Naja Belial muncul saat keadilan gagal. Dia tidak datang untuk menyelamatkan, tapi untuk memastikan dosamu dibayar lunas.
Saat hukum bisa dibeli.
Saat kebenaran dimanipulasi.
Saat manusia saling menghancurkan demi kepentingan sendiri…
Entitas urban legend itu akan datang.
Ada yang menganggapnya penyelamat.
Ada pula yang menyebutnya kutukan.
Lalu, apakah keadilan yang dipaksakan benar-benar lebih baik daripada kehancuran yang dibiarkan?
Story by Instagram & Tiktok @penulis_rain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13 : Saksi Yang Diam
Sesuai janjinya pada Naja, Satria pun memutuskan untuk menemui salah satu teman pelaku pelecehan adik Evan tersebut. Dia beruntung mendapatkan sedikit informasi tentang alamat teman itu dari Evan sendiri. Satria tidak langsung pergi ke rumah itu, dia menunggu waktu pulang sekolah untuk penyelidikan.
Selama perjalanan, Satria merasa sedikit kelelahan. Tidak ada seorangpun menemani, bahkan Naja juga tidak terlihat. Rasa lelah yang dirasakan badannya membuat Satria sesekali berdiam diri sambil menghela napas. Dia mengambil sebotol air dan meminumnya.
"Aku harus segera menemukan cowo itu," gumam Satria sambil terus berjalan dengan mata menyipit memandang sekeliling. Tatapannya seolah merasakan bahwa teman lelaki yang dimaksud tinggal di sekitar daerah ini.
Sesaat, Satria menghentikan langkahnya di salah satu perumahan berwarna cat biru. Terlihat beberapa orang sedang mengobrol di depan teras. Dengan senyuman ramah khasnya, Satria menghampiri mereka.
"Permisi, Pak, Bu. Saya ingin tanya, apa kalian tahu rumah teman saya? Namanya Raka," tanya Satria dengan suara lembut sambil menunjukkan foto lelaki yang dimaksud.
Melihat itu, salah seorang ibu pun tersenyum sambil mengayunkan tangannya. "Oh itu rumahnya tidak jauh dari sini. Kamu lurus saja lalu belok kanan habis itu selisih dua rumah, nanti ada rumah cat putih dengan seekor anjing. Itu rumahnya," jawab ibu tersebut.
Satria mengangguk. "Baik, terimakasih," ucap lelaki itu lembut. Salam hati, dia berdecak pelan karena kesal. "Kenapa harus ada anjingnya sih?"
Namun, karena sebuah misi, diapun memutuskan untuk membuang rasa kesalnya jauh-jauh dan fokus pada tujuan. Setiap langkah kakinya penuh dengan rasa tegas. Saat sampai di rumah Raka, dia melihat anjing peliharaan lelaki itu tengah berdiri menjaga pintu rumahnya.
"Gimana lewatnya?" gumam Satria. Sementara anjing di depannya tak berhenti menggonggong. Rupa anjing yang melotot dengan gigi tajam membuat Satria sedikit merinding.
Satria tadi ingin mendekat dan mengetuk pintu. Akan tetapi, anjing itu terus menggonggong lebih keras membuat Satria tak berani maju. Lelaki itu pun berjinjit dan mencoba melihat isi rumah dari balik jendela, berharap Raka ada di dalam sana.
"Raka! Tolong buka pintunya," pinta Satria dengan sedikit berteriak membuat si pemilik rumah bangkit dari duduknya dan bergegas membuka pintu.
Raka mengerutkan kening menatap Satria. Lelaki itu tampak asing sekali di matanya. Dan lebih aneh lagi, dari mana dia tahu rumah ini? Belum sempat Raka bertanya, Satria sudah mendekat padanya dengan tatapan tajam.
"Kenalin, namaku Satria. Aku di sini mau ketemu sama kamu untuk membicarakan hal yang penting banget," tegas Satria sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Raka sebagai perkenalan.
Raka menerima uluran itu meski alisnya masih bertaut. "Apa alasanmu kesini?" tanya lelaki itu dengan sedikit ketus. Sepertinya, dia tidak ingin basa-basi.
Satria melihat sekeliling lalu berbisik pada Raka. "Jangan di sini, lebih baik kita bicarakan di dalam," ujarnya tapi Raka menggeleng.
"Sebenarnya apa yang mau kamu katakan?"
"Aku ingin mencari tahu informasi tentang kasus yang dialami Dara, adik Evan," tegas Satria dengan suara pelan membuat Raka mendelik.
Raka mendorong Satria hingga mereka turun dari beberapa anak tangga bahkan hampir terjatuh. Satria mengerutkan kening, tidak mengerti dengan sikap Raka yang mendadak berubah protektif. Raka yang tadi hanya penasaran berbalik menatapnya dengan tajam.
"Aku sudah bilang, aku tidak tahu apa-apa tentang kasus itu. Lagipula kau bukan siapa-siapa Dara kan? Kau juga bukan dari sekolahku," ucap Raka dengan suara dingin membuat jantung Satria berdesir.
Satria tidak menyerah, dia tersenyum kecil sambil melihat Raka yang sedang berusaha menjaga jarak saat ingin diinterogasi. Dari raut wajah panik lelaki itu membuat Satria merasa ada yang janggal. Diapun meraih pundak Raka untuk masuk ke masalalu Raka lewat sentuhan.
Terlihat samar-samar Raka sedang berdiri di balik jendela ruangan tempat temannya sedang berusaha melecehkan seorang gadis. Raka awalnya tidak tahu apa yang terjadi di balik sana, hanya ada suara rintihan dari seorang gadis juga tertawaan dari pria sesekali. Pupil mata Raka membesar terlihat bayangan yang sedang bersama dalam kondisi bergumul.
"Sebenarnya siapa yang sedang ada di dalam?" tanya Raka penasaran sambil menautkan alisnya.
Saat Raka hendak membuka kenop pintu ruangan, dia terkejut karena ruangan itu dikunci. Alhasil, dia pun terpaksa berdiam diri sambil menunggu mereka selesai. Raka tidak berpikir banyak selain berprasangka bahwa yang didalam hanya sepasang kekasih. Tidak menyadari, jika hal itu adalah pelecehan.
Beberapa menit berlalu, pintu akhirnya terbuka. Raka segera mendekat pada pintu itu. Dia terkejut saat melihat temannya ada di sana bersama seorang gadis. Lebih aneh lagi gadis itu terlihat berantakan, wajah pucat, dan tegang. Di badan gadis itu, terlihat ada bekas cakar.
Raka mengerutkan kening, menatap temannya dengan penuh rasa penasaran. "Apa yang kalian lakukan di dalam, Niko?" tanyanya sedikit berteriak karena khawatir.
"Bukan urusanmu, ohya kalau kamu beritahu orang-orang tentang apa yang kamu lihat ini, aku tidak akan diam saja!" ancam Niko dengan suara tajam, dan mata menyipit. Dia segera menarik gadis yang bernama Dara itu menjauh dari sana.
Raka sebenarnya ingin melapor guru, namun Niko merupakan siswa berkuasa di sekolah, sehingga ia terlalu takut untuk melaporkannya. Sejak saat itu, Raka jadi tidak dekat dengan Niko. Bahkan hubungan mereka menjadi terkesan dingin.
Pada setiap kesempatan, Raka memilih menghindar. Bahkan, sekadar kerja kelompok bersama saja Raka menolak. Raka tau sikapnya merupakan sikap pengecut dan bodoh, tetapi dirinya tetap teguh pada prinsip cari aman.
Beberapa hari, Dara tidak masuk sekolah membuat semua khawatir tentang keadaanya. Suatu saat, datanglah Evan yang marah sampai menghajar Niko hingga babak belur.
Kembali ke masa kini, Satria menghentikan penerawangan nya. Dia menatap lembut Raka yang sedikit panik.
"Kalau kamu bukan pelaku kejahatan, kamu tidak perlu takut," ucap Satria lembut sambil tersenyum.
Raka terdiam menundukkan tatapannya. "Aku hanya ingin tenang dan tidak mau terlibat dengan hal yang bukan menjadi urusanku," tegas lelaki itu sambil mengalihkan pandangan.
"Aku mohon bantuanmu, aku rasa kamu bisa membantuku untuk menemukan pelakunya. Dia temanmu sendiri kan?" tebak Satria sambil meraih tangan Raka, tapi segera ditepis.
Tatapan Raka berubah tajam. "Dia bukan temanku. Sejak dia berbuat aneh dalam ruangan, dia selalu menjaga jarak denganku apalagi karena aku pernah mengintip nya," jelas lelaki itu penuh rasa kecewa.
"Kalau kamu tidak mau memberitahu, aku bisa saja membuatmu terseret kasus ini, karena kamu waktu itu memilih untuk membiarkan! Pembiaran termasuk kejahatanmu!" ancam Satria membuat Raka membulatkan matanya.
Raka menelan ludahnya. Dia menghela napas panjang lalu membuka pintu rumahnya lebih lebar.
"Masuk saja, aku akan menceritakan semua kebenarannya di dalam. Aku mohon jangan laporkan aku ke Polisi dalam kasus ini, karena aku juga bukan bagian penjahat itu!"
Satria tersenyum dingin, “aku tidak akan melaporkan pada Polisi. Tetapi pada sesuatu yang lebih buruk, sosok yang akan membuatmu memohon untuk lebih baik mati saja daripada bertemu dengannya.”