RAVEN KRISHNAWARDHANA (18 tahun ) adalah putra tunggal dari keluarga pengusaha kaya yang sangat berpengaruh dalam dunia bisnis. Namun sosoknya yang angkuh, susah diatur, dan sering menghabiskan waktu untuk nongkrong bareng geng motornya.
Membuat kedua orang tua Ravan langsung menyetujui usulan perjodohan yang di usulkan rekan bisnisnya, mereka berharap dengan menikah Raven bisa berubah. Namun bukan Raven namanya jika tak menolaknya mentah-mentah, ia tidak mau terikat perasaan sama wanita manapun, ia hanya ingin menikmati masa mudanya bersama geng motornya.
Sampai suatu hari, ia bertemu Sara, murid baru yang misterius yang baru pindah dari luar negeri.
Gadis itu bernama SAVIRA AURELIA alias Sara 17 tahun. Sara, cantik pintar, ceria tapi misterius. Karena kecantikan alaminya, ia tak jarang jadi rebutan para remaja laki-laki di sekolah barunya dan itu membuat seorang Raven Krishnawardhana terpaksa menarik kata-katanya, karena kini perasaannya yang terjebak dalam pesona murid baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Kepala Desa mulai melontarkan pertanyaan satu demi satu dengan wajah yang penuh keseriusan, matanya tidak pernah lepas dari wajah Raven dan Sara yang duduk di depannya. Keduanya menjawab dengan sikap tenang dan tegas, menceritakan kejadian yang sebenarnya, bahwa mereka hanya mencari tempat berteduh karena hujan deras yang tiba-tiba mengguyur, dan sama sekali tidak melakukan hal yang dituduhkan.
Namun sayangnya, setiap kata yang keluar dari bibir mereka hanyalah angin lalu, tak pernah sampai ke telinga para warga yang sudah terpengaruh oleh kesalahpahaman.
Para saksi mata yang tadi mengaku menemukan mereka berdua justru berseru lebih keras, suara mereka bergema di ruangan balai desa yang sesak. Mereka meyakinkan semua orang dengan keyakinan yang tak tergoyahkan bahwa mereka melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Raven dan Sara berduaan di gubuk kosong itu dengan posisi yang dianggap sangat tidak pantas untuk pasangan muda yang belum menikah.
"Sudahlah! Jangan berkelit lagi! Kami sudah yakin dengan apa yang kami lihat!" seru salah satu warga perempuan dengan emosi memuncak.
Karena tak menemukan jalan damai dan tekanan dari warga semakin besar, Kepala Desa dengan tegas memutuskan untuk memanggil orang tua atau keluarga keduanya untuk menyelesaikan masalah ini.
Saat dimintai nomor kontak keluarga, Sara hanya duduk diam kaku seperti patung, bibirnya menekuk erat. Ia dengan tegas mengaku tinggal sendiri di kota ini sebagai pendatang baru, ia juga mengaku tak punya sanak saudara atau keluarga dekat yang bisa dihubungi. Ia sengaja tak menyebut nama Leon, takut hal ini sampai terdengar oleh kakeknya dan justru memicu masalah yang jauh lebih besar.
Akhirnya giliran Raven yang mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya. Ia menekan satu nomor kontak dengan wajah yang terlihat sangat malas. "Mommy, bisa datang ke alamat yang udah Raven kirim barusan penting!" ucap Raven to the poin begitu sambungan telpon tersambung.
Tak butuh waktu lama, suara deru mesin mobil terdengar dari luar balai desa, lalu sebuah mobil mewah berwarna hitam perlahan berhenti tepat di depan balai desa. Dari dalam mobil itu turun sepasang suami istri yang tampak berwibawa. Maria dengan tampilan elegannya dan Devan yang masih menenangkan jas kantornya.
"Maaf, sebelumnya sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kami dipanggil ke balai desa dengan tergesa-gesa seperti ini?" tanya Devan dengan nada tegas sambil memutar lehernya, menatap satu per satu wajah orang yang ada di ruangan itu dengan tatapan tajamnya.
"Ini Pak," jelas Kepala Desa dengan sikap sopan namun tetap tegas. "Anak Bapak dan gadis muda yang bernama Sara ini baru saja tertangkap basah sedang berbuat perbuatan tidak senonoh di gubuk kosong yang ada di pinggir jalan kampung kami."
Devan menoleh dengan cepat, menatap tajam ke arah Raven yang duduk dengan pundak tegak di sisi Sara. Meski anaknya terkenal sebagai pemuda yang keras kepala dan sering terlibat dalam tawuran, ia tahu betul bahwa Raven bukan tipe pemuda yang akan melakukan hal rendahan seperti yang diduga oleh warga, bahkan Raven sendiri pernah mengucapkan jika ia tak ingin terlihat perasaan sama wanita manapun.
"Benarkah apa yang dikatakan Pak kepala desa, Raven?" tanyanya lantang dan tegas, ia ingin mendengar secara langsung dari mulut putranya.
"Tentu saja tidak benar, Dad!" jawab Raven dengan nada tenang tanpa sedikit pun ragu. "Kami cuma sedang berteduh karena hujan tiba-tiba datang deras. Semua ini adalah murni kesalahpahaman yang tidak perlu diperbesar."
"Sudah tertangkap basah malah masih saja ngeles dan mencari alasan! Dasar anak muda jaman sekarang! Tak punya etika!" potong salah satu warga yang tak terima dengan sikap Raven yang menurutnya seolah menyepelekan hal ini, membuat suasana menjadi semakin panas.
Sara yang sejak tadi hanya menunduk dan menyembunyikan wajahnya di balik rambut yang sedikit berantakan, kini mengangkat kepala dengan hati-hati hendak membela diri sekali lagi. Namun kalimat yang akan keluar dari bibirnya langsung tertahan saat matanya secara tidak sengaja beradu pandang dengan mata Maria yang juga sama terkejutnya saat menyadari siapa gadis yang terjebak bersama putranya.
"Wajah Mommy-nya Raven seperti tidak asing!" gumam Sara dalam hati.
"Hah! Diakan gadis cantik yang dua hari lalu menolongku!" cicit Maria dalam hati.
Entah mengapa, wanita yang tadinya tampak kecewa dan khawatir kini justru tersenyum penuh arti terukir di bibirnya, seolah menemukan jawaban atas doanya.
"Kalian tak boleh menghakimi sembarangan!" protes Devan. "Saya yakin mereka jujur!"
"Sudah pak kades, langsung nikahin saja mereka, kami gak mau desa ini kena sial gara-gara kelakuan anak muda ini." potong salah satu warga dengan suara yang lebih keras, menekankan setiap kata yang keluar dari mulutnya. "Satu-satunya cara agar kampung kami tidak kena sial, mereka harus nikah hari ini juga sebelum matahari terbenam!" seru yang lainnya, suasana semakin mendesak dan menuntut.
"Sudah-sudah tenang dulu semua!" tegas Pak kades menenangkan warganya.
"Pak, Ibu, masalah ini harus kita selelesaikan sesuai dengan peraturan desa kami sejak dulu, bagi yang ketangkap basah melakukan hal tak pantas tanpa ikatan pernikahan maka akan di nikahkan."
"Tapai ini tidak adil bagi mereka berdua! Mereka masih sekolah, dan ini pasti hanya kesalahpahaman saja!" Devan masih berusaha menawar dengan penuh harapan agar Kepala Desa bisa berpikir ulang.
"Baiklah."
Suara lembut namun mantap dari Maria tiba-tiba menyela perdebatan yang semakin memanas. Seketika semua mata di ruangan itu tertuju padanya, termasuk Raven, Sara, dan juga Devan yang menatapnya dengan ekspresi wajah yang sama-sama tidak percaya.
"Kalau itu yang membuat hati semua warga kampung menjadi tenang dan juga bisa membersihkan nama baik anak saya serta gadis ini, maka nikahkan saja mereka sekarang juga," ucap Maria dengan sikap yang santai bahkan sedikit riang, sambil mengangkat bahu dengan penuh keyakinan.
"Mom!" seru Raven.
"Tante!" gumam Sara kaget.
"Sayang?! Apa yang kamu katakan?!" tanya Devan tak percaya.
"Nah, begitu dong dari tadi! Tidak usah lagi buang-buang waktu dengan omong kosong yang tidak berguna! Berani berbuat berani bertanggung jawab, enak saja mau meninggalkan sial di desa kami begitu saja!" sahut salah satu warga dengan suara lega, diikuti oleh sorakan gembira dari beberapa warga lainnya yang sudah menanti keputusan ini.
Tanpa menunggu lama. Penghulu segera maju. Pernikahan kilat pun berlangsung singkat di sana. Mas kawinnya adalah motor sport kesayangan Raven, satu-satunya barang berharga yang ia miliki saat itu.
"Sah!"
Satu kata itu dengan tegas menggema di seluruh ruangan, mengubah status Raven dan Sara dari dua orang asing yang baru saja saling kenal menjadi pasangan suami istri dalam sekejap mata yang tak terduga.
Warga kampung perlahan mulai bubar meninggalkan balai desa dengan wajah yang tampak puas dan lega. Sara masih berdiri terpaku di tempatnya, tubuhnya kaku dan pikirannya seolah berputar tanpa bisa berhenti. Ia benar-benar tidak percaya bahwa dirinya kini resmi menjadi istri seseorang yang bahkan belum genap dua hari mereka saling kenal, bahkan tanpa persiapan sedikit pun atau rasa cinta yang biasanya menjadi dasar sebuah pernikahan.
Sementara itu Raven hanya menghela napas panjang yang penuh kepasrahan, kemudian duduk bangkit dari duduknya dengan raut wajah yang tampak kesal dengan takdir yang datang begitu tiba-tiba dan tak terduga ini.
Maria dengan langkah yang lembut mendekati Sara, kemudian dengan penuh kasih sayang memeluk bahu gadis muda itu yang masih terlihat kaku dan shock. "Tidak apa-apa sayang, Tante yakin dengan sepenuh hati bahwa kalian berdua tidak berbuat kesalahan apa pun.
Mungkin memang ini sudah jalan takdir yang Tuhan tuliskan untuk kalian berdua dari jauh-jauh hari," ucapnya dengan suara yang lembut dan penuh kehangatan, seolah baru saja mendapatkan kabar paling membahagiakan di dunia ini.
"Hm..." Sara hanya bisa mendengus pelan dengan lesu, masih belum sanggup berkata-kata .
"Sebentar lagi magrib, baiknya kita segera pulang ya," lanjut Maria sambil perlahan berdiri kembali, kemudian memberikan tatapan pada suaminya yang masih tampak belum menerima apa yang baru saja terjadi.
"Oh ya Sayang, karena sekarang kamu sudah jadi istrinya Raven, kamu ikut kami pulang ke mansion ya. Kita bisa bicarakan tentang masalah ini dengan lebih tenang di sana."
"Hm! Baiklah Tante!" jawab Sara pasrah.
Bersambung ...