dengan jemarinya yang lembut, sementara Sano tampak menunduk mendekati wajah wanita itu. Bagi Halra, mereka terlihat sedang bermesraan. Dunia Halra seolah runtuh.
Namun, kenyataannya jauh berbeda. Sano sedang mencengkeram pergelangan tangan Savhelicha dengan tatapan penuh ancaman. "Jangan pernah berani menyentuh Halra lagi, atau aku akan memastikan posisi ayahku tidak akan pernah aman," bisik Sano dengan nada rendah yang membunuh.
Savhelicha, yang menyadari kehadiran Halra dari sudut matanya, justru tersenyum licik. Ia tidak menarik diri, malah semakin merayu Sano dengan gerakan yang sangat provokatif, mencoba memancing reaksi Halra. Halra yang tidak mendengar percakapan itu, segera memalingkan wajah dengan hati yang hancur.
Saat pintu tertutup rapat, Sano menepis tangan Savhelicha dengan sangat kasar, wajahnya dipenuhi rasa jijik yang luar biasa. "Jangan pernah memancingku lagi, Savhelicha. Kau tahu apa yang bisa kulakukan padamu."
Halra berjalan menjauh di lorong dengan air mata yang hampir menetes, tidak menyadari bahwa ia baru saja menjadi korban kesalahpahaman terbesar dalam hidupnya. Di ujung lorong, Tazam menunggu dengan wajah datar, namun saat ia melihat ekspresi hancur di wajah Halra, ada kilatan cahaya yang aneh di matanya—seolah ia senang melihat keretakan yang semakin dalam ini.
Halra mematung sejenak di balik pilar, napasnya tersengal. Rasa sakit di dadanya begitu nyata, namun ia adalah seorang Wiragata. Ia tidak akan membiarkan siapa pun, terutama Savhelicha, melihatnya hancur. Dengan tangan yang sedikit bergetar, ia mengeluarkan cermin kecil dari clutch-nya, memperbaiki riasan wajahnya dengan presisi yang dingin, lalu mengusap sisa air mata di sudut matanya.
Ia menarik napas dalam, membetulkan letak gaunnya, dan memasang topeng ketenangan yang sempurna. Ia kembali ke ballroom seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.
Halra menghampiri Nenek Daisa yang sedang dikelilingi oleh para kolega lama. Ia menyapa dengan senyum yang menawan, berbincang dengan anggun seolah ia adalah cucu yang paling bahagia di dunia. Tak lama kemudian,Sano kembali dari ruangan VIP tadi—masih dengan wajah yang tegang namun mencoba tampil profesional. Melihat Halra sedang bersama Nenek Daisa, Sano mendekat dan merangkul pinggang istrinya dengan tangan yang terasa seperti besi panas di kulit Halra.
"Halra, ayo kita temui beberapa sekutu penting di sisi lain," bisik Sano di telinganya.
Halra hanya mengangguk tanpa suara. Sepanjang sisa malam itu, mereka berdua berkeliling, menemui tamu-tamu penting, dan menjaga citra sebagai pasangan yang serasi. Bagi para tamu, mereka tampak seperti power couple yang tak terpisahkan. Namun bagi Halra, setiap sentuhan Sano adalah siksaan yang membakar kulitnya. Ia membalas setiap perkataan Sano dengan kalimat-kalimat yang sopan namun tajam, menjaga jarak emosional yang kini membentang ribuan mil di antara mereka.
Ketika acara berakhir, suasana di luar hotel yang dingin menjadi kontras dengan api kemarahan yang berkecamuk di dalam diri Halra.
Di depan lobi, mobil Sano sudah menunggu dengan pintu yang dibukakan oleh sopir pribadinya. Sano memberi isyarat agar Halra masuk.
"Masuklah," ucap Sano datar.
Halra tidak bergeming. Ia menoleh ke arah Tazam yang berdiri di samping mobil pribadinya tak jauh dari sana.
"Aku pulang dengan Tazam," ucap Halra singkat.
Sano mengernyit, urat di pelipisnya menegang. "Halra, jangan memancing masalah di depan umum. Masuk ke mobilku."
"Aku lelah, Sano. Aku tidak sudi duduk di satu ruang yang sama denganmu malam ini," potong Halra dengan suara dingin yang mutlak. Sebelum Sano sempat merespons atau melarang, Halra sudah melangkah pergi.
Tazam, dengan sigap dan tanpa sepatah kata pun, membukakan pintu mobil untuk Halra. Ia melirik Sano sejenak dengan tatapan yang sulit diartikan—sebuah tatapan kemenangan yang tersembunyi di balik sikap pengawal yang patuh.
Sano berdiri mematung di samping mobilnya, memperhatikan mobil yang membawa Halra perlahan meninggalkan area hotel. Ia tahu bahwa kesalahpahaman ini telah mengubah segalanya. Ia ingin mengejar, namun ia terikat oleh posisi dan gengsi yang harus dijaga.
Di dalam mobil, Halra menatap ke luar jendela yang gelap, memikirkan misi rahasia antara Sano dan Nenek Daisa, serta bayangan mesra Sano dan Savhelicha yang terus menghantui benaknya. Ia tidak tahu bahwa ia baru saja membuka pintu bagi Tazam untuk masuk lebih jauh ke dalam kehidupannya.
Malam itu, di dalam paviliun yang kini menjadi benteng satu-satunya, Halra bersumpah akan menemukan kebenaran—apa pun harganya.
Halra kini telah sampai di paviliun dengan kemarahan yang tertahan.