NovelToon NovelToon
Diremehkan Suami, Diobsesi CEO Galak

Diremehkan Suami, Diobsesi CEO Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Duda
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nofiya Hayati

Anjani pernah mengubur mimpinya demi menjadi istri sempurna. Ia menemani Satriya dari nol dan bertahan saat hidup mereka sulit.

Ketika sukses, kini di mata keluarganya, Anjani hanyalah ibu rumah tangga biasa, membosankan, tidak bercahaya, dan selalu kalah dibanding Cintya, model cantik yang perlahan menjadi pusat dunia mereka.

Sampai satu malam…kemampuan yang selama ini terkubur tanpa sengaja menarik perhatian Ren Aksara. CEO galak yang ditakuti seluruh industri fashion itu tidak tertarik pada perempuan manja, cantik, atau pencari perhatian.

Namun entah kenapa…matanya justru terus kembali pada Anjani. Perempuan sederhana yang bahkan tidak sadar dirinya sedang perlahan membuat seorang Ren Aksara menjadi terobsesi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23 Perhatian Khas Ren

Sudah hampir dua minggu sejak Anjani resmi bekerja di perusahaan Ren. Dan satu kesimpulan mulai disepakati banyak orang, Anjani bukan sekadar orang yang beruntung direkrut langsung oleh CEO. Dia memang mampu. Bahkan terkadang terlalu mampu untuk ukuran pegawai baru.

Pagi di studio desain lantai delapan sedang sibuk. Papan moodboard penuh. Sampel kain menumpuk. Sketsa desain berserakan di mana-mana. Koleksi Aurora memasuki tahap krusial.

Semua orang bekerja dengan tekanan tinggi, karena satu kesalahan kecil saja bisa membuat kampanye bernilai miliaran itu berantakan.

Di tengah kesibukan tersebut, Anjani berdiri di depan meja besar. Tangannya sibuk menyusun beberapa revisi desain. Nada suaranya tetap lembut, sopan, namun cukup jelas untuk membuat seluruh tim mendengarkan.

"Kita geser detail bordirnya sedikit ke sini."

Salah satu staf mengangguk. "Supaya lebih ringan ya, Mbak?"

"Ya."

Anjani tersenyum. "Kalau terlalu penuh justru cerita desainnya hilang."

Orang-orang langsung mencatat. Bahkan beberapa desainer senior mulai ikut mempertimbangkan masukannya.

Dan itulah masalahnya. Dari sudut ruangan, seorang perempuan memperhatikan dengan wajah datar. Dia Winda, desainer senior. Sudah bekerja hampir delapan tahun di perusahaan itu.

Tujuh tahun bukan waktu yang sebentar. Selama itu tentu di sudah banyak pengalaman. Namun sekarang, semua orang justru lebih sering mendengarkan Anjani. Itu sangat menyebalkan. Menurut Winda, perempuan itu terlalu cepat naik dan  mendapat perhatian. Bahkan terlalu cepat dipercaya. Padahal baru datang kemarin sore.

Winda memutar bolpoin di tangannya. Tatapannya semakin dingin. "Orang baru Sok memimpin." Ia bergumam pelan.

Menjelang siang, Anjani sedang mencari penggaris khusus yang biasa ia gunakan, namun tidak ada. Ia membuka laci, tidak ada. Memeriksa rak, tidak ada. Memeriksa meja, tetap tidak ada.

"Hm..." Anjani mulai mengernyit. Aneh, padahal tadi pagi masih ada.

"Nyari apa?" Salah satu staf bertanya.

"Penggaris pola."

"Yang warna silver?"

"Iya."

"Kan tadi ada."

"Nah itu."

Belum sempat Anjani menjawab lagi, suara Winda terdengar dari belakang.

"Masa alat kerja sendiri aja nggak bisa dijaga?"

Ruangan langsung sedikit hening.

Winda tersenyum tipis. "Terlalu sibuk ngatur orang mungkin."

Beberapa staf saling pandang tidak nyaman, tapi Anjani hanya tersenyum kecil.

"Kalau ketemu kasih tahu ya," ucapnya, lalu kembali mencari.

Dan reaksi tenang itu justru membuat Winda semakin kesal. Faktanya orang yang ingin memancing keributan biasanya paling benci ketika umpannya tidak dimakan.

Masalah kedua terjadi di hari berikutnya. Dan kali ini jauh lebih parah. Anjani baru selesai dari ruang produksi. Tangannya membawa beberapa map, sampel kain, dan belasan lembar sketsa revisi Aurora.

Ia berjalan cukup cepat karena satu jam lagi ada presentasi internal. Namun saat melewati koridor utama, Winda diam-diam mengulurkan kaki. Sedikit saja, sangat sedikit. Cukup untuk tidak terlihat mencolok, tapi cukup untuk membuat orang tersandung.

Anjani yang tidak melihatnya.

Bruk!

Tubuhnya oleng. Map terlepas, kertas beterbangan, sampel kain berserakan, beberapa sketsa bahkan terlipat dan robek di sudutnya. Anjani jatuh cukup keras hingga lututnya menghantam lantai.

"Ah!"

Ruangan langsung gaduh.

"Ya ampun!"

"Mbak Anjani!"

Dan tepat di depan tempat ia jatuh, sepasang sepatu kulit hitam berhenti. Perlahan Anjani mendongak dan langsung ingin menghilang dari muka bumi.

Ren Aksara.

Tentu saja lalau hidup sedang buruk, semesta biasanya suka menambahkan sedikit bumbu pelengkap.

Di belakang Ren berdiri Raka yang sedang membawa tablet dan beberapa dokumen. Begitu melihat Anjani jatuh, pria itu langsung bergerak.

"Mbak Anjani!" Ia buru-buru jongkok, membantu mengumpulkan kertas.

"Tangan nggak apa-apa? Lutut sakit? Bisa berdiri?" Perhatian tulusnya meluncur bertubi-tubi secara refleks. Anjani sampai tidak sempat menjawab.

"Tidak apa-apa," jawab Anjani.

Namun Raka tetap membantu. Sementara itu, Ren tidak bergerak membantu. Dia hanya diam sambil menatap. Wajahnya perlahan mengeras, seperti seseorang yang baru melihat kejahatan terhadap kemanusiaan.

Tatapan Ren turun ke kertas yang rusak, lalu ke lutut Anjani, lanjut pindah ke seluruh ruangan. Orang-orang langsung menahan napas, sebab mereka mengenal ekspresi itu. Itu ekspresi Ren sebelum seseorang kehilangan pekerjaan.

Raka yang masih membantu Anjani bahkan ikut berhenti bergerak. "Pak Ren..."

Ren mengabaikannya. Tatapannya tetap pada Anjani, kemudian ia berkata.

"Kalau jalan pakai mata."

Anjani langsung memejamkan mata. Nah, keluar juga lidah tajam khas Ren.

"Kalau mau latihan jadi manusia jatuh bebas, gunakan area luar gedung."

Beberapa staf menelan ludah, bahkan ada yang hampir tersedak. Itu lah Ren, saat dalam situasi macam apa pun mulutnya tetap beracun.

Anjani menghela napas. "Maaf."

Ekspresi Ren tetap dingin. Sorot matanya tetap tajam. Dia seakan tidak memiliki rasa simpati pada orang yang baru saja terkena musibah.

"Lima belas menit lagi."

"Hm?"

"Ke ruang saya."

Deg. Sunyi total.

Anjani berkedip. "Pak?"

"Apakah saya terdengar seperti sedang bertanya?"

Anjani bungkam.

"Lima belas menit," titah Ren lagi, lalu berbalik. "Raka."

"Ya Pak."

"Ikut."

Dan mereka pergi begitu saja.

Meninggalkan koridor yang mendadak seperti lokasi pemakaman massal. Begitu sosok Ren menghilang, ruangan langsung meledak.

"Ya Tuhan..."

"Mbak Anjani dipanggil..."

"Habislah."

"Saya pernah dipanggil sekali."

"Lalu?"

"Saya nggak bisa makan nasi dua hari."

"Serem amat!"

Sementara itu dari sudut koridor, Winda berdiri diam melihat semuanya. Perlahan senyum puas menyungging di bibirnya.

Bagus. Sangat bagus. Kalau Pak Ren marah, biasanya tidak ada yang selamat.

Di ruang kerja Ren.

Begitu pintu ruangan tertutup, suasana langsung berubah. Anjani berdiri di depan meja kerja Ren yang besar dan dingin seperti pemiliknya.

Ren masih membaca beberapa berkas, tidak langsung menyuruh Anjani duduk, hanya membiarkan keheningan menggantung sampai akhirnya Anjani yang membuka suara.

"Pak Ren..."

"Hm."

"Ada yang salah?"

Ren mengangkat kepala perlahan. Tatapan tajamnya langsung jatuh ke lutut Anjani yang masih sedikit lecet.

"Ada."

Anjani refleks menunduk.

Ren menyandarkan punggung ke kursinya. "Kamu."

"Saya?"

"Kamu salah."

Anjani mengedip. "Lho?"

"Orang lain nyembunyiin alat kerja kamu."

"Hm."

"Orang lain bikin kamu jatuh."

"Hm."

"Kamu malah sibuk bilang nggak apa-apa."

Anjani melongo. Lho? Bukannya mau marah? Ternyata ekspetasi orang-orang tadi meleset 100 persen.

Ren menghela napas pendek. Ekspresinya seperti orang yang sedang berbicara pada anak TK yang nekat menelan batu kerikil.

"Kamu ini terlalu sabar atau terlalu aneh?"

Anjani hampir tertawa. Sementara di sampingnya, Raka yang baru masuk membawa beberapa dokumen langsung pura-pura sibuk.

Dia tahu, kalau bosnya mulai ngomel seperti ini artinya sedang khawatir. Tapi karena harga dirinya setinggi gedung kantor, rasa khawatir itu berubah bentuk menjadi ceramah.

"Raka," panggil Ren.

"Ya Pak."

Ren menunjuk sudut ruangan. "Ambil kotak P3K."

Raka langsung menurut. Tidak sampai satu menit kotak putih itu sudah berada di atas meja.

Anjani mengedip beberapa kali. "Pak Ren, saya baik-baik aja."

"Diam."

"Kamu baik-baik saja kalau saya sudah bilang kamu baik-baik saja."

Anjani langsung terdiam. Logika macam apa itu?

Sementara Raka mulai membuka kotak P3K. Pria itu mengeluarkan kapas, antiseptik, dan salep.

"Oh lecetnya lumayan juga ya, Mbak Anjani."

Anjani tersenyum kecil. "Iya, sedikit."

"Nih saya bantu oles--"

"Jangan."

Suara Ren langsung memotong tajam. Ruangan seketika hening. Raka membeku dengan tangan masih menggantung di udara sambil memegang salep.

Anjani berkedip. Raka berkedip. Ren tetap datar.

"Dia punya tangan."

Raka melongo. "Pak?"

"Dia wanita dewasa. Bukan bayi."

Raka masih melongo. "Pak, saya cuma mau bantu."

"Dia bisa sendiri."

Raka akhirnya menyerahkan salep ke Anjani. "Ini Mbak."

"Makasih."

"Sama-sama."

Belum sempat senyum Raka selesa, tatapan berbahaya Ren sudah datang. Mirip tatapan harimau yang melihat ada hewan lain mendekati mangsanya.

Raka langsung berdeham.

"Oke. Saya kerja lagi."

Ren tidak menjawab, meski ingin sekali ia melempar asistennya keluar jendela.

Beberapa menit kemudian, Anjani selesai membersihkan lukanya. Lecet di telapak tangan. Sedikit memar di lutut. Tidak terlalu parah sebenarnya, namun entah kenapa ia sampai dipanggil ke ruangan CEO hanya karena hal seperti itu. Anjani benar-benar merasa sangat aneh.

Ren kembali membaca dokumen di mejanya seolah tadi tidak terjadi apa-apa. Sementara Raka masih berdiri di dekat rak arsip sambil sesekali melirik bosnya dengan ekspresi mencurigakan.

Anjani akhirnya berdiri. "Terima kasih, Pak Ren."

"Hm."

"Karena sudah kasih obat."

Ren bahkan tidak mengangkat kepala. "Kotak P3K itu dibeli perusahaan."

"Oh."

"Jadi jangan merasa spesial."

Anjani langsung mengangguk. "Nggak kok."

"Bagus."

Raka hampir keseleo lehernya. Bosnya benar-benar manusia yang alergi terdengar baik. Anjani menahan senyum kecil, karena sekarang ia mulai terbiasa kalau Ren membantu orang, mulutnya pasti ikut berkelahi.

"Kalau begitu saya balik kerja dulu."

"Hm."

Anjani baru melangkah satu langkah ketika suara Ren terdengar lagi.

"Anjani."

Perempuan itu menoleh.

Ren akhirnya mengangkat kepala dari dokumen. Tatapannya jatuh ke lutut Anjani yang masih sedikit memerah. "Lukanya jangan kena gesekan kain terlalu sering."

Anjani berkedip. "Oh."

"Oles ulang salepnya nanti malam."

"Iya."

"Kalau makin bengkak lapor."

"Baik."

Raka yang mendengar dari tadi mulai memandangi langit-langit ruangan. Ya Tuhan. Ini sudah bukan CEO. Ini ibu-ibu posyandu.

Anjani sendiri justru terlihat bingung. "Pak Ren."

"Apa."

"Bapak biasanya galak dengan karyawan. Kenapa sekarang terkesan sewet?"

Sunyi.

Raka langsung membungkuk pura-pura mengambil map agar tidak tertawa. Sedangkan Ren membeku sepersekian detik, lalu menjawab datar.

"Perasaanmu saja."

"Oh ya?"

"Saya hanya tidak ingin orang saya cidera saat kerja."

"Oh gitu. Syukurlah. Karena saya merasa aneh jika Pak Ren tiba-tiba sewet ke saya."

Raka menutup wajahnya pakai map. Sementara Ren masih pasang wajah datar, meski ujung telinganya kembali berkhianat.

"Kembali bekerja."

"Baik, Pak."

Anjani keluar dari ruangan. Pintu tertutup pelan, meninggalkan sunyi beberapa detik.

Raka perlahan menoleh ke arah Ren.

Ren sedang membaca dokumen atau setidaknya berpura-pura membaca, karena halaman yang sama tidak berpindah sejak tadi.

"Pak."

Tidak ada jawaban.

"Pak Ren."

Masih diam.

"Pak."

"Apa."

Raka menunjuk pintu yang baru saja dilewati Anjani.

"Bapak sadar nggak sih?"

"Sadar apa."

"Tadi Mbak Anjani jatuh."

"Hm."

"Lututnya lecet."

"Hm."

"Dan sejak dia masuk sampai keluar ruangan, Bapak nggak membahas pekerjaan satu kali pun."

Deg.

Tangan Ren yang hampir membalik halaman tiba-tiba berhenti.

Raka langsung melanjutkan tanpa dosa.

"Bapak bahkan lebih perhatian sama lutut Mbak Anjani daripada laporan keuangan kuartal tiga."

Perlahan Ren mengangkat kepala dan lngsung menghunuskan tatapan yang sangat tidak bersahabat.

Raka langsung mundur selangkah. "Pak, saya cuma observasi."

"Keluar."

"Tapi observasi saya valid."

"Keluar."

"Pak, saya khawatir."

"RAKA."

"Baik Pak."

Raka kabur secepat kilat, pintu tertutup. Ren tampak memijat pelipis, mulai mempertimbangkan mengganti asisten pribadi.

Ren kemudian menatap kursi kosong tempat Anjani tadi duduk, lalu mengernyit sendiri. Kenapa dia benar-benar tidak membahas pekerjaan satu kali pun?

Bersambung~~

1
Ayuwidia
Seperti biasa, pasti memerah karena melihat bidadari 😃
Ayuwidia
Winda ini mengingatkan aku sama mahasiswi yg cinta berat sama Sagara
Anna
ceritanya bagus dan lucu nya pas
Kafire deweh
kepentok cinta janda kembang🤣🤣🤣🤣
ryuka
lanjuutt thoorrr👍👍👍👍👍👍
ryuka
🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭 eeeiiiiiyyy ada yg makin trrpesona deh nih 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ifana
pasti telinga nya ren langsung merah tu liat Anjani 🤣🤣
Najwa Aini
Aduuhhh...ngakak
Najwa Aini
Nah benar. aku setuju dgn komentar Staf
Najwa Aini
Aku gak bosan kok Sae dengan papamu
Najwa Aini
Itu bapakmu lo Sae
Ayuwidia
Pasti memerah
Ayuwidia
Uhuk, perhatian yang sangat unik, Pak Ren
Ayuwidia
Cemburu, tapi gengsi bossss 😆
Ayuwidia
Woah, aku pernah kena semburan ini
Ayuwidia
Kerja di mana pun pasti ada orang yg dengki ya 😏
ryuka
lanjuutt thoorrr
ryuka
🤭🤭🤭🤭🤭 raka kamu pintarrrr
Ayuwidia
Jiahhhh percaya diri sekali. Plek ketiplek Ren Aksara
ryuka: bapak nya bodoh ga bisa jaga hati dan otakk.. ekhhh anak nyq jadi ketularan juga dehh
total 1 replies
Ayuwidia
Anak ini, selalu sukses bikin orang dewasa ngakak 😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!