NovelToon NovelToon
The General'S Captive Lady

The General'S Captive Lady

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Dijodohkan Orang Tua / Mafia / Aliansi Pernikahan
Popularitas:529
Nilai: 5
Nama Author: indri novianti

"The General's Captive Lady" adalah novel fiksi romantis-militer yang penuh ketegangan politik, trauma masa lalu, dan pembalasan dendam.
Claudia, seorang putri yang terbuang dan disiksa sejak kecil oleh faksi Crimson Raven. Demi menutupi ketamakan mereka, reputasi Claudia dihancurkan di mata publik hingga ia dicap sebagai wanita glamor yang buruk. Saat faksi Raven kalah perang, ia dikorbankan menjadi sandera politik dan dikirim kepada Reymond Oliver Smith, seorang panglima perang aliansi yang terkenal dingin dan kejam.

Hubungan mereka awalnya dipenuhi kebencian dan kesalahpahaman, bahkan Claudia sempat dijebloskan ke ruang bawah tanah karena fitnah dari bapaknya. Namun, jeritan trauma masa kecil Claudia di tengah sakit parah akhirnya meruntuhkan dinding es di hati Reymond. Penyelidikan rahasia pun dimulai, membongkar asal-usul Claudia yang sebenarnya sebagai pewaris sah bangsa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri novianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Ikatan di Atas Altar Darah

Pemberitahuan resmi dari faksi aliansi tidak memberikan ruang bagi Reymond untuk bernegosiasi. Oliver Smith dan Ethan Noah Taylor melihat tuntutan Raven sebagai peluang emas untuk meredam potensi pemberontakan tanpa perlu menumpahkan darah prajurit mereka lagi.

Keputusan tertinggi telah diambil: aliansi Smith dan Raven harus dikunci lewat pernikahan politik. Dan demi keamanan, pernikahan tersebut diputuskan untuk segera digelar secara tertutup di mansion tempat Claudia diisolasi.

Bagi Reymond, keputusan ini adalah sebuah penghinaan. Ia merasa dipaksa tunduk pada permainan licik seorang wanita yang dianggapnya manipulatif.

Sebaliknya, bagi Claudia, pengumuman yang mendadak ini terasa seperti bunyi lonceng eksekusi. Tebakan asalnya telah menjelma menjadi jerat yang kini siap mencekik lehernya sendiri.

Hanya dalam waktu dua hari, persiapan pernikahan kilat itu selesai dilakukan. Tidak ada pesta megah, tidak ada gaun putih mewah, dan tidak ada tamu undangan dari kalangan bangsawan.

Hanya ada sebuah altar darurat yang didirikan di ruang tengah mansion, beberapa penjaga bersenjata lengkap yang berdiri di sudut ruangan, serta seorang pendeta yang didatangkan khusus di bawah pengawalan ketat.

Di dalam kamarnya, Claudia menatap pantulan dirinya di cermin dengan tatapan kosong. Untuk menyembunyikan bekas memar keunguan di lehernya akibat cekikan Reymond dua hari lalu, ia terpaksa mengenakan gaun beludru hitam dengan kerah tinggi yang ketat. Riasan wajahnya dibuat tebal untuk menutupi rona pucat di pipinya.

Ketika pintu kamar diketuk oleh kepala penjaga yang menjemputnya, Cla menarik napas dalam-dalam. Ia harus menegakkan bahu. Di depan Reymond nanti, ia harus tetap mengunci rapat rahasianya sebagai anak terbuang.

Jika ia terlihat terlalu rapuh atau ketakutan, Reymond akan curiga mengapa seorang putri yang diklaim sangat berharga oleh Raven bisa begitu ketakutan menghadapi pernikahan ini.

Cla melangkah turun melewati undakan tangga dengan keanggunan yang dipaksakan. Dengan gaun yang teramat glamor dan menunjukkan belahan dada yang teramat terekspos. Parfum yang sengaja dibuat menyengat, perhiasan zambrut yang bermata besar. Hiasan rambut yang berlebihan.

Di ujung tangga, Reymond sudah berdiri menunggunya. Pria itu mengenakan seragam kebesaran faksi Smith berwarna hitam legam dengan lencana emas yang berkilau di dada kirinya.

Ketampanan wajahnya yang tegas tertutup rapat oleh aura permusuhan yang begitu pekat. Tatapan matanya saat melihat Cla turun sama sekali tidak memancarkan binar seorang pengantin pria, melainkan tatapan seorang jenderal yang sedang mengawasi musuh bebuyutannya.

Keduanya berdiri berdampingan di depan altar darurat. Atmosfer di dalam ruangan begitu dingin dan mencekam, lebih mirip seperti ruang persidangan daripada prosesi suci.

"Reymond Oliver Smith, apakah kau bersedia menerima Claudia Crimson Raven sebagai istrimu, untuk mengikat kedamaian antar-faksi dalam suka maupun duka?" tanya pendeta dengan suara yang menggema di ruangan yang sunyi.

Reymond terdiam selama beberapa detik yang menegangkan. Matanya lurus menatap ke depan, rahangnya mengeras hingga otot pipinya menonjol. "Aku bersedia," jawabnya pendek, dengan nada suara yang terdengar seperti sebuah ancaman daripada janji suci.

Pendeta kemudian beralih menatap Claudia yang berdiri kaku di sampingnya. "Claudia Crimson Raven, apakah kau bersedia menerima Reymond Oliver Smith sebagai suamimu?"

Jantung Cla berdegup begitu kencang hingga ia merasa dadanya sakit. Sumpah kejam Reymond dua hari lalu kembali terngiang di telinganya: 

'Akan aku pastikan itu adalah awal dari penyiksaanmu.' Dengan sisa keberanian yang ia miliki, Cla membasahi bibirnya yang kering.

"Aku bersedia," bisik Cla lirih.

Begitu kata sah diucapkan dan dokumen pernikahan ditandatangani, Reymond langsung membalikkan tubuhnya menghadap Claudia.

Reymond mengambil cincin pernikahan untuk ia pasangkan pada Claudia, dan disambut baik oleh Claudia. Namun hal yang memalukan terjadi ketika Claudia ingin mengambil cincin milik Reymond untuk ia pasangkan. Lelaki itu sudah mengambilnya duluan dan memasangkan sendiri dijari manisnya.

Tangan Claudia tertahan diudara atas tindakkan Reymond. Claudia menatap Reymond yang tepat berdiri didepannya dan memalingkan wajahnya.

Claudia hanya bisa menghembuskan napas kasarnya. Atas perlakuan kasar Reymond didepan altar. Ada sebagian yang melihat itu menutup mulut mereka menahan tawa puasnya.

Sebelum pendeta dan para saksi meninggalkan ruangan, Reymond mendekatkan wajahnya ke telinga Cla, membisikkan kata-kata yang membuat seluruh tubuh wanita itu seketika membeku.

"Selamat datang di nerakamu yang baru, Istriku," desis Reymond penuh penekanan yang dingin.

"Mulai malam ini, kau akan tahu apa arti sebenarnya dari hidup tanpa senyuman."

Ucapannya bagai bom yang siap meledak kapan saja. Menyakitkan sampai ketulang-tulang.

Dikamar pengantin

Claudia menatap pantulan gaun pengantinnya yang teramat norak hanya bisa menghela napas kasar.

Kemudian ia menarik resleting gaunnya dan membiarkan gaun itu luruh terlepas menyentuh lantai beton yang dingin. Menyisakan Kain tipis yang jatuh lembut, memeluk tubuhnya tanpa benar-benar menahannya.

Di bagian dada, potongan rendahnya membingkai lekuk yang penuh dengan begitu jelas, seolah sengaja menarik perhatian tanpa perlu usaha berlebihan.

Renda halus yang menghiasi tepinya hampir tak mampu menyembunyikan apa pun—justru mempertegas setiap garis, setiap bayangan yang terbentuk di bawah cahaya redup. Ada sesuatu yang tenang dalam penampilannya… namun di saat yang sama, sulit untuk diabaikan.

Setiap langkah kecil membuat kain itu bergeser perlahan, mengikuti gerak tubuhnya, menciptakan kesan hidup yang lembut namun menggoda.

Bukan sekadar indah—tapi memikat dengan cara yang diam-diam berbahaya.

Claudia melangkah keluar dari bilik kamar mandi, berniat mengamBil robe sutranya untuk menutup gaun chemise satin putih tipis yang sedang ia kenakan. Namun, baru dua langkah berjalan, langkah kaki Claudia sesaat terhenti.

Reymond sudah terjaga. Pria itu sedang berdiri menghadap jendela kaca besar yang langsung menyajikan pemandangan malam dimention terpencil. Tubuh tegapnya berdiri dengan gagah, membelakangi ranjang.

"Kenapa ia kemari?" batin Claudia.

Mendengar suara langkah kaki halus di belakangnya, Reymond perlahan membalikkan badannya.

Detik itu juga, pandangan Reymond langsung terkunci. Sepasang mata elangnya yang tajam menatap tanpa berkedip, terpaku sepenuhnya pada sosok Claudia yang berdiri beberapa langkah di depannya. Rambut panjang Claudia yang jatuh bergelombang di bahunya, kontras dengan gaun chemise hijau yang memamerkan kulit porselennya yang tampak bercahaya diterpa sinar rembulan yang masuk dari cela jendela besar dikamar itu.

Atmosfer di dalam kamar mendadak berubah menjadi teramat intens dan intim. Tidak ada kata yang lolos dari bibir Reymond, namun tatapan matanya yang menggelap. Entah apa yang ada dipikiran Rey saat ini.

Langkah kaki Rey kemudian bergerak maju, kaki panjangnya dengan mudah mengikis jarak di antara mereka di tengah keheningan kamar mansion yang terisolasi. Setiap kali pria itu mendekat, wangi parfum mawar yang teramat menyengat selalu menguap dari tubuh Claudia, sebuah aroma mencolok yang sengaja ia pakai sebagai topeng pertahanan dirinya.

"Apa kau memakai gaun ini untuk menggodaku, Cla?" ujar Reymond dingin ketika ia sudah berdiri tepat di hadapan wanita itu, menatap muak pada gaun sutra seksi berpotongan dada rendah yang Cla kenakan.

Claudia sama sekali tidak mundur. Ia justru menyunggingkan senyum manja yang dibuat-buat, menatap langsung ke manik mata elang suaminya.

"Apa kau tergoda dengan ini, Tuan Smith?" tanya Claudia dengan nada suara yang mendayu, sengaja menurunkan satu tali tipis gaun yang bertengger di bahu mulusnya demi memprovokasi pria itu.

Cla melangkah satu kali lagi, mengikis sisa jarak hingga aroma tubuhnya kian mengusik indra penciuman Reymond. Dengan berani, ia mendongak dan melemparkan pertanyaan yang menantang batas kesabaran sang jenderal.

"Apa kau akan tidur di ranjang itu bersamaku malam ini, Tuan?"

"Jangan mimpi."

"Lalu mengapa malam ini kamu ada di dalam kamarku?" goda Claudia manis. Jemari lentiknya bergerak berani, mencoba memegang dan merapikan kerah jas seragam kaku milik Reymond.

Plak!

Dengan cepat Reymond menepis kasar tangan Claudia, menyentaknya sebelum jemari lentik wanita itu sempat mencoreng kain seragam militernya. Tatapan mata Reymond menggelap seketika, dipenuhi rasa jijik yang amat sangat pada sandiwara murahan yang sedang dimainkan tawanan di hadapannya.

Reymond langsung keluar dari kamar Claudia dengan langkah kasar. Langkah bot militernya menghentak keras di atas lantai kayu koridor mansion, menggema bersama sisa amarah yang bergejolak hebat di dalam dadanya. Aura permusuhan yang ia bawa membuat beberapa penjaga yang berjaga di lorong langsung menunduk kaku, tidak berani menatap sang panglima aliansi.

"Sialan, ini pasti karena parfum dia yang menyengat itu. Iya, ini pasti karena itu. Dasar wanita ular," desis Reymond tajam sambil meremas saputangan di tangannya, melampiaskan rasa muak yang mendera jiwanya.

Ia terus meyakinkan dirinya sendiri bahwa detak jantungnya yang berpacu liar dan rasa terusik di kepalanya hanyalah efek dari bau parfum mawar Claudia yang terlalu tajam. Logikanya menolak keras mengakui bahwa pesona sensual dan tatapan berani dari wanita rampasan perang itu baru saja berhasil menguji batas ketahanan mentalnya yang paling dalam.

"Aku juga tau, bagaimana aku tidak tau. Kau saja tidak sudi membiarkanku memasangkan cincin itu dijarimu. Berharap apa aku?" desis Claudia saat sosok suaminya itu menghilang dibalik pintu besar kamarnya.

...----------------...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!