"Jangan deket-deket gue! Inget, jarak lo satu meter." — Nicktan Megantara.
Nicktan adalah pembalap GT3 yang perfeksionis. Hidupnya diatur dengan ketat oleh ayahnya, Azeus, demi menjaga kondisi jantungnya yang sensitif. Segala bentuk "debaran emosional" adalah terlarang.
Lalu hadirlah Elea. Gadis agresif yang tak kenal takut dan hobi memancing emosi Nick. Satu tahun mereka terpisah oleh benua dan ego, Nick berubah menjadi aktor dingin yang hampa. Namun malam itu, di tengah sunyinya Jakarta, Nicktan menemukan kembali mangsa lamanya.
Sebuah kisah tentang pengabdian, rahasia keluarga Megantara yang terkubur selama dua dekade, dan perjuangan seorang pria yang mencintai wanita hingga ke titik jantungnya berhenti berdetak.
Visualisasi Nicktan terinspirasi dari Wang Yibo, namun seluruh alur cerita dan pengembangan karakter adalah murni fiksi karya penulis.
#wangyibo
Novel ini adalah Season 2 dari novel "Owned By Azeus"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andara Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Insiden Di Area Parkir
Area parkir khusus pembalap di Sirkuit Internasional pagi itu tampak lengang, namun pemandangan di depan mata Nicktan Megantara justru membuatnya ingin segera menginjak rem dan memutar balik arah mobil.
"Dan, itu mereka kan? Kenapa rame banget kayak pasar kaget?" gumam Nick ketus, matanya menyipit tajam menatap segerombolan anak SMA yang nangkring di atas motor sport masing masing.
Ardan melirik lewat jendela, menahan tawa sampai bahunya berguncang. "Gila, satu geng dibawa semua. Itu bidadari pusar bodong lo juga ada di tengah."
Nick mendengus keras. Ia merasa gerah melihat pakaian Elea. Gadis itu memakai kaos slimfit crop putih yang memperlihatkan pusarnya setiap kali ia tertawa, dipadukan dengan celana cargo longgar yang menggantung rendah di pinggang.
"Anak zaman sekarang kalau pakai baju kurang bahan apa gimana sih? Itu celana kalau merosot gimana?" gerutu Nick, padahal hatinya mendidih melihat Elea sedang asyik tertawa sambil menabok bahu salah satu teman cowoknya.
"Cemburu bilang, Nick. Jangan bawa-bawa tren fesyen," ledek Ardan pedas. "Ayo turun, kenapa diam aja? Keburu diculik tuh."
Nick turun dari mobil dengan gerakan kaku. Begitu sepatunya menyentuh aspal, segerombolan anak sekolah itu menoleh serempak. Atmosfer berubah riuh.
"WOOOYY! TARGET DATANG!" teriak salah satu teman Elea. Itu Dave.
"CIEEEE! ELE, JANGAN KASIH LOLOS!" Teriak Marvel.
Nick berusaha berjalan tegak, memasang wajah sedatar mungkin meski lututnya terasa agak lemas. Namun, langkahnya terhenti. Elea tiba-tiba melangkah maju, menghalangi jalannya dengan menyilangkan tangan di dada.
"Halo, Kakak Pembalap? Katanya semalam mau lihat gue? Nih, cewek cantik udah di depan lo," ucap Elea dengan nada menggoda, lalu mengedipkan matanya dengan berani.
Wajah Nick memerah padam. Ia mendadak tidak tahu harus menaruh tangannya di mana. "M-minggir," ucapnya kaku.
Nick mencoba melangkah ke kiri untuk menghindar, tapi Elea dengan gesit bergeser ke kiri juga. Nick mencoba melangkah ke kanan, Elea kembali menghalangi jalannya sambil tersenyum nakal.
"Mau kemana sih? Buru buru banget. Takut ya ditatap cewek cantik?" goda Elea lagi.
"G-gue... gue sibuk!" Nick menelan ludah berkali-kali. Lidahnya mendadak kelu, saraf di otaknya seolah mengalami short circuit.
"Sibuk apa? Sibuk mikirin gue?" Elea mencondongkan wajahnya, membuat Nick mundur satu langkah.
Ardan yang tidak mau ikut campur hanya tersenyum tipis dan melangkah duluan. "Gue masuk duluan ya, Nick. Selesaikan urusan rumah tangga lo," pamit Ardan tanpa perasaan.
"Dan! TUNGGU!" Nick panik. Ia bermaksud menyusul Ardan dengan langkah cepat, namun Elea kembali menghalanginya dengan gerakan tiba-tiba.
BUGH!
Karena Nick melangkah terlalu bertenaga dan Elea yang badannya jauh lebih kecil menghalangi secara mendadak, Elea kehilangan keseimbangan. Ia terjengkang ke belakang karena tertabrak dada bidang Nick.
"Eh! __ !"
Dalam refleks paniknya, tangan Elea menarik kerah baju Nick dengan kuat. Nick yang tidak siap ditarik ikut terseret ke depan. Tubuh jangkungnya jatuh menimpa Elea tepat di atas aspal parkiran.
CUP.
Hening. Dunianya seolah berhenti berputar.
Mata Nick melotot sempurna. Begitu juga dengan mata Elea yang berada tepat di bawahnya. Bibir Nick dengan lancang mendarat di atas bibir Elea akibat dorongan gravitasi yang tak terduga. Rasa hangat dan lembut itu mengalirkan sengatan listrik yang membuat jantung Nick hampir meledak.
"WAAAAAA! GOALLLL!" Teriak Okta
"GILA! REKAM, REKAM! JANGAN SAMPE LEWAT!" Dave dan yang lain sibuk ngambil hp nya.
Suara sorakan teman teman Elea memecah keheningan. Ponsel ponsel mereka sudah terarah ke arah mereka berdua.
Nick segera sadar. Dengan gerakan panik, ia berguling menjauh dari tubuh Elea dan berdiri secepat kilat. Ia merapikan bajunya yang berantakan dengan tangan gemetar.
"L-lo... lo gak apa-apa?" tanya Nick gagap, wajahnya sudah tidak bisa dibedakan lagi dengan warna cabai merah.
Elea terduduk, membenarkan topinya sambil berdehem kecil. Ia menatap Nick yang sudah seperti robot rusak. "Kayanya Kakak Pembalap jatuh cinta pada pandangan pertama sama gue ya, hmm?" tanya Elea sedikit berbisik dengan nada menggoda.
Nick kembali menelan ludahnya berkali-kali. Ia tidak sanggup berkata kata lagi. "G-gue... d-duluan!"
Nick langsung berbalik dan kabur melarikan diri ke dalam gedung tim. Saking paniknya, ia bahkan tidak melihat jalan.
BRAK!
"Aduh! Maaf, Kak!" seru seorang staf yang tertabrak Nick.
"Awas! Minggir!" gerutu Nick gagap sambil terus berjalan cepat tanpa menoleh ke belakang.
Ardan yang sudah menunggu di dalam hanya bisa geleng-geleng kepala saat melihat Nick masuk dengan wajah berantakan. "Gimana rasanya aspal, Nick? Enak atau manis?"
"Diem lo, Dan! Gue mau latihan! Jangan ada yang ganggu!" bentak Nick sambil masuk ke ruang ganti, membanting pintu dengan keras.
Di luar, Elea masih terduduk di parkiran, menyentuh bibirnya pelan sambil tersenyum puas. "Manis juga ternyata," gumamnya pelan sementara teman-temannya masih sibuk menggodanya dengan teriakan histeris. Nicktan Megantara, sang singa sirkuit, baru saja ditaklukkan oleh gravitasi dan seorang gadis SMA.