NovelToon NovelToon
SAH TAPI TIDAK SELESAI

SAH TAPI TIDAK SELESAI

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Menikah Karena Anak
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

Empat hati terjebak dalam satu takdir yang kejam.

Satyaka dan Damira harus merelakan orang yang mereka cintai, Azzura dan Nayaka, terikat dalam pernikahan perjodohan. Sebagai pelipur lara, tercipta “Janji Satu Bulan”—sebuah kesepakatan untuk berpisah setelah satu bulan dan kembali pada cinta masing-masing.

Namun di balik pernikahan itu, luka justru semakin dalam. Nayaka yang dipenuhi rasa bersalah berubah dingin dan menyakiti Azzura, sementara Azzura diam-diam menghadapi kondisi aneh dalam tubuhnya. Tanpa mereka ketahui, keluarga mereka telah merancang rencana licik yang mengikat mereka lebih jauh dari sekadar janji.

Ketika rahasia mulai terungkap dan sebuah kehidupan baru tumbuh di antara kebohongan, “Janji Satu Bulan” tak lagi sesederhana yang mereka bayangkan.

Akankah mereka kembali pada cinta awal, atau justru terjebak selamanya dalam takdir yang dipaksakan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MALAM-MALAM YANG TERCURI

Suasana di dalam kamar yang seharusnya menjadi tempat istirahat itu seketika memanas. Azzura baru saja melangkah masuk dengan sisa tenaga yang ada, namun sambutan yang ia terima justru rentetan kecurigaan yang menyakitkan.

"Lo nggak lihat ini jam berapa?" tanya Nayaka ketus, berdiri di tengah ruangan dengan tangan bersedekap, matanya menatap tajam seolah sedang menginterogasi seorang kriminal.

Azzura menghela napas panjang, mencoba menstabilkan tubuhnya yang masih goyah. "Aku dari rumah sakit," ucapnya singkat sambil mendudukkan diri di pinggiran kasur, memijat pelipisnya yang berdenyut.

"Rumah sakit? Atau ketemu laki-laki yang belum bisa lo lepas itu?" Nayaka melangkah mendekat, suaranya naik satu oktavi. "Jangan-jangan lo mual dari semalam karena itu anak dia! Lo mau numpang status di pernikahan ini buat nutupin aib lo, iya?"

Kalimat itu bagai petir di siang bolong. Rasa sakit di tubuh Azzura seketika berganti menjadi amarah yang memuncak. Ia bangkit berdiri dengan sisa kekuatannya, dan tanpa ragu, sebuah tamparan keras mendarat di pipi Nayaka.

Plakk!

"Jaga omongan kamu, Nayaka!" ucap Azzura keras, suaranya bergetar hebat karena emosi. "Aku bahkan nggak pernah ngapa-ngapain sama Satya! Jangan samakan aku dengan pikiran kotor kamu!"

Nayaka memegang pipinya yang terasa panas, senyum sinis justru muncul di wajahnya. "Oh, nggak pernah? Terus kalau nanti kebukti lo hamil, berarti itu anak siapa? Setan? Gue nggak pernah nyentuh lo, Ra!"

"Aku nggak hamil!" teriak Azzura tepat di depan wajah Nayaka. Napasnya memburu, air mata kemarahan mulai menggenang. "Dokter bilang aku cuma salah makan dan stres! Jangan sekali-kali kamu tuduh aku sekerendah itu hanya karena kamu mau cari alasan buat nyalahin aku atas hancurnya hubungan kamu sama Damira!"

Keduanya berdiri berhadapan dengan napas yang sama-sama memburu. Nayaka tetap pada keyakinannya bahwa Azzura berkhianat, sementara Azzura merasa terhina dengan tuduhan yang menurutnya mustahil. Mereka berdua tidak sadar bahwa di dalam tubuh Azzura, sebuah kenyataan sedang terbentuk—kenyataan yang terjadi di malam-malam yang hilang dari ingatan mereka berdua.

Nayaka mengangguk pelan, tatapannya mendingin, seolah sedang menatap musuh di medan perang daripada seorang istri. Ia tidak sedikit pun gentar setelah ditampar; justru tamparan itu seolah mengonfirmasi di kepalanya bahwa Azzura sedang mencoba menutupi sesuatu dengan kemarahan.

"Ok kalau gitu. Kita simpan semua omongan besar lo ini," ucap Nayaka dengan nada rendah yang mengancam. "Nanti kita buktiin, gue apa lo yang bener."

Ia mengambil langkah mundur, namun jarinya menunjuk tepat ke arah Azzura. "Satu bulan, Ra. Gue pegang omongan lo kalau lo nggak hamil dan lo nggak ada apa-apa sama cowok itu. Tapi kalau dalam waktu dekat hasil tes medis bilang yang sebaliknya... jangan harap lo bisa keluar dari sini dengan nama baik."

Azzura hanya diam mematung, dadanya masih naik turun karena emosi. Ia merasa sangat yakin dengan dirinya sendiri. Baginya, tuduhan Nayaka adalah hal paling konyol yang pernah ia dengar. Namun, rasa mual yang tiba-tiba kembali menyerang di ulu hatinya membuat pertahanannya sedikit goyah. Ia segera menutup mulutnya dengan tangan, berusaha sekuat tenaga agar tidak muntah di depan pria yang baru saja menghinanya.

"Keluar," bisik Azzura parau.

"Tanpa lo suruh pun gue bakal pergi. Gue muak di sini," balas Nayaka ketus. Ia menyambar jaketnya dan keluar dari kamar, meninggalkan Azzura yang akhirnya jatuh terduduk di lantai, terisak sendirian di tengah kebingungan yang mencekam.

Malam itu, di rumah yang besar dan mewah itu, dua orang tinggal di bawah atap yang sama dengan dua keyakinan yang berbeda, tanpa tahu bahwa kebenaran yang sesungguhnya jauh lebih pahit dari sekadar perselingkuhan yang mereka tuduhkan satu sama lain. Sebuah rahasia yang sengaja dikubur oleh keluarga mereka kini hanya tinggal menunggu waktu untuk meledak.

Malam semakin larut, namun bagi Azzura, keheningan rumah itu justru terasa memekakkan telinga. Ia berbaring menyamping, meringkuk di atas kasur luas yang terasa sangat dingin. Lampu kamar sudah ia matikan, namun matanya tetap terjaga, menatap kosong ke arah jendela di mana bayangan pepohonan menari ditiup angin.

Ucapan Nayaka terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.

"Kalau nanti kebukti lo hamil, berarti itu anak siapa? Gue nggak pernah nyentuh lo, Ra!"

Azzura memejamkan mata erat-erat, mencoba mengusir suara itu. "Enggak mungkin," bisiknya pada kegelapan. Ia mencoba mengingat setiap detail malam-malam sejak mereka menikah. Setahunya, setiap malam mereka tidur di sisi tempat tidur yang berbeda, bahkan seringkali Nayaka tidur di sofa atau pulang sangat larut.

Namun, ada sebuah celah kecil di ingatannya—beberapa malam di mana ia merasa tidurnya terlalu lelap, terlalu berat, seolah ia pingsan alih-alih beristirahat. Ia ingat pernah terbangun dengan kepala yang sangat pening dan tubuh yang terasa asing, namun saat itu ia hanya menganggapnya sebagai efek stres karena pernikahan paksa ini.

Rasa mual kembali bergejolak di perutnya. Kali ini bukan hanya rasa ingin muntah, tapi ada denyut kecemasan yang luar biasa.

Bagaimana jika tuduhan keji Nayaka benar? Bagaimana jika ia hamil?

Pikiran itu membuatnya bergidik ngeri. Jika itu terjadi, maka hidupnya benar-benar berakhir. Satyaka akan pergi meninggalkannya karena menganggapnya berkhianat, dan Nayaka akan memiliki alasan selamanya untuk menghina dirinya.

Azzura bangkit dari tempat tidur, berjalan menuju meja rias dan menatap bayangannya di cermin dalam keremangan. Ia menyentuh perutnya yang masih rata dengan tangan gemetar.

"Satya... aku nggak mungkin mengkhianati kamu, kan?" rintihnya lirih.

Ia teringat obat yang diberikan dokter pagi tadi. Dengan tangan gemetar, ia mengambil botol obat lambung itu dan meminumnya, berharap cairan itu bisa mematikan rasa mual sekaligus rasa takut yang mulai menjalar ke seluruh nadinya. Namun jauh di lubuk hatinya, sebuah firasat buruk mulai berbisik bahwa apa yang ia alami bukan sekadar salah makan.

Azzura berdiri mematung di depan cermin kamar mandi, membiarkan lampu neon yang terang menyingkap setiap detail wajahnya. Ia menyentuh pipinya yang tampak sedikit lebih berisi namun pucat, serta matanya yang terlihat sayu karena kurang tidur. Ada sesuatu yang berbeda—sebuah gurat perubahan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata, namun terasa nyata di bawah permukaan kulitnya.

Dengan tangan gemetar, ia meraih ponselnya. Ia mulai mengetikkan semua gejala yang ia alami di kolom pencarian: mual di pagi hari, pusing yang hilang timbul, sensitif terhadap bau, hingga perubahan pada area dada.

Layar ponselnya menampilkan deretan artikel medis. Semuanya mengerucut pada satu kesimpulan yang sama: Gejala Awal Kehamilan.

Azzura menjatuhkan ponselnya ke atas wastafel. Suara benturannya terdengar nyaring di tengah kesunyian pagi.

"Ini nggak mungkin... Kenapa bisa?" bisik Azzura pada bayangannya sendiri di cermin.

Ia berusaha memutar otak, mencari satu saja ingatan yang bisa menjelaskan situasi ini. Ia tahu pasti bahwa ia tidak pernah membiarkan Satya menyentuhnya lebih dari sekadar pelukan atau pegangan tangan. Dan Nayaka? Pria itu bahkan enggan menatapnya, apalagi menyentuhnya. Mereka selalu tidur dalam jarak yang lebar, dipisahkan oleh kebencian dan ego masing-masing.

"Aku nggak pernah... Nayaka juga bilang dia nggak pernah..."

Napasnya mulai memburu. Jika benar ia hamil, dan ia yakin tidak melakukannya dengan siapa pun, maka dunia ini terasa seperti lelucon yang mengerikan. Ia teringat kembali pada malam-malam di mana ia tertidur begitu dalam setelah meminum teh yang disiapkan di rumah ini—tidur yang begitu lelap hingga ia tidak bisa mengingat apa pun sampai pagi menjemput.

Rasa mual kembali naik ke kerongkongannya, tapi kali ini bukan karena fisik, melainkan karena rasa takut yang melumpuhkan. Jika hasil pencarian itu benar, maka tamparan yang ia berikan pada Nayaka kemarin akan kembali padanya dalam bentuk kehancuran total.

"Aku harus cari bukti. Aku harus beli test pack sekarang," gumamnya dengan suara parau, sambil terburu-buru mencari jaket untuk menutupi tubuhnya yang mendadak terasa dingin menggigil.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!