Mereka pikir semuanya telah berakhir sejak kematian Leonardo Valerio. Namun dunia gelap tidak pernah benar-benar melupakan darah yang pernah berkuasa.
Leonardo Valerio memang telah mati, tapi warisan darahnya belum berakhir. Saat ancaman mulai mengincar Alessandro, Nadira dipaksa kembali ke dunia gelap yang pernah menghancurkan hidupnya.
Di balik bayangan, musuh lama bangkit, rahasia lama terbuka, dan sifat dingin Leonardo perlahan muncul dalam diri putranya.
Karena darah mafia tidak pernah benar-benar hilang, dan sang pewaris akhirnya mulai bangkit.
**RED ASHES SEASON II**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tawaran Kekuasaan
Suara jam dinding terdengar pelan di ruangan apartemen itu.
Alessandro duduk sendirian di depan meja pacaran besar, dengan layar hologram yang masih menyala redup di depannya.
Cahaya biru dari monitor memantul pada wajahnya yang dingin.
Di layar itu terlihat satu jalan yang sejak tadi tidak bisa berhenti ia tatap.
VALERIO LEGACY NETWORK — ACTIVE NODES DETECTED.
Rahangnya mengeras, nama Valerio lagi. Nama yang selama bertahun-tahun berusaha ia kubur bersama kematian ayahnya.
Namun sekarang, nama itu kembali muncul seperti mayat yang menolak membusuk.
Pikirannya masih dipenuhi ucapan Viktor beberapa jam yang lalu.
"Darah monster tidak akan pernah berubah."
Alessandro mengepalkan tangannya pelan, ia membenci kalimat itu terngiang di kepalanya.
Karena sebagian dirinya tahu, Viktor mungkin benar.
Monitor kembali berkedip, sebuah notifikasi baru muncul.
UNKNOWN ACCESS REQUEST.
Alessandro menyipitkan mata, lalu perlahan membuka file itu. Tapi hanya ada satu kalimat.
"Kami menunggumu, Tuan Muda Valerio."
Ruangan terasa lebih dingin, Alessandro berdiri cepat. Instingnya langsung mengatakan ini jebakan, namun sebelum ia sempat mematikan layar, sistem apartemennya tiba-tiba mati.
Gelap.
Sunyi.
Hingga tiba-tiba terdengar sebuah suara.
"Refleksimu ternyata masih bagus."
Suara berat itu muncul dari belakang, Alessandro langsung meraih pistol dari bawah meja dan mengarahkannya tanpa ragu.
Pria tua bertubuh tinggi berdiri di dekat pintu balkon yang terbuka sedikit. Rambutnya memutih di bagian samping, wajahnya penuh dengan bekas luka lama.
Namun sorot matanya tajam seperti pembunuh profesional. Dan Alessandro sangat mengenalnya, dia tak lain adalah Dimitri Volkov.
Mantan eksekutor utama Leonardo Valerio, pria yang seharusnya sudah mengilang bertahun-tahun lalu.
"Ternyata kamu masih hidup," ujar Alessandro dingin.
Dimitri tersenyum tipis, "Orang seperti kita sangat sulit untuk bertemu dengan kematian."
"Kita?"
"Jangan pura-pura berbeda dari ayahmu."
Tatapan Alessandro langsung berubah tajam, "Tapi aku bukan Leonardo."
Dimitri berjalan mendekat, "Dulu ayahmu juga bilang begitu tentang ayahnya."
Kalimat itu membuat Alessandro diam, Dimitri berhenti tepat beberapa langkah di depannya.
"Aku datang bukan untuk bertarung."
"Lalu apa tujuanmu yang sebenarnya."
Pria tua itu mengeluarkan sebuah kotak hitam kecil, dan meletakkannya di atas meja. "Ada yang ingin bertemu denganmu."
Alessandro berdecih pelan, "Sayangnya aku tidak tertarik sama sekali."
"Kamu akan tertarik setelah tahu siapa yang sekarang mengendalikan RED ASHES."
Alessandro membeku sesaat. RED ASHES. Organisasi bayangan peninggalan Leonardo, selama ini ia mengira bahwa jaringan itu sudah hancur. Namun ternyata tidak.
Dimitri menatapnya lurus, "Dunia bawah sedang kacau, banyak organisasi kecil mulai berebut wilayah sejak nama Valerio muncul lagi."
"Aku sama sekali tidak peduli."
"Tapi kamu harus peduli, Tuan Muda."
Alessandro tersenyum pahit saat mendekat panggilan itu, "Kenapa aku harus peduli dengan semua ini?"
"Karena mereka mulai membunuh atas namamu."
Perlahan Alessandro mulai menurunkan pistolnya, "Apa maksudmu?"
Dimitri menyalakan proyektor kecil dari kotak hitam itu, beberapa foto muncul di udara. Mayat, gudang terbakar, oang-orang bersenjata, dan satu simbol yang sama di setiap lokasi.
Lambang keluarga Valerio.
"Ada seseorang yang sedang membangun kembali kerajaan ayahmu," ujar Dimitri pelan. "Dan mereka menggunakan namamu sebagai simbolnya."
"Aku tidak pernah memerintah siapa pun."
"Tapi dunia mafia tidak peduli tentang sebuah fakta," ucapnya dengan menatapnya dalam. "Karena mereka hanya butuh seorang pewaris."
Untuk pertama kalinya sejak kematian Leonardo, ia benar-benar merasakan sesuatu yang dulu selalu ia hindari. Seolah dunia gelap itu terus menariknya kembali.
"Kenapa kamu datang padaku?" tanyanya rendah.
"Karena hanya ada dua kemungkinan."
"Apa itu?"
"Menjadi raja baru..." Dimitri mendekat sedikit. "...atau dibunuh sebelum naik takhta."
Alessandro memalingkan wajahnya, pikirannya kacau. Ia teringat Nadira, tatapan takut ibunya tadi malam. Suara gemetar wanita itu saat berkata:
"Mama nggak mau kehilangan kamu, sama seperti mama kehilangan ayahmu."
Namun sekarang semuanya terlambat, nama Valerio sudah kembali muncul ke permukaan. Dan dunia bawah tidak akan berhenti sampai menemukan pewarisnya.
Dimitri kembali bicara, "Besok malam ada pertemuan."
"Aku tidak akan datang," jawab Alessandro cepat.
"Tuan muda... semua orang besar di dunia bawah sudah mendengar tentangmu."
Alessandro menatapnya tajam, "Termasuk Viktor Karev."
Nama itu membuat udara terasa semakin sesak.
"Kalau kamu menolak tawaran ini, maka mereka akan menganggapmu lemah," lanjutnya.
"Tapi aku tidak peduli penilaian dari seorang mafia."
"Masalahnya mereka akan mulai menyerang orang terdekatmu."
Jantung Alessandro berdegup kencang, ancaman itu bukan sebuah gertakan. Ia tahu bagaimana dunia itu bekerja, lemah berarti mati.
Dan keluarga adalah target pertama. Tangan Alessandro mengepal kuat, sampai urat di lehernya menegang.
Dimitri melihat perubahan itu dan tersenyum kecil. "Akhirnya aku melihat Leonardo di matamu."
BRAK!
Alessandro langsung menghantam meja hingga kacanya retak. "Jangan pernah samakan aku dengan dia!"
"Lihatlah dirimu," ucap Dimitri dengan tatapan yang mengarah pada lengan Alessandro. "Saat kamu marah pun, kamu sama seperti ayahmu."
Alessandro menatap pantulan dirinya di kaca yang retak, dan untuk sesaat ia benar-benar melihat Leonardo di sana.
Sorot mata dingin, amarah yang ditekan, kekerasan yang perlahan muncul.
Alessandro langsung menjauh dari meja, "Aku tidak akan pernah menjadi monster."
Dimitri menatapnya lama, sebelum akhirnya ia berkata pelan. "Monster tidak pernah sadar kapan mereka mulai berubah."
Kalimat itu menghantam lebih keras daripada pukulan apa pun.
Beberapa detik kemudian, Dimitri mengeluarkan sebuah kartu hitam dari sakunya. Di tengah kartu itu terdapat simbol ular perak melingkar. Simbol lama keluarga Valerio.
Dimitri meletakkannya di meja, "Datanglah kalau kamu ingin mengendalikan semuanya."
"Dan kalau aku tidak datang, apa yang akan terjadi?"
"Kalau kamu tidak datang, maka orang lain yang akan mengambil nama Valerio."
Dimitri berjalan menuju balkon, hingga suara Alessandro menghentikan langkahnya.
"Tunggu," ucapnya dengan menatap tajam. "Sebenarnya siapa yang sudah mengumpulkan mereka?"
Dimitri tersenyum tipis tanpa menoleh, "Mereka adalah orang yang masih percaya bahwa Leonardo belum benar-benar mat," ucap Dimitri yang langsung pergi.
Pria muda itu berdiri lama tanpa bergerak, tatapannya perlahan turun ke kartu hitam di atas meja.
Simbol ular perak itu terasa seperti kutukan. Alessandro tahu, sekali saja ia datang ke pertemuan itu, maka tidak akan ada jalan untuk kembali.
Namun di sisi lain, kalau ia menolak, Nadira bisa menjadi target mereka. Dan Viktor pasti tidak akan tinggal diam.
Alessandro menutup mata sejenak, kepalanya dipenuhi suara dari masa lalu.
Leonardo Valerio.
Monster.
Pewaris.
Perlahan ia mengambil kartu hitam itu, tatapannya berubah dingin. Lalu ia berkata dengan suara pelan yang nyaris seperti bisikan.
"Kalau dunia memang memaksaku untuk masuk, maka aku sendiri yang akan mengendalikan permainannya," ucap Alessandro dingin.