Lahirnya seorang pangeran yang cerdas dan berbakat seharusnya menjadi keberuntungan suatu kerajaan ataupun kekaisaran, tetapi yang terjadi justru keberadaannya dianggap sebagai ancaman nyata oleh berbagai pihak yang mendambakan kekuasaan semu.
Melalui sebuah konspirasi, sang pangeran harus mengalami musibah. Ia yang sebelumnya dikenal cerdas dan berbakat, berakhir menjadi seorang pangeran yang tidak berguna.
Dengan kondisinya itu, sang pangeran diusir dari istana dan dibuang ke Gerbang Timur, tempat di mana para keluarga istana yang dianggap sampah diasingkan.
Namun, di balik musibah yang terjadi, Gerbang Timur menjadi titik balik kebangkitan sang pangeran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muzu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Paviliun Hitam
“Formasi yang sangat kuat,” ucap seorang kakek tua setelah memindainya.
Beberapa dari mereka yang telah mencapai ranah nascent soul pun ikut mengaminkan. Mereka semua menyeringai dingin, mengetahui bahwa sesuatu yang terlindungi array formasi menyimpan harta berharga di dalamnya.
“Jangan kalian pikir bisa merebutnya dariku,” kecam seorang pria tua berjanggut emas.
“Huh! Dasar tidak tahu diri. Kami yang pertama tiba, tentunya semua yang ada di dalam sana menjadi milik kami,” pungkas lelaki berpakaian merah tidak menerima.
“Daripada kalian berebut, mengapa tidak kita bagi rata?” cetus seorang pria tambun begitu percaya diri.
“Belum tentu bisa dibagi,” sela orang lainnya.
Bagai semak yang terbakar, perdebatan mulai merambat ke semua orang. Beberapa tetua sekte yang berada di lokasi pun turut mengeklaim harta yang berada di dalamnya. Keributan pun pecah hingga akhirnya salah seorang di antara mereka begitu geram melihatnya.
Seorang wanita cantik dan berwibawa melangkah maju dengan tekanan aura yang mengintimidasi. “Hentikan perdebatan kalian!”
Aura yang menyeruak dari tubuhnya membuat sebagian besar dari mereka terlempar dan hanya menyisakan beberapa orang yang masih bertahan di tempatnya. Mereka adalah para tetua sekte dan beberapa kultivator yang sudah mencapai ranah nascent soul.
“Siapa pun di antara kita yang berhasil menghancurkan formasi, maka dialah yang berhak masuk ke dalam. Apa kalian setuju?”
Semua orang mengangguk setuju, lalu seorang tetua melangkah maju dengan gestur hormat. “Nyonya Zhi Ruo, Izinkan aku menjadi yang pertama mencobanya.”
“Saudara Xing, silakan!”
Tanpa sungkan lagi, Tetua Xing Hangtian mulai beraksi. Kedua tangannya menari di udara, lalu seberkas cahaya muncul menyinari dan memperlihatkan adanya array formasi berlapis yang mengelilingi seluruh bangunan.
Dalam satu serangan penuh, Tetua Xing Hangtian melepaskan energi spiritual yang langsung bertabrakan dengan array formasi.
“Ah …!” pekik Tetua Xing Hangtian tidak menduga serangannya berbalik menimpa dirinya. Ia memuntahkan seteguk darah dan melangkah mundur.
“Array formasi ini memiliki efek serangan balik. Aku tidak bisa menembusnya,” ucap Xing Hangtian seraya menekan dada.
“Siapa lagi yang ingin mencoba?” Zhi Ruo menawarkan, tetapi tidak ada seorang pun yang maju.
“I … ini formasi tingkat suci,” kata seorang tetua lainnya dari kejauhan.
Semua orang terjelingar mendengarnya. Mereka yang rata-rata berada di ranah nascent soul menengah hanya bisa menggelengkan kepala tidak ingin mengambil risiko.
“Kalau seperti ini, hanya ahli formasi yang sudah berada di ranah nascent soul puncak yang sanggup membongkarnya. Kami mengalah,” timpal tetua lainnya yang diikuti para tetua.
Melihat tidak ada lagi yang mau mencobanya, Zhi Ruo tersenyum. Ia kemudian maju dan mengangkat satu tangan ke udara. Di ujung jari manisnya keluar seberkas cahaya yang membentuk sebuah diagram dan terus membesar. Wanita anggun ini kemudian melemparkan diagram ke array formasi yang seketika bergetar keras.
Semua mata yang menyaksikannya dibuat terkagum melihat kemampuan Zhi Ruo yang merupakan ketua sekte termuda di wilayah Kekaisaran Qin begitu piawai menggunakan teknik yang dikuasainya.
Cahaya diagram mulai menekan array formasi hingga menimbulkan retakan besar yang meluas ke seluruh bagian, lalu hancur berkeping-keping.
Senyum menawan Zhi Ruo makin mengembang setelah melihat array formasi berhasil dihancurkan. Ia berjalan mantap ke arah paviliun dengan kedua tangan terlipat di belakang punggungnya.
Begitu pintu paviliun terbuka, mata Zhi Ruo berbinar menatap sebuah artefak kuno yang terpajang di dalamnya.
“Pantas saja bangunan ini disegel formasi, ternyata di dalamnya memang ada harta karun.” Dan tanpa ragu lagi, Zhi ruo mendekat, lalu memperhatikannya dengan seksama.
“Cermin Langit Abadi,” gumamnya mengetahui. “Artefak kuno ini bisa melihat potensi sejati seseorang. Ini berguna untuk menyeleksi murid-murid sekte.” Setelah mengatakannya, Zhi Ruo memasukkannya ke dalam cincin spasial.
Tidak berhenti sampai di situ, Zhi Ruo merasakan adanya energi yang meluap di lantai atas. Kepalanya mendongak seraya menyipitkan mata memperhatikan lantai atas yang samar-samar bercahaya.
Ia pun bergegas naik untuk melihatnya. Baru saja kedua kakinya sampai di undakan terakhir, kedua matanya yang bening kembali bersinar begitu melihat sebuah harta karun tengah melayang tak jauh dari posisinya.
“Gulungan apa ini?” Ia bertanya-tanya sambil terus mengamatinya.
Penasaran dengan gulungan yang bersinar keemasan, Zhi Ruo coba menyentuhnya. Nahas, tubuhnya seketika tertarik masuk ke dalam gulungan.
Di sini Qin Zhao mulai menunjukkan wujud. Ia tahu jika di luar akan membuat identitasnya terbongkar. Berada di dalam dimensi gulungan, ia memiliki kendali penuh untuk menekan siapa pun tanpa peduli dengan ranah kultivasi.
“Si … siapa kau?” Zhi Ruo merasa terintimidasi oleh keberadaan seseorang berpakaian hitam di depannya.
“Aku pemilik tempat ini,” jawab Qin Zhao, suaranya terdengar mendominasi.
Tidak akan ada yang percaya sosok di balik topeng iblis itu seorang pemuda tampan. Dengan topengnya, Qin Zhao akan tampak seperti seorang kaisar yang setiap ucapannya mampu membuat hati siapa pun menciut.
“Maafkan aku, Senior. Aku lancang telah memasuki tempat ini. Mohon Senior memaafkan.” Zhi Ruo begitu panik. Tubuhnya gemetar merasa takut yang teramat di hatinya.
Ada jeda di antara mereka yang membuat suasana menjadi tegang. Bahkan Zhi Ruo tidak berani menatap langsung sosok bertopeng di depannya.
“Jadilah pelayanku, maka aku akan memaafkanmu.” Qin Zhao menawarkan.
Geram hati Zhi Ruo mendengarnya, tetapi ia tidak bisa melawan. Bahkan, ia tidak bisa melihat kekuatan sosok bertopeng itu. Meskipun begitu, ia masih memiliki sedikit keberanian.
“Aku seorang ketua sekte, aku tidak akan menjadi pelayanmu,” tolak Zhi Ruo. Terlalu mustahil baginya menjatuhkan harga diri dari seorang tetua sekte besar menjadi seorang pelayan.
“Lancang!” Tekanan dari aura Qin Zhao melemparkan tubuh Zhi Ruo hingga jatuh berdebam dan berkali-kali memuntahkan darah.
“Kalau begitu, matilah!” Qin Zhao menjulurkan jari telunjuk ke arah Zhi Ruo.
“A … ampun, Tuan. Aku bersedia menjadi pelayan,” ucap cepat Zhi Ruo yang tidak ingin mati sia-sia.
“Bagus.” Tanpa menurunkan tangan, Qin Zhao melepas cahaya merah dari ujung telunjuknya tepat mengenai kening Zhi Ruo.
“Segel darah telah aku tanam di tubuhmu. Kau sekarang resmi jadi pelayanku,” kata Qin Zhao.
“Baik, Tuan. Namun sebelum itu, izinkan hamba kembali ke sekte. Hamba harus menyerahkan posisi ketua sekte kepada tetua lainnya,” timpal Zhi Ruo.
“Tidak masalah, tetapi sebelum kau kembali ke sekte. Aku ada tugas untukmu.”
“Katakan saja, Tuan!”
“Aku memiliki rencana menjadikan tempat ini sebagai pusat informasi dan pengumpul kekayaan. Tugasmu mengurus semuanya untukku.”
Zhi Ruo tidak langsung menyanggupi. Seperti yang diketahuinya, Gerbang Timur merupakan properti Kekaisaran Qin. Sementara gedung ini tepat berada di dalam area gerbang. Hal ini akan menimbulkan masalah yang sulit untuk ditanganinya.
“Tidak perlu khawatir soal itu,” kata Qin Zhao seolah mengetahui yang dipikirkan oleh pelayannya itu.
“Baik, Tuan. Hamba tidak akan mengecewakan.” Zhi Ruo menerimanya. “Omong-omong, apa nama tempat ini, Tuan?” imbuhnya bertanya.
“Sebut saja ‘Paviliun Hitam’. Bagaimana menurutmu?”
“Nama yang sesuai. Hamba setuju dengan nama itu.”
Qin Zhao kemudian mengeluarkan sebutir pil berwarna merah kehitaman dan memberikannya langsung kepada Zhi Ruo.
“Pil Darah Naga ini sebagai kompensasi untukmu. Ambillah!” pinta Qin Zhao.
“Tuan, pil ini terlalu berharga. Hamba tidak berani menerimanya,” tolak Zhi Ruo.
“Apa kau sedang melawanku?”
“Hamba tidak berani.” Secepatnya Zhi Ruo mengambil pil dari tangan Qin Zhao.
“Aku ingin bulan depan paviliun ini sudah terbuka untuk umum. Kuharap kau tidak mengecewakanku.”
“Baik, Tuan.”
Setelah itu Qin Zhao membawa Zhi Ruo keluar dari dimensi gulungan.