Di puncak tertinggi Sembilan Ranah, Yu Fan adalah legenda—seorang Master Tingkat 9 yang menyentuh ranah kedewaan. Namun, kepercayaan adalah pedang bermata dua; ia dikhianati oleh sahabat masa kecilnya dan dibuang ke Dunia Fana dalam keadaan hancur.
Setelah 50.000 tahun tersegel dalam kegelapan yang sunyi, Yu Fan terbangun di dunia yang telah berubah total. Kekuatannya sirna, ingatannya terkikis, namun api amarah di jiwanya tetap membara. Di dunia baru ini, sang pengkhianat dipuja sebagai Dewi Kebajikan, dan sekte yang membantainya telah menjadi penguasa tunggal yang paling disegani.
Mengenakan jubah hitam dan memikul kutukan energi Yin yang dingin, Yu Fan harus memulai kembali perjalanannya dari titik terendah. Di antara kepingan ingatan yang hilang dan dunia yang penuh kebohongan, Sang Ashura akan bangkit kembali—bukan untuk menjadi pahlawan, melainkan untuk menghancurkan langit yang telah memuarakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fandy syahputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Simfoni Malam dan Janji di Bawah Matahari Terbenam
Kamar itu beraroma campuran yang tidak biasa—tajam dari minyak obat yang dioleskan di sela-sela perban, hangat dari uap teh herbal yang mengepul dari cangkir yang masih penuh di atas meja karena Yu Fan tertidur sebelum sempat meminumnya, dan samar-samar dingin dari energi Yin yang masih merembes sangat tipis dari tubuhnya bahkan dalam keadaan tidur, seperti luka yang sudah menutup namun masih berdarah di lapisan yang sangat dalam.
Cahaya pagi masuk dari celah tirai tipis, memotong udara kamar dalam jalur-jalur emas yang penuh dengan partikel debu yang melayang sangat pelan. Di atas ranjang giok biru muda yang menjadi standar kamar murid senior di akademi, Yu Fan terbaring dengan posisi yang terlalu rapi untuk orang yang benar-benar tidur nyenyak—punggungnya lurus, tangannya di sisi tubuh, seperti seseorang yang bahkan dalam ketidaksadarannya tidak sepenuhnya mengizinkan dirinya untuk rileks.
Perban putih bersih membalut dadanya dari bawah tulang dada hingga ke bahu kiri, dan satu lagi melingkari lengan kanan dari siku ke pergelangan. Di bawah perban itu, tersembunyi luka-luka yang secara teknis seharusnya membutuhkan waktu jauh lebih lama untuk pulih dari yang tubuhnya akan butuhkan—karena luka yang ditinggalkan oleh benturan antara energi Tingkat 5 dan tubuh yang menampung kekuatan yang jauh melampaui Tingkat 3 adalah jenis luka yang tidak sepenuhnya bisa dijelaskan oleh dokter-dokter akademi yang sudah melihat segalanya.
Di samping ranjang, duduk Jin Yuexin.
Gadis itu duduk di kursi kayu yang digeser terlalu dekat ke sisi ranjang, punggungnya tidak menyentuh sandaran kursi karena ia terlalu tegang untuk benar-benar duduk bersandar. Rambutnya yang biasanya dikuncir dua dengan sangat rapi sekarang dikuncir satu dengan tergesa-gesa—bukti bahwa ia datang ke kamar ini dengan sangat cepat dari suatu tempat. Jubah kuning-merahnya tidak ada kerutan yang biasanya ada saat pakaian sudah lama dipakai karena ia sudah mengganti jubah khusus untuk kunjungan pagi ini, namun di bawah matanya terdapat lingkaran sangat tipis berwarna keunguan—tanda seseorang yang sudah beberapa hari tidak tidur cukup atau tidur dengan cara yang tidak benar-benar mengizinkan istirahat.
Ia memegang cangkir teh Yu Fan yang sudah dingin itu dengan kedua tangannya, menatapnya dengan ekspresi yang sedang memutuskan sesuatu.
Di sudut yang lebih jauh dari ruangan, Dekan Shen Mingzhi berdiri dengan kedua tangan di belakang punggung—postur yang sama dengan saat ia berdiri di podium akademi, namun jauh lebih santai di wajahnya. Di sampingnya, Wakil Dekan Ruan Jing berdiri dengan caranya yang selalu sama: tegak, waspada, matanya bergerak meski kepala tidak.
Yu Fan membuka matanya.
Tidak secara dramatis—tidak ada proses bangun yang terlihat, tidak ada kedutan atau gerakan pertama yang besar. Kelopak matanya hanya terbuka, dan abu-abu gelap di dalamnya langsung fokus ke langit-langit kamar dengan cara yang menunjukkan bahwa kesadarannya sudah ada beberapa saat sebelum matanya terbuka.
"Kau benar-benar gila, Yu Fan."
Suara Yuexin memecah keheningan kamar seperti batu yang dilempar ke dalam kolam yang tenang—tidak keras, namun sangat terasa. Nada suaranya mengandung campuran yang ia jelas kesulitan mengelola: kecemasan yang sudah beberapa hari disimpan dan kekesalan yang tumbuh dari kecemasan itu karena tidak ada tempat lain yang lebih tepat untuk ia pergi selain ke bentuk yang lebih mudah diungkapkan.
"Mengejar sekte sesat sampai ke sarangnya." Ia meletakkan cangkir teh itu kembali ke meja dengan gerakan yang sedikit lebih keras dari yang diperlukan. "Apa kau pikir kau punya sembilan nyawa seperti kucing? Lihat dirimu sekarang—dibungkus seperti pangsit rebus!"
Yu Fan mencoba tersenyum. Otot-otot di dadanya segera mengirim protes yang sangat jelas tentang keputusan itu, dan senyumnya menjadi ekspresi yang tidak sepenuhnya bisa dikategorikan sebagai senyum atau meringis. "Setidaknya misinya berhasil, Putri."
"Berhasil?!" Yuexin mencubit lengan kirinya yang tidak diperban—cubitannya tidak keras, namun cukup untuk membuat Yu Fan meringis dengan cara yang sedikit lebih nyata. "Kalau kau mati, siapa lagi yang akan aku ejek di akademi ini? Tidak ada murid yang seaneh dan sependiam dirimu! Kau harus bertanggung jawab karena telah membuatku hampir jantungan selama tiga hari penuh!"
"Tiga hari penuh," ulang Yu Fan pelan.
Yuexin memalingkan wajahnya ke samping, ke arah jendela yang tirainya masih tertutup. "Jangan senang diri. Aku hanya... aku hanya khawatir tentang nama baik Kerajaan Tianwu kalau perwakilannya mati karena kecerobohan sendiri. Itu saja."
Yu Fan menatap profil wajahnya yang berpaling. Pipinya sedikit lebih merah dari biasanya, dan kuciran satu yang terburu-buru itu memperlihatkan pangkal lehernya dengan cara yang kuciran dua yang sempurna tidak pernah memperlihatkan. Ia tidak mengatakan apa-apa.
Dekan Shen berdehem dengan sangat sopan. "Putri benar, Yu Fan. Keberanian sangat dihargai, namun keselamatan tidak bisa diabaikan untuk alasan apa pun." Ia melangkah ke depan, tangannya mengeluarkan sebuah kantong kain sutra yang cukup berat dari dalam jubahnya dan meletakkannya di meja kecil di samping cangkir teh. "Ini adalah hadiah dari akademi. Sepuluh ribu koin emas dan enam botol Pil Pemulihan Sumsum Naga. Gunakan untuk memulihkan tubuhmu sepenuhnya—pil itu akan mempercepat perbaikan meridian yang rusak."
Dekan kemudian menatap Yu Fan dengan cara yang berbeda dari cara ia biasanya menatap murid-muridnya di podium—lebih langsung, lebih personal, dan mengandung sesuatu yang tidak sering ada di matanya: perhatian yang sangat spesifik. "Setelah kau benar-benar pulih, temuilah aku di ruangan dewan secara pribadi. Ada hal-hal penting yang harus kita bahas—tentang apa yang terjadi di dalam gua itu."
Di sampingnya, Wakil Dekan Ruan hanya mengangguk satu kali. Namun matanya—yang selama pertemuan singkat ini sudah beberapa kali mengarah ke perban di dada Yu Fan—mengandung sesuatu yang jauh lebih dari sekadar persetujuan administratif.
Setelah kedua petinggi akademi itu pergi dengan langkah-langkah yang mengisi koridor dengan suara yang terukur dan berwibawa, kamar kembali ke ukurannya yang sebenarnya—lebih kecil, lebih hangat, lebih penuh dengan aroma teh dan obat dan keheningan yang berbeda kualitasnya dari keheningan tadi.
Yuexin masih duduk. Ia belum menggerakkan kursinya satu mili pun.
"Yuexin."
"Apa."
"Terima kasih sudah di sini."
Jeda yang cukup panjang. Di luar kamar, suara langkah kaki murid-murid yang mulai memenuhi koridor untuk jadwal latihan pagi.
"Tentu saja aku di sini." Suaranya lebih pelan dari biasanya, kehilangan sebagian besar nada tingginya. "Aku tahu kau tidak minta, dan aku tahu kau lebih suka bangun sendirian. Tapi—" Ia berhenti. Melanjutkan. "Tapi saat Han datang membawa kalian kembali malam itu dan aku melihat kondisimu, aku tidak bisa pulang ke kamarku sendiri dan pura-pura tidur."
Yu Fan tidak menjawab secara verbal. Namun tangannya yang sedikit bergerak—satu gerakan kecil ke arah tangan Yuexin yang masih memegang meja—adalah pergerakan yang cukup untuk Yuexin tangkap maknanya meski Yu Fan tidak menyelesaikannya karena gerakannya terhenti saat tulang rusuknya protes.
Yuexin mengeluarkan suara yang tidak sepenuhnya tawa dan tidak sepenuhnya desahan kesal. "Berbaring yang tenang, pangsit rebus. Meridianmu belum sembuh."
Pemulihan tubuh Yu Fan berlangsung dengan kecepatan yang membuat dokter akademi—seorang wanita bertubuh mungil dengan kacamata tebal dan catatan yang selalu ia bawa ke mana-mana—menuliskan tiga halaman catatan tambahan dalam rekam medis Yu Fan dan menatapnya setiap kali ia datang untuk pemeriksaan dengan ekspresi seseorang yang sangat ingin mengajukan banyak pertanyaan namun sadar bahwa pertanyaan-pertanyaan itu mungkin tidak akan dijawab secara memuaskan.
Dalam empat hari, luka-luka eksternal sudah menutup sepenuhnya. Dalam tujuh hari, meridian yang retak sudah pulih hingga delapan puluh persen dengan bantuan dua dari enam pil Pemulihan Sumsum Naga. Dokter akademi mencatat bahwa kecepatan regenerasi ini tidak sesuai dengan kapasitas Qi seorang Tingkat 3 biasa, dan bahwa energi yang bekerja di dalam tubuh pasien selama proses pemulihan mengandung frekuensi yang tidak ada dalam referensi medis mana pun yang ia miliki.
Ia tidak menuliskan kesimpulan dari pengamatan itu. Hanya fakta-faktanya.
Malam pertama ia keluar dari kamar, kota di sekitar akademi sedang dalam suasana festival kecil yang tidak ada di kalender resmi—jenis perayaan yang tumbuh sendiri dari keinginan masyarakat untuk merayakan sesuatu tanpa perlu alasan yang sangat formal. Lampion-lampion merah dan emas bergantung di antara atap-atap bangunan dalam jalur-jalur yang tidak terencana namun entah kenapa terlihat sempurna, memancarkan cahaya yang mengubah warna batu jalanan dari abu menjadi emas pucat.
Yu Fan berjalan di antara keramaian itu dengan jubah hitamnya yang sudah dicuci bersih—jubah yang sama yang sudah ia pakai sejak Kerajaan Tianwu, sudah ditambal di beberapa tempat namun tekstilnya masih cukup baik untuk bertahan beberapa tahun lagi. Di sekelilingnya, orang-orang berlalu-lalang dengan barang-barang, anak-anak berlari di antara kaki-kaki orang dewasa, dan dari kedai-kedai yang buka malam ini menguar campuran aroma yang sangat beragam—daging panggang, bunga yang diawetkan dalam gula, rempah-rempah dari yang paling familiar hingga yang tidak dikenal.
Di depan sebuah gerobak kecil dengan pedagang tua yang wajahnya tersusun dari kerutan yang lebih banyak dari yang seharusnya muat di wajah satu orang, Yu Fan berhenti.
Tanghulu.
Manisan buah yang sudah ia incar sejak malam sebelum masuk ke hutan hitam itu. Rangkaian buah merah kecil yang dilapisi gula bening yang mengeras—sangat sederhana, sangat biasa, dijual di gerobak yang sama jenisnya di setiap kota mana pun di dunia fana ini. Namun entah kenapa, malam itu di kota Guhe, saat ia hendak membeli ini sebelum matanya menangkap jubah putih Lin Xueru yang terbang terlalu cepat untuk sekadar berjalan-jalan malam, tanghulu itu menjadi sesuatu yang tidak terbeli.
Ia membeli satu. Kemudian, setelah berpikir selama tiga detik, membeli satu lagi.
Berjalan sambil menggigit ujung buah pertama—rasanya persis seperti yang ia bayangkan selama beberapa minggu terakhir, manis yang segar dari buah dan manis yang lebih berat dari gula, dengan tekstur yang renyah di luar dan lembut di dalam—ia menyusuri keramaian pasar malam dengan tidak ada tujuan yang sangat spesifik selain menikmati udara yang tidak beraroma obat dan tidak berasal dari dalam ruangan yang sama.
Kerumunan yang lebih besar dari kerumunan biasa di pasar malam menarik perhatiannya ke sebuah panggung kayu terbuka yang dibangun darurat di sudut alun-alun kecil. Atas panggung itu, seorang wanita muda berdiri.
Yu Fan berhenti.
Wanita itu berusia sekitar dua puluh tahun, dengan tubuh yang lebih tinggi dari rata-rata wanita di kota ini—tidak terlalu tinggi, namun dengan postur yang dikembangkan oleh seseorang yang sudah sangat lama menggunakan tubuhnya sebagai alat kerja bukan sebagai ornamen. Rambutnya hitam panjang diikat ke atas dalam gaya yang fungsional, tidak ada ornamen, hanya tali biasa. Wajahnya—jika tidak ada tanda-tanda kelelahan dan kurang gizi yang samar-samar terlihat di sudut mata dan pipinya yang sedikit lebih cekung dari yang seharusnya—adalah wajah yang sangat menarik dengan cara yang berbeda dari Lin Xueru yang seperti patung atau Yuexin yang seperti matahari. Wajah wanita ini cantik dengan cara yang lebih keras, lebih cuaca, lebih seperti sesuatu yang sudah melalui banyak hal dan bertahan.
Di kedua tangannya, masing-masing sebuah pedang panjang dengan bilah tipis yang sudah sedikit buram di beberapa bagian—bukan karena tidak terawat, melainkan karena sudah sangat sering digunakan. Dari auranya yang sangat samar memancar tingkatan Master Tingkat 3 Menengah—sama dengan Yu Fan, namun dengan kualitas yang berbeda, seperti seseorang yang mencapai tingkat itu bukan melalui akademi dengan fasilitasnya melainkan melalui sesuatu yang jauh lebih tidak teratur dan jauh lebih menyakitkan.
Di samping panggung, seorang pria paruh baya dengan jubah lusuh yang dulunya mungkin cukup bagus berdiri di depan meja kecil tempat beberapa koin berserakan. Wajahnya mengandung ekspresi yang tidak asing bagi Yu Fan—ekspresi seseorang yang sudah sangat lama menggadaikan sesuatu yang tidak seharusnya digadaikan demi keberlangsungan hidup yang tidak punya pilihan lain.
"Siapa lagi yang berani?!" teriaknya ke kerumunan dengan nada yang sudah terlatih untuk terdengar antusias meski yang ada di dalamnya tidak begitu. "Kalahkan putriku dalam duel pedang, kalian berhak membawanya pulang sebagai istri! Bayar lima belas koin emas sebagai biaya pendaftaran!"
Penonton bersorak. Beberapa pria di barisan depan saling berbisik dengan cara yang sangat mudah dibaca isinya dari jarak jauh.
Wanita di atas panggung itu—yang jelas adalah sang putri yang dijadikan hadiah duel itu—menatap kerumunan dengan ekspresi yang terlalu terkontrol untuk sepenuhnya menyembunyikan apa yang ada di baliknya. Matanya tidak berkilat dengan api pemberontakan yang dramatis. Matanya hanya... lelah. Lelah dengan cara seseorang yang sudah sangat lama dalam situasi ini dan sudah sangat lama tidak melihat jalan keluarnya.
Yu Fan menatap wajah itu selama dua atau tiga detik. Kemudian ia merogoh kantongnya dan mengeluarkan lima belas koin emas.
Ia melangkah maju dan meletakkan koin-koin itu di atas meja.
Wanita itu—yang bernama Yan Er, nama yang ia sebut sendiri dengan suara yang datar namun bersih saat Yu Fan memberikan penghormatan formal di atas panggung—menatapnya dengan cara yang jelas tidak ia harapkan untuk reaksi pertamanya terhadap penantang baru.
Tidak ada ekspresi yang Yu Fan tidak bisa baca di wajah orang-orang di sekitarnya—kali ini pun tidak. Yang ia lihat di wajah Yan Er saat matanya bertemu dengan matanya adalah hal yang sangat sederhana: keterkejutan seseorang yang sudah sangat lama tidak diperlakukan seperti manusia biasa oleh penantang-penantangnya.
"Namaku Yu Fan," ucapnya. "Aku tidak berniat mengganggu. Aku hanya ingin mencari teman latih tanding untuk melemaskan otot-otot yang sudah terlalu lama berbaring."
Yan Er menatapnya satu detik lebih lama. Sesuatu di wajahnya bergerak sangat kecil—bukan tersenyum, namun perubahan di sudut mulutnya yang mengindikasikan bahwa seseorang yang sudah sangat lama tidak dilihat sebagai manusia baru saja mengalami sesuatu yang sangat berlawanan dengan kebiasaannya. "Peraturannya sederhana. Siapa yang keluar arena lebih dulu, kalah."
Gong berbunyi.
Yan Er bergerak seperti—bukan seperti badai, Yu Fan merevisi deskripsi itu dalam kepalanya saat ia mengamati gerakannya setengah detik pertama. Badai bergerak tanpa perhitungan. Yan Er bergerak seperti seseorang yang sangat tahu bahwa energinya terbatas dan setiap gerakan harus membayar kembali investasinya. Ia bergerak seperti pengalaman bertahun-tahun dalam kondisi yang tidak pernah ideal.
Kedua pedang panjangnya bergerak dalam koordinasi yang tidak datang dari teknik formal mana pun yang diajarkan di akademi—tidak ada nama teknik, tidak ada pola yang terdokumentasi, hanya dua bilah yang bergerak seperti perpanjangan dari dua tangan yang sudah sangat lama bekerja bersama-sama sehingga tidak perlu diperintah secara sadar lagi. Pedang kanan menyerang untuk memaksa reaksi defensif, pedang kiri memanfaatkan ruang yang terbuka oleh reaksi itu, dan saat lawan merespons pedang kiri, pedang kanan sudah ada di posisi berikutnya yang logis.
Teknik Pedang Ganda Tanpa Nama—bukan karena tidak ada nama, melainkan karena tidak ada guru yang mengajarkannya dan tidak ada buku yang menuliskannya. Teknik yang lahir dari ribuan jam latihan mandiri dalam kondisi yang memaksa seseorang untuk menemukan sendiri apa yang berhasil karena tidak ada tempat lain untuk belajar.
Yu Fan bergerak secara defensif.
Bukan karena ia tidak mampu menyerang balik—ia mampu, dan dalam kondisi di atas panggung ini ia bisa mengakhiri duel ini dalam sepuluh gerakan atau kurang. Namun ada alasan yang berbeda untuk tidak melakukan itu. Seseorang yang baru saja dua minggu lalu dibalut perban dari dada ke lengan butuh sedikit waktu untuk memastikan bahwa meridian-meridiannya merespons seperti yang seharusnya sebelum ia mengeluarkan serangan penuh. Dan ada alasan kedua yang lebih sederhana: duel ini seharusnya menjadi sesuatu yang berbeda dari yang biasanya.
Teknik Pedang Yin Mengalir — digunakan pada kapasitas tiga puluh persen, cukup untuk menciptakan pertahanan yang efisien tanpa menciptakan tekanan yang merusak bagi lawan. Pedang hitam-peraknya bergerak bukan untuk menangkis melainkan untuk mengalihkan—setiap serangan Yan Er diterima bukan dengan benturan melainkan dengan panduan, energi serangan diarahkan ke samping dengan perubahan sudut yang sangat kecil yang tidak terasa seperti penolakan namun memiliki efek yang sama.
Dari perspektif Yan Er, ini terasa seperti bertarung dengan seseorang yang tidak ada di mana ia pikir ada—seperti air yang selalu menemukan cara untuk mengalir di sekitar batu yang mencoba menghalanginya.
Dua jam berlalu.
Ini adalah duel terlama yang berlangsung di panggung ini dalam sejarahnya yang tidak panjang. Penonton yang tadinya bersorak-sorai mulai berdiri diam dan benar-benar memperhatikan—bukan dengan antusias tontonan, melainkan dengan konsentrasi orang yang menyaksikan sesuatu yang tidak biasa. Dua bilah Yan Er dan satu bilah Yu Fan beradu dalam simfoni yang memiliki ritme di dalamnya, pola yang berulang dan berevolusi, aksi dan reaksi yang saling menginformasikan satu sama lain dalam lingkaran yang semakin kecil dan semakin terfokus.
Dan dalam lingkaran yang semakin kecil itu, Yu Fan melihat sesuatu.
Bukan celah dalam teknik Yan Er—Yan Er tidak memiliki celah yang konvensional. Yang ia lihat adalah sesuatu yang lebih dalam dari teknik: ritme napas yang menjadi sedikit tidak sinkron dengan gerakan pedang setelah serangan ke sekian, akibat dari kelelahan yang sudah lama ditahan dan energi spiritual yang tidak sepenuhnya terisi. Di titik itu, dalam satu setengah detik antara tarikan napas dan gerakan pedang berikutnya, ada jeda kecil yang hanya ada karena tubuh Yan Er sedang bernegosiasi dengan kelelahan.
Yu Fan tidak menyerang titik itu.
Ia membuat gerakan tipuan yang menarik perhatian kedua pedang Yan Er ke kanan, menciptakan jalur terbuka di sisi kirinya yang sangat jelas terlihat—terlalu jelas, dengan cara yang seharusnya membuat lawan curiga bahwa ini terlalu mudah.
Yan Er curiga selama setengah detik. Namun naluri yang sudah terlatih jauh lebih lama dari kehati-hatiannya mengambil alih—ketika ada celah, tutup sebelum lawan berubah pikiran. Pedang kirinya bergerak untuk memanfaatkan celah itu.
Dalam gerakan itu, berat badannya berpindah ke depan.
Satu tendangan ringan di bahu—bukan pukulan, bukan serangan, tidak ada Qi di dalamnya—mendorong bahu kiri Yan Er dari arah samping pada saat yang tepat dengan momentum yang sudah ada di dalam gerakan Yan Er sendiri. Fisika sederhana: seseorang yang bergerak ke depan, jika diberi dorongan lateral kecil di titik yang tepat, akan bergerak ke depan-samping.
Kaki Yan Er melangkah melewati garis arena.
Penonton melihat ini satu detik lebih lambat dari yang terjadi, kemudian suara sorak-sorai membanjiri alun-alun kecil itu seperti air yang menunggu pintu terbuka.
Yu Fan menghampiri Yan Er yang berdiri di luar garis dengan kedua pedangnya masih di tangan, memproses apa yang baru saja terjadi. Ia membungkuk dalam-dalam—lebih dalam dari yang biasa digunakan untuk mengakui kemenangan dalam duel kompetitif, lebih seperti cara murid membungkuk kepada guru. "Terima kasih atas pelajaran berharganya, Nona Yan Er. Teknik pedang ganda Anda—khususnya koordinasi antara serangan primer dan posisi sekunder—sangat tidak biasa dan sangat efektif."
Yan Er menatapnya.
Di dalam matanya yang tadi kelelahan, ada sesuatu yang bergerak. Bukan dramatis. Tidak ada air mata atau ekspresi yang berlebihan. Hanya sebuah pergerakan sangat kecil di dalam matanya—seperti sesuatu yang sudah sangat lama tertutup membuka sedikit, tidak cukup lebar untuk disebut terbuka, namun cukup untuk dilalui cahaya.
"Tuan..." suaranya lebih rendah dari suaranya di atas panggung. "Sesuai janji ayahku, kau telah mengalahkanku. Mulai saat ini—"
"Nona Yan Er." Yu Fan memotong dengan cara yang tidak memotong melainkan menghentikan sebelum sesuatu yang tidak perlu diucapkan. "Nasibmu ada di tanganmu sendiri. Bukan di tangan pemenang duel mana pun."
Dari kantongnya, ia mengeluarkan dua hal. Pertama, lima belas koin emas yang ia bayarkan tadi—ia meletakkannya di telapak tangan Yan Er yang terbuka. Kedua, tanghulu kedua yang ia beli tadi—manisan buah merah dalam rangkaian yang rapi.
"Makanlah ini dulu agar tenagamu pulih," ucapnya, menyerahkan tanghulu itu. "Koin emas itu lebih dari cukup untuk sementara waktu. Teknik pedang gandamu terlalu baik untuk dihabiskan di panggung seperti ini—temukan tempat yang lebih baik untuknya."
Yan Er menatap koin-koin di telapak tangannya, kemudian tanghulu yang kini ada di tangan satunya. Sesuatu di sudut matanya bergerak lagi—sedikit lebih jauh terbuka dari tadi.
"Tuan Yu Fan," ucapnya. Suaranya sudah memutuskan sesuatu. "Seorang wanita praktisi hanya tunduk pada satu orang—seseorang yang lebih kuat darinya sekaligus memiliki hati yang tidak menggunakan kekuatan itu untuk keuntungan diri sendiri." Ia membungkuk dalam-dalam, lebih dalam dari apa pun yang ada dalam etiket resmi pertarungan. "Mulai hari ini, Yan Er bersumpah setia."
Yu Fan menggaruk bagian belakang kepalanya. "Itu tidak—"
"Ini bukan permintaan atau negosiasi." Matanya bertemu matanya dengan cara seseorang yang sudah membuat keputusan yang jauh lebih sulit dari ini sebelumnya dan tidak terbiasa mengubah keputusan. "Ini adalah fakta."
Yu Fan menatap wajah itu—lelah namun keras, cekung namun tidak patah, matanya yang sekarang mengandung sesuatu yang lebih hidup dari yang ada di sana satu jam lalu. Ia menarik napas panjang, mendesahnya keluar, dan mengucapkan kalimat yang ia tahu tidak akan menyelesaikan masalah namun juga satu-satunya kalimat yang jujur yang bisa ia katakan. "Jika takdir mengizinkan, kita akan bertemu lagi."
Sebelum Yan Er bisa merespons, Yu Fan melompat—satu langkah ke atas pagar alun-alun, satu langkah ke atap bangunan rendah di sebelahnya, dan dari sana ia sudah di atas jalur atap yang membawanya kembali ke akademi. Tanghulu pertamanya sudah habis. Ia melambai sekali tanpa menoleh.
Di bawah, Yan Er berdiri dengan koin emas di satu tangan dan tanghulu di tangan lain, menatap siluet jubah hitam yang menghilang di balik garis atap di bawah bulan yang penuh.
Ayahnya mendekatinya dari samping. "Nona—"
"Diam, Ayah." Suaranya lebih keras dari sebelumnya—keras dengan cara yang berbeda, keras dengan cara seseorang yang baru saja menemukan sesuatu yang bisa dijadikan fondasi. "Kita perlu bicara tentang banyak hal."
Perpustakaan Besar Akademi Langit Biru, dua hari kemudian.
Tempat yang pada siang hari dipenuhi oleh murid-murid yang mengerjakan tugas dengan ekspresi yang berkisar dari tekun hingga hampir tertidur, pada malam yang sepi hanya dihuni oleh lampion-lampion kecil yang menyala otomatis saat sensor geraknya mendeteksi kehadiran—cahayanya lebih oranye dan lebih hangat dari cahaya siang, membuat seluruh ruangan terlihat seperti berada di dalam amber yang sangat besar.
Aroma tempat ini adalah sesuatu yang Yu Fan sukai tanpa bisa sepenuhnya menjelaskan mengapa—kertas tua, tinta yang mengering perlahan, kayu rak yang sudah sangat lama menyerap semua aroma di sekitarnya hingga menciptakan aromanya sendiri yang unik. Ada sesuatu yang menenangkan tentang pengetahuan yang tersimpan diam dalam bentuk fisik—tidak memaksakan dirinya, hanya ada dan menunggu.
Resepsionis—seorang pria paruh baya bernama Paman Luo, dengan kacamata tebal yang satu sisinya sudah diganti dengan lensa dari kacamata berbeda sehingga dua lensanya tidak simetris, dan kumis yang ia rawat dengan lebih hati-hati dari apa pun yang lain di hidupnya—menyambutnya dengan anggukan yang sudah terasa familiar dari puluhan kunjungan sebelumnya.
"Murid favoritku datang lagi." Suaranya rendah dan menyenangkan seperti suara seseorang yang sudah sangat lama bekerja di tempat yang mengharuskan bicara pelan. "Sejarah kuno atau teknik pengobatan malam ini?"
"Malam ini hanya berkeliling," jawab Yu Fan. "Terima kasih, Paman Luo."
Paman Luo membuat gerakan kecil dengan tangannya yang artinya silakan, kau tahu caranya—gerakan yang sudah sangat familiar, seperti bahasa yang tidak membutuhkan kata-kata.
Yu Fan menyusuri rak-rak dengan cara yang ia selalu lakukan—tidak langsung ke bagian yang ingin ia cari, melainkan berjalan pelan di sepanjang setiap rak sambil membiarkan matanya bergerak sendiri tanpa agenda. Kadang cara terbaik untuk menemukan sesuatu adalah dengan tidak mencarinya secara aktif.
Matanya berhenti di ujung ruangan.
Pintu perunggu besar yang selalu ada di sana, di ujung baris rak paling belakang. Pintu yang terbuat dari perunggu bukan karena alasan estetika melainkan karena perunggu adalah konduktor energi formasi yang lebih efisien dari besi atau baja—dan dari permukaan pintu itu, sangat tipis namun sangat nyata, mengalir energi yang melapisi seluruh pintu dalam formasi penjaga yang jauh lebih rumit dari apa yang dibutuhkan untuk sekadar mengamankan koleksi buku biasa.
Arsip Terlarang.
Ia sudah memperhatikan pintu ini sejak pertama kali masuk ke perpustakaan ini, dua tahun lalu. Ia tidak pernah mendekatinya karena tidak ada alasan untuk mendekati sesuatu yang tidak ada dalam jadwal misinya saat ini. Namun malam ini, sesuatu menariknya—bukan tekanan, bukan dorongan, hanya rasa penasaran yang malam ini terasa sedikit lebih kuat dari biasanya, mungkin karena percakapan dengan Dekan yang sudah ia jadwalkan dalam beberapa hari ke depan, mungkin karena aura merah yang malam di gua itu terasa lebih mudah diakses dari sebelumnya, mungkin karena tidak ada alasan yang bisa ia identifikasi.
"Ada banyak jawaban di dalam sana."
Suara yang tidak ia harapkan dari arahnya.
Yu Fan berpaling ke kanan.
Lin Xueru berdiri di antara dua rak buku yang tinggi, satu buku tebal dipeluk di depan dadanya—bukan dipegang, melainkan dipeluk dengan cara seseorang yang membawa buku sebagai alasan untuk berada di tempat ini daripada sebagai sesuatu yang benar-benar ingin ia baca malam ini. Jubah putihnya di perpustakaan ini terlihat seperti satu-satunya sumber cahaya yang tidak berasal dari lampion—tidak secara literal, namun karena kontras antara putihnya dan warna-warna hangat tua dari rak-rak kayu di sekitarnya sangat tajam.
Rambutnya turun bebas malam ini. Bukan setengah dikuncir atau dikuncir penuh seperti yang ia selalu kenakan dalam aktivitas resmi—turun sepenuhnya, panjangnya melebihi bahu, dan cara cahaya oranye lampion menyentuhnya mengubah warna hitam pekatnya menjadi sesuatu yang mengandung refleksi emas yang sangat tipis. Ini adalah Lin Xueru yang berbeda dari Lin Xueru yang Yu Fan biasanya lihat di arena atau di koridor akademi—lebih kecil entah kenapa, meskipun tingginya sama, dan wajahnya tanpa ekspresi terkontrol yang selalu ia pilih untuk diperlihatkan mengandung sesuatu yang lebih muda dan lebih tidak pasti.
"Lin Xueru?" Yu Fan menatapnya sedikit terkejut. "Kau juga di sini malam ini?"
"Mencari ketenangan." Dua kata yang sangat sederhana, namun diucapkan dengan cara yang mengindikasikan bahwa ketenangan yang dimaksud bukan berasal dari membaca buku. "Perpustakaan malam hari tidak ada murid yang membahas teknik pertempuran atau gosip sekte. Hanya buku dan lampion."
"Dan terkadang orang lain yang juga mencari ketenangan yang sama," tambah Yu Fan.
Xueru menatapnya satu detik. Kemudian ia bergerak ke meja baca besar di sudut dekat jendela—meja yang cukup untuk empat orang namun biasanya digunakan sendiri oleh siapa pun yang duduk di sana karena letaknya yang agak tersembunyi oleh rak tinggi di sisinya. Ia meletakkan bukunya di meja dan duduk, dan cara ia duduk—tanpa mengatur posisi jubahnya secara sadar, tanpa memilih sudut yang terbaik untuk terlihat—adalah cara duduk seseorang yang tidak sedang berada dalam mode presentasi diri.
Yu Fan mengambil kursi di sisi meja yang sama, dengan jarak yang tidak terlalu dekat dan tidak terlalu jauh. Meja besar di antara mereka mengandung satu lampion kecil yang sinarnya cukup untuk membaca namun tidak cukup untuk menghilangkan bayangan di sudut-sudut.
Mereka berbicara.
Tidak tentang yang besar-besar dulu—tidak tentang gua dan sekte dan aura merah dan hal-hal yang menunggu untuk dibahas namun belum waktunya. Mereka berbicara tentang hal-hal yang lebih kecil dulu, dengan cara yang alami dari dua orang yang sudah melalui sesuatu yang sangat intens bersama-sama dan sekarang menemukan ruang yang cukup tenang untuk berbicara tentang hal-hal yang tidak intens sebagai pengantar.
Perkembangan akademi—kelas baru yang dibuka di semester berikutnya, teknik alkimia yang diperdebatkan oleh dua guru yang sudah sangat lama tidak sependapat tentang hal yang sama. Tentang murid-murid baru yang masuk melalui ujian dimensi semester ini dan bagaimana perbandingan mereka dengan angkatan mereka sendiri dua tahun lalu. Tentang Mei Er yang sudah tiga minggu tidak terlihat di kantin akademi meski secara resmi masih terdaftar sebagai murid aktif.
Kemudian, secara alami dan tanpa perpindahan yang terasa dramatis, percakapan itu bergerak ke tempat yang sedikit lebih dalam.
"Aku merasa sesuatu sedang bergerak di dunia ini," ucap Xueru. Ia tidak menatap Yu Fan saat mengatakannya—matanya menatap lampion kecil di meja, api kecilnya yang tidak bergerak di dalam ruang yang tidak ada anginnya. "Bukan sekte sesat satu atau dua. Bukan perebutan wilayah antar kerajaan. Sesuatu yang lebih besar dari itu. Lebih tua." Jeda. "Dan setiap kali aku merasakan itu—" Ia akhirnya menatap Yu Fan. "Entah kenapa, aku selalu kembali ke satu pikiran."
"Pikiran apa?"
"Bahwa kau adalah pusat dari badai itu."
Ruangan perpustakaan sangat sunyi. Di kejauhan, suara Paman Luo yang menata buku di bagian lain perpustakaan—suara buku berat yang diletakkan dengan hati-hati, satu per satu.
"Kau tidak takut dengan kesimpulan itu?" tanya Yu Fan.
Xueru menatap pertanyaan itu dari berbagai sudut sebelum menjawab. "Semua yang terjadi selama dua tahun ini—dari tangga dimensi, dari lembah itu, dari dalam gua itu—ada satu benang yang menghubungkan semuanya." Ia tidak menjawab pertanyaan Yu Fan secara langsung, namun ia menjawabnya. "Badai tidak meminta izin untuk ada. Tapi seseorang yang sudah tahu ada badai yang datang bisa memilih di mana ia berdiri."
Yu Fan menatap wajahnya di bawah cahaya lampion yang hangat. Di wajah yang selalu sangat terkontrol itu, malam ini ia melihat versi yang berbeda—seseorang yang sudah memutuskan sesuatu namun belum sepenuhnya selesai memutuskan cara untuk mengucapkannya.
"Lin Xueru," ucapnya. "Informasi tentang Sekte Teratai Putih—tentang asal-usulnya, tentang Dewi Kebajikan yang kalian sembah. Apakah ada versi sejarah yang lebih tua dari yang tercatat secara resmi?"
Sesuatu berubah di wajah Xueru. Sangat tipis, namun Yu Fan sudah cukup terlatih dalam membaca perubahan yang sangat kecil. Bukan keterkejutan—lebih seperti seseorang yang sudah lama menunggu pertanyaan tertentu dan baru saja mendengarnya diucapkan.
"Di dalam Arsip Sekte yang tidak terbuka untuk murid di bawah tingkat Senior," ucapnya pelan, "ada catatan yang menyebut bahwa sebelum Dewi naik ke ranah langit lima puluh ribu tahun lalu, ada sebuah konflik besar. Konflik yang—" Ia berhenti. "Yang dalam versi resmi sejarah sekte kami, disebut sebagai pembersihan ancaman terhadap keseimbangan alam."
"Versi yang tidak resmi?"
Xueru menatap lampion lagi. "Ada satu catatan tangan yang tersimpan dalam kotak perunggu tersembunyi di dalam Arsip Senior. Sangat tua, tintanya sudah hampir tidak terbaca. Aku menemukannya karena kebetulan yang tidak sepenuhnya kebetulan." Napas yang sangat pelan. "Dalam catatan itu, ancaman yang disebutkan dalam versi resmi—bukan ancaman dari luar. Ia adalah seseorang dari dalam. Seseorang yang tingkatan kekuatannya tidak kalah dengan Dewi itu sendiri."
Jantung Yu Fan tidak berdetak lebih cepat. Namun energi Yin di dalam tubuhnya bergerak satu denyutan—sangat kecil, sangat singkat, seperti senar yang disentuh dan langsung diredam.
"Dan dalam catatan itu," lanjut Xueru, suaranya turun satu nada lagi. "Ada satu baris terakhir yang tintanya lebih baru dari sisa catatan—ditambahkan jauh setelahnya oleh tangan yang berbeda." Ia mengangkat matanya dari lampion dan menatap Yu Fan langsung. "Baris itu berbunyi: Ia tidak mati. Ia hanya tertidur."
Keheningan di perpustakaan malam itu mengandung berat yang berbeda dari sebelumnya.
Yu Fan tidak bergerak. Tidak menjawab. Wajahnya tidak menunjukkan apa pun yang bisa dibaca sebagai konfirmasi atau penolakan.
Namun di dalam dadanya, tepat di titik yang sama yang selalu berdenyut setiap kali nama Teratai Putih disebut—sesuatu berdenyut dua kali. Bukan sekali. Dua kali. Seperti jantung yang baru ingat bahwa ada sesuatu yang sudah sangat lama perlu diingat.
Mereka bercerita hingga lampion-lampion perpustakaan mulai meredup satu per satu—otomatisasi yang memberitahu bahwa sudah lewat tengah malam. Kemudian saling berpamitan dengan sopan, dengan cara yang mengandung semua yang tidak mereka ucapkan di sela-sela semua yang mereka ucapkan.
Seminggu kemudian.
Di atas meja kamarnya, sebuah kotak kue yang sangat cantik. Kayu lacquer merah dengan kunci emas kecil, dengan pita kuning yang diikat dalam simpul yang membutuhkan waktu dan kesabaran untuk membuatnya. Di bawah pita itu, selembar kertas kecil.
Dari Yan Er. Untuk Tuan Yu Fan yang mengembalikan tanghulunya tanpa meminta apa pun kembali. Kue ini dibuat sendiri. Saya harap rasanya tidak terlalu buruk.
— Istrimu yang menunggu.
Yu Fan membaca baris terakhir itu dua kali. Kemudian, dengan ekspresi yang tidak sepenuhnya bisa dikategorikan sebagai canggung atau terhibur namun mengandung keduanya, ia membungkuk dengan sangat sopan ke arah kotak kue itu—gerakan yang, jika ada saksi, akan sangat sulit dijelaskan namun terasa sangat tepat untuk situasinya.
Bunyi pintu didobrak dengan cara yang hanya dilakukan oleh satu orang di seluruh akademi.
"YU FAN! AYO KELUAR! MATAHARI—"
Dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi dari kecepatan berjalannya ke mana pun dalam sebulan terakhir, Yu Fan menggerakkan tangannya ke cincin dimensi di jari kanannya dan memasukkan seluruh kotak kue itu—pita, surat, dan semua—ke dalam ruang dimensi dalam satu gerakan yang sangat halus dan sangat cepat namun tidak cukup halus karena Yuexin sudah masuk dan Yuexin memiliki mata yang sangat baik.
"Apa itu yang baru saja kau masukkan ke cincin dimensimu?"
"Tidak ada."
"Yu Fan."
"Matahari katamu?" ucap Yu Fan, berdiri dari kursi dengan langkah yang menuju pintu. "Mari keluar."
Yuexin berdiri di antara ia dan pintu dengan kedua tangan di pinggang—postur yang ia kenali dengan sangat baik sebagai postur seseorang yang tidak akan dipindahkan oleh kekuatan biasa. "Aku melihatnya. Kotak lacquer merah dengan pita kuning. Siapa yang mengirim itu?"
"Tidak ada yang penting."
"Tidak ada yang penting tidak dimasukkan ke dalam cincin dimensi dengan kecepatan segitu." Alisnya naik setengah sentimeter. "Dari siapa?"
Yu Fan menatapnya. Menatap ekspresi di wajahnya—kecurigaan yang sangat hidup, kekesalan yang belum memutuskan apakah ia kecewa atau hanya penasaran, dan di bawah semua itu sesuatu yang lebih sederhana yang ia pilih untuk tidak dibicarakan. "Seseorang yang berterima kasih. Tidak lebih."
"Berterima kasih kenapa?"
"Karena aku melakukan sesuatu yang kecil."
"Apa yang kecil?"
"Yuexin."
"Apa."
"Matahari."
Gadis itu menghembuskan napas panjang yang mengandung segala macam pendapat yang ia putuskan untuk tidak keluarkan satu per satu. Kemudian ia berputar dan berjalan keluar duluan. "Baik. Tapi percakapan ini belum selesai."
"Aku tahu."
"Aku serius."
"Aku tahu."
Akademi Langit Biru di sore yang tenang. Langit barat berwarna gradasi yang tidak bisa diputuskan satu nama warnanya—oranye di paling bawah, merah muda di tengah, ungu yang sangat tipis di ujung atas, dan di tepian semua itu, biru yang tidak mau sepenuhnya pergi.
Di atas atap paviliun tertinggi yang menghadap ke arah barat, Yu Fan dan Yuexin duduk berdampingan—bukan berdampingan yang direncanakan, melainkan berdampingan yang terjadi karena dua orang berjalan ke tempat yang sama untuk alasan yang berbeda dan menemukan bahwa alasan yang berbeda itu tidak menghalangi mereka untuk duduk berdampingan.
Yuexin sudah tidak berbicara sejak beberapa menit yang lalu—penanda yang sangat tidak biasa untuk seseorang yang secara fundamental tidak nyaman dengan keheningan. Kakinya terjulur ke depan di pinggir atap, dan ia menatap langit dengan cara yang menunjukkan bahwa ada sesuatu yang sedang ia formulasikan namun belum sepenuhnya siap untuk dikeluarkan.
"Yuexin," ucap Yu Fan.
"Apa."
"Terima kasih."
Ia tidak melanjutkan langsung. Membiarkan dua kata itu ada dulu.
Yuexin menoleh ke arahnya, alisnya sedikit berkerut—bukan kesal, melainkan tidak tahu ke mana ini menuju. "Untuk apa?"
"Untuk beberapa tahun yang lalu." Yu Fan menatap langit barat. "Kau yang bersikeras memintamu kakek masuk ke hutan itu dan mengambilku. Aku tidak pernah mengucapkan terima kasih dengan benar untuk itu." Jeda. "Tanpamu, aku mungkin masih menjadi seseorang yang tidak tahu siapa dirinya dan tidak punya tempat untuk berdiri. Kau memberiku nama, tempat tinggal, dan alasan untuk terus bergerak maju. Itu bukan hal kecil, Yuexin."
Keheningan yang panjang. Di bawah mereka, suara akademi menjelang malam—langkah kaki murid-murid yang pulang dari latihan, suara lonceng penanda akhir sesi.
Yuexin memalingkan wajahnya ke kiri—ke arah yang berlawanan dari Yu Fan. Di bawah cahaya matahari terbenam yang oranye, pinggiran telinga kirinya sedikit lebih merah dari warna kulitnya yang biasa.
"Tentu saja kau harus berterima kasih." Suaranya lebih pelan dari biasanya. Lebih pelan dan sedikit tidak rata, dengan cara napas yang disesuaikan ditengah kalimat. "Kau berhutang nyawa padaku, jadi kau harus terus melindungiku sampai aku bosan. Mengerti?"
"Mengerti."
"Dan kau tidak boleh mati karena hal-hal bodoh seperti memasuki sarang sekte sesat sendirian."
"Aku tidak sendirian. Ada Xueru dan Han."
"Itu bukan poin yang ingin kau ambil di momen ini, Yu Fan."
Yu Fan tidak menjawab. Namun di sudut bibirnya, ada sesuatu yang bergerak—sangat kecil, namun ada.
Mereka duduk dalam keheningan yang bukan tidak nyaman—keheningan yang sudah sangat terlatih dari dua tahun berbagi ruang dan waktu yang cukup. Langit di barat semakin gelap. Bintang pertama muncul di timur.
Di dalam diri Yu Fan, di lapisan paling permukaan dari pikiran malam ini—ada perasaan yang tidak ia beri nama karena memberinya nama berarti memutuskan sesuatu tentangnya, dan ia belum siap untuk memutuskan sesuatu tentang apa pun yang menyangkut dirinya sendiri selagi separuh dirinya masih tidak tahu siapa ia sebenarnya.
Namun di bawah perasaan yang tidak bernama itu, lebih dalam, ada sesuatu yang lebih sederhana dan lebih pasti.
Untuk pertama kalinya sejak ia bangun di puncak gunung mati dengan jubah hitam yang koyak dan tidak ada satu pun kenangan di kepalanya, ia merasa seperti ada tempat yang bisa disebut di sini. Bukan rumah—ia belum tahu di mana rumahnya. Namun di sini, di atas atap paviliun ini, di antara dunia yang belum sepenuhnya ia mengerti dan masa lalu yang belum sepenuhnya ia temukan—di sini adalah cukup untuk saat ini.
Dan cukup untuk saat ini adalah sesuatu yang belum pernah ia punya sebelumnya.
Langit gelap sepenuhnya. Bintang-bintang muncul satu per satu, kemudian dalam kelompok-kelompok, kemudian semua sekaligus seperti seseorang menyalakan lampu di dalam ruangan yang sangat besar.
Yuexin masih memalingkan wajahnya ke kiri.
Yu Fan masih menatap langit.
Di suatu tempat di akademi di bawah mereka, sebuah kotak kue lacquer merah dengan pita kuning tersimpan di dalam cincin dimensi, menunggu untuk dikeluarkan pada saat yang lebih tepat. Di perpustakaan yang sudah tutup untuk malam ini, sebuah pintu perunggu besar menyimpan hal-hal yang belum waktunya dibaca. Dan di ruangan Dekan yang sudah ia jadwalkan untuk dikunjungi dalam beberapa hari ke depan, sebuah percakapan menunggu yang mungkin akan mengubah cara ia memahami semua yang sudah terjadi selama dua tahun ini.
Namun semua itu menunggu di tempatnya masing-masing dengan sangat sabar.
Dan di atas sini, untuk satu malam yang tidak perlu menjadi lebih dari yang ia adalah—Yu Fan membiarkan dirinya duduk di di sini yang cukup ini, di antara langit yang biru dan gadis yang memalingkan wajahnya dengan telinga yang sedikit kemerahan.
Sang Penghancur Sembilan Ranah belum ingat namanya sendiri.
Namun untuk pertama kalinya dalam perjalanan yang panjang ini, ia tidak merasa seperti hanya menunggu untuk mengingatnya.