NovelToon NovelToon
12 Tahun Yang Terulang

12 Tahun Yang Terulang

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir / Kelahiran kembali menjadi kuat / Penyesalan Suami
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

Aku mencintainya selama 12 tahun.
Menikah dengannya selama 5 tahun.
Dan mati… karena cintanya.
Jika waktu bisa diulang, aku akan memilih untuk tidak pernah mengenalnya.
Tapi kenapa…
saat aku benar-benar diberi kesempatan itu—dia malah mulai mencintaiku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Jantung Luna berdegup kencang, kali ini bukan karena cinta, melainkan karena ketakutan yang nyata. Adrian Marcelino—pria yang pernah menjadi bagian gelap dalam sejarah hidupnya—kini kembali di saat hubungannya dengan Kaizar sedang di ujung tanduk.

"Apa yang kamu inginkan, Adrian? Jangan berani-berani muncul lagi!" ancam Luna dengan suara tertahan.

"Tenanglah, Sayang. Aku hanya ingin menyapamu. Dan mungkin... sedikit menyapa kekasih barumu yang sombong itu," Adrian terkekeh pelan, sebuah tawa yang terdengar sangat mengerikan di telinga Luna. "Sampai jumpa dalam waktu dekat, Luna. Pastikan kamu tidak terkejut saat melihatku di kampus besok."

Sambungan telepon terputus secara sepihak, menyisakan suara tut-tut yang panjang. Luna menatap layar ponselnya dengan tangan gemetar. Dunia yang ia bangun dengan susah payah bersama Kaizar seolah mulai retak satu per satu.

Zivara yang masih berada di dalam mobil bersama Kaizar merasakan firasat buruk yang mendalam. Ia menatap Kaizar yang masih terlihat fokus menyetir dengan rahang mengeras setelah mendengar nama Adrian Marcelino disebut dalam pesan grup.

"Kenapa reaksimu seperti ini, Kak?" tanya Zivara hati-hati.

Kaizar menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang rumah Zivara. Ia menoleh, menatap Zivara dengan mata yang berkilat penuh amarah dan rahasia yang tertahan.

"Karena Adrian bukan sekadar dosen baru, Zivara," suara Kaizar terdengar parau dan berat. "Pria itu adalah alasan kenapa Luna pergi meninggalkanku dulu. Dan jika dia kembali sekarang... itu artinya dia mengincar sesuatu yang lebih berharga dariku."

Kaizar mencengkeram bahu Zivara, jarak mereka begitu dekat hingga Zivara bisa merasakan napas pria itu yang panas.

"Dengarkan aku baik-baik. Jangan pernah mendekat padanya. Jangan pernah bicara padanya. Karena Adrian Marcelino adalah monster yang sama sekali tidak kamu kenal."

Zivara terpaku. Di kehidupan masa depannya, ia tahu Adrian adalah musuh Kaizar, tetapi ia tidak pernah tahu bahwa ada keterlibatan Luna di antara mereka.

"Berarti selama ini... aku benar-benar tidak tahu apa-apa tentang pernikahan kami dulu?" batin Zivara menjerit, menyadari bahwa time rewind ini membawanya ke sebuah labirin rahasia yang jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan.

**

Di dalam kabin Range Rover hitam, ketegangan masih terasa pekat, bahkan setelah mesin mobil dimatikan tepat di depan gerbang rumah keluarga Arthea.

Zivara baru saja hendak meraih gagang pintu saat sebuah cengkeraman kuat menahan pergelangan tangannya. Sentuhan itu terasa panas di kulitnya yang dingin, sebuah genggaman yang tidak hanya erat, tetapi juga sarat akan kecemasan yang tertahan.

"Vara, dengarkan aku," suara Kaizar terdengar rendah, nyaris seperti sebuah perintah yang dibungkus dengan nada memohon. Ia menatap Zivara dengan intensitas yang seolah bisa menembus dinding kaca di antara mereka.

"Jangan pernah pergi ke mana pun tanpa aku. Terutama besok... hindari Adrian. Jangan pernah bicara padanya, apalagi mendatangi panggilannya."

Zivara menatap tangan Kaizar yang masih melingkar di pergelangan tangannya, lalu beralih menatap wajah pria itu dengan sorot mata yang sulit ditebak. Di kehidupan sebelumnya, perhatian posesif seperti ini mungkin akan membuat jantungnya berdebar tidak karuan karena merasa dipedulikan. Akan tetapi, Zivara yang sekarang hanya merasakan desakan untuk melepaskan diri.

Dengan satu gerakan tegas, Zivara menarik tangannya paksa. Ia memperbaiki posisi tasnya dan menatap Kaizar dengan sikap dewasa yang terasa begitu asing bagi pria itu.

"Aku bukan anak kecil lagi, Kak," ucap Zivara dingin, suaranya jernih tanpa ada getaran keraguan sedikit pun. "Aku bisa menjaga diriku sendiri. Siapa pun yang aku temui dan ke mana pun aku pergi, itu adalah urusanku. Berhentilah bersikap seolah kamu adalah pemegang kendali atas hidupku."

Kaizar terdiam, tangannya yang kosong kini terkepal di atas kemudi. Ia tidak membalas, tidak juga membantah.

Zivara tidak menunggu jawaban. Ia segera keluar dari mobil, menutup pintu dengan bunyi yang mantap, dan melangkah menuju gerbang rumahnya tanpa sekalipun menoleh ke belakang. Langkah kakinya terdengar teratur di atas beton, menunjukkan keteguhan hati yang baru ia temukan setelah melewati kematian di lini masa yang lain.

Begitu masuk ke dalam rumah, Zivara tidak langsung menuju kamarnya. Ia berdiri di balik jendela ruang tamu yang tertutup tirai tipis, diam-diam memperhatikan mobil Kaizar yang mulai bergerak perlahan memasuki gerbang rumah di sampingnya.

Pria itu keluar dari mobil, namun tidak langsung masuk ke dalam rumahnya sendiri. Kaizar berdiri mematung di samping kendaraannya, wajahnya menengadah menatap ke arah balkon kamar Zivara. Di bawah remang lampu jalan yang mulai menyala, sorot matanya tampak begitu dalam dan kelam—sebuah tatapan yang menyimpan ribuan kata yang tak mampu Zivara baca.

Zivara meremas kain tirai di tangannya. Ia merasakan ada sesuatu yang berubah pada Kaizar, sesuatu yang tidak seharusnya ada di waktu ini. Mengapa pria yang seharusnya memuja Luna itu kini justru tampak begitu hancur hanya karena penolakannya?

**

Malam di Bandung Utara selalu membawa hawa dingin yang menusuk tulang, tetapi bagi Kaizar Ravindra, suhu rendah itu tidak sebanding dengan keringat dingin yang membasahi keningnya. Ia terbaring di atas tempat tidur king size-nya, namun matanya terpejam bukan dalam ketenangan. Kesadarannya seolah ditarik paksa ke dalam sebuah lorong waktu yang gelap dan menyesakkan.

Dalam lelapnya, bayangan itu datang lagi.

Awalnya, semuanya tampak begitu indah. Kaizar melihat dirinya sendiri, beberapa tahun lebih tua, sedang berdiri di depan altar bersama seorang wanita yang mengenakan gaun putih sederhana namun sangat anggun. Wanita itu bukan Luna. Itu adalah Zivara Arthea. Di dalam mimpi itu, Zivara tersenyum dengan binar mata yang begitu tulus, sebuah tatapan memuja yang kini tidak lagi Kaizar temukan pada sosok Zivara yang sekarang.

Mereka hidup dalam sebuah rumah yang dipenuhi cahaya. Kaizar merasakan kehangatan yang belum pernah ia kecap sebelumnya; tawa Zivara saat menyambutnya pulang, aroma masakan yang memenuhi dapur, dan tangan lembut yang selalu merapikan dasinya setiap pagi. Ada kebahagiaan yang nyata, sebuah kedamaian yang membuat pertahanan Kaizar luruh.

Lalu, langit di mimpi itu mendadak berubah kelabu.

Sosok Luna kembali hadir, berdiri di antara mereka seperti duri yang tak terlihat. Kaizar melihat dirinya di masa depan mulai berubah menjadi dingin, mengabaikan ketulusan Zivara hanya demi mengejar bayang-bayang masa lalu yang belum usai bersama Luna. Tawa Zivara meredup, digantikan oleh isak tangis yang tertahan di balik pintu kamar yang terkunci.

Puncaknya, pemandangan berubah drastis menjadi sebuah atap gedung rumah sakit yang tinggi. Angin kencang menerpa wajah Kaizar saat ia berlari sekuat tenaga menuju tepi dak beton. Di sana, Zivara berdiri dengan gaun putih yang berkibar, wajahnya pucat pasi, dan matanya tidak lagi memancarkan kehidupan.

"Zivara, jangan!" teriak Kaizar dalam mimpinya, suaranya parau oleh ketakutan yang luar biasa.

Zivara menoleh untuk terakhir kalinya, memberikan senyuman paling menyakitkan yang pernah Kaizar saksikan.

"Di kehidupan ini, aku sudah kalah, Mas Kaizar. Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu," bisik gadis itu.

Detik berikutnya, tubuh Zivara jatuh bebas ke kegelapan. Kaizar mengulurkan tangan, berusaha menggapai ujung jemari istrinya, tetapi yang ia rasakan hanyalah hampa.

"ZIVARA!"

Kaizar terjaga dengan napas terengah-engah. Jantungnya berdegup kencang, seolah baru saja dipaksa lari maraton. Ia duduk di tepi tempat tidur, mencengkeram kepalanya yang terasa berdenyut hebat. Kilasan mimpi itu terasa terlalu nyata untuk sekadar bunga tidur. Rasa sesak di dadanya, perasaan kehilangan yang menghancurkan jiwa, semua itu masih membekas kuat di nadinya.

Ia bangkit, melangkah menuju jendela besar yang menghadap langsung ke arah rumah Zivara. Dari kejauhan, ia bisa melihat cahaya lampu temaram dari kamar gadis itu.

Kaizar menyentuh dadanya, merasakan ikatan aneh yang semakin menguat setiap kali ia berada di dekat Zivara. Sekarang ia mulai paham mengapa ia merasa begitu protektif, begitu terobsesi, dan begitu takut kehilangan gadis itu padahal mereka baru saja bertemu kembali. Ada bagian dari dirinya yang sedang mencoba menebus dosa yang bahkan belum ia lakukan di masa sekarang.

Dosa besar yang berakhir dengan kematian Zivara.

Ia merogoh ponselnya, jemarinya gemetar saat membuka galeri foto. Matanya tertuju pada sebuah foto curian yang ia ambil saat Zivara sedang duduk di taman kampus.

"Aku tidak akan membiarkan atap itu menjadi akhirmu lagi, Vara," gumam Kaizar dengan suara rendah yang penuh janji gelap. "Meskipun aku harus mengurungmu di sisiku selamanya, aku tidak akan membiarkanmu jatuh."

***

1
Zhang Wuyang (张五阳)
tak bisa berkata kata sih gw 🗿
nur
,jngn jd lemah vara
nur
hemm,, smkin menarik
Lusy Purnaningtyas
yg judul satunya gmn thor?
Lusy Purnaningtyas
penulisannya bagus. aku suka..
Lusy Purnaningtyas
semangat💪💪
MamDeyh
Blm up lagi nih kak/CoolGuy/
Dian Fitriana
update
YuWie
ternyata dari dulu si luna maya mmg jahara
YuWie
Luar biasa
YuWie
apakah luna sdh diperawani sama adrian
YuWie
lho lho kan cmn mimpi..tapi kenapa spt ikut mengalami kehidupan ke 2 dirimu kai.. dan pak dosen juga ya..kenapa kenal si kai..masih bingung meraba2 aku sbg pembaca
YuWie
malah rumit Zi..mimpi Kai malah membawanya terus mendekat ke kamu tuh..
YuWie
kok memujamu spt dulu..kau buka kartu kehiidupanmi tu Zi
YuWie
lha kok malah kai yg obses kie
YuWie
kehidupan 17th ke depan malah jadi mimpi buruk mu ya kai..kasiham2
YuWie
mau menjaih malah bikin penasaran kamu ziv
YuWie
mulai baca..semoga sampai yamat ya kak thor
Lusy Purnaningtyas
sama-sama genre reinkarnasi kayak zian yaa
aku
jd.....mereka bakal balik lg kah? 🙄🙄 kok gk adil buat ziva rasanya klo balik ma kai 😔😔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!