Raka Pratama pernah menjadi kebanggaan keluarganya.
Bakat luar biasa. Masa depan cerah. Tunangan idaman.
Sampai sebuah misi menghancurkan meridiannya.
Kultivasinya mandek. Pertunangannya dibatalkan. Keluarganya membuangnya ke gubuk tua di pinggir desa.
Saat semua orang menganggap hidupnya telah berakhir, sebuah warisan kuno terbangun.
Sistem 2Bit.
Sistem murahan yang mengaku dirinya kelas dua.
Tapi bagi yang sudah kehilangan segalanya, kesempatan sekecil apa pun sudah cukup.
Mereka mengira kisah Raka telah berakhir.
Padahal baru dimulai.
━━━━━━━━━━━━━━━
⚔️ ORIGINAL HAMBALANGVERSE ⚔️
Genre:
#Cultivation
#System
#Action
#Fantasy
#Harem
#Revenge
#Survival
#Hambalangverse.
🗓️ Jadwal update:
Sampai Matahari Padam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMBALANGVERSE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Pagi hari di Gunung Tidar tidak dimulai dengan sinar matahari, tapi dengan teriakan.
"BANGUN!"
Suara itu menggema seperti guntur. Debu berjatuhan dari atap gubuk Raka.
Raka tersentak. Jantungnya berdegup kencang. Di sampingnya, Laras sudah duduk, matanya melotot kaget.
"Guru," gumam Raka.
Belum sempat dia berdiri, pintu gubuk terbuka paksa. Si Tua berdiri di ambang pintu. Wajahnya datar. Tanpa senyum. Tanpa sapaan.
"Lari," katanya.
Raka mengerjap. "Apa?"
"Keliling puncak. Tiga putaran. Sekarang."
"Sebelum sarapan?"
"Apakah kau butuh makan untuk bergerak?"
Raka menelan ludah. Tubuhnya masih pegal. Tapi dia tahu argumen sia-sia.
Dia mulai lari.
Langkah pertama berat. Kaki terasa seperti timah. Angin pagi menusuk kulit berkeringat dingin.
Satu putaran. Dua putaran.
Di putaran ketiga, napasnya memburu. Paru-paru terbakar. Kaki kanannya—yang masih lemah—nyeri tajam setiap menginjak batu.
[!] Deteksi detak jantung: 160 bpm. Mendekati batas aman.
Raka mengabaikannya. Fokus pada langkah. Satu. Dua. Tiga.
Saat selesai, lututnya gemetar. Dia membungkuk, tangan menopang lutut, menangkap napas.
Si Tua tidak bergerak. Hanya menatap.
"Besok, lima putaran."
Lalu dia berbalik masuk. Pintu tertutup.
Raka tertegun. "Hanya itu? Tidak ada penjelasan?"
Tidak ada jawaban.
Laras mendekat, menyodorkan air. Wajahnya cemas, tapi suaranya tajam.
"Kamu gila?" desisnya. "Tanganmu belum sembuh. Sekarang kakimu? Guru itu sinting."
"Mungkin ada maksudnya," kata Raka, meski ragu.
"Maksud apa? Menyiksa murid supaya kabur?" Laras menggeleng, tatapannya sinis ke arah gubuk Si Tua. "Kalau aku jadi kamu, aku sudah turun gunung sejak tadi malam. Aku kasihan lihat kamu. Bukan kagum. Kasihan."
Kalimat itu jujur. Pedas. Tapi justru itu yang membuatnya nyata. Laras tidak sedang memotivasi. Dia mengeluh. Dan entah kenapa, keluhan itu membuat Raka merasa lebih terhubung dengannya daripada pujian kosong.
Hari kedua. Lima putaran.
Hari ketiga. Tujuh putaran.
Hari keempat. Sepuluh putaran.
Raka tidak lagi bertanya. Dia hanya lari.
Setiap pagi, tubuhnya berteriak. Setiap sore, dia terjatuh. Laras akan datang, membersihkan lukanya, mengganti perban, dan kadang mengeluh pelan tentang betapa konyolnya situasi mereka.
Sistem 2Bit tetap diam. Hanya data.
[!] Hari ke-4.
[!] Observasi: Volume latihan meningkat 300%.
[!] Catatan: Host menolak istirahat sebanyak 4 kali.
Raka membaca notifikasi itu sambil berbaring telentang.
"Host menolak istirahat," ulang Raka pelan. "Kedengarannya seperti aku bodoh."
[!] Definisi 'bodoh' subjektif. Data mencatat persistensi.
Raka tertawa kecil. Tawa pahit. "Persistensi. Kata lain untuk keras kepala."
[!] Konfirmasi data.
Raka menutup mata. Rasa sakit di kakinya berdenyut. Tapi ada sesuatu yang berbeda. Napasnya tidak sesingkat dulu. Ada aliran energi halus yang mulai terbentuk di kakinya setiap kali berlari. Energi yang sebelumnya tidak ia sadari.
Di sore hari ketujuh, setelah Raka menyelesaikan sepuluh putarannya dengan waktu lebih cepat, Si Tua akhirnya memanggilnya.
Raka datang dengan tubuh berlumuran keringat. Napasnya teratur.
Si Tua duduk di beranda. Menyeduh teh.
"Duduk," perintahnya.
Raka duduk bersila.
"Kenapa kau lari?" tanya Si Tua tiba-tiba.
Raka mengangkat alis. "Karena Guru menyuruh."
"Salah."
Si Tua menuangkan teh. Uapnya mengepul tipis.
Diam.
Raka menunggu. Tidak ada penjelasan lanjutan. Hanya keheningan yang menekan.
"Kalau aku tidak menyuruh?" tanya Si Tua lagi. Matanya tajam, menatap kosong ke arah hutan.
Raka berpikir.
Kenapa dia lari?
Karena takut dihukum? Tidak. Si Tua tidak pernah memukulnya.
Karena ingin kuat? Mungkin. Tapi itu terlalu abstrak.
Raka menunduk. Pandangannya jatuh pada perban kotor di tangan kanannya. Darah kering yang sudah menghitam. Bekas pertarungan di hutan. Bekas hampir mati.
Jari-jarinya mengepal pelan.
"Takut," jawab Raka akhirnya. Suaranya rendah. Hampir tak terdengar.
Si Tua tidak bereaksi. Hanya mengangguk pelan. Sekali.
"Takut apa?"
Raka tidak menjawab. Dia hanya menatap perbannya lebih lama. Bibirnya mengeras.
Si Tua memahami. Dia tidak meminta detail. Dalam dunia ini, ketakutan memiliki rasa yang sama bagi semua orang yang pernah berada di jurang kematian.
"Ketakutan itu bahan bakar," kata Si Tua singkat. "Tapi jika tidak dikendalikan, ia akan membakar mesinnya. Lari selama tujuh hari ini bukan untuk menguatkan kakimu. Kakimu sudah cukup kuat."
Jeda.
"Ini untuk melatih napasmu. Agar pikiranmu tetap dingin saat tubuhmu panik. Kau kalah di hutan dulu bukan karena fisik. Tapi karena kau panik."
Raka menatap cangkir teh itu. Pahit. Hangat.
Dia mengerti sekarang. Bukan karena diberi tahu panjang lebar. Tapi karena dia dipaksa menghadapi dirinya sendiri dalam keheningan itu.
Di sudut matanya, dia melihat Laras berdiri di balik pohon, mengintip. Wajahnya masih khawatir, tapi ada sedikit kekaguman yang tidak bisa disembunyikan.
Raka menoleh ke arah Laras.
Laras maju perlahan. Duduk di samping Raka. Tidak berkata apa-apa.
"Jangan mudah percaya pada orang," kata Si Tua tiba-tiba, matanya menyipit ke arah Laras. "Dunia ini penuh topeng."
Raka menatap Laras. Gadis itu menunduk, memainkan ujung bajunya yang kusut. Dia tidak membantah ucapan Si Tua. Dia tahu itu benar.
Raka menghela napas. Menatap api unggun kecil yang baru dinyalakan Laras.
"Aku tidak percaya pada orang," kata Raka pelan. Suaranya datar. Fakta.
Laras mendongak. Menatapnya.
Raka tidak menatap balik. Matanya tetap pada api.
"Tapi sejauh ini..."
Jeda panjang. Angin berhembus, membawa daun kering.
"...aku belum menemukan alasan untuk meragukanmu."
Bukan janji. Bukan deklarasi cinta. Bukan kepercayaan buta.
Hanya observasi.
Dan bagi Raka, itu adalah bentuk kepercayaan tertinggi yang bisa ia berikan saat ini.
Laras tersenyum tipis. Senyum kecil. Tidak manis berlebihan. Tapi lega.
Si Tua mendengus. "Sentimental."
Tapi dia tidak mengusir Laras.
Raka minum tehnya. Panasnya menjalar ke perut.
Besok, latihan sesungguhnya akan dimulai. Dan dia siap.
Bersambung.