Nadira, gadis miskin dari desa, datang ke kota demi biaya pengobatan ibunya. Hidupnya berubah ketika ia menemukan seorang wanita tewas di pinggir jalan dan tanpa sengaja menjadi tersangka pembunuhan karena DNA-nya ditemukan di tubuh korban.
Korban itu adalah Nayla Adiprana, istri Mahesa Adiprana, pengusaha kaya yang dipenuhi duka dan amarah. Sebagai hukuman, Mahesa memaksa Nadira menikah dengannya dan hidup menderita di rumahnya.
Namun seiring waktu, Mahesa mulai melihat ketulusan Nadira yang merawat putranya dengan penuh kasih. Saat benih cinta tumbuh, kebenaran mengejutkan terungkap.
Akankah Nadira memaafkannya atau justru Nadira akan menjauh darinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 7
Di dalam kamar, Nadira memeluk lututnya sendiri. Ia duduk di tempatnya semula tanpa bergerak sedikitpun dari sana. Nadira merasa sedikit tenang setelah mendengar suara ibunya. Nadira senang karena ibunya baik baik saja dan belum mengetahui masalah yang menimpanya. Tapi kekhawatiran Nadira kembali menyerang, ia takut Mahesa akan mengatakan semuanya pada ibunya.
Nadira memeluk lututnya lebih kuat, kali ini air matanya sudah tak keluar, air matanya telah mengering.
Di luar, Diana mencoba membuka pintu kamar Mahesa. Tapi ternyata pintunya terkunci. Diana sangat kesal karena Mahesa tidak membiarkan siapapun bertemu dengan wanita itu.
Diana pergi dengan perasaan kesal. " Saat kamu pulang aku akan memberikan pelajaran pada wanita itu Mahesa!."
Setelah kepergian Diana, sang pelayan yang diam diam membawa makanan mulai memasuki kamar. Sang pelayan menunggu Diana untuk pergi, baru kemudian ia beraksi. Sang pelayan bernama Siti itu merasa kasihan pada Nadira. Ia bisa melihat bahwa Nadira adalah wanita baik.
Siti memasuki kamar, ia kembali mengunci pintu.
Nadira melihat kedatangan bi Siti, wanita paruh baya itu sangat baik padanya. Bi Siti bahkan mengoleskan salep di punggungnya setiap kali salep itu mengering.
" Nadira, makan dulu ya." bi Siti meletakkan nampan makanan di samping Nadira. Ia menunggu sambil duduk dekat Nadira.
" Apa pria itu menyuruh bibi mengantar makanan lagi?." tanya Nadira.
" Iya Nadira, tuan menyuruh saya memberikan makanan padamu." ujar bi Siti.
" Aku tidak bisa memakan ini bi, aku merasa seperti peliharaan. Aku di siksa kemudian diberi makanan untuk mengisi tenaga. setelah itu aku akan kembali disiksa." Nadira memeluk lututnya lebih kuat. ia begitu tertekan.
" Nadira...bibi tahu kamu tidak bersalah. Nadira bukan pembunuh, Nadira anak baik. Tapi Nadira harus makan demi ibu Nadira. Nadira harus kuat. Percayalah suatu hari nanti Nadira akan mendapatkan keadilan."
Nadira menatap bi Siti, ia terdiam mendengarnya. " Aku akan makan demi ibuku." Nadira meraih nampan makanan itu dan mulai menyantap nya perlahan. Ia kembali teringat pada ibunya saat mendengar ucapan bi Siti, ia tak boleh menyerah begitu saja.
" Makan yang banyak Nadira, bibi mau ambil baju buat Nadira."
Bibi Siti beranjak dari duduknya, ia keluar dari kamar itu tanpa mengunci pintu kamar.
Nadira kembali makan sambil melamun. Namun tiba tiba ia mendengar suara tangisan bayi dari kamar sebelah.
" Suara bayi?." gumamnya.
Nadira tidak mau ikut campur, dan memilih untuk diam saja. Tapi semakin lama suara tangisan bayi itu semakin keras. Nadira merasakan kegelisahan saat mendengarnya. Entah mengapa tubuhnya refleks bangkit dan berjalan ke arah suara bayi itu.
Nadira menyadari pintu kamar tidak di kunci, Nadira perlahan keluar dan berjalan ke arah kamar sebelah.
Nadira mengintip dari balik celah pintu yang sedikit terbuka. Suara tangisan bayi itu semakin jelas. Nadira tak melihat orang dewasa di dalam sana. Nadira masuk dan memeriksa ranjang bayi di dalam ruangan itu.
Matanya membelalak, bayi itu sudah merah karena menangis. Tak ada siapapun di sana. Bayi itu hanya sendirian.
Nadira tak tega, ia menggendong bayi itu dan menenangkannya. Tubuh Nadira bergerak pelan ke kanan dan ke kiri seolah sedang mengayun bayi itu di dalam pelukannya.
Ajaibnya bayi itu langsung berhenti menangis dan merasa tenang. Nadira sejenak melupakan rasa sedihnya saat melihat senyuman tulus dari bayi mungil itu.
Nadira tersenyum dan memperlihatkan raut wajah lucu untuk menghibur bayi itu. Tangan bayi itu terulur ke atas, mencoba meraih mulut Nadira.
Di saat yang bersamaan, Mahesa baru saja tiba di rumah. Ia berjalan ke atas untuk melihat putranya.
Mahesa teralihkan dengan pemandangan pintu kamarnya yang terbuka. Ia panik, ia langsung masuk ke dalam kamar. Tak ada siapapun di sana selain sebuah nampan makanan yang tergeletak di lantai.
Mahesa merasa begitu panik. "Wanita itu sudah kabur! Sial!." umpat Mahesa.
Ia berlari menyusuri setiap ruangan, namun saat berpapasan dengan kamar putranya, ia melihat pemandangan yang membuatnya terdiam sesaat.
Nadira sedang menggendong putranya sambil bermain. Nadira terlihat tersenyum dan menatap Keano dengan bahagia.
"namanya siapa ya?"
"Mau main ini?"
"Jangan garuk hidung bibi. Aaaaa"
"Cilukba"
Mahesa terdiam mematung di tempatnya, pemandangan di hadapannya membuat hatinya bergetar. Belum pernah ia melihat wanita memperlakukan putranya dengan hangat dan santai seperti itu termasuk...Nayla...
Mengingat Nayla, seketika tatapan kebencian kembali merasuki manik Mahesa.
" Jangan sentuh putraku!."
Deg
Nadira seketika langsung menoleh pada asal suara. Ia sangat kenal dengan suara itu.
" Siapa yang mengijinkan mu menyentuh putraku? Akan ku patahkan tanganmu!." Ujar Mahesa dengan tatapan tajam ke arah Nadira.
Nadira menggeleng. " Aku tidak melakukan apa apa pada putramu. Aku hanya menenangkannya karena sejak tadi dia menangis!." Nadira mencoba menjelaskan.
Mahesa tak menggubris, ia memanggil pelayan.
Beberapa saat kemudian bi Siti datang. Ia begitu terkejut melihat Nadira sedang menggendong tuan muda.
" Pelayan! bawa Keano dari wanita itu!." perintah Mahesa.
Bi Siti menatap Nadira dengan panik, ia dengan cepat mengambil Keano dari pelukan Nadira.
Nadira mematung, kali ini Mahesa akan kembali salah paham padanya.
" Saya hanya mencoba membantu."
Mahesa tak mendengar ucapan Nadira, ia menarik lengan Nadira dengan kasar. " Beraninya kamu menyentuh putraku! Kamu mau membuatnya celaka? Akan ku bunuh kamu!."
Nadira menggeleng sambil menahan sakit. " Tidak aku hanya melihatnya menangis jadi aku mencoba menenangkannya!."
" Hentikan omong kosongmu!."
Mahesa telah di kuasai kemarahan. Matanya gelap. Kali ini ia tidak membawa Nadira ke kamar, melainkan ke sebuah gudang yang gelap dan pengap.
Diana yang melihat putranya menyeret Nadira memutuskan mengikuti dari belakang.
Mahesa mendorong tubuh Nadira masuk ke dalam gudang gelap di belakang rumah itu. " Jangan coba coba untuk keluar! Kamu akan tinggal di sini sampai aku sendiri yang memutuskan kapan kamu bisa keluar!."
Deg
Nadira menggeleng, air matanya bercucuran. Nadira sangat takut kegelapan.
" Jangan kurung aku di sini, aku takut gelap!." ucap Nadia lirih sambil memohon.
Mahesa tak perduli, kemarahan telah menguasai dirinya.
Mahesa keluar begitu saja dari gudang tersebut dan menguncinya dari luar.
Diana yang melihat putranya keluar dari gudang memutuskan untuk bertanya.
" Ada apa Mahesa?." tanya nya penasaran sambil melirik ke arah gudang.
" Wanita itu telah berani menyentuh Keano!."
" Apa? Lalu bagaimana keadaan cucu mama? Apa dia baik baik saja? Apa yang dilakukan wanita itu padanya?." tanya Diana kaget.
" Keano baik baik saja." ujar Mahesa.
" Syukurlah." Diana terlihat lega. " pasti wanita itu memiliki niat jahat pada Keano, kamu harus bertindak tegas Mahesa! Jangan biarkan wanita itu membuat kita kehilangan Keano!." Ujar Diana penuh emosi.
Mahesa tak menjawab perkataan ibunya. Mahesa hanya menatap dengan dingin. " Jangan ada yang berani membuka pintu itu! Termasuk mama!."
Mahesa meninggalkan ibunya begitu saja.
Diana heran dengan sikap putranya, Diana merasa seolah dia sangat dilarang menemui Nadira.
Diana tak mau ambil pusing, ia segera ke pergi dari sana dan menemui cucunya.
***
Di ruang tamu, Mahesa mengumpulkan semua pelayan.
" Dimana pengasuh putraku? Kenapa dia meninggalkan Keano sendirian di kamarnya?." tanya Mahesa dengan marah.
" Tu...tuan, pengasuh tuan muda tidak terlihat sejak pagi. Kami pikir dia sedang bersama tuan muda." jawab bi Siti takut takut.
" Apa? Kemana dia pergi?." tanya Mahesa.
" Kami tidak tahu tuan, kami tidak melihatnya sejak pagi."
Mahesa memijat pelipisnya. " Kalian boleh pergi!." ujar Mahesa.
Ia bangkit dari duduknya, Mahesa pergi ke ruang kerjanya.
" Aku harus memeriksanya di CCTV!." gumamnya sambil membuka laptopnya.