Rania terlahir kembali ke lima tahun sebelum tragedi dalam hidupnya terjadi. Di masa depan setelah ia menikah dengan Arya, Rania dijebak oleh Salsa dan dibunuh tepat di malam pertamanya. Di kesempatan kedua ini, ia akan menghindar dari pernikahan itu agar tidak mengalami nasib yang sama.
Berhasilkah ia kabur dari genggaman sang Tuan Muda dan menghindari takdir kematiannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Bebas
Di rumah sakit, tepatnya di dalam ruang rawat Dona. Dona tengah menangis dengan begitu pilu. Di dalam sana selain Dona masih ada Arya, kedua orang tua Dona dan ada kedua orang tua Rania juga. Bagaskara dan Hanum masih bersikukuh bahwa putrinya tidak bersalah. Selama tidak ada bukti langsung, mereka tidak akan meminta maaf atas tuduhan yang menimpa Rania. Sedangkan kedua orang tua Dona terus menyudutkan mereka berdua menuntut permintaan maaf dari mereka. Arya hanya melihat dari samping semua yang terjadi di dalam ruang rawat tersebut.
Awalnya kedua orang tua Rania datang setelah mendapat kabar dari kepolisian. Mereka ingin melihat kondisi Dona dan memastikan apa yang sebenarnya terjadi sebelum pergi ke kantor polisi. Tapi mereka tetap mengirimkan seorang pengacara handal untuk mengurus segala hal di kantor polisi.
Seorang pria masuk ke dalam dan berjalan cepat menuju ke Arya. Membisikkan sesuatu setelah itu kembali pergi. Arya mendekat ke arah Bagaskara dan Hanum lalu meraih tangan Hanum dengan lembut.
"tante dan om tidak perlu khawatir, masalahnya sudah selesai," ucapnya dengan lembut lalu ia menatap Bagaskara sambil mengangguk.
Setelah mendapat isyarat seperti itu, keduanya tenang lalu hendak pergi dari ruangan tersebut.
"TUNGGU! Arya, ini tidak adil untukku. Apa maksudmu masalahnya sudah selesai?"
Arya memutar sedikit badannya agar menghadap ke arah Dona lalu menatapnya dengan aneh.
"apa maksudmu tidak adil? sejak awal kamu sendiri yang bilang untuk jangan menyalahkan Rania kan?" tanya Arya mengembalikan ucapan Dona.
Dona terdiam dan bingung harus menjawab seperti apa.
"tidak bisa, kalian harus berlutut dan minta maaf kepada putriku!" ucap Ibunya Dona kepada orang tua Rania.
Arya langsung pasang badan berdiri di depan orang tua Rania.
"kalau saya bilang selesai, maka masalah ini sudah selesai. Detailnya kalian bisa tanyakan sendiri kepada polisi!" ucapnya dengan tegas. Raut wajahnya serius membuat semua orang di dalam sana meneguk ludahnya.
Meskipun masih kuliah dan pendiam, Arya sudah terjun di dunia bisnis cukup lama. Menguasai semua warisan keluarga dan dikenal cukup kejam saat bertindak.
"ayo tante, om kita pergi dari sini."
Saat mereka akan pergi, Dona nekat menarik tangan Arya sehingga membuatnya hampir terjatuh dari ranjang. Arya reflek menghentakkan tangannya agar terlepas dari Dona. Posisi gadis itu memang sudah di tepi ranjang, dengan hentakan dari Arya membuatnya benar-benar jatuh ke lantai. Kakinya yang terbalut gips terbentur cukup keras. Selain itu tubuhnya yang penuh dengan lebam juga terbentur dengan lantai membuatnya mengaduh kesakitan.
Arya hanya melihatnya dengan dingin, sambil mengelap tangan yang baru saja dipegang oleh Dona.
"kamu tidak bisa seperti ini kepadaku!"
"kenapa tidak bisa? kamu saja bisa memperlakukan Rania seperti itu. Sebenarnya aku sudah lama malas meladenimu, aku diam hanya karena Rania suka bergaul denganmu. Untungnya sekarang dia sudah sadar orang seperti apa kamu, jadi lebih baik kamu menghilang segera dari pandanganku."
Ucapan yang begitu dingin itu menembus tepat di hati Dona. Ia menangis dan meraung memanggil Arya yang terus menjauh. Arya dan dirinya barulah pasangan sejati. Dia yang seharusnya ada di sisi Arya, bukan Rania. Pikiran itu membuatnya semakin membenci Rania.
"ayah cepat pikirkan bagaimana cara agar mereka membayar ini semua. Lihat putri kita jadi begini."
"sudah diam! kalau masih mau hidup di sini, jangan langgar ucapan Arya. Perusahaan kita masih bergantung dengannya."
Keputusan bijak sebagai kepala perusahaan, namun keputusan itu membuat Dona merasa semakin tidak adil.
Setelah Arya keluar, polisi masuk ke dalam ruang rawat diikuti oleh dokter yang bertanggungjawab menangani Dona. Kali ini Dona yang digiring ke kantor polisi setelah memastikan kondisinya baik-baik saja untuk keluar dari rumah sakit. Posisinya kini terbalik menjadi dirinyalah yang bersalah. Dona hanya bisa meronta dan berteriak. Gerakannya pun terbatas karena kondisi fisiknya yang penuh luka.
Sementara itu Rania dan Salsa keluar dari kantor polisi bersamaan. Beberapa jam di dalam sana membuat Rania merasa udara di luar terasa lebih segar dari biasanya. Sinar matahari di sore hari membuat suasana hatinya sedikit membaik.
Saat keluar, ia melihat ada dua orang pengacara yang ditunjuk untuk membelanya. Mereka jugalah yang membantu Salsa menyampaikan bukti kepada pihak kepolisian.
"kamu terlihat tidak panik," ucap Salsa saat melihat Rania masih bisa tersenyum.
"aku hanya merasa ini bukan masalah besar."
"sudah ada dua orang yang mati, bagaimana kalau selanjutnya kamu?"
Rania langsung menoleh ke arah Salsa dengan mata melotot. Jelas sekali ia terlihat sangat terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan oleh musuhnya itu.
"kalau tebakanku tidak salah, kamu juga sama? terlahir kembali?!"
Salsa tidak menjawab iya atau tidak, tapi dia mengangguk sebagai jawabannya. Rania semakin tidak percaya dengan fakta di hadapannya ini.
"tungu! meskipun begitu, di kehidupan lalu kamu berhasil mendapatkan Arya. Kenapa di kehidupan ini kamu membantuku?"
Salsa tidak berniat menjawab pertanyaan itu sekarang. Ia lebih memilih menarik lengan Rania agar mengikutinya ke suatu tempat.
"mau kemana?"
"ikut saja."
Suara deburan ombak langsung menyapa telinga Rania dan Salsa meskipun pantai masih belum terlihat. Senja dikombinasikan dengan pantai adalah hal paling indah. Namun Rania jarang memiliki kesempatan untuk datang ke tempat ini karena dulu ia terlalu sibuk mengejar Arya.
Setelah memarkirkan mobil, Rania dan Salsa turun. Salsa melihat sekeliling yang tampak cukup sepi. Lalu ia mengikuti Salsa yang berjalan duluan menuju tepi pantai.
"kamu mengajakku ke sini bukan untuk menenggelamkanku kan?"
Sala berdecih pelan saat mendengar pertanyaan konyol dari Rania.
"sebelum kamu benar-benar tenggelam, aku sudah mati duluan dikeroyok warga."
"hehe."
Keduanya menyusuri tepi pantai dalam diam. Hingga langkah kaki mereka berhenti di depan sebuah warung sederhana.
"bu pecel dua, sama es teh."
Sambil menunggu, mereka duduk di kursi panjang yang ada di warung tersebut.
"oh iya, tadi bagaimana kamu bisa masuk ke ruang interogasi?"
"dibantu pengacaramu."
"pengacara?"
"iya, saat aku datang sudah ada dua pengacara yang sedang berbicara dengan polisi. Lalu aku menyerahkan bukti video dan minta bertemu denganmu."
"jadi, kamu masuk ke dalam itu sebenarnya sudah tau kalau aku akan keluar?"
Salsa mengangguk sebagai jawaban. Sementara Rania langsung mengerucutkan bibirnya, "kalau begitu kenapa tadi kamu sok misterius begitu sih," gerutunya.
Setelah menunggu beberapa saat, pesanan pun datang. Salsa mengambil piringnya dan minumannya lalu dibawa menuju tepi pantai. Rani pun mengikutinya, ia segera mengambil miliknya. Duduk di atas pasir dengan pemandangan sunset di depan sana. Salsa mulai menyuapkan makanan ke dalam mulut dan kembali diikuti oleh Rania.
"hm enak."
"iya dong, langgananku di sini."
Mereka menikmati makanan dengan santai dan hening. Keduanya sibuk tenggelam dalam pikiran masing-masing. Setelah selesai makan, Salsa menatap jauh ke depan sambil merasakan semilir angin yang menerpa wajahnya.
"di hidupku yang sekarang, aku tidak akan mengejar Arya lagi," ucap Salsa dengan begitu tenang.
"kamu benar-benar terlahir kembali?"
"sudah berapa kali kamu bertanya?"
Rania tersenyum menunjukkan deretan giginya yang rapih. Ia hanya merasa tidak percaya kalau keajaiban itu terjadi pada selain dirinya. Terlebih lagi terjadi pada musuh bebuyutannya.
"kenapa?"
"Arya, dia terlalu menakutkan."
Tiba-tiba ingatannya dipaksa kembali ke masa dimana ia harus kehilangan nyawanya tidak lama setelah kematian Rania.
"intinya, Arya tidak sebaik itu. Tapi yang pasti dia sangat mencintaimu."
Rania tergelak saat mendengar ucapan Salsa. Ia merasa tidak mungkin Arya mencintainya tapi diam saja melihatnya difitnah dengan begitu kejam.
"tidak mungkin."
"justru aku yang heran, kenapa kamu malah ikutan jauhin Arya?"
"aku melihat matanya yang sangat dingin malam itu. Dia dengan tegas bilang untuk menghentikan penyelidikan karena aku sudah mati dan tidak berguna."
Salsa pun terkejut mendengar itu. Karena yang ia ingat Arya sangatlah mencintai Rania hingga ia menghancurkan beberapa keluarga elit untuk balas dendam atas kematiannya. Bagaimana mungkin pria itu pernah mengucapkan hal dingin seperti itu.